Jika diamati dari konteks dan fenomena yang terjadi kini, perasaan insecure muncul ketika seseorang mengamati orang lain secara fisik atau kasat mata, seperti wajah, bentuk tubuh, pakaian, kekayaan, dan lain-lain atau secara non fisik seperti keahlian, kesuksesan dalam bidang tertentu, karakter, kedekatan dengan keluarga, dan lain-lain. Apalagi standar yang dipatok masyarakat dalam setiap hal tersebut cukup tinggi dan seperti harus dipenuhi secara ideal oleh setiap orang.
Sehingga jika disimpulkan, insecurity merupakan emosi yang terjadi dalam diri ketika kita tidak aman, yang dimulai dari menilai diri lebih rendah dari orang lain secara berlebihan, yang itu mengenai:
1) aspek fisik maupun non fisik dalam kehidupan kita;
2) cara memaknai aspek tersebut menimbulkan efek yang negatif pada diri kita;
3) karena pandangan terhadap diri kita negatif, saat kita dalam menghadapi suatu tantangan;
4) kita merasa tidak mampu karena tidak sesuai dengan standar tertentu oleh orang lain maupun diri kita sendiri;
5) akhirnya, kita merasa kurang nyaman atau tidak aman karena tidak bisa memenuhi ekspektasi yang ada.
Penyebabnya dapat dipicu dari standar dalam suatu hal, yang itu dari eksternal seperti pendidikan orang tua yang penuh tekanan dan tuntutan, lingkungan sekolah atau pertemanan yang kompetitif dan banyak perbandingan, serta juga bisa dari dalam diri seperti penentuan standar yang tinggi dikarenakan harga dirinya yang tinggi atau penerimaan terhadap apa adanya dirinya kurang. Adapun mindset dari internal ini, sebenarnya jika ditelisik lagi, bisa berasal dari tekanan dan tuntutan dari lingkungan, sehingga seseorang secara tidak langsung memilih untuk memenuhi itu.
Tips dan solusi
Pertama, tentukan pasti target kita. Dengan begitu, kita bisa fokus pada target kita, tidak fokus ke apa kata orang atau apa yang dicapai orang lain padahal hal itu tidak masuk dalam target masa depan kita.
Kedua, kita harus menyadari ukuran kemampuan kita dengan objektif, apa keunggulan dan kelemahan diri kita. Dengan begitu kita bisa mengukur bagaimana cara realistis untuk bisa mencapai tujuan tersebut, seperti, pengetahuan apa yang perlu ditam- bahkan, skill apa yang perlu diasah, dan berapa lama proses belajarnya. Sehingga langkah kita bisa terukur dengan pasti dan kita fokus saja pada langkah-langkah yang telah kita rencanakan, sehingga kita tidak mudah terombang-ambing dengan pencapaian orang lain.
Menanamkan kesadaran bahwa ketika orang yang mencapai sesuatu lebih dulu dari kita, bisa jadi karena start proses belajarnya lebih dulu, dan pasti ada sunnatullah yang lebih dulu ia lewati lebih awal daripada kita untuk bisa mencapai skill tertentu.
Selanjutnya kita juga perlu menyadari bahwa ketika kita berproses untuk mencapai target, kita harus meyakini bahwa kegagalan saat proses belajar itu hal yang wajar. Tidak selalu perjalanan belajar monoton selalu mencapai kesuksesan tanpa meng- alami kegagalan.
Oleh Abdul Azis Mubarok

