DEPOKPOS – Banyak anak muda yang terpapar virus kesepian ini, tak kala karena tidak memiliki tempat untuk bercerita, rasa penolakan yang pernah dialami, dan pada akhirnya menutup diri dari interaksi sosialnya. Kamu mengatakan bahwa untuk didengarkan orang lain itu mahal dan selama ini kamu merasa kesepian, ucapmu kala sesi konseling. Sebagian dari mereka merasa kesepian karena ditinggalkan pasangan, teman hingga orang tua.
Pada akhir pekan kamu memilih untuk beristirahat, setelah lelah beraktivitas sepanjang minggu, dan akhirnya kamu menemukan waktu yang tepat untuk istirahat. Sembari rebahan, kamu membuka telepon genggammu dan langsung berseluncur di media sosial. Kamu melihat orang yang kamu ikuti sedang berkumpul dan bersenang-senang. Tidak tahu mereka sedang merayakan apa, yang jelas tampaknya ramai. Mereka tampak berbahagia, kamu tidak merasakan apa pun, tidak ada rasa turut bahagia, iri, dan cemburu. tetapi kamu binggung dengan situasi yang entah rasanya ada yang kosong.
Semakin modernnya zaman mendorong kamu untuk makin merasa kesepian. Mudah bagi kamu untuk mengasumsikan bahwa perkembangan komunikasi saat ini seharusnya membantu kamu mengurangi rasa kesepian. Banyak yang beranggapan bahwa kesepian hanya dirasakan oleh mereka yang sudah lanjut usia, namun tidak berkemungkinan kamu yang berusia muda sudah merasakan fase kesepian ini.
Jeremy Nobel, seorang akademis Harvard School of Public Health, mengatakan bahwa perasaan kesepian merupakan pengalaman yang bersifat subjektif, dan bisa berbeda pada setiap orang dan jenjang usia. Kesepian sendiri terbagi menjadi tiga jenis, kesepian situasional, kesepian pada masa perkembangan mental manusia, dan kesepian internal.
Dampak psikologis dari kesepian meliputi perilaku, cara berpikir, dan emosi. Ketika kamu merasa kesepian maka akan muncul gejala-gejala depresif, hal ini lah yang banyak dirasakan anak muda saat ini. Merasa sepi lalu mendiaknosis diri sebagai orang yang depresi. Perasaan sepi ini akan membuat kamu merasa kosong, sendirian, dan bahkan tidak diinginkan. Jika kamu merasa temanmu menyayangimu, tetapi tidak bisa memahami dirimu sehingga akhirnya kamu merasakan kesepian.
Kesepian yang kamu rasakan juga bisa berdampak pada kesehatan otak dan jantungmu. Hal yang kamu rasakan bisa meningkatkan sistem saraf simpatis yang menyebabkan tekanan darah dan meningkatnya kadar kolestrol. Saat kamu kesepian kamu akan menunjukkan emosi kecemasan, ketakutan dan kemarahan. Seperti kamu menjadi lebih sensitif terhadap ekspresi wajah bahkan intonasi vokal orang lain saat berbicara.
Biasanya pada kondisi ini kamu akan sibuk mencari keramaian di luar diri dengan harapan rasa sepimu akan berkurang. Banyak anak muda mengatakan healing atau mencari ketenangan di antara keramaian. Pada dasarnya kamu bisa mengatasi hal ini, dengan kamu berdamai akan rasa sepi dan menerimanya. Menerima kondisi yang kamu alami dengan penuh tekanan lingkungan dan hidup akan menurunkan perasaan negatif yang kamu hadapi.
Meditasi, Journaling, serta yoga bisa kamu lakukan untuk mengisi kesepian yang kamu rasakan. Kelola pikiran dan perasaan, melatih diri untuk relaksasi sangat membantumu untuk menurunkan tingkat kecemasan dan depresi kala kesepian. Menjadi anak muda yang produktif dan peduli kesehatan mental akan membuat kamu damai dalam menjalani hidup. Selamat berlatih dan berproses ke dalam diri.
Kesepian yang kita kira menyedihkan, sebenarnya adalah kesempatan untuk berkarya dan bertumbuh sebagai manusia. Namun, apakah kita bisa menerima kesepian sebagai kesendirian yang bermakna?
/LPF

