Mengatasi Konflik dengan Perundingan dan Negoisasi

Saat ini kita hidup dalam masyarakat yang semakin kompleks dan saling terhubung secara global. Dalam dinamika kehidupan sosial, konflik menjadi hal yang tak terelakkan. Tidak jarang konflik dijadikan sebagai bahan kritik dan kambing hitam dari semua masalah sosial. Namun, harus diakui bahwa dalam banyak kasus, kurangnya komunikasi yang efektif justru menjadi akar permasalahannya.

Konflik menurut Robbins adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif atau akan segera memengaruhi secara negatif pihak lain. Sedangkan Alabeness dalam Nimran mengartikan konflik sebagai kondisi yang dipersepsikan ada di antaraa pihak-pihak atau lebih merasakan adanya ketidaksesuaian antara tujuan dan peluang untuk mencampuri usaha pencapaian tujuan pihak lain. Dari kedua definisi ini dapat disimpulkan bahwa konflik itu adalah proses yang dinamis dan keberadaanny lebih banyak menyangkut persepsi dari orang atau pihak yang mengalami dan merasakannya. Jadi jika sesuatu keadaan itu tidak dirasakan sebagai konflik maka pada dasarnya konflik itu tidak ada.

Konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Ketika berbagai pandangan, kepentingan, dan tujuan berbeda bertemu, konflik seringkali menjadi hal yang wajar terjadi. Namun, penting untuk diingat bahwa konflik bukanlah sesuatu yang harus dibiarkan meruncing, karena hal tersebut akan berdampak negatif pada hubungan antar individu, kelompok, atau bahkan negara.

Kita sebagai manusia setidaknya memiliki keterampilaan dalam memproses informasi termasuk kemampuan untuk mengirim dan menerima informasi. Apalagi ketika kita sudah memasuki dunia pekerjaan yang dimana 80% dari total waktu kerjanya itu untuk berinteraksi verbal dengan orang lain. Maka dari itu komunikasi sangat berperan penting sebagai jembatan penghubung antarindividu ataupun kelompok disetiap aspek kehidupan.

Kompleksitas manusia sebagai makhluk sosial membuat komunikasi menjadi lebih sulit dan rawan salah tafsir. Salah satu penyebab utama konflik adalah persepsi yang berbeda. Cara kita menyampaikan pesan dan cara pihak lain mengambil pesan tersebut seringkali berbeda, bahkan kontradiktif, karena perbedaan latar belakang, nilai dan pengalaman hidup. Konflik yang timbul dari perbedaan pendapat sering dikaitkan dengan kurangnya komunikasi yang efektif.

Namun, kita tidak boleh menyalahkan komunikasi untuk hal ini, melainkan cara kita menangani perbedaan persepsi secara lebih cerdas dan bijaksana. Penting bagi setiap kita individu untuk memahami bahwa komunikasi adalah proses dua arah, tentang mendengarkan dengan pengertian dan empati, bukan hanya menyampaikan pesan. Tidak hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk dapat memahami sudut pandang orang lain, meskipun berbeda dengan kita.

Untuk mengatasi konflik tersebut, perundingan atau negoisasi menjadi salah satu cara yang paling bijaksana untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.

Perundingan dan negosiasi adalah proses komunikasi antara pihak yang berkonflik untuk menemukan solusi yang memuaskan semua pihak. Dalam situasi konflik, perundingan berarti diskusi, dan diskusi untuk mencapai kesepakatan atas perbedaan pendapat atau kepentingan dari beberapa pihak. Sementara itu, negosiasi adalah upaya aktif untuk mencapai kesepakatan dengan membuat dan menerima penawaran dari pihak lain.

Tujuan utama perundingan atau negosiasi adalah untuk mencari solusi yang adil, mengurangi ketegangan, menghindari kekerasan dan menciptakan hubungan jangka panjang yang harmonis antara para pihak yang terlibat. Negoisasi melibatkan kemampuan mendengarkan yang baik, empati, komunikasi yang efektif, juga kemampuan untuk mencari solusi yang kreatif. Keberhasilan negoisasi seringkali bergantung pada tingkat kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat, serta kemampuan untuk memisahkan dari masalah, sehingga fokus negoisasi lebih pada solusi dibandingkan dengan perselisihan.

Bedasarkan buku “Negotiation Boot Camp” karangan Ed Brodow pada tahun 2006, beliau memberikan kiat hal apa saja yang harus dipersiapkan dalam bernegoisasi. Dengan harapan, kiat-kiat ini memberikan jalan yang mudah dalam menemukan solusi ketika kita berhadapan dengan konflik yang ingin diselesaikan.

Ed Brodow menyebutkan bahwa menentukan tujuan dalam bernegoisasi ialah hal yang utama. Kita harus bisa mengidentifikasikan dan mendefinisikan tujuan utama ketika kita bernegoisasi. Dengan begitu, akan mudah untuk kita membuat target yang realistis dan terukur agar dapat mengukur seberapa besar keberhasilan kita dalam bernegoisasi.

Setelah menentukan tujuan utama kita dalam bernegoisasi, kita dapat melakukan riset tentang pihak lain yang akan kita negoisasikan mulai dari kebutuhan, kepentingan dan preferensi dari pihak lain. Perhatikan kekuatan dan kelemahan mereka agar dapat membantu kita dalam merencanakan negoisasi yang efektif.

Sebelum memasuki negoisasi, ada baiknya kita juga menentuka batasan dan alternatif. Identifikasikan titik batas seperti halnya harga, waktu atau persyaratan lainnya. Siapkan alternatif yang efektif dan bagus yang dapat kita tawarkan kepada pihak lain ketika negoisasi utama tidak mencapai kesepakatan.

Selanjutnya Ed Brodow menyebutkan bahwa mengumpulkan informasi dan data juga merupakan dari persiapan dalam bernegoisasi. Kumpulkan informasi relevan yang dapat mendukung argumen dan juga tawaran yang akan kita sampaikan. Dengan begitu, kita bisa mengidentifikasi strategi apa saja yang akan digunakan dalam bernegoisasi. Rencanakan pendekatan seperti apakah kita akan bersikap kepada pihak lain ketika bernegoisasi.

Meskipun kita telah mengumpulkan informasi dan menyiapkan strategi yang akan digunakan, kita tetap harus mempersiapkan rencana cadangan jika negoisasi tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Identifikasikan langkah langkah alternatif atau opsi apa saja yang dapat kita ambil.

Apakah dalam bernegoisasi tidak terdapat rintangan? Tentu tidak. Meskipun perundingan dan negoisasi memiliki banyak keuntungan, proses ini juga tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang sering dihadapi dalam upaya ini antara lain ketegangan emosional, kesulitan dalam mencapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak, atau bahkan adanya pihak yang tidak mau berpartisipasi dalam proses ini sama sekali.

Dibandingkan harus mengalami situasi negoisasi dikarenakan konflik, adakalanya ketika kita lebih baik memperbaiki cara komunikasi kita ketika berhadapan dengan yang lain. Dengan begitu konflik akan berkurang dan komunikasi tidak lagi mengalami yang namanya salah paham.

Mengapa dengan negoisasi menajdi salah satu cara untuk menyelesaian konflik? Seperti yang kita tau, negoisasi memiliki banyak kelebihan. Seperti halnya efesisensi waktu. Dalam negoisasi, pihak-pihak berusaha untuk mencapai kesepakatan dengan fokus pada isu-isu tertentu, sehingga dapat menghemat waktu juga sumber daya dibandingkan dengan perudingan yang lebih luas.

Lalu negoisasi akan berfokus pada tawar menawar. Negoisasi menekankan untuk fokus kepada tawar menawar agar membantu memaksimalkan manfaat satu pihak atau meraih hasil sebaik mungkin. Negoisasi sering kali terfokus pada isu-isu spesifik, sehingga kepentingan masing-masing pihak bisa lebih jelas dan mudah diidentifikasi. Dengan begitu, diharapkan dengan cara negoisasi penyelesaian masalah akan jauh lebih cepat. Perlu diingat bahwa di beberapa keadaan negoisasi memiliki peran dan kelebihan tersendiri, tergantung pada konteks dan tujuan dari prosesnya.

Qaanitah Putri Mahira
Mahasiswi Semester 6, STEI SEBI

Pos terkait