<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ramadhan Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/kategori/ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/kategori/ramadhan/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Mar 2025 04:02:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Ramadhan Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/kategori/ramadhan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bledugan dan Petasan: Tradisi Mainan Anak Betawi Zaman Dahulu di Malam Lebaran</title>
		<link>https://jakpos.id/bledugan-dan-petasan-tradisi-mainan-anak-betawi-zaman-dahulu-di-malam-lebaran/</link>
					<comments>https://jakpos.id/bledugan-dan-petasan-tradisi-mainan-anak-betawi-zaman-dahulu-di-malam-lebaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2025 04:02:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=83907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Petasan atau Mercon, merupakan bahan mesiu yang dapat diledakkan setelah disulut.&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bledugan-dan-petasan-tradisi-mainan-anak-betawi-zaman-dahulu-di-malam-lebaran/">Bledugan dan Petasan: Tradisi Mainan Anak Betawi Zaman Dahulu di Malam Lebaran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Petasan atau Mercon, merupakan bahan mesiu yang dapat diledakkan setelah disulut. Petasan sering dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa pada saat tertentu, terutama bulan Ramdhan dan menjelang Lebaran. Permainan ini kemudian menjadi sebuah tradisi untuk memperingati suatu acara tertentu, misalnya acara pernikahan, sunatan, bahkan dahulu petasan dijadikan media komunikasi, sebagai pemberitahuan bagi seseorang yang punya hajat, pernikahan, sunatan atau akan pergi dan pulang haji.</p>
<p>Kemudian, ketika kedatangan bangsa Tiongkok, China, pada abad ke-15 M, untuk berdagang, petasan dan sejarahnya mulai terbentuk di Indonesia. Bahkan pada zaman Majapahit, penggunaan perasan sebagai pemberitahuan dalam upacara adat.</p>
<p>Kemudian sekarang, petasan atau mercon diperjual belikan dan dijajakan di pasar-pasar tradisional dan di pinggir jalan dan dibeli masyarakat umum untuk jadi bahan mainan bahkan dijadikan alat untuk perang-perangan, terutama petasan jenis janghwe, yang kalau disulut meledaknya jauh ke atas atau jarak datar.</p>
<p>Karena itu, di hampir setiap ada acara, entah perkawinan, sunatan dan lain sebagainya, masyarakat, terutama orang tua dan anak-anak di Betawi bermain petasan, terlebih saat malam *Takbiran* menjelang Lebaran. Bahkan ada orang tua yang sengaja membelikan barang tersebut kepada anaknya sebagai hadiah Lebaran. Kelakuan ini, biasanya dahulu orang tuanya juga sangat hobi bermain petasan.</p>
<p>Selain petasan, ada juga permainan sejenis itu, cuma tidak menggunakan bahan mesiu, tapi bahan karbit dengan bambu sebagai medianya. Ketika disulut baru meledak dan berbunyi, *Bledug* makanya permainan jenis ini disebut *Bledugan*. Dan hingga kini anak-anak di kampung, masih melakukannya setiap bulan Ramdhan dan pada saat Lebaran. Bahkan, mereka bermain bledugan seminggu sebelum dan sesudah lebaran, sehingga ada orang yang tidak suka dengan permainan ini, marah pada anak-anak. Barulah permainan ini berhenti.</p>
<h3>Petasan: Sejarah, Manfaat dan Mudharatnya</h3>
<p>Bangsa Tiongkok, China, pada abad ke-9 M, telah menemukan Mesiu sebagai bahan peledak. Sejak saat itu, penggunaan mesiu sebagai bahan peledak terus mengalami transformasi. Bahan misiu tersebut kemudian dirancang sebagai bahan peluru untuk senjata yang digunakan saat berperang melawan musuh. Ketika pada abad ke-15 M, para pendatang dan pedagang dari Tiongkok tiba di Nusantara, mulai terbentuk pembuatan dan perdagangan petasan. Petasan kemudian dijadikan sebagai media informasi kepada masyarakat. Bahkan, pada masa Kerajaan Mahapahit, petasan dijadikan, selain sebagai media, juga sebagai alat peringatan dalam sebuah tradisi ritual budaya dan keagamaan. Masyakat sangat antusias menyaksikan atraksi permainan petasan atau mercon ini.</p>
<p>Kemudian pada masa penjajahan Belanda, petasan sering digunakan sebagai alat persenjataan perlawanan. Kemudian setelah kemerdekaan, selain tetap dipergunakan sebagai media komunikasi, juga sebagai sarana hiburan, acara ritual keagamaan dan lain sebagainya. Kini, petasan atau mercon menjadi sarana hiburan bagi anak-anaak dan orang dewasa pada zaman dahulu saat Lebaran.</p>
<p>Kemudian, selain petasan, di daerah Betawi dan wilayah lainnya di Indonesia, selain permainan petasan, juga ada permainan yang tidak kalah menarik, yaitu permainan *Bledugan, sebuah permainan berbahan dasar karbit dan bambu besar (Bambu Petung) sebagai medianya. Cara mainnya, setelah di dundut, terbakar dan berbunyi *Bledug. Bagi kalangan anak-anak dan orang dewasa tertentu, permiainan ini sangat mengasyikkan. Tapi bagi sebagian masyakat, bermain petasan lebih banyak Mudhararatnya ketimbang manfaatnya, karena tidak sedikit orang terluka, bahkan cukup parah . Ada yang jemarinya putus atau bahkan semua jemarinya hilang karena mereka berebut sisa petasan yang selesai dibakar. Dikira sudah mati atau tidak hidup lahi, ternyata masih aktif, seperti yang menimpa teman SD saya. Itulah mudharatnya bermain petasan {Odie].</p>
<p>Semoga informasi ini bermanfaat untuk semua orang dan tidak lagi berani bermain petasan.</p>
<p>Pamulang, 26 Maret 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bledugan-dan-petasan-tradisi-mainan-anak-betawi-zaman-dahulu-di-malam-lebaran/">Bledugan dan Petasan: Tradisi Mainan Anak Betawi Zaman Dahulu di Malam Lebaran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/bledugan-dan-petasan-tradisi-mainan-anak-betawi-zaman-dahulu-di-malam-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/wahananews.co/photo/berita/dir052022/jelang-idul-fitri-kota-depok-helat-tradisi-potong-kebo-andilan_f3k8NdBBFf.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Jurnalis Filantropi Indonesia Gelar Santunan dan Tebar Paket Pangan Ramadhan di Sukabumi dan Kabupaten Kuningan</title>
		<link>https://jakpos.id/jurnalis-filantropi-indonesia-gelar-santunan-dan-tebar-paket-pangan-ramadhan-di-sukabumi-dan-kabupaten-kuningan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/jurnalis-filantropi-indonesia-gelar-santunan-dan-tebar-paket-pangan-ramadhan-di-sukabumi-dan-kabupaten-kuningan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2025 03:10:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Humanitas]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalis Filantropi Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=83861</guid>

					<description><![CDATA[<p>SUKABUMI &#8211; Jurnalis Filantropi Indonesia (Jufi) kembali menyelenggarakan program Ramadhan Bahagia, Jumat-Sabtu (21-22/3/2025). Tahun 2025,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jurnalis-filantropi-indonesia-gelar-santunan-dan-tebar-paket-pangan-ramadhan-di-sukabumi-dan-kabupaten-kuningan/">Jurnalis Filantropi Indonesia Gelar Santunan dan Tebar Paket Pangan Ramadhan di Sukabumi dan Kabupaten Kuningan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SUKABUMI</strong> &#8211; Jurnalis Filantropi Indonesia (Jufi) kembali menyelenggarakan program Ramadhan Bahagia, Jumat-Sabtu (21-22/3/2025). Tahun 2025, merupakan penyelenggaraan kelima Ramadhan Bahagia.</p>
<p>Ketua Jufi Wiyanto mengatakan Ramadhan Bahagia merupakan momen bagi Jufi untuk berbagi kepada sesama. Pada kegiatan ini, Jufi membagikan paket pangan Ramadhan dan bantuan uang tunai.</p>
<p>&#8220;Tahun ini, Ramadhan Bahagia kelima. Kita berbagi paket pangan dan uang tunai Ramadhan kepada guru madrasah, yatim duafa di pedalaman Sukabumi dan Kuningan, Jawa Barat,&#8221; ujar Wiyanto, Sabtu (22/3/2025).</p>
<p>Adapun paket yang diberikan di Sukabumi dan Kuningan sebanyak 80 paket pangan. Paket tersebut berisi beras, gula, minyak goreng, mie instan, kecap, sarden, biskuit, sari kelapa, mentega, teh celup, kopi, susu, dan sirup dan uang tunai khusus kepada Guru Madrasah.</p>
<p>&#8220;Tentunya ini atas dukungan para sponsor. Seperti BSI Maslahat, LPPOM MUI, BCA Syariah, Yayasan Amalia Astra. Kami ucapkan terima kasih kepada sponsor,&#8221; kata Wiyanto.</p>
<p>Wiyanto berharap bantuan pangan dan uang tunai dapat membantu para mustahik dalam menjalani ibadah Ramadhan. &#8220;Semoga kegiatan ini bisa terselenggara setiap tahun,&#8221; harap Wiyanto.</p>
<p>Sementara itu Ketua Yayasan Sekolah Rakyat sekaligus Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) Dr. Misbah Fikrianto MM., M.Pd., M.Si turut mengikuti kegiatan Ramadhan Bahagia kelima di Sukabumi. Kepada guru madrasah di Sukabumi, Dr Misbah memberikan pengarahan terhadap para guru yang mendapat bantuan uang tunai.</p>
<p>&#8220;Bapak/ibu Guru SMPIT Al Bina harus ikhlas mendidik anak murid, dan juga saya lihat sekolah juga harus dijaga, saya harap ada bebersih Sekolah. Ini sekolahan milik umat yang saya wakafkan,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Sebelumnya, Ramadhan Bahagia Jufi digelar di sejumlah tempat. Seperti di Jabodetabek (2021), Solo dan Karanganyar (2022), Kemiling Lampung (2023), Kopeng Merbabu (2024).*</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jurnalis-filantropi-indonesia-gelar-santunan-dan-tebar-paket-pangan-ramadhan-di-sukabumi-dan-kabupaten-kuningan/">Jurnalis Filantropi Indonesia Gelar Santunan dan Tebar Paket Pangan Ramadhan di Sukabumi dan Kabupaten Kuningan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/jurnalis-filantropi-indonesia-gelar-santunan-dan-tebar-paket-pangan-ramadhan-di-sukabumi-dan-kabupaten-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/03/WhatsApp-Image-2025-03-23-at-09.43.40_841d9b46-FILEminimizer.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menjemput Malam Lailatul Qadar</title>
		<link>https://jakpos.id/menjemput-malam-lailatul-qadar/</link>
					<comments>https://jakpos.id/menjemput-malam-lailatul-qadar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2025 03:15:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=83820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Ramadhan, memiliki makna yang sangat banyak, tidak hanya makna historis dan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjemput-malam-lailatul-qadar/">Menjemput Malam Lailatul Qadar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Ramadhan, memiliki makna yang sangat banyak, tidak hanya makna historis dan sosiologis, juga makna filosofis, seperti yang sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Di dalam bulan Ramadhan, banyak peristiwa penting yang terjadi yang kemudian menjadi bagian dari tradisi penting dalam Islam. Salah satunya adalah peristiwa Nuzul al-Qur’an dan Lailatul Qadar. Apa itu malam Lailtul Qadar, apa saja keistimewaan Lailatul Qadar, bagaimana caranya menjemput dan menemui Malam Lailatul Wadar. Berikut narasinya.</p>
<h3>Pengertian Lailatul Qadar</h3>
<p>Lailatul Qadar adalah salah satu malam yang paling istimewa dalam bulan Ramadhan. Malam ini dianggap sebagai malam yang penuh berkah dan ampunan, sehingga banyak umat Islam yang berusaha untuk menjemput dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.</p>
<h4>Pengertian Lailatul Qadar dari Aspek Bahasa dan Istilahnya</h4>
<p>Dari aspek bahasa, Lailatul Qadar berasal dari kata *lail* yang berarti malam, dan *qadar* yang berarti ketetapan atau keputusan. Jadi, Lailatul Qadar dapat diartikan sebagai malam ketetapan atau malam keputusan.</p>
<p>Dalam istilah agama, Lailatul Qadar diartikan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini dianggap sebagai malam yang penuh berkah dan ampunan, sehingga banyak umat Islam yang berusaha untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.</p>
<h3>Keistimewaan Lailatul Qadar</h3>
<p>Lailatul Qadar memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh malam-malam lainnya. Berikut beberapa keistimewaan Lailatul Qadar:</p>
<p><strong>1. Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan.</strong> Lailatul Qadar dianggap sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.3 Ini berarti bahwa amal ibadah yang dilakukan pada malam ini akan mendapatkan pahala yang lebih besar daripada amal ibadah yang dilakukan pada seribu bulan lainnya.</p>
<p><strong>2. Malam Ampunan.</strong> Lailatul Qadar dianggap sebagai malam ampunan.4 Ini berarti bahwa Allah SWT akan memberikan ampunan kepada orang-orang yang beristighfar dan memohon ampun pada malam ini.</p>
<p><strong>3. Malam Berkah.</strong> Lailatul Qadar dianggap sebagai malam berkah. Ini berarti bahwa Allah SWT akan memberikan keberkaha dan kebaikan kepada orang-orang yang beribadah pada malam ini.</p>
<h4>Bagaimana Bisa Bertemu dengan Malam Lailatul Qadar?</h4>
<p>Lailatul Qadar biasanya terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, dan ke-29.6 Namun, tidak ada yang tahu pasti kapan Lailatul Qadar akan terjadi, karena hanya Allah SWT yang mengetahuinya.</p>
<p>Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan beribadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dengan demikian, kita dapat memperoleh keberkahan dan ampunan dari Allah SWT, semua kita serahkan pada Allah apakah kita bertemu dengan Lailatul Qadar atau tidak. Yang harus kita lakukan adalah terus berikhtiar untuk menjemput dan bertemu dengan *Lailatul Qadar*.</p>
<h4>Persiapan untuk Memanfaatkan Lailatul Qadar</h4>
<p>Berikut beberapa persiapan yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan Lailatul Qadar:</p>
<p><strong>1. Meningkatkan Ibadah.</strong> Meningkatkan ibadah dengan melakukan shalat, membaca Al-Qur&#8217;an, dan memohon ampun kepada Allah SWT.</p>
<p><strong>2. Membaca Al-Qur&#8217;an</strong>. Membaca Al-Qur&#8217;an dengan memahami maknanya dan menghayati keindahannya.</p>
<p><strong>3. Beristighfar.</strong> Beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT untuk dosa-dosa yang telah dilakukan.</p>
<p><strong>4. Meningkatkan Ketaqwaan.</strong> Meningkatkan ketaqwaan dengan melakukan amal ibadah dan menjauhi perbuatan maksiat.</p>
<p>Dengan melakukan persiapan-persiapan tersebut, kita dapat memanfaatkan Lailatul Qadar dengan sebaik-baiknya dan memperoleh keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.</p>
<h3>Tradisi Menjemput Malam Lailatul Qadar</h3>
<p>Malam Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa bagi umat Islam. Malam ini dianggap sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena itu umat Muslim Dunia, termauk Muslim Indonedia, berusaha keras untuk menjemput dan bertemu dengan malam lailatul qadar. Menjemput dan menghidupkan malam *Lailatul Qadar* menjadi sebuah tradisi yang sangat baik.</p>
<p>Di antara tradisi yang dilakukan dalam menjemput malam lailatul qadar adalah, sebagai berikut:,</p>
<p><strong>1. Shalat Malam</strong></p>
<p>Salah satu tradisi menjemput malam Lailatul Qadar adalah dengan melakukan shalat malam. Shalat malam ini dapat dilakukan secara individu atau berjamaah.</p>
<p><strong>2. Tadarus Al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Tadarus Al-Qur&#8217;an adalah tradisi lain menjemput malam Lailatul Qadar. Tadarus Al-Qur&#8217;an dapat dilakukan secara individu atau berkelompok.</p>
<p><strong>3. Doa dan Dzikir</strong></p>
<p>Doa dan dzikir adalah tradisi lain menjemput malam Lailatul Qadar. Doa dan dzikir dapat dilakukan secara individu atau berkelompok.</p>
<p><strong>4. I&#8217;tikaf</strong></p>
<p>I&#8217;tikaf adalah tradisi lain menjemput malam Lailatul Qadar. I&#8217;tikaf dapat dilakukan secara individu atau berkelompok di masjid atau musala.</p>
<p><strong>5. Menghidupkan Malam dengan Kegiatan Spiritual</strong></p>
<p>Menghidupkan malam dengan kegiatan spiritual adalah tradisi lain menjemput malam Lailatul Qadar. Kegiatan spiritual ini dapat berupa shalat, doa, dzikir, dan lain-lain.</p>
<p><strong>6. Berjaga dan Berdoa Bersama Keluarga</strong></p>
<p>Berjaga dan berdoa bersama keluarga adalah tradisi lain menjemput malam Lailatul Qadar. Kegiatan ini dapat memperkuat ikatan keluarga dan meningkatkan kesadaran spiritual.</p>
<p><strong>7. Mengunjungi Makam dan Berdoa untuk Arwah</strong></p>
<p>Mengunjungi makam dan berdoa untuk arwah adalah tradisi lain menjemput malam Lailatul Qadar. Kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran akan kematian dan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Lailatul Qadar merupakan salah satu malam yang sangat eksklusif, karena ia memiliki arti yang sangat berharga bagi mereka yang sempat menjumpai malam Lailatul Qadar, jika dihidupkan dengan membaca al-Qur’an dan berdo’a sambil i’tikaf di masjid, dosanya akan diampuni selama hampir 80 tahun lebih. Wajtu tersebut jika dihitung dari isi surat al-Qadar bagwa malam Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan.<br />
Tradisi menjemput malam Lailatul Qadar sangat beragam dan unik. Dari shalat malam hingga mengunjungi makam dan berdoa untuk arwah, semua kegiatan ini dapat memperkuat ikatan spiritual dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.</p>
<p>Demikian. Wallahu A’lam. InsyaAllah bermanfaat (Odie).</p>
<p><em>Pamulang, 19 Maret 2025</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjemput-malam-lailatul-qadar/">Menjemput Malam Lailatul Qadar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/menjemput-malam-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/img.harianjogja.com/posts/2024/03/24/1169098/malam-lailatul-qadar.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Jamaah Masjid Al Akbar Eramas 2000 Jakarta, Salurkan Donasi Rp 165 Juta untuk Palestina Melalui Program Safari Ramadhan</title>
		<link>https://jakpos.id/jamaah-masjid-al-akbar-eramas-2000-jakarta-salurkan-donasi-rp-165-juta-untuk-palestina-melalui-program-safari-ramadhan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/jamaah-masjid-al-akbar-eramas-2000-jakarta-salurkan-donasi-rp-165-juta-untuk-palestina-melalui-program-safari-ramadhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2025 01:47:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=83784</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA – Jamaah Masjid Al Akbar yang berlokasi di Perumahan Eramas 2000, Jakarta Timur, turut&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jamaah-masjid-al-akbar-eramas-2000-jakarta-salurkan-donasi-rp-165-juta-untuk-palestina-melalui-program-safari-ramadhan/">Jamaah Masjid Al Akbar Eramas 2000 Jakarta, Salurkan Donasi Rp 165 Juta untuk Palestina Melalui Program Safari Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/"><strong>JAKARTA</strong></a> – Jamaah Masjid Al Akbar yang berlokasi di Perumahan Eramas 2000, Jakarta Timur, turut berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan untuk Palestina melalui program Safari Ramadhan bertema Membasuh Luka Palestina 2025. Program ini diinisiasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mendapat respons luar biasa dari masyarakat.</p>
<p>Dalam aksi penggalangan dana yang berlangsung selama dua pekan, jamaah Masjid Al Akbar berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 165 juta. Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Akbar, H. Deden E Soetrisna menyampaikan rasa syukur atas partisipasi jamaah dalam aksi solidaritas ini.</p>
<p>&#8220;Jamaah Masjid Al Akbar merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Dengan semangat gotong royong, dalam dua pekan kami berhasil mengumpulkan Rp 165 juta untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Senada dengan itu, Deden, yang juga ketua RT setempat, berharap semangat kepedulian yang ditunjukkan oleh warga Eramas 2000 dapat menginspirasi masyarakat Indonesia lainnya untuk turut membantu perjuangan rakyat Palestina.</p>
<p>Sementara itu, Syeikh Dr. Ahed Abulatta, dalam kesempatan yang sama, mengungkapkan kondisi terkini di Gaza melalui penerjemah Dr. Andy Hadiyanto, Wakil Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza merupakan bentuk genosida, di mana laki-laki, perempuan, hingga anak-anak menjadi korban kekejaman Israel.</p>
<p>&#8220;Kami, rakyat Gaza, tidak ingin meninggalkan tanah kami. Jika kami berkompromi, maka Masjidil Aqsa akan jatuh ke tangan penjajah, dan peradaban Islam di Palestina akan lenyap,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Abdul Jabbar, perwakilan MUI Pusat, menegaskan bahwa program Safari Ramadhan merupakan wujud nyata kecintaan bangsa Indonesia terhadap Palestina. Ia juga mengapresiasi peran Baznas sebagai lembaga resmi pemerintah yang terus berupaya membantu rehabilitasi dan pemulihan di wilayah yang terdampak konflik.</p>
<p>Acara ditutup dengan prosesi penyerahan donasi sebesar Rp 165 juta yang secara simbolis diserahkan oleh Ketua Dewan Syuro Masjid Al Akbar, H. Dadang Kadarsyah, kepada Syeikh Ahed Abulatta.</p>
<p>Dengan aksi kepedulian ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk membantu rakyat Palestina dalam menghadapi krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jamaah-masjid-al-akbar-eramas-2000-jakarta-salurkan-donasi-rp-165-juta-untuk-palestina-melalui-program-safari-ramadhan/">Jamaah Masjid Al Akbar Eramas 2000 Jakarta, Salurkan Donasi Rp 165 Juta untuk Palestina Melalui Program Safari Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/jamaah-masjid-al-akbar-eramas-2000-jakarta-salurkan-donasi-rp-165-juta-untuk-palestina-melalui-program-safari-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1741916624/WhatsApp-Image-2025-03-14-at-08.40.22_cdbb0e7b-FILEminimizer_8435158f71/WhatsApp-Image-2025-03-14-at-08.40.22_cdbb0e7b-FILEminimizer_8435158f71.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Qunut dan Makan Ketupat  Sayur di Malam ke-15 Ramadhan</title>
		<link>https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2025 02:25:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=83756</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Sebentar lagi kita akan memasuki pertengahan Ramadhan. Muslim Indonesia, Jawa khususnya,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan/">Tradisi Qunut dan Makan Ketupat  Sayur di Malam ke-15 Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Sebentar lagi kita akan memasuki pertengahan Ramadhan. Muslim Indonesia, Jawa khususnya, melakukan satu tradisi yang hanya ada pada masyarakat muslim Jawa, yaitu tradisi Qunutan dan makan ketupat sayur. Bagaimana tradisi itu terjadi dan terus dipertahankan hingga kini. Berikut sejarahnya.</p>
<p>Sejarah Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat di Malam Pertengahan Ramadhan</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan adalah tradisi yang unik dan menarik di Indonesia, khususnya di Jawa. Berikut adalah sejarah singkat tentang tradisi ini:</p>
<h3>Asal Usul Tradisi Qunut</h3>
<p>Tradisi Qunut berasal dari istilah &#8220;qunut&#8221; dalam bahasa Arab, yang berarti &#8220;berdiri&#8221; atau &#8220;menghadap&#8221;. Dalam konteks Ramadhan, Qunut merujuk pada do’a yang dibaca oleh imam setelah shalat Isya&#8217; pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan, termasuk malam pertengahan Ramadhan.</p>
<h3>Sejarah Tradisi Makan Sayur Ketupat</h3>
<h4>Asal usul Ketupat dan Maknanya</h4>
<p>Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa atau daun pisang.</p>
<h4>Sejarah Kupat atau Ketupat</h4>
<p>Kupat atau ketupat telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Pada saat itu, kupat atau ketupat disajikan sebagai makanan untuk para prajurit dan pejabat kerajaan.</p>
<p>Kemudian, nama kupat&#8221; atau &#8220;ketupat&#8221; berasal dari bahasa Jawa, yaitu &#8220;kupat&#8221; yang berarti &#8220;bungkus&#8221; atau &#8220;ikat&#8221;. Nama ini merujuk pada cara membuat kupat atau ketupat, yaitu dengan membungkus beras dengan daun kelapa atau daun pisang. Ada juga yang mengatakan diksi kupat berasal dari kata *ngaku lepat* atau mengakui kesalahan dan meminta maaf pada saat hari raya atau hari-hari besar.</p>
<h4><strong>Perkembangan Kupat atau Ketupat</strong></h4>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, Kupat atau ketupat menjadi makanan tradisional yang populer di Indonesia, terutama di Jawa. Kupat atau ketupat disajikan dalam berbagai acara, seperti Idul Fitri, pernikahan, dan khitanan.</p>
<p>Di samping itu, Kupat atau ketupat memiliki variasi yang berbeda-beda, seperti: Kupat atau Ketupat Jawa, yang dibuat dengan beras dan daun kelapa atau daun pisang. Kupat atau Ketupat Sunda, Kupat atau ketupat yang dibuat dengan beras dan daun pisang. Selanjutnya ada juga Kupat atau Ketupat Madura, yang dibuat dengan beras dan daun kelapa atau daun pisang.</p>
<h4>Makna dari Kupat atau Ketupat</h4>
<p>Makna Antropologis dan Filosofis dari Kupat atau Ketupat<br />
Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa atau daun pisang. Berikut adalah makna antropologis dan filosofis dari kupat atau ketupat:</p>
<h4>Makna Antropologis</h4>
<p>1. Simbol Kebesaran dan<br />
Kemuliaan.</p>
<p>Kupat atau ketupat sering disajikan dalam acara-acara penting seperti Idul Fitri, pernikahan, dan khitanan. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dianggap sebagai makanan yang mulia dan berkelas.</p>
<p>2. Simbol Kekompakan dan<br />
Kesatuan.</p>
<p>Kupat atau ketupat biasanya dibuat secara bersama-sama oleh keluarga dan tetangga. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat memperkuat ikatan sosial dan kesatuan masyarakat.</p>
<p>3. Simbol Kebudayaan dan Tradisi.</p>
<p>Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional yang telah ada sejak lama. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat memiliki nilai budaya dan sejarah yang penting.</p>
<h4>Makna Filosofis</h4>
<p>1. Simbol Keseimbangan dan Harmoni. Kupat atau ketupat terdiri dari dua bagian yang saling melengkapi, yaitu beras dan daun kelapa atau daun pisang. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol keseimbangan dan harmoni.</p>
<p>2. Simbol Kesabaran dan Ketekunan. Membuat kupat atau ketupat memerlukan kesabaran dan ketekunan. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol kesabaran dan ketekunan.<br />
3. Simbol Kebahagiaan dan Kesyukuran. Kupat atau ketupat sering disajikan dalam acara-acara penting dan bahagia. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol kebahagiaan dan rasa syukur.</p>
<p>Karena ketupat dijadikan sebagai panganan yang memiliki banyak makna, maka kemudian tradisi pembuatan dan makan ketupat dijadikan kebiasaan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, maka makan ketupat sayur dianggap sebagai sebuah tradisi yang terus diwariskan secara turun temurun hingga anak cucu.</p>
<h3>Tradisi makan ketupat Sayur di pertengahan Ramadhan</h3>
<p>Tradisi makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan berasal dari Jawa, Indonesia. Menurut sejarah, tradisi ini dimulai pada abad ke-16, ketika Islam mulai menyebar di Jawa, mulai dari Kerajaan Islam Demak, Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten. Khusus bagi masyarakat Islam Banten, tradisi ini sudah terjadi pada 1516 M saat Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, menyebarkan ajaran Islam. Sayur ketupat adalah hidangan khas Jawa yang terbuat dari ketupat (nasi yang dibungkus dengan daun kelapa) dan sayuran seperti labu siam, kacang panjang, dan daun melinjo.</p>
<h3>Makna Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat</h3>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna yang mendalam. Qunut merupakan doa yang dibaca untuk memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, sedangkan makan sayur ketupat merupakan simbol dari kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<p>Dengan begitu dapat diketahui bahwa Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan adalah tradisi yang unik dan menarik di Indonesia, khususnya di Jawa. Tradisi ini memiliki makna yang mendalam, yaitu memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, serta kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<h3>Makna Historis Filosofis Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat di Malam Pertengahan Ramadhan</h3>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna historis filosofis yang mendalam. Berikut beberapa makna historis filosofis dari tradisi ini:</p>
<p>1. Makna Spiritual: Mengingatkan Kembali Kepada Allah SWT</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna spiritual yang mendalam. Qunut merupakan doa yang dibaca untuk memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, sedangkan makan sayur ketupat merupakan simbol dari kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<p>2. Makna Sosial: Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna sosial yang mendalam. Tradisi ini meningkatkan ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dan persatuan di antara umat Islam.</p>
<p>3. Makna Kultural: Melestarikan Tradisi dan Budaya</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna kultural yang mendalam. Tradisi ini melestarikan tradisi dan budaya Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.</p>
<p>4. Makna Filosofis: Mengingatkan Kembali Kepada Kebesaran Allah SWT</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Tradisi ini mengingatkan kita kembali kepada kebesaran Allah SWT dan pentingnya memohon ampun dan perlindungan dari-Nya.</p>
<p>5. Makna Historis: Mengingatkan Kembali Kepada Perjuangan Nabi Muhammad SAW</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna historis yang mendalam. Tradisi ini mengingatkan kita kembali kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam.</p>
<p>Selain itu, Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna historis filosofis yang mendalam. Tradisi ini memiliki makna spiritual, sosial, kultural, filosofis, dan historis yang sangat penting bagi umat Islam di Indonesia.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat {Odie}.</p>
<p>Pamulang, 11 Maret 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan/">Tradisi Qunut dan Makan Ketupat  Sayur di Malam ke-15 Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/imgx.sonora.id/crop/0x0:0x0/700x465/filters:format(webp):quality(50)/photo/2021/12/27/befunky-collage-2021-12-27t220-20211227100658.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Qunut dan Makan Ketupat  Sayur di Malam ke-15 Ramadhan</title>
		<link>https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2025 02:22:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=83865</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Sebentar lagi kita akan memasuki pertengahan Ramadhan. Muslim Indonesia, Jawa khususnya,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan-2/">Tradisi Qunut dan Makan Ketupat  Sayur di Malam ke-15 Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Sebentar lagi kita akan memasuki pertengahan Ramadhan. Muslim Indonesia, Jawa khususnya, melakukan satu tradisi yang hanya ada pada masyarakat muslim Jawa, yaitu tradisi Qunutan dan makan ketupat sayur. Bagaimana tradisi itu terjadi dan terus dipertahankan hingga kini. Berikut sejarahnya.</p>
<p>Sejarah Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat di Malam Pertengahan Ramadhan</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan adalah tradisi yang unik dan menarik di Indonesia, khususnya di Jawa. Berikut adalah sejarah singkat tentang tradisi ini:</p>
<h3>Asal Usul Tradisi Qunut</h3>
<p>Tradisi Qunut berasal dari istilah &#8220;qunut&#8221; dalam bahasa Arab, yang berarti &#8220;berdiri&#8221; atau &#8220;menghadap&#8221;. Dalam konteks Ramadhan, Qunut merujuk pada do’a yang dibaca oleh imam setelah shalat Isya&#8217; pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan, termasuk malam pertengahan Ramadhan.</p>
<h3>Sejarah Tradisi Makan Sayur Ketupat</h3>
<h4>Asal usul Ketupat dan Maknanya</h4>
<p>Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa atau daun pisang.</p>
<h4>Sejarah Kupat atau Ketupat</h4>
<p>Kupat atau ketupat telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Pada saat itu, kupat atau ketupat disajikan sebagai makanan untuk para prajurit dan pejabat kerajaan.</p>
<p>Kemudian, nama kupat&#8221; atau &#8220;ketupat&#8221; berasal dari bahasa Jawa, yaitu &#8220;kupat&#8221; yang berarti &#8220;bungkus&#8221; atau &#8220;ikat&#8221;. Nama ini merujuk pada cara membuat kupat atau ketupat, yaitu dengan membungkus beras dengan daun kelapa atau daun pisang. Ada juga yang mengatakan diksi kupat berasal dari kata *ngaku lepat* atau mengakui kesalahan dan meminta maaf pada saat hari raya atau hari-hari besar.</p>
<h4><strong>Perkembangan Kupat atau Ketupat</strong></h4>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, Kupat atau ketupat menjadi makanan tradisional yang populer di Indonesia, terutama di Jawa. Kupat atau ketupat disajikan dalam berbagai acara, seperti Idul Fitri, pernikahan, dan khitanan.</p>
<p>Di samping itu, Kupat atau ketupat memiliki variasi yang berbeda-beda, seperti: Kupat atau Ketupat Jawa, yang dibuat dengan beras dan daun kelapa atau daun pisang. Kupat atau Ketupat Sunda, Kupat atau ketupat yang dibuat dengan beras dan daun pisang. Selanjutnya ada juga Kupat atau Ketupat Madura, yang dibuat dengan beras dan daun kelapa atau daun pisang.</p>
<h4>Makna dari Kupat atau Ketupat</h4>
<p>Makna Antropologis dan Filosofis dari Kupat atau Ketupat<br />
Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa atau daun pisang. Berikut adalah makna antropologis dan filosofis dari kupat atau ketupat:</p>
<h4>Makna Antropologis</h4>
<p>1. Simbol Kebesaran dan<br />
Kemuliaan.</p>
<p>Kupat atau ketupat sering disajikan dalam acara-acara penting seperti Idul Fitri, pernikahan, dan khitanan. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dianggap sebagai makanan yang mulia dan berkelas.</p>
<p>2. Simbol Kekompakan dan<br />
Kesatuan.</p>
<p>Kupat atau ketupat biasanya dibuat secara bersama-sama oleh keluarga dan tetangga. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat memperkuat ikatan sosial dan kesatuan masyarakat.</p>
<p>3. Simbol Kebudayaan dan Tradisi.</p>
<p>Kupat atau ketupat adalah makanan tradisional yang telah ada sejak lama. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat memiliki nilai budaya dan sejarah yang penting.</p>
<h4>Makna Filosofis</h4>
<p>1. Simbol Keseimbangan dan Harmoni. Kupat atau ketupat terdiri dari dua bagian yang saling melengkapi, yaitu beras dan daun kelapa atau daun pisang. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol keseimbangan dan harmoni.</p>
<p>2. Simbol Kesabaran dan Ketekunan. Membuat kupat atau ketupat memerlukan kesabaran dan ketekunan. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol kesabaran dan ketekunan.<br />
3. Simbol Kebahagiaan dan Kesyukuran. Kupat atau ketupat sering disajikan dalam acara-acara penting dan bahagia. Ini menunjukkan bahwa kupat atau ketupat dapat dianggap sebagai simbol kebahagiaan dan rasa syukur.</p>
<p>Karena ketupat dijadikan sebagai panganan yang memiliki banyak makna, maka kemudian tradisi pembuatan dan makan ketupat dijadikan kebiasaan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, maka makan ketupat sayur dianggap sebagai sebuah tradisi yang terus diwariskan secara turun temurun hingga anak cucu.</p>
<h3>Tradisi makan ketupat Sayur di pertengahan Ramadhan</h3>
<p>Tradisi makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan berasal dari Jawa, Indonesia. Menurut sejarah, tradisi ini dimulai pada abad ke-16, ketika Islam mulai menyebar di Jawa, mulai dari Kerajaan Islam Demak, Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten. Khusus bagi masyarakat Islam Banten, tradisi ini sudah terjadi pada 1516 M saat Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, menyebarkan ajaran Islam. Sayur ketupat adalah hidangan khas Jawa yang terbuat dari ketupat (nasi yang dibungkus dengan daun kelapa) dan sayuran seperti labu siam, kacang panjang, dan daun melinjo.</p>
<h3>Makna Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat</h3>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna yang mendalam. Qunut merupakan doa yang dibaca untuk memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, sedangkan makan sayur ketupat merupakan simbol dari kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<p>Dengan begitu dapat diketahui bahwa Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan adalah tradisi yang unik dan menarik di Indonesia, khususnya di Jawa. Tradisi ini memiliki makna yang mendalam, yaitu memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, serta kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<h3>Makna Historis Filosofis Tradisi Qunut dan Makan Sayur Ketupat di Malam Pertengahan Ramadhan</h3>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna historis filosofis yang mendalam. Berikut beberapa makna historis filosofis dari tradisi ini:</p>
<p>1. Makna Spiritual: Mengingatkan Kembali Kepada Allah SWT</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna spiritual yang mendalam. Qunut merupakan doa yang dibaca untuk memohon ampun dan perlindungan dari Allah SWT, sedangkan makan sayur ketupat merupakan simbol dari kesyukuran dan kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat.</p>
<p>2. Makna Sosial: Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna sosial yang mendalam. Tradisi ini meningkatkan ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dan persatuan di antara umat Islam.</p>
<p>3. Makna Kultural: Melestarikan Tradisi dan Budaya</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna kultural yang mendalam. Tradisi ini melestarikan tradisi dan budaya Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.</p>
<p>4. Makna Filosofis: Mengingatkan Kembali Kepada Kebesaran Allah SWT</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Tradisi ini mengingatkan kita kembali kepada kebesaran Allah SWT dan pentingnya memohon ampun dan perlindungan dari-Nya.</p>
<p>5. Makna Historis: Mengingatkan Kembali Kepada Perjuangan Nabi Muhammad SAW</p>
<p>Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan juga memiliki makna historis yang mendalam. Tradisi ini mengingatkan kita kembali kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam.</p>
<p>Selain itu, Tradisi Qunut dan makan sayur ketupat di malam pertengahan Ramadhan memiliki makna historis filosofis yang mendalam. Tradisi ini memiliki makna spiritual, sosial, kultural, filosofis, dan historis yang sangat penting bagi umat Islam di Indonesia.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat {Odie}.</p>
<p>Pamulang, 11 Maret 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-qunut-dan-makan-ketupat-sayur-di-malam-ke-15-ramadhan-2/">Tradisi Qunut dan Makan Ketupat  Sayur di Malam ke-15 Ramadhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/asset.kompas.com/crops/wXRUx6JTjnKcbMe54tUHe8MxO2k=/0x86:1000x753/1200x800/data/photo/2021/05/11/6099df69ead68.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Memperingati Nuzul al-Qur’an di Indonesia</title>
		<link>https://jakpos.id/tradisi-memperingati-nuzul-al-quran-di-indonesia/</link>
					<comments>https://jakpos.id/tradisi-memperingati-nuzul-al-quran-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2025 20:06:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Nuzul al-Qur’an]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=83752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh:Murodi al-Batawi Puasa Ramadhan kita sudah memasuki sepuluh hari kedua, yaitu hari yang penuh dengan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-memperingati-nuzul-al-quran-di-indonesia/">Tradisi Memperingati Nuzul al-Qur’an di Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh:Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Puasa Ramadhan kita sudah memasuki sepuluh hari kedua, yaitu hari yang penuh dengan (مغفرة) ampunan, setelah sebelumnya berada pada hari yang penuh dengan (رحمة) rahmah, kasih sayang. InsyaAllah, kita memperoleh keduanya. Di tengah malam yang penuh dengan ampunan (مغفرة) ada satu peristiwa menggemparkan dunia, yaitu peristiwa turunnya al-Qur’an (نزول القرأن). Malam Nuzul al-Qur’an selalu diperingati setiap tahunnya, sehingga menjadi sebuah tradisi yang sangat baik untuk dilaksanakan.</p>
<h3>Tradisi Memperingati Nuzulul Qur&#8217;an</h3>
<p>Malam Nuzulul Qur&#8217;an adalah malam yang sangat penting dalam kalender Islam. Pada malam ini, umat Muslim di seluruh dunia memperingati turunnya Al-Qur&#8217;an, kitab suci umat Islam, kepada Nabi Muhammad SAW. Malam Nuzulul Qur&#8217;an adalah malam yang diturunkannya Al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi pada malam 17 Ramadan, tahun 610 M, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.</p>
<h4>Sejarah Tradisi Memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an</h4>
<p>Tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada malam ini, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT.</p>
<p>Pada zaman Nabi Muhammad SAW tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dilakukan dengan melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan para sahabatnya untuk memperingati malam ini dengan melakukan ibadah dan membagikan sedekah kepada fakir miskin.</p>
<p>Kemudian pada zaman Para Sahabat dan Taabi&#8217;in Tabi&#8217;in, tradisi ini masih terus dilakukan dengan melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Mereka juga membagikan sedekah kepada fakir miskin dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya.</p>
<p>Selanjutnya di zaman modern, tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an tetap dilakukan dengan melakukan ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Umat Muslim di seluruh dunia juga memperingati malam ini dengan melakukan kegiatan keagamaan lainnya, seperti membaca Al-Qur&#8217;an, mengadakan khotbah dan ceramah, dan membagikan sedekah kepada fakir miskin.</p>
<h4>Tradisi Perayaan Nuzul al-Qur’an di Indonesia</h4>
<p>Nuzul al-Qur’an diperingati oleh hampir seluruh penduduk Muslim Dunia, termasuk Indonesia. Beragam nama dan tradisi yang disematkan pada perayaan malam Nuzul al-Qur’an ini, seperti ;</p>
<p>&#8211; Maleman (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat): Tradisi ini dilakukan dengan membuat kue serabi yang kemudian dibagikan ke lingkungan sekitar. Di Bali, tradisi ini dilakukan dengan membuat tumpeng yang kemudian dibawa ke masjid atau musala terdekat ¹.<br />
&#8211; Malam Pitu Likukh (Lampung): Tradisi ini dilakukan dengan penancapan obor besar yang terbuat dari susunan batok kelapa. Masyarakat Lampung juga menyiapkan hidangan seperti kuah beulangong.</p>
<p>&#8211; Keriang Bandong (Kalimantan Barat): Tradisi ini dilakukan dengan pemasangan ribuan lampu yang terbuat dari batang bambu dengan sumbu di atasnya.</p>
<p>&#8211; Khatam Al-Quran dan Sorban Berjalan (Jawa Timur): Tradisi ini dilakukan dengan mengarak sorban yang dianggap sakral oleh penduduk setempat. Setiap orang yang dilewati oleh sorban tersebut wajib menaruh sumbangan berupa uang seikhlasnya di atas sorban tersebut.</p>
<p>&#8211; Kuah Beulangong (Aceh dan Sumatera Utara): Tradisi ini dilakukan dengan mengolah hidangan seperti kuah beulangong yang terbuat dari daging sapi, kambing, atau kerbau yang dicampur dengan nangka muda.</p>
<p>Tradisi-tradisi tersebut merupakan contoh keberagaman budaya dan tradisi di Indonesia dalam memperingati Nuzulul Qur&#8217;an. Perayaan Nuzulul Qur&#8217;an di Indonesia telah dimulai sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno dan dilanjutkan oleh pemerintahan saat ini. Dan peringatan malam Nuzul al-Qur’an ini sering juga dilaksanakan di istana begara sebagai momen nasional.</p>
<p>Perayaan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara telah menjadi tradisi sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno. Acara ini biasanya digelar setiap tanggal 17 Ramadan dan dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri.</p>
<p>Acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara biasanya diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an, tausiyah, dan doa bersama. Pada tahun 2019, Presiden Joko Widodo menggelar acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara dengan tema &#8220;Kebersamaan dan Keberagaman Perspektif Al-Qur&#8217;an&#8221;</p>
<p>Selain itu, acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara juga diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an oleh qori dan qoriah terbaik dari seluruh Indonesia. Pada tahun 2011, acara peringatan Nuzul al-Qur&#8217;an di Istana Negara diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an oleh Qori terbaik II pada seleksi nasional di Kalimantan Selatan H. Sabaruddin dan Qori terbaik II pada pekan MTQ RRI Tingkat Nasional 2011 di Bandar Lampung H. Raden Harmoko.</p>
<h3>Hikmah Malam Nuzul al-qur’an</h3>
<p>Malam Nuzulul Qur&#8217;an adalah malam yang sangat istimewa bagi umat Islam, karena pada malam itu Al-Qur&#8217;an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Berikut beberapa hikmah Malam Nuzulul Qur&#8217;an:</p>
<p>1. Mengingatkan Kembali Kepada Allah SWT<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengingatkan kita kembali kepada Allah SWT, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.</p>
<p>2. Menghargai Al-Qur&#8217;an sebagai Pedoman Hidup<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengingatkan kita tentang pentingnya Al-Qur&#8217;an sebagai pedoman hidup. Al-Qur&#8217;an adalah kitab suci yang berisi petunjuk dan bimbingan bagi umat manusia.</p>
<p>3. Meningkatkan Ketaqwaan dan Kekhusyuan<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengajak kita untuk meningkatkan ketaqwaan dan kekhusyuan dalam beribadah. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang pentingnya ketaqwaan dan kekhusyuan dalam beribadah.</p>
<p>4. Mengingatkan Kembali Kepada Perjuangan Nabi Muhammad SAW<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengingatkan kita kembali kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang pentingnya perjuangan dan pengorbanan dalam menyebarkan ajaran Islam.</p>
<p>5. Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah<br />
Malam Nuzulul Qur&#8217;an mengajak kita untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dan persatuan di antara umat Islam. Pada malam itu, kita diingatkan kembali tentang pentingnya ukhuwah Islamiyah.</p>
<h3>Hikmah Peringatan Nuzulul Qur&#8217;an</h3>
<p>Di samping itu, peringatan Nuzulul Qur&#8217;an memiliki beberapa hikmah, antara lain:</p>
<p>&#8211; Ketentraman Hati: Al-Qur&#8217;an dapat menenangkan hati dan memberikan ketentraman bagi orang yang membacanya.<br />
&#8211; Pedoman Hidup: Al-Qur&#8217;an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, yang berisi ayat-ayat tentang keesaan Allah SWT dan landasan dalam menjalankan kehidupan.<br />
&#8211; Keberkahan: Peringatan Nuzulul Qur&#8217;an identik dengan Malam Lailatul Qadr, yang memiliki keberkahan dan pahala yang besar bagi orang yang menjalankannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.</p>
<h3>Pendapat Para Ulama dan Mujtahid Besar Islam</h3>
<p>Para ulama dan mujtahid besar Islam memiliki pendapat yang sama tentang tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an. Mereka menjelaskan bahwa tradisi ini dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p><strong>Imam Al-Ghazali</strong><br />
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya &#8220;Ihya&#8217; Ulumuddin&#8221; menjelaskan bahwa tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p><strong>Imam Ibn Taimiyah</strong><br />
Imam Ibn Taimiyah dalam kitabnya &#8220;Majmu&#8217; Al-Fatawa&#8221; menjelaskan bahwa tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p><strong>Imam An-Nawawi</strong><br />
Imam An-Nawawi dalam kitabnya &#8220;Riyadhus Shalihin&#8221; menjelaskan bahwa tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Tradisi memperingati Malam Nuzulul Qur&#8217;an yang telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, terus dipertahankan. Tradisi ini dapat membantu umat Muslim meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Para ulama dan mujtahid besar Islam juga memiliki pendapat yang sama tentang tradisi ini.</p>
<p>Demikian dan insyaAllah bermanfaat<br />
[Odie].</p>
<p>Pamulang, 10 Maret 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-memperingati-nuzul-al-quran-di-indonesia/">Tradisi Memperingati Nuzul al-Qur’an di Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/tradisi-memperingati-nuzul-al-quran-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIgT0xCQeHsTYQ00xEIE-Krga36Y5SPrzS5BJ5xXwiQlQQ6MSZ4Ppfl0epUyLji1mWyvXoPWLbBLmY4CpmzchuP9l9xylxdP3qMBkYuHMQruW6OuFKGA7H4IrzdjBLg9wrA_Eg0HAR3dCc/s640/dp-bbm-nuzulul-quran.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Libatkan UMKM, Kampung Ramadhan di Saung Kembangan Resmi Dibuka</title>
		<link>https://jakpos.id/libatkan-umkm-kampung-ramadhan-di-saung-kembangan-resmi-dibuka/</link>
					<comments>https://jakpos.id/libatkan-umkm-kampung-ramadhan-di-saung-kembangan-resmi-dibuka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Mar 2025 05:39:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kampung Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Saung Kembangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=82825</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain menampilkan kreativitas dan bakat para remaja, pengelola saung juga melibatkan 15 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk membuka bazar Ramadan</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/libatkan-umkm-kampung-ramadhan-di-saung-kembangan-resmi-dibuka/">Libatkan UMKM, Kampung Ramadhan di Saung Kembangan Resmi Dibuka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Pemerintah kota Jakarta Barat mendukung acara Kampung Ramadhan di Saung Kembangan pada 8 Maret hingga 22 Maret 2025.</p>
<p>Acara ini lumayan lengkap, selain menampilkan kreativitas dan bakat para remaja, pengelola saung juga melibatkan 15 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk membuka bazar Ramadan.</p>
<p>Asisten Kesra Pemkot Jakarta Barat Amin Haji mengapresiasi upaya Saung Kembangan karena mengajak serta UMKM bertumbuh, sehingga membantu perekonomian masyarakat. Pemerintah daerah juga ikut terbantu karena bisa menekan angka pengangguran.</p>
<p>“Di Cina, contohnya, saking majunya UMKM dapat memproduksi mobil sendiri. Untuk itu, saya mewakili Wali Kota Jakarta Barat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Saung Kembangan,” kata Amin di Saung Kembangan, Jakarta Barat, Sabtu (8/3).</p>
<p><img decoding="async" class="size-medium aligncenter" src="https://getpost.id/wp-content/uploads/2025/03/saung-kembangan-1536x1152.jpg" /></p>
<figure id="attachment_20773" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-20773"></figure>
<p>Amin juga takjub dengan inovasi pemilik Saung Kembangan yaitu H Najihun, yang menggabungkan kurikulum SMK Prima Wisata dengan basis keagamaan kuat.</p>
<p>“Ini cukup unik, ada sekolah wisata, tapi ilmu agamanya sangat kuat. Di Jakarta masih langka yang setahu saya baru ada di sini (Kembangan) dan di Pasar Minggu Jakarta Selatan,” ucapnya.</p>
<p>H Najihun, emilik Saung Kembangan,  menjelaskan saungnya berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter persegi. Sesuai dengan amanah sang ayah, KH Arsyad, lahan tersebut diharapkan dimanfaatkan untuk kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.</p>
<p>“Kami punya sekolah setingkat RA, madrasah, SMK dan pesantren, silakan tempat ini dipakai untuk kegiatan edukasi. Tahfidz juga bisa pakai saung untuk kegiatan. Semoga dari murid yang sedikit akan lahir ratusan hafidz dan orang-orang hebat,” pungkas dia.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/libatkan-umkm-kampung-ramadhan-di-saung-kembangan-resmi-dibuka/">Libatkan UMKM, Kampung Ramadhan di Saung Kembangan Resmi Dibuka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/libatkan-umkm-kampung-ramadhan-di-saung-kembangan-resmi-dibuka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/getpost.id/wp-content/uploads/2025/03/saung-kembangan-2-1536x1152.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Tradisi Ngabuburit</title>
		<link>https://jakpos.id/sejarah-singkat-tradisi-ngabuburit/</link>
					<comments>https://jakpos.id/sejarah-singkat-tradisi-ngabuburit/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2025 05:41:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Ngabuburit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=82801</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tataran Sunda, yang sekarang dikenal sebagai Jawa Barat, memiliki sejarah yang kaya dan beragam. Pada&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sejarah-singkat-tradisi-ngabuburit/">Sejarah Singkat Tradisi Ngabuburit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tataran Sunda, yang sekarang dikenal sebagai Jawa Barat, memiliki sejarah yang kaya dan beragam. Pada abad ke-16, Islam mulai berkembang di Tataran Sunda, dan menjadi agama yang dominan di wilayah tersebut.</p>
<p>Tradisi ngabuburit di Tataran Sunda dipercaya berasal dari zaman Kesultanan Cirebon, yang berdiri pada abad ke-15. Pada saat itu, Sultan Cirebon, Sunan Gunung Jati, memerintahkan rakyatnya untuk melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan, bermain, atau melakukan kegiatan lainnya untuk menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa.</p>
<p>Kemudian seiring berjalannya waktu, tradisi ngabuburit semakin berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Tataran Sunda. Masyarakat mulai melakukan kegiatan seperti berjalan-jalan, bermain, atau melakukan kegiatan lainnya untuk menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa.</p>
<p>Karena tradisi ini berawal dari Kesultanan Cirebon yang sangat Islami, maka dapat dipastikan bahwa tradisi ngabuburit dipengaruhi oleh Islam itu sendiri. Karena Islam memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan tradisi ngabuburit di Tataran Sunda. Tradisi ini dianggap sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran agama dan memperkuat iman di masyarakat.</p>
<p>Selain itu, tradisi dan perkembangan ngabuburit tentu saja dimainkan oleh para ulama dan tokoh madyarakat Islam di Cirebon, khususnya, dan pada masyarakat Sunda unumnya.</p>
<p>Tokoh masyarakat, seperti ulama dan pemimpin adat, memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan tradisi ngabuburit di Tataran Sunda. Mereka mempromosikan tradisi ini sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat.</p>
<h3>Makna Ngabuburit</h3>
<p>Dalam bahasa Sunda, kata ngabuburit berasal dari kata bubur yang berarti &#8220;menjelang&#8221; atau &#8220;mendekati&#8221;. Dalam konteks ini, ngabuburit berarti &#8220;menjelang berbuka puasa&#8221; atau &#8220;mendekati waktu berbuka puasa&#8221;.</p>
<p>Sedang dari segi istilah, istilah ngabuburit merujuk pada kegiatan yang dilakukan menjelang berbuka puasa, seperti berjalan-jalan, bermain, atau melakukan kegiatan lainnya. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan suasana hati yang gembira dan santai menjelang berbuka puasa.</p>
<p>Sementara dari aspek Budaya Sunda, ngabuburit memiliki makna yang lebih luas dan mendalam. Kegiatan ini dianggap sebagai bagian dari tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama. &#8220;Ngabuburit&#8221; juga dianggap sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat Sunda.</p>
<p>Sementara itu, ada yang nengatakan bahwa Ngabuburit dalam Budaya Sunda memiliki beberapa makna, seperti:</p>
<p>Ngabuburit dianggap sebagai cara untuk menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama. Kemudian juga sebagai salah satu cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat Sunda. Selain itu, Ngabuburit dianggap sebagai cara untuk menghibur diri dan melepaskan stres menjelang berbuka puasa.</p>
<h3>Respons Masyarakat Sunda terhadap Tradisi Ngabuburit</h3>
<p>Karera *Ngabuburit* sudah berlangsung sangat lama, dan kegiatan ini terwarisi secara turun temurun, maka ia sudah menjadi sebuah tradisi yang mengakar pada masyarakat Sunda, bahkan sudah dianggap sebagai sebuah budaya. Karena itu, terdapat respons dari masyarakat Sunda itu sendiri.</p>
<p>Berikut adalah respons tokoh adat dan tokoh agama tentang tradisi ngabuburit:</p>
<h3>Respons Tokoh Adat dan Tokoh Agama</h3>
<p>Tokoh adat Sunda, Jawa Barat, memiliki pandangan yang sangat positif tentang tradisi ngabuburit. Mereka menganggap ngabuburit sebagai bagian dari tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama.</p>
<p>&#8220;Ngabuburit adalah tradisi yang sangat penting bagi masyarakat Sunda. Tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat, serta menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama,&#8221; kata Rd. H. Dedi Mulyadi, tokoh adat Sunda.</p>
<h4>Respons Tokoh Agama</h4>
<p>Tokoh agama Islam juga memiliki pandangan yang sangat positif tentang tradisi ngabuburit. Mereka menganggap ngabuburit sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran agama dan memperkuat iman di masyarakat.</p>
<p>&#8220;Ngabuburit adalah cara untuk meningkatkan kesadaran agama dan memperkuat iman di masyarakat. Tradisi ini juga memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat, serta menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama,&#8221; kata K.H. Dr. H. Abdul Rozak, tokoh agama Islam.</p>
<h4>Respons Tokoh Masyarakat</h4>
<p>Tokoh masyarakat Sunda juga memiliki pandangan yang sangat positif tentang tradisi ngabuburit. Mereka menganggap ngabuburit sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat, serta menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama.</p>
<p>&#8220;Ngabuburit adalah cara untuk memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat. Tradisi ini juga menghormati tradisi dan adat istiadat Sunda yang telah ada sejak lama,&#8221; kata Dr. H. Dedi Sutardi, tokoh masyarakat Sunda.</p>
<p>Akhirnya dapat disimpulkan bahwa ngabuburit yang dicetuskan oleh Sunan Gunungjati menjadi sebuah tradisi yang diwariskan secara turun temurun dikakukan oleh masyarakat Sunda, Jawa Barat, setiap sore menjelang datangnya waktu adzan Maghrib. Masyarakat Sunda berjalan dan bertamasya di sore hari sambil bermain menunggu waktu berbuka puasa. Ia banyak memiliki makna dalam mempererat solidaritas sosial dan lain sebagainya.[Odie]</p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat. Aamiiinnn…</p>
<p>Pamulang,05 -03-2025<br />
Murodi al_Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sejarah-singkat-tradisi-ngabuburit/">Sejarah Singkat Tradisi Ngabuburit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/sejarah-singkat-tradisi-ngabuburit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Sahur Ramadhan di Dunia Islam; Makna, Sejarah, dan Praktiknya</title>
		<link>https://jakpos.id/tradisi-sahur-ramadhan-di-dunia-islam-makna-sejarah-dan-praktiknya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/tradisi-sahur-ramadhan-di-dunia-islam-makna-sejarah-dan-praktiknya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2025 09:15:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahur on the road]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=82797</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Ada sebuah tradisi Ramadhan yang sudah berlangsung sangat lama dilakukan oleh&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-sahur-ramadhan-di-dunia-islam-makna-sejarah-dan-praktiknya/">Tradisi Sahur Ramadhan di Dunia Islam; Makna, Sejarah, dan Praktiknya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Ada sebuah tradisi Ramadhan yang sudah berlangsung sangat lama dilakukan oleh umat Islam, sejak zaman Nabi saw; hingga sekarang, seperti *Makan Sahur* Makan Sahur adalah makanan yang dikonsumsi sebelum fajar, sebelum memulai berpuasa.</p>
<h3>Pengertian Sahur dari Segi Bahas dan istilah</h3>
<p>Kata &#8220;sahur&#8221; berasal dari bahasa Arab, yaitu &#8220;سَحَر&#8221; (sahar), yang berarti &#8220;makan sebelum fajar&#8221; atau &#8220;makan sebelum subuh&#8221;. Dalam bahasa Indonesia, kata &#8220;sahur&#8221; diartikan sebagai &#8220;makan sebelum fajar&#8221; atau &#8220;makan sebelum berpuasa&#8221;. Sedang menurut istilah Islam, sahur adalah tradisi makan sebelum fajar, yang dilakukan oleh umat Islam sebelum memulai puasa di bulan Ramadhan. Sahur adalah sunnah Rasulullah yang memiliki keutamaan dan berkah. Dalam konteks istilah, sahur memiliki beberapa pengertian, yaitu: Makan sebelum fajar, yang dilakukan oleh umat Islam sebelum memulai puasa di bulan Ramadhan.</p>
<h3>Sejarah Tradisi Sahur dalam Islam</h3>
<p>Pada masa Nabi Muhammad SAW, sahur adalah tradisi yang sangat penting dalam mempersiapkan diri untuk berpuasa. Nabi Muhammad SAW bersabda: &#8220;Makan sahur, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.&#8221; (HR. Bukhari, no. 1923) Pada masa itu, sahur dilakukan dengan sederhana, yaitu dengan makan roti, kurma, dan minum air. Nabi Muhammad saw juga mengajarkan para Sahabatnya untuk mengakhirkan waktu sahur, mendekati terbit fajar.</p>
<p>Kemudian pada masa para Sahabat, sahur tetap menjadi tradisi yang sangat penting dalam mempersiapkan diri untuk berpuasa. Para Sahabat seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman juga mengikuti tradisi sahur dengan sederhana.</p>
<p>Pada masa itu, sahur juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan. Para Sahabat akan berkumpul dan makan bersama, sambil berdiskusi tentang agama dan kehidupan.</p>
<p>Selanjutnya masa Tabi&#8217;in, sahur tetap menjadi tradisi yang sangat penting dalam mempersiapkan diri untuk berpuasa. Para Tabi&#8217;in seperti Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar juga mengikuti tradisi sahur dengan sederhana.</p>
<p>Pada masa itu, sahur juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan. Para Tabi&#8217;in akan berkumpul dan makan bersama, sambil berdiskusi tentang agama dan kehidupan.</p>
<p>Tradisi Makan Sahur di zaman kontemporer, ada sedikit perubahan, terutama terkait menu santapan Sahur. Kini sudah bisa menikmati santapan bervariasi, mulai dari kulinernya dan lain.</p>
<p>Pada masa kini, sahur juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan. Banyak orang yang berkumpul dan makan bersama, sambil berdiskusi tentang agama dan kehidupan.</p>
<h3>Makna Tradisi Sahur</h3>
<p>Tradisi sahur memiliki beberapa makna yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam:</p>
<p>*Makna Spiritual* Sahur adalah persiapan spiritual untuk menghadapi hari dengan penuh semangat dan kesabaran. Kesabaran dan Ketabahan. Sahur mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih sabar dan tabah dalam menghadapi hari dengan penuh tantangan. Sahur adalah sarana untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan cara memperkuat fisik dan mental.</p>
<p>Kemudian Makna Sosial. Sahur adalah sarana untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dengan cara berkumpul dan makan bersama. Selain itu, Sahur juga mengajarkan Kesadaran Sosial. Sahur mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih peduli terhadap orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Berikutnya, Sahur adalah sarana untuk memperkuat keharmonisan dalam masyarakat dengan cara memperkuat ikatan sosial.</p>
<h3>Makna Filosofis Sahur</h3>
<p>Sahur adalah simbol kebenaran yang mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih jujur dan transparan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Sahur mengajarkan umat Islam untuk menjadi lebih sadar akan keberadaan Allah SWT dan kepentingan beribadah kepada-Nya.</p>
<p>Kemudian terakhir, Sahur memiliki makna Kebahagiaan. Karena, Sahur adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan hakiki dengan cara memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.</p>
<p>Sahur on the Toad: Sebuah Tradisi Baru Dalam Bersahur</p>
<p>Sahur on the road adalah tradisi baru yang mulai populer di kalangan masyarakat, terutama di kota-kota besar. Tradisi ini melibatkan kegiatan bersahur di tempat-tempat umum, seperti jalan raya, taman, atau tempat-tempat lainnya.</p>
<h3>Sejarah Munculnya Sahur on the road</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road (SOTR) ini muncul sebagai respons terhadap kesibukan dan gaya hidup modern yang membuat orang sulit untuk bersahur di rumah. Banyak orang yang memiliki jadwal yang padat dan tidak memiliki waktu untuk bersahur di rumah. Oleh karena itu, mereka memilih untuk bersahur di tempat-tempat umum yang lebih mudah dijangkau.</p>
<h3>Cara Pelaksanaan SOTR</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road ini biasanya dilakukan dengan cara berikut:</p>
<p>1. Membawa Makanan: Para peserta membawa makanan sahur mereka sendiri dan berkumpul di tempat yang telah ditentukan.</p>
<p>2. Makan Bersama: Para peserta makan bersama-sama di tempat umum, sambil berbincang-bincang dan berbagi cerita.</p>
<p>3. Menggunakan Peralatan yang Ramah Lingkungan: Para peserta menggunakan peralatan makan yang ramah lingkungan, seperti wadah makanan yang dapat digunakan kembali.</p>
<h3>Manfaat SOTR</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road ini memiliki beberapa manfaat, antara lain:</p>
<p>1. Meningkatkan Kesadaran Sosial: Tradisi ini dapat meningkatkan kesadaran sosial dan kepedulian terhadap orang lain.<br />
2. Membangun Komunitas: Tradisi ini dapat membangun komunitas dan meningkatkan rasa persatuan di antara para peserta.<br />
3. Mengurangi Stres: Tradisi ini dapat mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup dengan cara menghabiskan waktu bersama orang lain.</p>
<h3>Tantangan SOTR</h3>
<p>Tradisi Sahur on the Road ini juga memiliki beberapa tantangan, antara lain:</p>
<p>1. Keterbatasan Fasilitas: Tidak semua tempat umum memiliki fasilitas yang memadai untuk bersahur.<br />
2. Keterbatasan Waktu: Para peserta harus memiliki waktu yang cukup untuk bersahur sebelum memulai aktivitas harian.<br />
3. Keterbatasan Keamanan: Para peserta harus memastikan keamanan dan keselamatan saat bersahur di tempat umum.</p>
<p>Sebagai sebuah tradisi, Sahur juga mengalami banyak transformasi, sejak zaman Nabi hingga kini. Salah satu bentuk tranformssinya adslah *Tradisi Sahur on the road,* yang terjadi pada Muslim perkotaan, yang sangat sbuk dengan berbagai sktivitas masing-masing, sehingga mereka merencanakan sebuah kegiatan Sahur bersama yang kemudian dikenal dengan istilah *Sahur on the toad.*</p>
<h3>Respons Masyarakat atas Sahur on the road</h3>
<p>Respons masyarakat Muslim Indonesia terhadap Sahur on the Road (SOTR) sangat beragam. Sebagian masyarakat menyambut baik kegiatan ini karena dapat memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan, terutama di kalangan remaja. Mereka menganggap SOTR sebagai kesempatan untuk berkumpul, berbagi makanan, dan melakukan kegiatan sosial seperti membagikan makanan kepada masyarakat miskin.</p>
<p>Namun, ada juga yang mengkritik SOTR karena dianggap dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan mengganggu ketertiban umum. Oleh karena itu, pemerintah telah melarang SOTR di beberapa daerah.</p>
<p>Dalam beberapa kasus, SOTR juga telah menyebabkan bentrokan antara peserta dan aparat keamanan. Misalnya, pada Februari 2025, terjadi bentrokan antara peserta SOTR dan polisi di Jakarta, yang menyebabkan beberapa orang terluka dan ditangkap.</p>
<p>Meskipun demikian, SOTR masih memiliki nilai positif, terutama dalam memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengatur dan mengawasi SOTR agar dapat dilakukan dengan aman dan tertib.</p>
<p>Akhirnya dapat dikatakan bahwa sebagai sebuah tradisi, Sahur juga mengalami banyak transformasi, sejak zaman Nabi hingga kini. Salah satu bentuk tranformssinya adslah *Tradisi Sahur on the road, _* yang terjadi pada Muslim perkotaan, yang sangat sibuk dengan berbagai aktivitas masing- masing, sehingga mereka merencanakan sebuah kegiatan Sahur bersama yang kemudian dikenal dengan istilah _*Sahur on the toad*</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.[Odie].</p>
<p><em>Pamulang 04 Maret 2025</em><br />
<em>Murodi al_Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-sahur-ramadhan-di-dunia-islam-makna-sejarah-dan-praktiknya/">Tradisi Sahur Ramadhan di Dunia Islam; Makna, Sejarah, dan Praktiknya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/tradisi-sahur-ramadhan-di-dunia-islam-makna-sejarah-dan-praktiknya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/astraotoshop.com/asset/article-aop/larangan-sahur-on-the-read_20240322.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
