Maraknya Kasus Bunuh Diri di Indonesia

Istilah suicide atau yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan “bunuh diri” pertama kali diperkenalkan oleh seorang physician sekaligus philosopher berkebangsaan Inggris bernama Sir Thomas Browne dalam buku yang berjudul “Religio Medici”. Kemudian American Psychiatric Association (APA) menyebutkan dalam kanal resminya bahwa bunuh diri adalah perilaku sebagai bentuk tindakan dari individu dengan cara membunuh dirinya sendiri dan paling sering diakibatkan oleh adanya tekanan depresi maupun penyakit mental lainnya. Menurut World Health Organization (WHO), Pada 2019 bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor 4 di dunia dengan presentase terbanyak didominasi oleh rentang usia 15 sampai 29 tahun.

Di Indonesia sendiri, bunuh diri sudah sangat merajalela. Berdasarkan data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional Kepolisian Republik Indonesia, terdapat 971 kasus bunuh diri yang sudah teridentifikasi oleh pihak terkait sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Data ini menunjukkan jumlah peningkatan yang cukup signifikan dari data kasus yang ada pada tahun 2022. Angka ini diprediksi akan terus bertambah apabila tidak ada pengendalian dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan laju kenaikan kasus bunuh diri ini?

Bunuh diri menurut sebagian orang merupakan jalan pintas untuk melepaskan diri dari segala belenggu kehidupan dunia. Pelaku bunuh diri pasti memiliki masalah dalam aspek psikologis dan mengalami kebingungan dalam mengambil suatu keputusan dalam permasalahan yang sedang dihadapi. Kesalahan terbesar dalam peristiwa ini adalah tidak adanya dukungan moral dari lingkungan sekitar ketika diri sendiri sudah tidak mampu mengemban beban yang ada. Oleh karena itu, peran individu lain sangat vital dalam hal ini.

Tingkat kepekaan dan kepedulian masyarakat Indonesia masih kurang dalam mencermati kejadian sosial di sekitarnya. Karena faktanya kebanyakan orang lebih memilih mendiskreditkan pelaku bunuh diri yang dalam hal ini masih menjadi korban akan gangguan psikisnya sendiri. Selain itu, masyarakat Indonesia masih menilai lemah akan pentingnya mendengarkan dan memberikan empati ketika orang lain meluapkan keluh kesahnya. Sangat disesalkan masyarakat yang semajemuk ini masih minim akan rasa peduli pada orang di sekitarnya.

Di sisi lain, keinginan untuk bunuh diri sering kali tidak diketahui oleh orang sekitar. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena semasa hidupnya pelaku bunuh diri tampak normal layaknya orang lain tanpa terlihat menderita sama sekali. Mereka cenderung menyimpan konflik emosional dan kekacauan jiwa dalam dirinya sendiri. Banyak faktor yang menjadi latar belakang mengapa mereka memilih memendam masalahnya sendiri. Di antara alasan yang paling lazim ialah ketidakinginan mengecewakan orang lain, dan alasan yang paling primer adalah ketidakinginan untuk dihakimi akan segala problematika yang terjadi.

Angka kasus bunuh diri pada negara berpenghasilan tinggi umumnya didominasi oleh pria. Sedangkan pada negara berpenghasilan rendah, bunuh diri didominasi oleh perempuan. Beberapa studi mengenai bunuh diri menyatakan bahwa pria memiliki niat bunuh diri lebih tinggi daripada perempuan. Namun, perempuan lebih memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup non fatal daripada pria. Mengapa terjadi demikian? Hal ini terjadi karena pria lebih minim rasa takut mati dan lebih nekat tanpa memikirkan berbagai risiko. Sebaliknya, perempuan lebih banyak berpikir ketika akan melakukan bunuh diri karena ada rasa kebimbangan dan memikirkan berbagai risiko yang akan terjadi.

Di zaman yang serba canggih sekarang, banyak hal yang dapat dipublikasi tanpa kita ketahui. Masyarakat cenderung memiliki rasa ingin eksis melalui unggahan yang mungkin dapat menjadi pusat perhatian netizen. Dampaknya, konten tentang kasus bunuh diri bisa menyebar kemanapun tanpa bisa dicegah. Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah kebanyakan pengguna media sosial didominasi oleh remaja yang belum mampu memilah berita mana yang bisa diakses dan mana yang tidak. Mereka akan condong mengikuti apa yang menurutnya keren dan sedang tren.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengakses media sosial terbanyak di dunia. Namun, fenomena ini tidak diimbangi dengan penggunaan media sosial secara bijak dan terkendali. Dilihat berdasarkan fakta ini, apabila konten yang bertebaran tentang bunuh diri tetap merajalela, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak lagi kasus bunuh diri yang akan terjadi. Sangat disayangkan, karakter masayarakat Indonesia yang suka meniru tren yang sedang viral tanpa mencari tahu lebih detail tren tersebut akan sangat merugikan.

Pada kuartal bulan Oktober 2023 saja sudah banyak terjadi rentetan kasus bunuh diri yang didominasi oleh remaja dan mahasiswa. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa “The Power of Medsos” itu memang nyata. Di sini, pelaku bunuh diri akan merasa bahwa ia memiliki teman yang satu frekuensi. Mirisnya, hal ini akan menjadi suatu pembenaran dalam diri pelaku bunuh diri bahwa aksi yang akan ia lancarkan juga dilakukan oleh orang lain.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa peran kita sebagai masyarakat sosial sangat diperlukan dalam mencegah terjadinya kasus bunuh diri. Namun di sisi lain, peran kita sebagai masyarakat sosial juga dapat menjadi alasan seseorang nekat melakukan aksi bunuh diri. Hal yang perlu kita sadari bersama adalah kepekaan dan kepedulian terhadap sesama merupakan sesuatu yang esensial. Perilaku penghakiman terhadap orang lain yang melakukan suatu kesalahan harus kita hilangkan karena hal ini dapat menjadi “boomerang” yang dapat meletup kapan saja. Kita juga harus menjadi pendengar yang baik agar seseorang tidak merasa dihakimi dan didakwa. Selain itu, dari sudut pandang digital, kita harus lebih cakap dan bijak lagi untuk memilah konten yang patut diunggah di media sosial. Hal ini sangat penting agar pengguna media sosial tidak tergiring pada aksi yang mengarah pada perbuatan negatif.

Oleh: Niyla’afiy Saniya
Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Pos terkait