Diet Heme dan Non-Heme Efektif Lawan Anemia Defisiensi Zat Besi

DIET HEME DAN NON-HEME EFEKTIF LAWAN ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI

 

BAB 1

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Anemia merupakan gangguan atau kelainan hematologi dimana tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal. Anemia zat defisiensi besi merupakan salah satu jenis anemia yang terjadi dikarenakan tubuh kekurangan zat besi dalam tubuh. World Health Organization (WHO) melaporkan terdapat lebih dari 2 milyar orang di dunia dan lebih dari 273 juta anak yang berusia 6-59 bulan menderita anemia. Hasil Riskesdas 2013, presentase anemia nasional untuk semua kelompok usia adalah 21,7%. Kemungkinan seorang perempuan menderita anemia relatif lebih tinggi yaitu 21,7% sedangkan laki-laki 18,4%. Dan berdasarkan Riskesdas tahun 2018, kasus remaja yang menderita anemia sebesar 32 %, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Di antara berbagai jenis anemia yang ada, anemia defisiensi zat besilah yang paling banyak terjadi, yaitu hampir 50% dari seluruh jenis anemia yang ada.

 

Nutrisi dan gizi seimbang menjadi salah satu indikator penting dalam peristiwa anemia defisiensi zat besi. Kekurangan zat besi dapat berdampak pada kesehatan dan kualitas darah sebagai pembawa oksigen dan nutrisi bagi tubuh. Zat besi terkandung dalam sumber makanan hewani dan nabati. Zat besi dalam sumber pangan hewani (zat besi heme) dapat diserap tubuh antara 20-30%, sedangkan dari sumber pangan nabati (zat besi non-heme) sekitar 1-10%. Tubuh juga memerlukan asupan lain untuk menunjang penyerapan zat besi dalam tubuh. Tubuh kita memerlukan pengaturan diet dan pola makan yang sesuai agar penyerapan zat besi dalam tubuh dapat maksimal.  Oleh karena itu, artikel ini akan membahas terkait diet heme dan non-heme yang dapat menjadi salah satu solusi untuk mencegah anemia dan untuk maintenance penderita anemia. Diet heme dan non-heme merupakan diet tinggi zat besi yang dilengkapi oleh asupan zat bermanfaat lainnya yang bertujuan untuk membantu pemenuhan kebutuhan zat besi pada tubuh dan memudahkan tubuh menyerap zat besi.

  • Rumusan Masalah
  1. Bagaimana diet heme dan non-heme efektif mencegah anemia defisiensi besi?
  2. Apakah ada alternatif lain selain diet alami heme dan non-heme dalam memenuhi kebutuhan zat besi dan mencegah anemia defisiensi besi?

 

  • Tujuan

Artikel ini dibuat untuk mengetahui efektifitas diet heme dan non-heme serta mengetahui beberapa cara lain selain diet alami dalam upaya pencegahan anemia defisiensi besi.

 

  • Manfaat 

Artikel terkait diet heme dan non-heme ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi dan referensi bagi masyarakat yang membutuhkan ide diet pencegahan anemia maupun bagi penderita anemia defisiensi zat besi yang sedang melakukan maintenance terhadap asupan zat besi mereka.

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

  • KEBUTUHAN ZAT BESI

Anemia defisiensi zat besi dapat digolongkan sebagai salah satu masalah gizi. Hal ini disebabkan karena kurangnya zat besi yang ada dalam tubuh hingga berdampak pada kadar hemoglobin dalam tubuh. Zat besi sendiri merupakan mineral penting yang diperlukan tubuh untuk menghasilkan hemoglobin. Hemoglobin adalah protein yang bermanfaat untuk mengangkut oksigen untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh. Jika anemia dibiarkan tanpa usaha dan penanganan yang tepat, maka dapat menimbulkan komplikasi hingga berujung pada kematian. 

Kekurangan zat besi dapat berpengaruh pada proses pengangkutan oksigen dan nutrisi lainnya dalam tubuh sehingga penderita anemia defisiensi zat besi pada umumnya mudah lelah, lemas, dan sesak napas. Gejala lainnya juga meliputi pusing, nafsu makan menurun, rambut mudah rontok, hingga menurunnya sistem kekebalan tubuh. Anemia defisiensi yang diderita ibu hamil dapat mengganggu perkembangan janin dan bayi. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, penyakit infeksi, hingga kematian pada ibu dan anak.  Anemia defiesiensi zat besi pada anak-anak juga dapat mengakibatkan kerusakan sel otak secara permanen hingga gangguan psikomotorik dan imunitas tubuh. Anemia defisiensi zat besi juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ seperti otak dan jantung.  Menurut Tim Medis Siloam Hospitals (2023) ada beberapa faktor penyebab dari kekurangan zat besi:

  • Ketidakmampuan tubuh menyerap zat besi.
  • Kekurangan darah.
  • Tidak mendapatkan zat besi yang cukup dari makanan yang dikonsumsi.
  • Sedang hamil sehingga kebutuhan akan zat besi meningkat.
  • Menderita gagal ginjal kronis.

Ada baiknya jika pengaturan diet pencegahan anemia tidak hanya memperhatikan makanan yang kaya akan zat besi, namun asupan lain yang menunjang penyerapan zat besi serta angka kebutuhan zat besi harian kita agar diet zat besi dapat menjadi efektif. Ada beberapa faktor umum yang memengaruhi kebutuhan zat besi manusia setiap harinya antara lain usia, jenis kelamin, dan beberapa kondisi khusus. Nutrisi untuk memenuhi kebutuhan zat besi dapat meningkat atau menurun seiring pertumbuhan hingga penuaan pada manusia. Adapun faktor yang menyebabkan anemia defisiensi zat besi yang berkaitan dengan zat gizi, salah satu contohnya yaitu peningkatan kebutuhan zat besi oleh karena faktor pertumbuhan pada anak. Di bawah ini adalah angka kecukupan gizi (AKG) zat besi berdasarkan usia dan jenis kelamin per harinya. 

  • Anak usia 1–3 tahun: 7 mg
  • Anak usia 4–9 tahun: 10 mg
  • Anak usia 10–12 tahun: 8 mg
  • Remaja pria: 11 mg
  • Remaja wanita: 15 mg
  • Pria dewasa: 9 mg
  • Wanita dewasa: 18 mg
  • Ibu hamil: 27 mg
  • Ibu menyusui: 9–10 mg/hari

Kandungan zat besi sendiri dapat ditemukan dalam dua bentuk antara lain: heme dan non-heme. Zat besi heme bersumber dari hemoglobin hewani seperti daging dan ikan. Zat besi non-heme berasal dari produk hayati terutama sayuran seperti sayuran hijau. Pada umumnya, orang yang sedang menjalani diet ketat seperti vegetarian atau vegan tidak mendapat zat besi yang cukup. Hal ini disebabkan karena zat besi heme berasal dari hemoglobin dan mioglobin yang terdapat pada bahan makanan hewani. Zat besi heme inilah yang dapat diapsorpsi secara langsung dalam bentuk zat besi kompleks phorpyrin

  • DIET HEME DAN NON HEME

Seperti yang disebutkan pada bab sebelumnya, zat besi heme dan non heme merupakan jenis zat besi yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Maka, sistem diet diet heme dan non-heme menekankan penerimaan asupan zat besi dari kedua sumber yaitu dari sumber hewani dan nabati agar kebutuhan zat besi hingga zat lainnya yang membantu penyerapan zat besi dalam tubuh dapat didapatkan secara maksimal. Zat-zat tertentu yang dapat ditemukan dalam asupan yang mengandung zat besi heme dan non heme juga dapat membantu penyerapan zat besi antara lain: protein, vitamin C, dan asam folat atau vitamin B. Ada banyak pilihan makanan yang mengandung zat besi heme dan non-heme serta zat-zat lain yang membantu penyerapannya. Di bawah ini merupakan contoh-contoh makanan yang dapat menjadi pilihan untuk diet pencegahan anemia serta bukti-bukti penelitian yang mendukung pernyataan tersebut!

  • Bayam Hijau  

Daun bayam adalah salah satu sumber makanan yang mengandung zat besi yang baik. Sayuran yang satu ini mengandung senyawa yang penting dalam sintesis hemoglobin seperti zat besi dan vitamin B kompleks. Ada cukup banyak penelitian tentang khasiat bayam hijau yang membutikan sayuran ini dapat membantu kita dalam memenuhi asupan zat besi. Berdasarkan hasil penelitian Tabel.9 pada Jurnal Keperawatan Suaka Iusan (JKSI) Vol. 6, No. 1, Juni 2021, halaman 23; tabel di bawah ini merupakan hasil analisis perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah diberikannya zat besi pada kelompok kontrol ibu hamil dengan anemia di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura 1.

Anemia dalam kondisi kehamilan trisemster II pada ibu adalah kadar HB <10,5 g/dL. Berdasarkan data pada tabel di atas, ibu hamil yang mengonsumsi sayur bayam tablet dan zat besi dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Hal ini dapat dilihat dari jumlah mean kadar HB yang meningkat. Awalnya ada 15 responden yang mengalami anemia ringan, ada 7 responden yang pulih dari anemia.

 

  • Kerang 

Kerang adalah salah satu makanan laut yang tinggi zat besi. Kerang dara, tiram, dan kerang hijau merupakan jenis kerang yang biasanya dikonsumsi. Kandungan zat besi dalam tiram sangat baik untuk mencegah anemia defisiensi zat besi. Dalam 100 gram tiram segar, terkandung sekitar 6,7 mg zat besi.

 

  • Hati 

Hati ayam dan hati sapi mengandung kadar zat besi yang tinggi. Potongan 85 gram hati sapi dapat mengandung zat besi sebesar 5 mg. 100 gram hati ayam memiliki kadar zat besi hingga 10 mg. Hati juga menjadi bahan pangan yang digunakan sebagai fortifikan besi (penambahan zat besi dari luar bahan pangan asli). Fortifikasi zat besi merupakan strategi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah anemia. Fortifikasi zat besi dapat diterapkan pada bubur bayi instan sebagai makanan pendamping ASI. Hasil penelitian pada jurnal Inovasi Teknik Kimia, Vol. 1, No. 1, April 2016 Hal. 27-34 memberi kesimpulan bahwa penambahan fortifikan hati ayam ke dalam bubur bayi instan yang berbahan dasar tepung ubi jalar ungu menjadi penyebab kadar besi menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan bubur bayi instan tanpa tambahan fortifikan. Dapat dilihat pada bagan data di bawah ini, seiring ditambahkannya fortifikan zat besi, kadar Fe per 100 gram bubur bayi instan meningkat.

Meskipun demikian, hati mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Jadi, disarankan untuk berhati-hati dalam mengonsumsi hati khususnya pada ibu hamil karena dapat membahayakan janin. 

 

  • Kacang Hijau 

Kacang hijau sudah sangat terkenal di Indonesia. Bahkan banyak makanan seperti bubur kacang hijau, es kacang hijau, onde-onde hingga kolak menggunakan bahan baku utama kacang hijau. Terdapat kurang lebih 6,7 mg zat besi dalam 100 gram kacang hijau. Dengan kayanya kandungan zat besi, kacang hijau dapat menjadi pilihan makanan untuk mencegah dan mengatasi anemia dan menjaga metabolisme tubuh.

 

  • Kacang Kedelai 

Kacang kedelai yang dapat kita temukan pada tahu, tempe, dan susu kedelai dipercaya dapat mengatasi anemia defisiensi zat besi. Kandungan zat besi dalam kacang kedelai dapat menstimulasi produksi sel-sel darah merah sehingga dapat membantu mengobati dan mencegah anemia. Dalam 100 gram kacang kedelai, terdapat 6,9 mg zat besi. Dengan mengonsumsi 100 gram kacang kedelai, kita sudah memenuhi 42% kebutuhan zat besi harian. 

 

  • Coklat Hitam

Selain dikenal manfaatnya untuk meredakan stres, ternyata coklat hitam mengandung zat besi yang cukup tinggi. Dalam 100 gram coklat hitam tekandung 12 mg zat besi. Tetapi disarankan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi coklat hitam karena tinggi kalori.

 

  • Kacang Lentil

Kacang lentil adalah jenis kacang-kacangan mirip kacang hijau. Kacang ini mempunyai berbagai macam warna seperti merah, coklat, hitam, hingga hijau. Secangkir atau 230 mg kacang lentil mempunyai kadar zat besi sekitar 6,59 mg.

 

  • Kentang 

Bagian kentang yang mengandung paling banyak zat besi justru ada pada kulitnya. Terkandung sekitar 2,9 mg zat besi pada satu kentang yang besar dan tidak dikupas. Maka, sebaiknya kita memasak kentang bersama kulitnya.

 

  • Ikan 

Ikan baronang mengandung 3,8 mg zat besi per 100 gramnya. Ikan tuna juga mempunyai kadar zat besi yang cukup tinggi. Terkandung 2,52 mg zat besi dalam 165 gram ikan tuna. Ikan tuna juga mengandung vitamin B12 yang sangat tinggi sehingga berguna untuk mencegah penyakit anemia.  Selain itu, ikan sarden mengandung hingga 2,5 mg zat besi per 100 gram. Ada beberapa jenis ikan lain yang mengandung zat besi antara lain, ikan kembung, salmon, dan tongkol.

 

  •  Oatmeal

Oatmeal adalah salah satu pilihan asupan yang baik untuk sarapan pagi. Pada satu cangkir oatmeal terkandung sekitar 3,4 mg zat besi, kadar tersebut sudah memenuhi 19% kebutuhan harian zat besi.

 

  • Rumput Laut

Rumput yang satu ini ternyata mengandung zat besi, yaitu rumput laut. Dilansir dari data Kemenkes RI, Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) terkandung 1,6 mg zat besi dalam 100 gram rumput laut.

 

  1.  Biji Labu

Biji labu (pepitas) adalah biji berbentuk oval datar yang berasal dari buah labu. Ternyata, biji labu bisa dimanfaatkan sebagai makanan ringan seperti kuaci. Pada 100 gram biji labu, terkandung 3,31 mg zat besi.

 

  • Jamur

Beberapa jamur memiliki kandungan zat besi yang cukup tinggi. Pada 156 gram jamur putih yang sudah dimasak terkandung 2,7 mg zat besi. Contoh jamur lainnya yang mengandung zat besi adalah jamur tiram, portobello, dan shiitake.

 

  • Beras Merah

Beras merah biasanya digunakan untuk menggantikan beras putih untuk diet karena beras merah mengandung serat yang berperan dalam proses penurunan berat badan. Satu porsi beras merah (200 gram) terkandung 1,1 mg zat besi. 

 

  • Roti Gandum

Roti gandum utuh yang dikenal tinggi akan serat ini ternyata juga mengandung kadar zat besi yang tinggi. Per 100 gram roti gandum, terkandung 3,49 mg zat besi. 

 

  • Kismis

Kismis adalah olahan buah anggur yang dikeringkan. Dalam 100 gram buah kismis, terkandung 1,79 mg zat besi. Oleh karena itu, kismis merupakan sumber zat besi yang cukup baik dan bermanfaat mencegah anemia defisiensi zat besi.

 

  • Sereal

Makanan yang sering dijadikan pilihan menu sarapan ini ternyata mengandung zat besi yang cukup banyak. Dilansir dari website realfood.co.id, terkandung 4,3 mg zat besi per 100 gram sereal atau 18 mg zat besi per kemasan. 

  • Kangkung

Kangkung adalah sayuran yang sangat bermanfaat untuk produksi darah merah karena kandungan zat besinya yang baik. Per 100 gram kangkung, terkandung 1,7 mg zat besi. Maka, kangkung dapat membantu mencegah anemia. 

 

  • Jagung

Kandungan zat besi pada jagung cukup tinggi. Pada 100 gram jagung kuning pipil kering, zat besi yang dikandung bisa mencapai 2,8 mg.  

 

  • Kacang Putih

Kacang putih merupakan pilihan yang baik untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian. Kacang putih mengandung 9,2 mg zat besi per 100 gram. Artinya, dengan 200 gram kacang putih, kita sudah dapat memuhi kebutuhan zat besi harian.

 

  • Telur 

Telur ayam adalah salah satu makanan yang punya kandungan zat besi yang cukup tinggi. Kandungan zat besi telur ayam ada pada kuning telur yang mencapai 2,7 mg zat besi petoer 100 gram. Sedangkan, putih telur mengandung 0,1 mg zat besi saja. Zat besi juga bisa didapatkan dari telur puyuh. Telur puyuh mengandung 3,7 mg zat besi per 100 gram. 

 

  • Biji Wijen

Biji wijen yang biasanya digunakan untuk taburan makanan ternyata kaya akan zat besi. Dalam 100 gram biji wijen mentah, terkandung 9,5 mg zat besi. Jadi, biji wijen sangat bermanfaat untuk mencegah anemia defisiensi zat besi.

 

  • Zaitun

Buah zaitun hitam dapat membantu mencegah anemia defisiensi dikarenakan kandungan zat besinya yang cukup tinggi. Dalam 100 gram buah zaitun terkandung 6,3 miligram zat besi.

  • Quinoa

Quinoa kaya akan protein, serat, vitamin, dan mineral. Salah satu mineral yang banyak terkandung pada quinoa adalah zat besi. Per 185 gram quinoa yang telah dimasak, terkandung 2,8 mg zat besi. Quinoa juga kaya akan antioksidan dan dapat menurunkan resiko terkena pemyakit jantung.  

 

  • Jus Prune

Buah prune merupakan buah plum yang dikeringkan. Prune dapat membantu meredakan konstipasi, di sisi lain prune merupakan sumber zat besi yang baik. Pada 237 ml jus prune, terkandung 2,9 mg zat besi yang dapat memenuhi 16% dari kebutuhan zat besi harian.

 

  • Aprikot Kering

Aprikot kering mengandung zat besi yang cukup tinggi. Per setengah cangkir aprikot kering, terkandung 10 mg zat besi. Buah-buahan kering memiliki kadar zat besi dan nutrisi lain yang terkonsentrasi, hal ini disebabkan oleh lebih sedikitnya kandungan air pada buah kering jika dibandingkan dengan buah-buahan segar. 

 

  • Daging Merah

Protein hewani sangat membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Contoh asupan yang kaya akan protein hewani adalah daging merah. Daging merah yang mengandung zat besi paling tinggi adalah daging sapi. Terkandung 3,5 mg zat besi di dalam 100 gram daging sapi. Daging merah khususnya daging sapi mengandung vitamin B yang cukup tinggi pula untuk membantu penyerapan zat besi, hal ini dikarenakan vitamin B membantu proses pembentukan sel darah merah.. Adapun jenis daging lainnya yang tinggi kadar zat besi seperti daging kambing dan daging domba. 

 

  • Buah Kaya Vitamin C

Jeruk, kiwi, stroberi, dan jambu merupakan buah-buahan yang kaya akan vitamin C. Vitamin C sangat berguna untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang menyulitkan pembebasan zat besi. Vitamin C memberikan asam sehingga memudahkan proses reduksi zat besi ferri menjadi ferro yang akan lebih mudah diserap usus halus. Hal ini dibuktikan oleh hasil uji fisher’s exact test yang dilakukan oleh Tadete (2013). Hasil menunjukan responden dengan asupan vitamin C cukup memiliki resiko terkena anemia yang lebih kecil. Mulberry juga salah satu buah yang sangat kaya nutrisi khususnya vitamin C. Kandungan zat besi dalam mulberry percangkirnya bisa mencapai 2,6 mg dan kandungan vitamin C-nya dapat . Selain bermanfaat untuk mencegah anemia defisiensi zat besi, buah yang satu ini bisa membantu pencegahan diabtes, penyakit jantung, dan kanker. Selain itu, ada buah bit yang cukup bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan zat besi. Dilansir dari FoodData Central, per 100 gram buah bit, terdapat 0,8 mg zat besi. Selain itu, buah bit memiliki kandungan vitamin C yang tinggi sehingga dapat membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. 

 

  • Asparagus
    Asparagus mempunyai kandungan zat besi dan asam folat yang merupakan salah satu dari jenis vitamin B kompleks yang dapat membantu pembentukan sel darah merah dalam tubuh.

 

 

  • ALTERNATIF LAIN PENCEGAHAN ANEMIA

Jika kita tidak dapat memenuhi kebutuhan harian zat besi kita, atau kita membutuhkan asupan zat besi lebih, kita dapat memanfaatkan suplemen zat besi. Suplemen zat besi dapat membantu mencukupi kebutuhan zat besi dan biasanya ditujukan pada wanita yang sedang menstruasi, ibu hamil dan menyusui, anak-anak, penderita sindrom malabsorbi zat besi, hingga orang yang rutin mendonorkan darahnya. Suplemen zat besi sebaiknya dikonsumsi saat perut dalam keadan kosong atau 1 jam sebelum atau sesudah makan. Berikut adalah beberapa contoh merek suplemen zat besi: 

  • Balckmores Koalakids Multi Chewbles
  • Hemafort
  • Zamel
  • Siobion
  • Sangobion
  • Redozon Fortimun
  • Sangatonik FE drops

Tentunya, suplemen zat besi tidak disarankan untuk menjadi substitusi nutrisi dari makanan. Ikutilah arahan dokter dan bacalah aturan konsumsi yang ada. Menambah dosis tanpa persetujuan dokter bisa menjadi berbahaya. Dibawah ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan mengonsumsi suplemen zat besi.

  • Jangan mengonsumsi suplemen zat besi jika mempunyai riwayat alergi terhadap suplemen. 
  • Konsultasikan kepada dokter jika akan menggunakan suplemen ini, ada beberapa orang yang menderita penyakit tertentu yang tidak boleh mengonsumsi suplemen zat besi seperti hemokromatosis dan anemia hemolitik.
  • Konsultasikan dengan dokter tentang penggunaan suplemen zat besi jika sedang hamil, merencanakan kehamilan, dan menyusui.
  • Diskusikan dengan dokter jika Anda sedang menggunakan suplemen zat besi bersama suplemen atau obat-obatan tertentu. 
  • Segera pergi ke dokter jika mengalami reaksi alregi obat atau overdosis setelah mengonsumsi sumplemen zat besi. 

BAB 3
PENUTUP

Kesimpulannya adalah anemia defisiensi besi merupakan sebuah kelainan darah yang cukup berbahaya bagi penderitanya yang diakibatkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengaturan diet zat besi yang dapat membantu kita mencegah anemia. Zat besi merupakan mineral penting dalam pembentukan hemoglobin pada sel darah merah untuk mengikat oksigen. Upaya pencegahan anemia dan diet yang cocok untuk penderita anemia adalah diet heme dan non-heme yang merupakan diet tinggi zat besi jenis heme (hewani) dan non-heme (nabati) yang disertai dengan kandungan protein, vitamin A, vitamin C, dan vitamin B yang membantu penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga diet tersebut dapat menjadi efektif. Jika kebutuhan zat besi kurang terpenuhi melalui asupan makanan, kita dapat mengonsumsi suplemen zat besi dengan dosis yang sesuai dan dengan persetujuan dokter. Sayangilah tubuhmu dengan pengaturan diet zat besi yang baik, untuk menghindari anemia defisiensi besi. Dengan diet seimbang heme dan non-heme, ayo putus mata rantai anemia sebagai antargenerasi!

Nama Peserta : Olivia Catherine Wattimena
Tema : Memutus Mata Rantai Anemia sebagai Siklus Antargenerasi
Sub Tema : Pengaturan Diet Sehat sebagai Upaya Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

 

DAFTAR PUSTAKA

Muhayati, A. (2019). Hubungan Antara Status Gizi dan Pola Makan dengan

Kejadian Anemia Pada Remaja Putri’, Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia Vol.9, No.1, hh. 563-570. Tersedia di: https://journals.stikim.ac.id/index.php/jiiki/article/view/183/169

 

Tadete, A.O. (2013). ‘Hubungan Antara Asupan Zat Besi, Protein dan Vitamin C

Dengan Kejadian Anemia pada Anak Sekolah Dasar di Kelurahan Bunaken Kecamatan Bunaken Kepulauan Kota Manado’. Tersedia di: https://fkm.unsrat.ac.id/wpcontent/uploads/2013/08/ALLENFINA-OLIVIA-TADETE-091511128.pdf (Diakses: 20 Juli 2023)

 

Nisa, J. (2020). ‘Pemanfaatan Kacang Hijau Sebagai Sumber Zat Besi 

Dalam Upaya Pencegahan Anemia Prakonsepsi’, Jurnal Surya Masyarakat Vol.3, hh. 42-47. Tersedia di: https://www.researchgate.net/publication/329326057_Penerapan_Teknologi_Pengolahan_Makanan_Kesehatan_Berbasis_Bekatul_Rice_Bran_Organik_Kelompok_Tani_Sidadadi_di_Kelurahan_Mewek_Kecamatan_Kalimanah_Kabupaten_Purbalingga/fulltext/5febcbbf45851553a004f3a1/Penerapan-Teknologi-Pengolahan-Makanan-Kesehatan-Berbasis-Bekatul-Rice-Bran-Organik-Kelompok-Tani-Sidadadi-di-Kelurahan-Mewek-Kecamatan-Kalimanah-Kabupaten-Purbalingga.pdf

 

Santosa, H. (2016). ‘Pemanfaatan Hati Ayam sebagai Fortifikan Zat Besi dalam

Bubur Bayi Instan Berbahan Dasar Ubi Jalar Ungu (ipomoea batatas l.)’, Inovasi Teknik Kimia, Vol.1, No.1, hh. 27-34. Tersedia di: https://publikasiilmiah.unwahas.ac.id/index.php/inteka/article/view/1641/1718

 

Ayuningtyas, I.N. (2022). ‘Analisis Asupan Zat Besi Heme dan Non

Heme, Vitamin B12 dan Folat serta Asupan Enhancer dan Inhibitor Zat Besi berdasarkan Status Anemia Pada Santriwati’, Journal of Nutrition College, Vol.11, hh. 171-181. Tersedia di: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/

 

Kurniati, I. (2020). ‘Anemia Defisiensi Zat Besi (Fe)’, Jurnal Kedokteran

Universitas Lampung, Vol.4, No.1, hh. 18-33. Tersedia di: https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/2763

 

Adiyani, K. (2018). ‘Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada

Remaja Putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin’, Homeostasis, Vol. 1 No. 1, hh. 1-7. Tersedia di: https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/hms/article/view/459

 

Okvitasari, Y. (2021). ‘Pengaruh Pemberian Zat Besi dan Sayur Bayam Terhadap

Peningkatan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil dengan Anemia di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura I’, Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI) Vol. 6, No. 1, hh. 20-27. Tersedia di: https://journal.stikessuakainsan.ac.id/index.php/jksi/article/view/265

 

Fadli, R. (2023). Anemia Defisiensi Besi. Tersedia di:

https://www.halodoc.com/kesehatan/anemia-defisiensi-besi 

 

Pittara. (2022). Anemia. Tersedia di: https://www.alodokter.com/anemia 

 

Tim Medis Siloam Hospitals. (2023). Mengenal Kadar Normal Hemmoglobin

dan Fungsinya dalam Tubuh. Tersedia di: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/kadar-hemoglobin-normal 

 

World Health Organization (WHO). Anaemia. Tersedia di:

https://www.who.int/healthtopics/anaemia#tab=tab_1

 

Fadli, R. (2021). 9 Makanan Mengandung Zat Besi untuk Kesehatan Tubuh. Tersedia

di: https://www.halodoc.com/artikel/9-makanan-mengandung-zat-besi-untuk-kesehatan-tubuh 

 

AKG FKM UI. (2022). Biji Labu Bisa Dimakan? Tersedia di:

https://akg.fkm.ui.ac.id/biji-labu-bisa-dimakan/

 

Pedrosa, D. (2016). 20 Sumber Makanan yang Mengandung Zat Besi Tinggi.

Tersedia di: https://manfaatnyasehat.blogspot.com/2013/06/sumber-zat-besi.html?m=1

 

Pane, M. D. C. (2019). Tidak Perlu Bingung, Ada banyak Makanan yang

Mengandung Zat Besi. Tersedia di: https://www.alodokter.com/tidak-perlu-bingung-ada-banyak-makanan-yang-mengandung-zat-besi

 

Atmaka, D. R. (2021). Sosis Hati Ayam dan Kacang Kedelai Dapat menjadi

Alternatif Makanan Tinggi Protein dan Zat Besi. Tersedia di: https://news.unair.ac.id/2021/06/30/sosis-hati-ayam-dan-kacang-kedelai-dapat-menjadi-alternatif-makanan-tinggi-protein-dan-zat-besi/?lang=id#:~:text=Kandungan%20gizi%20pada%20100%20gram%20kacang%20kedelai%20yaitu%20protein%2030,zat%20besi%206%2C9%20mg.

 

Pane, M. D. C. (2023). Zat Besi. Tersedia di: https://www.alodokter.com/besi

 

Pos terkait