Kiai Sholeh Kuningan Blitar, Penyusun Kitab Risalah Aqaid Lit Tauhid

Kiai Sholeh Kuningan Blitar (1846-1948 M), penyusun kitab Risalah Aqaid Lit Tauhid merupakan salah satu kiai tauhid di Blitar yang banyak dirujuk.

DEPOKPOS – Ulama Blitar di lingkungan pesantren banyak dikenal dengan spesialisasi di bidang akaid dan tasawuf. Satu diantaranya adalah Kiai Sholeh atau yang lebih akrab dengan nama Mbah Sholeh merupakan salah satu ulama Blitar yang dijadikan rujukan dan diceritakan semasa dengan Kiai Kholil Bangkalan dan Kiai Sholeh Darat.

Ayah dan kakeknya merupakan sosok ulama yang berpengaruh di Blitar. Sang kakek bernama Kiai Abu Hasan, sedangkan sang ayah bernama Kiai Abu Mansyur adalah menantu laki-laki Kiai Abu Hasan, yang menikahi Nyai Martinah atau Maryam binti Abu Hasan.

H.M. Kirom sidik, keturunan keempat dari Kiai Abu Hasan, menceritakan bahwa kakek buyutnya merupakan pejuang dari mataram yang ditugaskan untuk menyebarkan agama di seberang wetan dan dipilihlah daerah Blitar, tepatnya di daerah kuningan.

Syeikh Abu Hasan (1790-1899) lahir di Kuningan Kanigoro Blitar. pada usia remaja beliau belajar di Mambaul Ulum, madrasah diniyah keraton Yogyakarta, hingga ia diangkat sebagai penghulu keraton.

Pada usia 29 tahun Syaikh Abu Hasan mendapatkan anugrah tombak Dwi Sula (tanda penghulu taat dan bermartabat dan bersiap jihad sabilillah). Pada umur 29 ini, tepatnya tahun 1819 hijrah ke Blitar pada masa bupati Aryo Blitar, kemudian bermukim di daerah Kawuningan (Kuningan saat ini) yang awalnya merupakan taman dan kolam ikan milik bupati. Di Kuningan, Syaikh Abu Hasan mendirikan pesantren Nurul Huda.
Syaikh Abu Mansyur (Ayah kiai Sholeh) adalah keturunan Bendhoro Pangeran Hangabei Sandeyo atau KH. Nur Imam Mlangi Yogyakarta. Syaikh Abu Mansyur masuk pada barisan Pangeran Diponegoro, Syaikh Abu Mansyur beserta para pasukan dan 158 pangeran lainnya menyebar dan menyamar untuk melestarikan dakwah dan tetap menghimpun barisan dengan kode Sawo Kecik, sawo dari redaksi sawwuu sufuufakum.

Syaikh Abu Mansyur pun memilih tinggal dan berguru kepada Syaikh Abu Hasan di Blitar yang dulunya merupakan gurunya di Mambaul Ulum. Syaikh Abu Mansyur akhirnya dinikahkan dengan Maryam, putri bungsu Syaikh Abu Hasan hingga dikaruniai 9 anak.

Kiai Sholeh merupakan putra pertama dari Kyai Abu Mansyur dengan Nyai Martinah. Waktu kelahiran dan kematian Mbah Kiai Sholeh belum dapat dipastikan.

Namun dalam beberapa sumber diperkirakan Beliau lahir pada sekitar tahun 1846 M dan wafat pada 1948 M. Kyai Sholeh dimakamkan di komplek pemakaman Syaikh Abu Hasan Kuningan, bersama dengan kakek, ayah, dan saudara-saudaranya.

Semasa hidupnya beliau mempunyai empat istri, yaitu: Nyai Hj. Tasmirah, Nyai Hj. Sapurah, Nyai Mutiah, dan Nyai Kamirah.

Kyai Sholeh terkenal karena diklaim pernah nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan dan mengarang kitab Aqoid. Setelah memperoleh bekal dari sang ayah, Kiai Sholeh melanjutkan menimba ilmu ke Makkah.

Bersama salah satu istri, Hj. Sapurah, Kiai Soleh menimba ilmu kepada para guru di Makkah beberapa lama. Kiai Sholeh juga pernah menimba ilmu di Mojosari Nganjuk. Namun, sanad gurunya di Mojosari belum terlacak, demikian juga guru-gurunya di Makkah.

Bukti Kiai Sholeh berhubungan erat dengan pondok Mojosari diantaranya karena kitab karyanya disalin oleh santri Mojosari Nganjuk. Salinan tersebutlah yang kemudian dapat dijumpai dan tersebar hingga saat ini.

Kiai Sholeh juga berhubungan murid-guru terhadap beberapa kiai pada masanya. Kiai Sholeh juga pernah belajar mengaji kepada Kiai Matlab Jepun Selopuro Blitar. diceritakan, bahwa lama ngajinya hanya sekitar 3 bulanan.

Kiai Sholeh juga pernah bertemu muka dan berhubungan murid-guru kepada Kiai Sholeh Dara, entah berapa lama. Selanjutnya Kiai Sholeh demikian juga sang adik Kiai Mansyur/Kyai Mansyur bambu runcing berguru pula kepada Kiai Kholil Bangkalan.

Dari beberapa cerita, Kiai Mansyur lebih dulu nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan, karena Kiai Sholeh berlaku sebagai anak tertua memilih untuk membantu orang tua mencari nafkah dan ikut menghidupi adik-adiknya.

Kiai Sholel dikenal sebagai orang yang memegang erat prinsip agama. Ketegasan pada prinsip ini tidak jarang membuat lawan bicara atau orang yang melihatnya sebagai hal yang aneh, kolot, atau sejenisnya.

Diantara cerminan hal ini, dulu Kiai Sholeh hampir tidak pernah terlihat memakai celana panjang, Ia kemana-mana memakai sarung. Sikap dan mungkin juga candaan Kiai Sholeh dalam beberapa cerita juga sangat kental dengan nuansa tauhid.

Salah satu imbas dari hal ini membuat orang menganggap Kiai Sholeh sebagai sosok yang keras.

Kiai Sholeh dikenal sebagai pakar tauhid. Hal ini dapat diasumsikan bahwa sosoknya tidak hanya sebagai kiai yang selalu berusaha dekat dengan tuhannya, tetapi juga mengajarkan kepada para murid dan masyarakat untuk mengenal dekat Allah.

Orang yang dekat dengan Allah seringkali dalam kisah-kisah keagamaan ditempeli keistimewaan/karomah oleh Allah. Sikap atau ucapannya seringkali bersifat simbolik yang bisa menimbulkan tanda tanya, tetapi menyimpan hikmah di belakangnya.

Kiai Sholeh Kuningan Blitar (1846-1948 M), penyusun kitab Risalah Aqaid Lit Tauhid merupakan salah satu kiai tauhid di Blitar yang banyak dirujuk.

Secara nasab, Kiai Sholeh keturunan tokoh kiai besar yang juga berperan besar di lingkup daerah, selain juga jika dirunut masih mengarah kepada trah kerajaan Yogyakarta.

Nasab keilmuan dan jejaring ulama semasa juga menambah khazanah dan wawasan Kiai Sholeh dalam bidang tauhid yang diungkapkan dalam karyanya. Salah satu contoh misalnya, berdasar klaim bahwa ia merupakan santri Syaikhona Kholil Bangkalan yang pakar Nahwu, Kiai Sholeh dapat menggunakan ciri khas keilmuan itu untuk membedah makna laa ilaaha illallaah.

Ahmad Farhan Nawawi

Pos terkait