Oleh: Ripa Padilah, Mahasiswa STEI SEBI
Setiap kampus punya cerita horornya sendiri. Bukan soal penampakan di gedung tua atau suara aneh di perpustakaan, tapi tentang satu sosok yang namanya selalu berhasil bikin mahasiswa merinding: dosen killer. Julukan ini lahir karena gaya mengajarnya yang keras, tegas, dan tidak segan menegur mahasiswa di depan kelas. Bahkan, kadang rasanya duduk di kelas mereka lebih menegangkan daripada nungguin nilai UAS keluar.
Bagi mahasiswa, kehadiran dosen killer adalah semacam ujian mental. Banyak yang masuk kelas dengan perasaan waswas. Ada yang sengaja pura-pura sibuk baca catatan biar tidak ditunjuk, ada juga yang memilih menunduk dalam-dalam seperti sedang merenungi hidup padahal cuma takut dipanggil. Kelas yang seharusnya jadi ruang diskusi malah berubah jadi arena survival.
Namun, sekeras apa pun tekanan yang dirasakan, dosen killer tidak selalu seburuk yang dibayangkan. Justru di balik “kekejaman” itu, ada manfaat yang kadang baru terasa setelah beberapa semester. Misalnya soal disiplin. Hampir semua dosen killer terkenal anti alasan klasik macam “lupa bawa tugas” atau “macet, Pak”. Akibatnya, mahasiswa jadi belajar menghargai waktu, terbiasa membuat persiapan lebih awal, dan sedikit demi sedikit mulai serius dengan tanggung jawabnya.
Belum lagi soal mental. Memang, setiap kali dipanggil maju untuk presentasi di depan dosen killer, rasanya seperti mau dieksekusi. Tapi setelah terbiasa, mahasiswa jadi lebih tahan banting. Kalau sudah bisa selamat dari tatapan tajam di kelas, menghadapi atasan galak atau klien rewel di dunia kerja nanti tidak akan terlalu mengejutkan.
Tentu saja, ada dampak buruknya juga. Banyak mahasiswa yang jadi minder, takut salah, bahkan stres berat. Namun, kalau dilihat dari sisi lain, pengalaman ini bisa jadi semacam pelatihan karakter. Bukankah sering orang bilang, “apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat”? Nah, mungkin itu motto tak resmi para mahasiswa yang pernah diajar dosen killer.
Pada akhirnya, dosen killer adalah bagian dari warna-warni dunia perkuliahan. Mereka bisa membuat kita deg-degan setiap kali masuk kelas, tapi di saat yang sama, mereka juga meninggalkan pelajaran berharga tentang disiplin, tanggung jawab, dan mental yang tangguh. Saat masih menjalani memang terasa horor, tapi setelah lulus, cerita bersama dosen killer sering jadi bahan obrolan yang penuh tawa meski dulu sempat bikin air mata juga.