DEPOKPOS, JAKARTA – Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi sekaligus mantan Gubernur DKI Jakarta 2007–2012, Fauzi Bowo, menegaskan bahwa tradisi Andilan Potong Kebo merupakan simbol kuat gotong royong masyarakat Betawi yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
Menurut pria yang akrab disapa Foke itu, Andilan Kebo bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi juga memiliki muatan sosial dan religius yang mendalam.
“Dalam setiap harta yang kita miliki, ada hak orang lain, baik yang meminta maupun tidak meminta,” ujar Foke saat menghadiri kegiatan Andilan Potong Kebo di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (18/3/2026).
Ia menjelaskan, tradisi ini lahir dari inisiatif masyarakat (bottom-up), di mana warga secara kolektif melakukan patungan untuk membeli kerbau. Hewan tersebut kemudian disembelih, dan dagingnya dibagikan kepada peserta andilan serta masyarakat yang membutuhkan.
Foke menilai nilai solidaritas, kepedulian sosial, dan semangat berbagi dalam tradisi ini merupakan kekuatan utama masyarakat Betawi yang tidak boleh hilang.
“Mudah-mudahan tradisi ini bisa berkembang lebih jauh, sekaligus memperkuat pelestarian budaya Betawi di Jakarta,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa upaya menghidupkan kembali tradisi ini telah dimulai sejak tahun sebelumnya.
Pada tahun 2025, Andilan Potong Kebo digelar di kawasan Agrowisata Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tradisi tersebut dihidupkan kembali oleh tokoh Betawi, KH Marullah Matali, setelah sempat lama tidak lagi dilaksanakan di tengah masyarakat.
Tahun ini kegiatan Andilan potong kebo diketuai oleh M.I Ridwan Boim.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi Andilan Kebo sebagai bagian dari identitas Jakarta.
Menurut Pramono, tradisi ini sarat nilai kebersamaan, mulai dari sistem arisan, gotong royong, hingga semangat berbagi kepada masyarakat.
“Ini adalah tradisi budaya yang harus kita rawat terus-menerus,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak sembilan ekor kerbau disembelih sebagai bagian dari tradisi menjelang Idulfitri.
Pramono menegaskan, pelestarian budaya Betawi menjadi penting, terutama setelah ditetapkannya sebagai budaya utama Jakarta melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024.
“Di tengah transformasi Jakarta menjadi kota global, kita ingin memastikan budaya Betawi tetap hidup dan berkembang sebagai identitas yang membanggakan,” katanya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga berkomitmen memperkuat pelestarian budaya, di antaranya melalui rencana penyelenggaraan haul ulama Betawi pada Juni mendatang serta renovasi Museum MH Thamrin.
Pramono juga menegaskan pentingnya menjaga Jakarta sebagai kota yang inklusif bagi semua agama, salah satunya melalui perayaan hari besar keagamaan di ruang publik.
“Apa yang dilakukan di Bundaran HI saat Natal, Imlek, Nyepi, hingga Ramadan dan Idulfitri menjadi contoh toleransi yang bisa menjadi role model bagi daerah lain,” tuturnya.
Baik Foke maupun Pramono sepakat, Andilan Kebo bukan hanya tradisi, tetapi juga fondasi sosial yang memperkuat kebersamaan masyarakat Betawi sekaligus menjaga identitas Jakarta di tengah arus modernisasi.