DEPOKPOS – Ma’rifat al-Nafs dan Ma’rifat Allah merupakan konsep penting dalam Islam. Ma’rifat al-Nafs mengacu pada ilmu atau pengetahuan diri, dan Ma’rifat Allah mengacu pada ilmu atau kesadaran akan Tuhan.Hubungan keduanya penting dalam spiritualitas dan teologi Islam.
Menurut Ibnul Qoim, semakin tinggi ilmu seseorang kepada Allah (Mārifat Allah), maka ia akan semakin taat kepada Allah dan semakin merendahkan dirinya.
Jika kita mencermati dan membandingkan sifat-sifat Tuhan (al-asma al husna) dengan karakter dan sifat-sifat dasar manusia,maka kita akan menemukan kesamaan sifat diantara keduanya, seperti sifat pemarah (al-muntaqim), ambisius (al-musaitir), namun terkadang juga penuh kelembutan dan kasih sayang.
Di samping hal ini tidak mengherankan karena manusia adalah miniatur Tuhan (citra Tuhan). Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa, “Tuhan menciptakan Adam dalam bentuk atau citra-Nya. “
Penjelasan paling baik dan lengkap tentang pemaknaan al-Asma al-Husna Sebagai sumber karakter mungkin terdapat dalam karya Al-Ghazali, al-Maqshad al-Asna Syarh Asma Allah al-Husna (Tujuan Puncak dari Nama-nama Allah). Al Ghazali menyebutkan empat prinsip dalam memahami dan memaknai al-Asma al-Husna.
Prinsip paling akhir menjelaskan bahwa kesempurnaan dan puncak kesejatian diri seorang hamba terletak pada peniruan dan pengadopsian karakter-karakter Allah dengan menghiasi diri melalui makna-makna yang terkandung dalam nama-nama Allah.
Bagi seseorang yang menempuh di jalan Tuhan, meminjam istilah tasawuf sebagai “salik” , nama-nama Allah bukan sekedar untuk didengar ungkapannya, di- mengerti makna bahasanya dan diyakini secara doktrin, namun nama-nama itu di internalisasi secara psikologis untuk diwujudkan dalam bentuk tindakan.
Setidaknya terdapat tiga langkah yang harus ditempuh seorang salik untuk meraih kesempurnaan perilaku dan puncak kebahagiaannya.
Pertama, memahami makna makna setiap nama, sehingga tampak jelas baginya hakikat-hakikatnya melalui dalil yang tidak mungkin salah dan tersingkap kebersifatan Allah dengan sifat-sifat itu dengan penuh keyakinan yang benar-benar terasa yang berbeda dengan keyakinan doktriner.
Kedua, memuliakan dan menghormati sifat-sifat keagungan yang telah tersingkap yang mendorong kerinduan untuk memiliki karakter sebagaimana sifat-sifat Allah. Dalam tahapan ini, Al Ghazali menganalogikan kerinduan berkarakter ini dengan hubungan guru-murid.
Seorang murid bila telah menyaksikan kehebatan ilmu gurunya, maka dalam dirinya akan tumbuh kerinduan untuk menyerupai dan mengikuti sang guru.
Ketiga, berusaha mengadopsi sifat-sifat itu dan menghiasi diri dengannya sehingga ia menjadi seorang perwatak Tuhan (rabbani), yaitu orang yang dekat dengan Allah.
Namun demikian, sangat perlu digaris bawahi bahwa peniruan atau pengadopsian sifat-sifat Allah ini bukan berarti menyamakan Allah dengan manusia atau manusia mampu menyamai Allah. Prinsipnya adalah bahwa Allah tidak menyerupai sesuatu pun dan tak sesuatu pun yang menyerupai Allah sebagai prinsip utama.
Penjelasan Al-Ghazali terhadap pemaknaan dan pengadopsian karakter ini didasarkan pada pemikirannya bahwa ma’rifat yang merupakan tujuan puncak spiritual manusia bukanlah ma’rifat terhadap Dzat Allah. Dzat Allah hanya bisa dijangkau oleh Allah sendiri.
Dalam hubungan ini, maka puncak ma’rifat para salik adalah kelemahan mereka untuk ma’rifat menjangkau dzat Allah. Adapun ma’rifat yang bisa dijangkau adalah ma’rifat terhadap sifat-sifat Allah dengan tiga langkah yang telah dijelaskan.
Hal pertama yang harus dilakukan seorang hamba adalah menjalin hubungan yang baik dengan Allah. Inilah yang dimaksud dengan ta’alluq dan relationship. Tahapan ini dilakukan dengan memperbanyak amalan-amalan spiritual, seperti dzikir untuk meningkatkan kesadaran dan pikiran kepada Tuhan, sehingga dimanapun berada ia tidak terlepas dari berdzikir dan berpikir untuk Allah.
Dari tahapan inilah muncul kedekatan dan perkenalan yang akrab dengan Allah. Pengenalan dimaksud bukan sekedar menyebut dan mendengar nama-Nya, melainkan memahami makna kebahasaan dari nama itu, dan meyakininya sebagai benar-benar sifat yang melekat kepada Allah.
Dari aspek inilah awal terbentuknya karakter-karakter positif dalam diri manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan mempelajari seluk beluk kejiwaan tentang manusia, maka sama halnya kita telah mempelajari atau mengungkap fenomena psikologis ketuhanan.
Disusun oleh: Tasya Maya Riana dan Davina Kurnia.
Mahasiswa Psikologi, program studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

