DEPOKPOS – Pemuda itu bukan usia tapi mentalitas. Di awal umur, pemuda dianggap memiliki potensi untuk terjun mencari pengalaman. Sehingga pada saat umur sudah hampir masuk ke tahap dewasa mereka telah gesit dan trampil dalam mengolah potensi yang mereka miliki.
Namun tidak sedikit generasi muda yang kendati meraih prestasi namun memiliki tantangan di keluarga, teman, lingkungan dan diri mereka sendiri. Bahkan sejumlah pemuda berada dalam kondisi kesehatan mental yang mengkhawatirkan dan menjadi korban kejahatan lingkungan, kejahatan jaringan dan kejahatan keluarga. Itu semua tidak memandang usia.
Tidak sedikit lulusan S1 bingung mencari pekerjaan bahkan tidak faham akan arah hidup yang mau di tuju sehingga menyebabkan stagnan dalam melangkah. Disamping itu ada anak SMA yang sudah memiliki keterampilan dan penghasilan dari baiknya perkembangan teknologi.
Hakikatnya generasi muda adalah tonggak peradaban, penyongsong kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. Bagaimana eksistensi pemuda di zaman nabi salah satu contohnya Muadz bin Jabal dijadikan wakil Rasulullah setelah penaklukan Mekkah.
Menjadi gubernur Yaman di usia 27 tahun yang pada saat itu adalah wilayah baru setelah penaklukan Mekkah. Menilik di Indonesia peran golongan muda sebelum proklamasi kemerdekaan. Jikalau mereka tidak memaksa Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia mungkin saja kolonialisme masih ada bertahun tahun setelah 1945.
Sejatinya generasi muda memiliki karakter yang luar biasa. Cenderung berani melakukan hal baru, memiliki gerak yang progresif dalam mencapai keinginannya serta cepat menerima informasi di tengah maraknya teknologi sekarang. Namun, dilihat berdasarkan fakta di lapangan banyak pemuda sekarang melupakan bahkan acuh dalam potensi mereka.
Bahkan cenderung tidak mengetahui secara jelas apa potensi dan peran dirinya untuk masa depan. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak pemuda yang memilih menunda pekerjaan untuk memenuhi kesenangan semu mereka. Contohnya banyak perkerjaan menumpuk tapi scroll tiktok menjadi pekerjaan yang mendominasi.
Validasi menjadi sebuah makanan yang dianggap mampu menyenangkan hidup. Sehingga semua yang bisa dilakukan untuk mendapatkan validasi dan perhatian orang mereka lakukan entah itu merugikan dan menyakiti orang lain.
Merubah kondisi generasi muda seperti ini merupakan pergerakan yang penting untuk terus diperhatikan menilik bagaimana peran mereka dalam berbangsa dan bernegara.
Esensi hijrah dalam konteks ini adalah berusaha merubah kondisi mental yang pesimis dan egois menjadi kondisi mental yang optimis dan memiliki semangat dalam mempersatukan solidaritas sosial.
Pesimis vs Optimis
Optimisme adalah sikap baik yang dianjurkan di dalam islam. Bagaimana optimisme bisa membuat hidup kita lebih bersemangat dalam menjalani hidup dan tenang dalam menghadapi masalah adalah.
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ”
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Âli ‘Imrân [3]: 139)
Sikap berfikir positif adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Karena dapat menumbuhkan semangat dalam menggapai impian karena Allah swt. Dengan menjaga aspirasi positif dihidup kita maka masalah yang terasa berat lambat laun akan berkurang sehingga langkah progress hidup tetap terus berjalan.
Akan tetapi harus diingat bahwa optimisme yang tidak memiliki porsi adalah sesuatu yang konyol. Namun sejatinya sikap pesimis akan menghalangi seseorang untuk menghadapi tantangan. Sebagai muslim yang percaya bahwa semua takdir Allah adalah yang terbaik maka optimisme adalah hal yang mudah untuk dilakukan.
Egois vs Peduli
Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja sama dalam melakukan pekerjaan. Tidak ada kata berat dalam pekerjaan jika dilakukan bersama. Seperti kata pepatah berat sama dipikul ringan sama di jinjing. Setelah kerja sama digalakkan maka langkah selanjutnya adalah tolong menolong. Karena kolaborasi yang baik akan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Seperti sabda Rasulullah saw,
“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari, saling bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih.” (HR. Bukhari).
Kemudian Rasulullah bersabda,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قالَ رسُولُ اللَّه ﷺ:إنَّهَا ستَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا, قَالُوا: يَا رسُولَ اللَّهِ؟ كَيفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذلكَ؟ قَالَ: تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ, وتَسْأَلُونَ اللَّهَ الذي لَكُمْ. متفقٌ عليه.
“Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari.” Para sahabat bertanya; ‘Lantas bagaimana Anda menyuruh kami ya Rasulullah!’ Nabi menjawab: ‘Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!’ (HR Bukhari dan Muslim)
Rasulullah memperingatkan kepada umatnya bahwa sepeninggalnya sikap egois dominan dilakukan. Namun walaupun demikian tidak menjadi ajang pesimis namun menjadi pengingat untuk terus intropeksi akan sifat ini kemudian berusaha menghilangkannya.
Aisyah Amara Laila Husna
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung