Oleh: Alin Aldini, S.S., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Jagat media selalu dihebohkan dengan berita-berita viral yang seolah biasa saja terjadi atau malah dianggap hal yang lumrah oleh masyarakat bak episode sinetron yang konfliknya terus berjalan tanpa menemukan akhir/ending. Selain karena jengah mereka menganggap masalah hidup orang bukanlah termasuk ‘masalahnya’, sudahlah pusing dengan harga bahan pokok yang serba mahal dan seharusnya gratis karena subsidi, belum lagi biaya sekolah yang tak sedikit meski beberapa sekolah negeri sudah tidak memungut biaya. Sayangnya, sekolah di zaman ini hanya sebatas ‘kelinci percobaan’ kurikulum yang berubah setiap ganti menteri.
Mirisnya lagi, beberapa pendidikan karakter pun seolah-olah mandul mencetak generasi yang bertanggung jawab, sehingga banyak kasus atau masalah dalam dunia pendidikan yang menimpa generasi kita saat ini. Sebagaimana yang diberitakan Kompas.com, (15/5/2025), di Cilangkap, Tapos, Kota Depok, dua kelompok siswa SD tawuran yang ternyata diajak oleh alumni sekolah tersebut (saat ini duduk di bangku SMP). Menurut Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Depok, Wawang Abdurachman, karena mereka senior, mungkin mengajak (tawuran) atau semacamnya.
Polisi dan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok melakukan mediasi terkait tawuran siswa SD di Tapos. Para siswa menangis saat meminta maaf kepada orang tuanya (detiknews.com, 15/5/2025).
Hanya karena pelaku dikategorikan masih anak-anak, penegak hukum pun hanya melakukan mediasi, yang seharusnya bisa lebih diadili lagi dengan penerapan hukum yang berlaku. Sistem sekuler-kapitalisme menyebabkan hukum satu dan lainnya pun akhirnya tumpang tindih, menegakkan hukum yang semestinya pun dianggap melanggar hak-hak anak.
Padahal Islam mampu melihat secara luas, mendalam, dan di luar nalar manusia, bahwa akar masalah tawuran ini bukan hanya sekadar pendidikan karakter atau kedisiplinan hingga harus dikirim ke barak militer bagi anak-anak yang ‘nakal’. Sekolah sebagai corong pendidikan pun telah gagal mencetak generasi slogan ‘Indonesia Emas’ tinggallah slogan, pada kenyataannya Indonesia semakin cemas karena banyaknya perilaku ‘nakal’ di tengah-tengah masyarakat, khususnya remaja sebagai generasi penerus.
Anak-anak memang hanya menjadi korban sistem kapitalisme saat ini, yang hanya mengusung materi/pengakuan diri sebagai tujuan tanpa menilai baik-buruk atau halal-haram. Pemahaman kapitalisme ini menyapu bersih pemahaman agama dan budi pekerti luhur dan menggantinya dengan pemahaman sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan.
Namun tetap diingat, agama bukan hanya perkara dzikir dan shalawat saja. Apakah pelaku tawuran atau anak ‘nakal’ bisa diselesaikan secara tuntas hanya dengan doa dan nasihat? Tentu tidak, justru kenakalan ini sudah menjadi sistemik karena dilindungi sistem kapitalisme tadi.
Pembangunan karakter baik itu di dalam sekolah maupun di barak militer menjadi null nilainya, jika tidak ada sistem negara dan kontrol masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT untuk menindak tegas kenakalan ini. Selain itu, keluarga yang dibentuk dengan aqidah sekuler akan membuat masyarakat individualis/mementingkan diri sendiri karena menganggap masyarakat itu hanya terbentuk dari individu-individu semata, padahal masyarakat perlu dibentuk oleh perasaan, pemikiran, dan peraturan yang satu (aturan Islam).
Pemahaman yang dibentuk dari sistem Islam tidak akan mendiskriminasi orang-orang yang bukan beragama Islam, justru akan melindungi siapa saja yang mau menerapkan aturan Islam. Karena aturan tersebut berasal dari Allah SWT, Sang Khalik dan Mudabbir (Maha Mengatur). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Anbiya ayat 107 yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Sistem Islam akan membentuk pemahaman para ibu dan masyarakat bahwa mereka memiliki tanggung jawab sebagai ummu ‘ajyal (ibu generasi) yang tidak mementingkan diri dan keluarganya saja, tapi lingkungan dan dunia secara global, mengajak pada kebaikan dan kebenaran, serta mencegah hal-hal yang buruk.
Tujuan pendidikan Islam pun jelas, yaitu membangun kepribadian Islam (syakhsiyyah Islam) yang dibentuk oleh pola pikir (aqliyah) dan pola jiwa (nafsiyah) Islam. Memberi gambaran utuh bahwa manusia diciptakan tidak sembarangan, Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi untuk beribadah. Makna ibadah pun bukan hanya sekadar shalat, zakat, puasa, dan haji, tapi ketaatan dan ketundukan total pada hukum-hukum Allah SWT. Karena kesadaran ini yang akan mendorong untuk bertakwa, menerima kebenaran dan berbuat baik sebagai bagian dari karakter manusia.
Pendidikan karakter dan militer memanglah penting, namun penerapan Islam sebagai mabda/ideologi yang lahir dari aqidah aqliyah mampu menjawab berbagai persoalan pendidikan saat ini hingga masa depan (selama ada mujtahid/penggali hukum).
Sistem pendidikan tidak akan bisa berjalan sendirian tanpa adanya sistem politik ekonomi, sosial yang terpisahkan. Maka dari itu, adanya sistem kapitalisme hanya mengkotak-kotakkan aturan saja. Sedangkan Islam menjadikannya satu-kesatuan (terintegrasi) yang terpusat secara kepemimpinan dan tersebar secara administrasi sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah.
Teknologi dan informasi yang dikembangkan sistem Islam pun tidak akan bersifat destruktif/merusak hingga ‘menginspirasi’ kejahatan atau tindakan kriminal, hukum akan ditegakkan meski pelakunya di bawah umur namun sudah baligh, karena sistem Islam memiliki sifat jawazir (pencegah/jera) dan jawabir (penebus), supaya kejadian serupa tidak berulang. Apalagi anak-anak yang melakukan, Islam tetap memiliki aturan untuk membuatnya jera. Karena hukum Islam perlu digali dengan cermat dan tidak boleh sembarangan, maka remaja dan pemuda akan disibukkan dengan hal-hal yang mengarah pada aturan Islam, sehingga tidak sibuk atau bahkan ‘gabut’ dengan hal-hal yang sia-sia.[]
