Konsumsi Makanan Kaya Zat Besi, Vitamin B12 & C, dan Asam Folat untuk Cegah Anemia

Konsumsi Makanan Kaya Zat Besi, Vitamin B12 & C, dan Asam Folat untuk Cegah Anemia

Pendahuluan

Penyakit anemia atau yang lebih awam dikenal dengan darah rendah kerap muncul di masyarakat, terutama pada wanita. Anemia adalah suatu kondisi yang terjadi ketika tubuh tidak memiliki sel darah merah (hemoglobin) yang cukup untuk membawa oksigen ke sel sehingga menyebabkan penurunan ketersediaan oksigen dalam tubuh (Bhadra dan Deb, 2020). Gejala pada anemia dapat berupa lemas, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, pucat, dan mudah mengantuk (García López et al., 2011). Anemia menjadi masalah kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Terdapat 1,62 miliar orang di seluruh dunia yang mengalami anemia dengan sebagian besar penderitanya adalah anak-anak, remaja, dan wanita, khususnya di Indonesia, Kementerian Kesehatan melaporkan peningkatan prevalensi anemia terkait gizi pada ibu hamil, dari 37% di tahun 2013 menjadi 48,9% di tahun 2018 (Juffrie et al., 2020).  Sedangkan pada data Riskesdas tahun 2018, prevalensi anemia adalah sebesar 57,1% terjadi pada remaja  putri,  27,9%  terjadi   pada  Wanita  Usia  Subur  (WUS), 40,1%  diderita  oleh  ibu  hamil dengan  sebanyak  48,9%  terjadi  anemia  pada  ibu  hamil,  di mana  sebesar  84,6%  terjadi  pada usia  15-24  tahun,  33,7%    pada usia  25-34  tahun,  33,6% pada usia  35-44  tahun,  dan  24% pada usia  45-54  tahun (Kementrian Kesehatan RI, 2018).

Lalu, bagaimana cara mencegah anemia? Anemia defisiensi zat besi merupakan tipe anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi dan pencegahannya dapat dilakukan melalui diet yang bervariasi termasuk fortifikasi makanan, vitamin dan suplemen (Bhadra dan Deb, 2020). Pada penelitian yang dilakukan oleh Retnorini menunjukkan bahwa pemberian tablet Fe saja tidak cukup untuk meningkatkan kadar hemoglobin, sedangkan pemberians sari kacang hijau pada ibu hamil dapat meningkatkan kadar hemoglobin (Retnorini et al., 2017). Hal ini membuktikan bahwa asupan zat gizi sangat berpengaruh dalam penyakit anemia. Melalui pengaturan diet sehat dengan konsumsi makanan yang kaya akan zat besi, vitamin B12 dan C, serta asam folat, maka anemia dapat dicegah dan tidak diturunkan pada generasi selanjutnya. 

 

Isi 

Zat Besi

Anemia yang paling sering ditemukan adalah anemia defisiensi zat besi. Hal ini disebabkan karena zat besi berperan dalam eritropoesis atau pembentukan sel darah merah sehingga nilai Hb dan hematokrit penderita akan menurun akibat deplesi pada simpanan dan transport zat besi (Kurniati, 2020). Kecukupan gizi zat besi ditentukan oleh jumlah dan kualitasnya dalam makanan yang dipengaruhi oleh bioavailabilitasnya, yaitu zat besi yang dapat diserap dan digunakan untuk fungsi fisiologis (Rahfiludin et al., 2021). Contoh sumber zat besi hewani (heme) adalah telur ayam, ikan serta seafood lainnya, susu, jeroan (hati), daging ayam dan sapi, sedangkan untuk sumber zat besi nabati (non-heme) adalah tahu, tempe, gandum, jagung, dan kacang-kacangan yang memiliki tingkat absorpsi dan bioavailabilitasnya rendah karena zat besi tersedia pada bentuk teroksidasi Fe3+ (ferri) sehingga harus direduksi menjadi Fe2+ (ferro) oleh HCl di lambung (Arima et al., 2019). Besi heme memiliki bioavailabilitas yang lebih besar, dengan penyerapan sebesar 20%–30% (García López et al., 2011). Sebagai sumber zat besi yang sangat baik, daging adalah penting faktor yang harus diperhatikan untuk pencegahan anemia. Namun, konsumsi daging di Indonesia masih rendah yakni 2,7 kg per tahun lebih  rendah dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia dengan konsumsi 15 kg per tahun dan sangat rendah dibandingkan dengan besar lainnya negara seperti Australia 90,2 kg per tahun (Rahfiludin et al., 2021). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Alaofè, remaja perempuan yang mengonsumsi daging (sapi, kambing, babi) <4 kali/minggu cenderung memiliki kekurangan zat besi lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi daging ≥4 kali/minggu (Alaofè et al., 2008). Kebutuhan zat besi akan mengalami peningkatan pada masa pertumbuhan seperti pada bayi, anak-anak, remaja, wanita yang hamil dan menyusui (Kurniati, 2020). Pada populasi dengan prevalensi anemia yang tinggi (>40%), suplementasi zat besi harus dimulai selama kehamilan dan berlanjut selama menyusui setidaknya tiga bulan pasca melahirkan, dengan dosis 60 mg zat besi dan 400 µg asam folat setiap hari (Manikam, 2021). Berikut adalah kebutuhan zat besi per hari. 

 

Tabel 1. Kebutuhan Zat Besi (mg/hari)

Pria Dewasa 8 mg
Wanita > 50 tahun

19 – 50 tahun

Hamil

Menyusui

8 mg

18 mg

27 mg

9 – 10 mg

Remaja (9-18 tahun) Wanita

Pria

8 – 15 mg

8 – 11 mg

Anak-anak (0-8 tahun) 4 – 8 tahun 

1 – 3 tahun

7 bulan – 1 tahun

0 – 6 bulan 

10 mg

7 mg

11 mg

0.27 mg

Sumber: (García López et al., 2011)

 

Dalam pemenuhan asupan zat besi dapat dilakukan dengan menambahkan fortifikan zat besi, terutama bagi vegetarian karena tidak mengonsumsi sumber zat besi hewani (heme). Fortifikasi merupakan strategi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi anemia defisiensi zat besi pada jangka menengah dan panjang. Fortifikasi dapat dilakukan  pada bahan makanan berbasis kedelai seperti susu kedelai, tempe, dan juga tahu (Edta dan Suksinat, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Edta dan Suksinat menunjukkan bahwa sampel tempe dan susu memiliki kadar Fe 7,67 mg dan 5,07 mg dengan penambahan fortifikan besi EDTA sebanyak 50 mg.

Terdapat komponen diet yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Seperti pada teh dan kopi mengandung senyawa polifenol dalam bentuk tanin yang dapat mengikat mineral seperti zat besi, bahkan teh hitam merupakan inhibitor yang paling kuat menghambat penyerapan zat besi sehingga lebih mudah mengalami anemia (Alamsyah dan Andrias, 2017). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa efek inhibitor dari polifenol dapat dihindari dengan mengonsumsi asam askorbat dan daging, ikan, unggas secara bersamaan (Zijp et al., 2000). Dalam sebuah studi oleh Hallberg yang dilakukan dengan menambahkan 250 mg fitat pada wheat rolls, ditemukan bahwa fitat yang terdapat pada kacang-kacangan dapat menghambat penyerapan zat besi sebesar 18% sampai 82% (Hallberg et al.,1989). Maka dari itu konsumsi inhibitor zat besi perlu dibatasi agar penyerapannya dapat optimal dan memberikan manfaat bagi tubuh. Apabila hendak mengonsumsi sebaiknya diberikan jeda. 

Upaya peningkatan zat besi harus difokuskan pada promosi akses ke makanan kaya zat besi seperti daging, ikan, dan makanan lain yang telah disebutkan di atas serta merekomendasikan makanan yang meningkatkan penyerapan zat besi (buah, sayuran, dan umbi-umbian) disesuaikan dengan variasi regional dan lokal dalam diet dan kelompok umur yang bersangkutan (García López et al., 2011).

 

Vitamin B12

Vitamin B12 atau dikenal dengan kobalamin berfungsi dalam sintesis DNA, fungsi neurologis, dan memiliki peran penting dalam pembentukan sel darah merah yang berhubungan dengan anemia (Aydin, 2022). Defisiensi vitamin B12 menyebabkan produksi sel darah merah tidak cukup sehingga terjadi anemia megaloblastic, yaitu anemia yang timbul karena sintesis DNA yang rusak melibatkan prekursor hematopoietik dan menghasilkan produksi sel darah merah yang tidak efektif (Socha et al., 2020).  Kekurangan vitamin B12 juga berhubungan dengan asam folat di mana defisiensinya menyebabkan penumpukan asam folat dalam bentuk metil THFA yang tidak dapat digunakan untuk membantu dalam pembentukan DNA sehingga mengakibatkan penurunan aktivitas sel yang berkembang, yang pada akhirnya menghasilkan perubahan dalam struktur inti sel darah merah (Alamsyah dan Andrias, 2017). Penyerapan vitamin B12 juga dapat terganggu akibat anemia pernisiosa, yaitu kondisi autoimun di mana sel-sel parietal di perut diserang, mengakibatkan kekurangan faktor intrinsik (IF) yang diperlukan untuk penyerapan vitamin B12 yang efektif (Allen et al., 2018). Makanan kaya vitamin B12 adalah daging, ikan, susu, telur serta makanan fortifikasi seperti sereal dan susu plant-based yang dapat dikonsumsi untuk vegetarian dan vegan (Greibe et al., 2018). Orang dengan gaya hidup vegetarian, terutama vegan memiliki kecenderungan untuk mengalami defisiensi vitamin B12 dibandingkan non-vegan sehingga memerlukan suplemen tambahan atau fortifikasi makanan untuk mencegah terjadinya anemia (Allen et al., 2018). Berikut adalah kebutuhan vitamin B12 menurut Recommended Dietary Allowances (RDAs).

Tabel 2. Kebutuhan Vitamin B12 (mcg/hari)

Usia Kebutuhan Vitamin B12
0 – 6 bulan 0.4 mcg
7 – 12 bulan 0.5 mcg
1 – 3 tahun 0.9 mcg
4 – 8 tahun 1.2 mcg
Pria 9 – 13 tahun 1.8 mcg
Pria ≥14 tahun 2.4 mcg
Wanita 9 – 13 tahun 1.8 mcg
Wanita ≥14 tahun 2.4 mcg
Hamil 2.6 mcg
Menyusui 2.8 mcg

Sumber: (Allen et al., 2018)

 

Vitamin C

Vitamin C atau asam askorbat merupakan antioksidan yang memiliki banyak fungsi kesehatan serta dapat mencegah penyakit, salah satunya anemia. Vitamin C memiliki peran sebagai enhancer yang paling efektif dalam penyerapan besi non-heme dengan mengubah bentuk feri menjadi fero serta membentuk  gugus  besi-askorbat   yang   larut  pada  pH  lebih  tinggi  dalam  duodenum (Dewi et al., 2021). Vitamin C menyebabkan zat besi menjadi lebih mudah diabsorpsi dengan menghambat pembentukan hemosiderin sehingga absorpsi besi dalam bentuk non-heme meningkat empat kali lipat (Arima et al., 2019). Selain itu, konsumsi vitamin C menghambat ekspresi hepcidin dengan cara mempengaruhi reseptor eritropoetin sehingga terjadi peningkatan absorbsi zat besi (Alamsyah dan Andrias, 2017). Vitamin C hanya dapat meningkatkan penyerapan zat besi saat dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber zat besi (Wijayanti dan Fitriani, 2019) sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan pada anemia apabila dikonsumsi sendiri. Vitamin C juga menetralkan efek inhibitor fitat pada penyerapan zat besi di mana sekitar 80 mg asam askorbat dapat melawan penghambatan 25 mg fitat (Zijp et al., 2000). Asam askorbat bermanfaat dalam mengurangi efek penghambat penyerapan nonheme pada sereal, kedelai, polifenol, dan kalsium pada susu sapi (Basrowi dan Dilantika, 2021). Pada penelitian yang dilakukan oleh Humphreys dan Braunschweig menunjukkan bahwa lansia yang defisiensi vitamin C lebih banyak mengalami anemia dibandingkan dengan lansia yang asupan vitamin C tercukupi (Alamsyah dan Andrias, 2017). Penelitian oleh Hariyadi juga membuktikan hubungan antara vitamin C dengan anemia yang menyatakan bahwa terdapat kenaikan kadar hemoglobin pada ibu hamil setelah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) yang ditambah dengan vitamin C setiap hari selama 30 hari sebesar 1,09 gr/dl dengan selisih 0,11 gr/dL (Hariyadi et al., 2015). Contoh makanan yang kaya akan vitamin C antara lain jeruk, jambu biji, kiwi, stroberi, pepaya, mangga, melon, bayam, lobak tomat, dan asparagus (Carr dan Rowe, 2020). Berikut adalah kebutuhan vitamin C per hari.

Tabel 3. Kebutuhan Vitamin C (mg/hari)

Usia Kebutuhan Vitamin C
0 – 6 bulan 40 mg
7 – 12 bulan 50 mg
1 – 3 tahun 15 mg
4 – 8 tahun 25 mg
9 – 13 tahun 45 mg
Pria 14 – 18 tahun 75 mg
Wanita 14 – 18 tahun 65 mg
Pria ≥ 19 tahun 90 mg
Wanita ≥ 19 tahun 74 mg
Hamil 65 mg
Menyusui 129 mg

Sumber: (Carr dan Lykkesfeldt, 2021)

 

Asam Folat

Asam folat atau vitamin B9 memiliki peran untuk sintesis DNA, pertumbuhan sel, dan bepreran dalam membuat sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh sehingga apabila terjadi defisiensi dapat menyebabkan anemia megaloblastik ditandai adanya perubahan abnormal dalam pembentukan sel darah merah sehingga menjadi lebih besar dari ukuran normal (Bhadra dan Deb, 2020). Anemia megaloblastik dilaporkan terjadi pada wanita yang tidak menerima asupan asam folat sebesar 3%-75% (Tangkilisan dan Rumbajan, 2016). Asam folat memiliki peran pada metabolisme asam amino, yaitu asam amino glisin yang merupakan bahan utama sintesis heme (Wijayanti dan Fitriani, 2019). Penelitian membuktikan bahwa suplementasi zat besi yang dikombinasikan dengan asam folat dapat memberikan pengaruh dalam penurunan anemia sehingga perlu dikonsumsi secara rutin terutama oleh ibu hamil (Yakoob dan Bhutta, 2011). Diet yang kekurangan folat juga cenderung akan kekurangan zat besi sehingga manifestasi dari kedua kekurangan tersebut seringkali muncul pada pasien yang sama (Yakoob dan Bhutta, 2011).  Asam folat dan vitamin B12 saling berhubungan dan bekerja sama, di mana asam folat dalam tubuh berbentuk sebagai koenzim folat (THFA) dan membutuhkan vitamin B12 untuk mempercepat proses metilasi homosistein yang digunakan sebagai pembentuk metionin dan regenerasi THFA dalam sistensis DNA (Alamsyah dan Andrias, 2017). Melalui pemberian asam folat, risiko anemia pada wanita hamil dapat turun hingga sebesar 40% (Wijayanti dan Fitriani, 2019) sehingga asam folat sangat penting dalam pencegahan anemia. Contoh makanan yang kaya akan asam folat adalah sayuran berwarna hijau, ragi, ginjal, hati, telur, kembang kol, brokoli, dan beberapa buah-buahan seperti alpukat, mangga, pisang, dan jeruk (Tangkilisan dan Rumbajan, 2016). Berikut adalah kebutuhan asam folat per hari.

Tabel 4. Kebutuhan Asam Folat (mcg/hari)

Usia Kebutuhan Asam Folat
0 – 6 bulan 65 mcg
7 – 12 bulan 80 mcg
1 – 3 tahun 150 mcg
4 – 8 tahun 200 mcg
9 – 13 tahun 300 mcg
14 – 18 tahun 400 mcg
≥ 19 tahun  400 mcg
Hamil 600 mcg
Menyusui 500 mcg

Sumber: (Institute of Medicine, 1998)

Penyusunan Menu

Dalam pencegahan anemia, dibutuhkan diet seimbang dengan jumlah kalori yang tepat, makanan yang tinggi zat besi, dikombinasikan dengan makanan yang kaya vitamin B12 dan C, serta asam folat. Penyusunan menu seimbang dapat juga memanfaatkan beragam bahan lokal. Contoh bahan makanan tinggi zat besi yang dapat dimasukkan ke dalam menu makanan sehari-hari adalah bayam yang terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil apabila diberikan selama 7 hari berturut-turut dan hati ayam yang dapat membantu proses sintesis hemoglobin darah (Gardiarini et al., 2021). Menu seimbang untuk pencegahan anemia dapat disusun menurut isi piringku dari Kementrian Kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan kalori dari Angka Kecukupan Gizi (AKG), contohnya pemberian menu pada remaja putri dengan usia 18 tahun yang memerlukan 2100 kkal adalah nasi sebanyak 200 gram, ikan mujair goreng 50 gram, tumis kangkung 100 gram, tempe 25 gram, kue nagasari 25 gram, dan pepaya 50 gram (Barkah et al., 2021). Selain menu seimbang, dapat juga dilengkapi dengan program pemberian tablet tambah darah (TTD). Melalui konsumsi menu seimbang yang tepat kuantitas dan kualitasnya, maka kebutuhan zat gizi akan terpenuhi sehingga dapat memperolah status gizi optimal dan terhindar dari anemia. 

 

Penutup

Upaya yang dilakukan dalam pencegahan anemia adalah dengan intervensi berbasis makanan, edukasi mengenai gizi, penyusunan menu seimbang, suplementasi, dan fortifikasi. Pengaturan diet dilakukan dengan memperbanyak makanan sumber zat besi seperti daging, telur, susu, dan sebagainya disertai dengan kombinasi enhancer seperti vitamin C, B12, dan asam folat. Penyusunan menu yang tepat sesuai pendoman isi piringku dari Kementrian Kesehatan juga berperan untuk mencapai status gizi yang optimal sehingga dapat terhindar dari anemia. Fortifikasi makanan dengan zat besi jdapat menjadi strategi, seperti pada bahan makanan tepung terigu, beras, tempe, tahu, dan beberapa snack. Program fortifikasi makanan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, industri makanan, dan konsumen. Diperlukan juga pembatasan konsumsi inhibitor seperti tanin dan fitat ketika mengonsumsi sumber zat besi agar penyerapannya dapat optimal dan memberikan manfaat untuk tubuh. Selain itu, program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang kaya dengan zat besi juga dapat menjadi pilihan dalam mencegah dan mengatasi anemia baik pada remaja usia subur maupun ibu hamil. Pentingnya pengetahuan masyarakat mengenai diet yang tepat dan gizi seimbang sangat berperan dalam pencegahan anemia defisiensi zat besi. 

Nama Peserta : Fidella Citromulyo

Tema : Memutus Mata Rantai Anemia sebagai Siklus Antargenerasi

Sub Tema : Pengaturan Diet Sehat sebagai Upaya Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

Daftar Pustaka

Alamsyah, P.R. dan Andrias, D.R. (2017) ‘Hubungan Kecukupan Zat Gizi Dan Konsumsi Makanan Penghambat Zat Besi Dengan Kejadian Anemia Pada Lansia’, Media Gizi Indonesia, 11(1), p. 48. Tersedia pada: https://doi.org/10.20473/mgi.v11i1.48-54.

Alaofè, H. et al. (2008) ‘Iron status of adolescent girls from two boarding schools in southern Benin’, Public Health Nutrition, 11(7), pp. 737–746. Tersedia pada: https://doi.org/10.1017/S1368980008001833.

Allen, L.H. et al. (2018) ‘Biomarkers of Nutrition for Development (BOND): Vitamin B-12 Review’, Journal of Nutrition, 148, pp. 1995S-2027S. Tersedia pada: https://doi.org/10.1093/jn/nxy201.

Arima, L.A.T., Murbawani, E.A. dan Wijayanti, H.S. (2019) ‘HUBUNGAN ASUPAN ZAT BESI HEME, ZAT BESI NON-HEME DAN FASE MENSTRUASI DENGAN SERUM FERITIN REMAJA PUTRI’, Journal of Nutrition College, 8(2), p. 87. Tersedia pada: https://doi.org/10.14710/jnc.v8i2.23819.

Aydin, B. (2022) ‘Relationship Between Glycosylated Hemoglobin dan Vitamin B12 Deficiency Anemia’, Northern Clinics of Istanbul [Preprint]. Tersedia pada: https://doi.org/10.14744/nci.2022.76259.

Barkah, A., Mulyanto, T. dan Susilowati, L. (2021) ‘PENYULUHAN MENU SEIMBANG DAN MANFAAT TABLET BESI SEBAGAI UPAYA MENCEGAH KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI SMA DI BEKASI BARAT’, Jurnal Pengabdian Masyarakat dalam Kebidanan, 4(1), pp. 19–24. Tersedia pada: http://www.ojs.abdinusantara.ac.id/index.php/abdimaskeb/article/view/549/489.

Basrowi, R. dan Dilantika, C. (2021) ‘Optimizing iron adequacy and absorption to prevent iron deficiency anemia: The role of combination of fortified iron and vitamin C’, World Nutrition Journal, 5(1–1), pp. 33–39. Tersedia pada: https://doi.org/10.25220/WNJ.V05.S1.0005.

Bhadra, P. dan Deb, A. (2020) ‘A Review on Nutritional Anemia’, Indian Journal of Natural Sciences, 10(59), pp. 18675–81. Tersedia pada: www.tnsroindia.org.in.

Carr, A.C. dan Lykkesfeldt, J. (2021) ‘Discrepancies in global vitamin C recommendations: a review of RDA criteria and underlying health perspectives’, Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 61(5), pp. 742–755. Tersedia pada: https://doi.org/10.1080/10408398.2020.1744513.

Carr, A.C. dan Rowe, S. (2020) ‘Factors Affecting Vitamin C Status and Prevalence of Deficiency: A Global Health Perspective’, Nutrients, 12(7), p. 1963. Tersedia pada: https://doi.org/10.3390/nu12071963.

Dewi, I.M. et al. (2021) ‘ANALISIS POSITIVE DEVIANCE: POLA MAKAN YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI KOTA YOGYAKARTA’, Jurnal Delima Harapan, 8(1), pp. 33–41. Tersedia pada: https://doi.org/10.31935/delima.v8i1.112.

Edta, B. dan Suksinat, D.A.N. (2017) ‘FORTIFIKASI DAN KETERSEDIAAN ZAT BESI PADA BAHAN PANGAN BERBASIS KEDELAI MENGGUNAKAN BESI EDTA, GLISINAT, FUMARAT, DAN SUKSINAT’, Jurnal ITEKIMA, 1(1), pp. 95–106.

García López, S. et al. (2011) ‘Optimal management of iron deficiency anemia due to poor dietary intake’, International Journal of General Medicine, p. 741. Tersedia pada: https://doi.org/10.2147/IJGM.S17788.

Gardiarini, P. et al. (2021) ‘Penyuluhan dan Pelatihan Pembuatan Olahan Berbahan Pangan Lokal Kaya Zat Besi Guna Cegah Anemia Santriawati Pondok Pesantren Subulusalam Balikpapan’, Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 1(1), pp. 165–170. Tersedia pada: https://doi.org/10.54082/jamsi.61.

Greibe, E. et al. (2018) ‘Dietary intake of vitamin b12 is better for restoring a low B12 status than a daily high-dose vitamin pill: An experimental study in rats’, Nutrients, 10(8). Tersedia pada: https://doi.org/10.3390/nu10081096.

Hallberg, L., Brune, M. dan Rossander, L. (1989) ‘Iron absorption in man: ascorbic acid and dose-dependent inhibition by phytate’, The American Journal of Clinical Nutrition, 49(1), pp. 140–144. Tersedia pada: https://doi.org/10.1093/ajcn/49.1.140.

Hariyadi, D., Farida, S. dan Marlenywati, M. (2015) ‘Efektivitas Vitamin C Terhadap Kenaikan Kadar HB Pada Ibu Hamil di Kecamatan Pontianak Timur’, Jurnal Vokasi Kesehatan, 1(5).

Institute of Medicine (1998) Dietary Reference Intakes for Thiamin, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline. National Academies Press.

Juffrie, M., Helmyati, S. dan Hakimi, M. (2020) ‘Nutritional anemia in Indonesia children and adolescents: Diagnostic reliability for appropriate management’, Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition, 29(December), pp. 18–31. Tersedia pada: https://doi.org/10.6133/APJCN.202012_29(S1).03.

Kementrian Kesehatan RI (2018) ‘Hasil Utama Riskesdas 2018’.

Kurniati, I. (2020) ‘Anemia Defisiensi Zat Besi ( Fe )’, Jurnal Kedokteran Universitas Lampung, 4(1), pp. 18–33.

Manikam, N.R.M. (2021) ‘Known facts: iron deficiency in Indonesia’, World Nutrition Journal, 5(1–1), pp. 1–9. Tersedia pada: https://doi.org/10.25220/wnj.v05.s1.0001.

Rahfiludin, M.Z. et al. (2021) ‘Plant-based Diet and Iron Deficiency Anemia in Sundanese Adolescent Girls at Islamic Boarding Schools in Indonesia’, Journal of Nutrition and Metabolism, 2021. Tersedia pada: https://doi.org/10.1155/2021/6469883.

Retnorini, D.L., Widatiningsih, S. dan Masini, M. (2017) ‘PENGARUH PEMBERIAN TABLET FE DAN SARI KACANG HIJAU TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL’, JURNAL KEBIDANAN, 6(12), p. 8. Tersedia pada: https://doi.org/10.31983/jkb.v6i12.1908.

Socha, D.S. et al. (2020) ‘Severe megaloblastic anemia: Vitamin deficiency and other causes’, Cleveland Clinic Journal of Medicine, 87(3), pp. 153–164. Tersedia pada: https://doi.org/10.3949/ccjm.87a.19072.

Tangkilisan, H.A. dan Rumbajan, D. (2016) ‘Defisiensi Asam Folat’, Sari Pediatri, 4(1), p. 21. Tersedia pada: https://doi.org/10.14238/sp4.1.2002.21-5.

Wijayanti, E. dan Fitriani, U. (2019) ‘Profil Konsumsi Zat Gizi Pada Wanita Usia Subur Anemia’, Media Gizi Mikro Indonesia, 11(1), pp. 39–48. Tersedia pada: https://doi.org/10.22435/mgmi.v11i1.2166.

Yakoob, M.Y. dan Bhutta, Z.A. (2011) ‘Effect of routine iron supplementation with or without folic acid on anemia during pregnancy’, BMC Public Health, 11(Suppl 3), p. S21. Tersedia pada: https://doi.org/10.1186/1471-2458-11-S3-S21.

Zijp, I.M., Korver, O. dan Tijburg, L.B.M. (2000) ‘Effect of Tea and Other Dietary Factors on Iron Absorption’, Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 40(5), pp. 371–398. Tersedia pada: https://doi.org/10.1080/10408690091189194.

 

Pos terkait