JAKARTA – Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama menggelar Pembibitan Calon Dai Muda (PCDM) Nasional Tahun 2025.
Program ini diikuti 200 pendakwah muda terpilih dari seluruh provinsi di Indonesia, hasil seleksi dari 634 pendaftar.
Kegiatan berlangsung mulai 4 hingga 8 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, dan akan dilanjutkan dengan program magang tingkat nasional di kawasan 3T (Terdepan, Terpencil, tertinggal) mulai 9 hingga 14 Agustus 2025.
Mengusung tema “Menebar Dakwah Moderat dan Pemberdayaan Ekonomi Umat”, PCDM 2025 bertujuan membekali dai muda dengan keterampilan dakwah kontekstual yang relevan dengan tantangan zaman.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi dakwah, kepemimpinan, komunikasi digital, simulasi dakwah, magang lapangan, serta wawasan pemberdayaan ekonomi umat berbasis komunitas.
Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menegaskan bahwa dakwah di era sekarang menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan dinamis.
“Para pendakwah muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan orasi, melainkan juga harus tampil sebagai manajer ide, inovator konten, dan komunikator yang mampu membaca kebutuhan umat,” ujarnya.
“Kita harus menjawab tantangan zaman dengan aksi nyata, senyata-nyatanya,” tambahnya dalam sambutan pembukaan.
Menurut Zayadi, ada tiga strategi yang perlu diperkuat oleh para dai muda: memperluas akses dakwah, meningkatkan mutu dan relevansi konten, serta memperkuat daya jangkau dan jejaring komunikasi.
Ia juga menyoroti tantangan dakwah di masyarakat urban yang sangat mobile, individualistis, terbuka terhadap teknologi, namun tetap memegang romantisme nilai-nilai desa.
Salah satu peserta, Muhammad Wafi Ash-Shiddiqi, merupakan mahasiswa semester 5 Institut Agama Islam (IAI) SEBI yang kini menjadi perwakilan provinsi Jawa Tengah mengaku mendapat banyak pembelajaran strategis dari program ini.
“Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama dalam menggabungkan dakwah moderat dengan pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Di sinilah peran dai muda untuk menjadi sebagai otoritatif di media sosial karena merekalah kunci untuk memastikan bahwa nilai nilai prinsip ekonomi Islam, gaya hidup halal dan integrsi nilai nilai moderasi beragama bukan hanya tersampaikan tapi juga terimplementasikan dalam kehidupan sehari hari,” pungkasnya.





