Mengenali Diri Sendiri Lebih Jauh

 

Mengenali diri sendiri adalah suatu kemampuan seseorang dalam memahami, menerima perasaan, pikiran, pengalaman dan nilai-nilai yang ada pada diri sendiri. Setiap individu yang telah mengenal dirinya sendiri akan mengetahui kelebihan dirinya dan memahami dengan baik bagaimana cara untuk mengembangkan kelebihannya tersebut .Namun , individu itu pula lah yang lebih mengetahui atas kekurangan pada dirinya sendiri dan bagaimana merespon dengan baik akan kekurangan pada dirinya sendiri. Maka benar yang dikatakan oleh Ibrahim Elfiqy bahwa memahami kepribadian diri sendiri adalah kunci kekuatan diri. Kekuatan diri tersebut terbentuk dari adanya hukum alam, yang salah satunya adalah hukum kekekalan energy mengajarkan bahwa energi perbuatan tidak akan pernah hilang. resiko mental illness. Penyebab hal itu terjadi adalah karena mereka tidak mengenali diri Dengan demikian, oleh karena itu, perlu dikaji lebih mendalam agar dapat memberikan pemahaman dan wawasan bahwasannya menjadi diri sendiri lebih baik dan bijaksana dibandingkan harus menjadi orang lain. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau tetapi kita tidak pernah tau apa saja yang dilakukannya untuk menghijaukan rumputnya tersebut.

Filsuf Yunani Kuno, Socrates yang telah hidup ratusan tahun sebelum masehi berkata “kenalilah dirimu”. Individu yang telah mengenali dirinya sendiri akan menjadi individu yang memiliki moralitas terpuji. Manusia yang benar-benar bermoral artinya manusia yang berkualitas yang terlibat dalam kehidupan baik itu sebagai warga negara, pemimpin, maupun yang dipimpin. Karena untuk menjadi manusia seutuhnya tentu harus mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri perlu dilalui dengan mensejahterakan materil, spiritual dan intelektual masingmasing individu. Maka benar yang dikatakan oleh Ibrahim Elfiqy bahwa memahami kepribadian diri sendiri adalah kunci kekuatan diri. Kekuatan diri tersebut terbentuk dari adanya hukum alam, yang salah satunya adalah hukum kekekalan energy mengajarkan bahwa energi perbuatan tidak akan pernah hilang. Artinya terdapat hukum tarik menarik di antaranya, yang mengajarkan apapun yang dilakukan dan dipikirkan adalah untuk diri sendiri.

Ada beberapa cara untuk mengenali diri sendiri sebagai berikut:

1. Bersikap terbuka (open minded) terhadap kritik, saran orang lain, dan mau menerima apa adanya demi perkembangan dirinya

2. Melalui penelusuran bakat dan kepribadian.

3. Melalui pengalaman sehari-hari.

4. Melalui kebersamaan dengan orang lain.

Adapun manfaat dari mengenali diri:

1. Seseorang dapat mengenal kenyataan dirinya, dan sekaligus kemungkinan-kemungkinannya, serta (diharapkan mengetahui peran apa yang harus dia mainkan untuk mewujudkannya).

2. Sebaliknya, orang yang tidak mengenal dirinya, tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan dan dikembangkannya.

3. Tidak memahami posisi diri akan membuatnya sulit mengarahkan diri kepada tujuan hidupnya, sehingga gagal dalam pergumulan hidupnya.

Mengenal diri sendiri adalah suatu ajaran moral yang terkenal sejak Socrates, dan dikenal di semua agama, karena dapat membawa kekuatan pribadi yang teguh dengan cita-cita kesejahteraan yang mendalam. Kata Arab untuk mengenal diri sendiri adalah ma’rifatun-nafs, yang artinya bukan hanya pengenalan fisik-biologis dengan menulis curiculum vitae atau sekadar membolak-balik album foto diri dari masa kanak-kanak hingga dewasa, atau hanya secara psikis makhluk yang sempurna, dikaruniai akal dan pikiran secara fisik-biologis bebas memilah dan memilih, melainkan pengenalan yang utuh sebagai manusia seutuhnya, lahir dan batin, asal usul, peran dan misinya dalam hidup. Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang pentingnya mengenal diri sendiri, seperti, Dalam Surah Al-Hasyr [49]: 19 Allah berfirman,

Artinya: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” Q.S. Al-Hasyr ayat 19. Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa melupakan-Nya menyebabkan manusia melupakan dirinya sendiri, dan pada akhirnya membawa manusia kepada pelanggaran.

Citra Retna Humaira

Pos terkait