Kebijakan Setengah Hati: Pelajar Dilarang Bawa Kendaraan, Transportasi Umum Tak Memadai

Oleh: Huda Reema Naayla, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Satu tahun sudah pemilihan umum untuk kepala daerah dilaksanakan. Rangkaian kebijakan sudah mulai terlihat eksistensinya, namun tanpa dibarengi solusi. Salah satunya kebijakan untuk kalangan pelajar diharuskan menaiki transportasi umum saat menuju sekolah. Namun sayangnya, belum semua sekolah dilalui oleh transportasi umum.

Sebagaimana yang dikutip radardepok.com, (8/5/2025), Walikota Depok, Supian Suri meminta pelajar di wilayahnya memanfaatkan transportasi umum untuk berangkat sekolah, maupun pulang ke rumah. Imbauan ini dilontarkan Supian merespons terbitnya Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang melarang pelajar membawa kendaraan pribadi, khususnya bagi yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Meski begitu, ia mengungkapkan, belum semua sekolah yang ada di Kota Depok dapat diakses dengan transportasi umum.

Setiap kebijakan memang ditujukan untuk kebaikan, namun saat membuat kebijakan tentu perlu diperhatikan kesiapan daripada sarana dan prasarananya. Tidak hanya itu, di saat membuat kebijakan pun harus dibarengi dengan survei akan setiap keluarga yang akan disasar.

Surat Izin Mengemudi tentu tidak akan dimiliki kalangan pelajar yang belum berusia 17 tahun. Larangan pelajar membawa motor bertujuan melindungi keselamatan siswa, Namun, Walikota Depok menyoroti kendala transportasi umum yang belum menjangkau semua sekolah di Depok. Itulah yang terjadi jika kebijakan setengah hati, pelajar dilarang bawa kendaraan, transportasi umum tak memadai.

Semestinya, pemerintah memiliki solusi alternatif sebelum melarang, agar tidak memberatkan para siswa. Bahkan tanpa komitmen nyata untuk memperbaiki infrastruktur transportasi, kebijakan ini justru berpotensi menghambat akses pendidikan. Kegagalan menyediakan solusi transportasi dapat dianggap sebagai kelalaian dalam menjalankan amanah.

Sungguh jelas bila kebijakan hanya berdasarkan pada kemanfaatan belaka. Potret kapitalisme sungguh tidak akan memberikan kemudahan bagi masyarakat tetapi memberikan beban yang berkelanjutan.[]

Pos terkait