Minat Baca Anak Usia Dini di Era Digital

DEPOKPOS – Terdapat banyak hal yang menyebabkan minat baca di Indonesia menjadi rendah. Pertama, kurangnya akses terhadap buku di era digital. Kedua, masih minimalnya terbitan buku di Indonesia. Ketiga, belum tergugahnya semangat akan pentingnya budaya membaca terutama kalangan anak-anak di Indonesia.

Masih minimnya akan budaya minat baca di Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam lingkup dunia pendidikan karena yang menjadi penentu dari minat baca tersebut tidak lain ialah kesadaran yang timbul dari dalam diri setiap individu terlebih pada anak-anak.

Bacaan Lainnya

Hal yang pertama yang memengaruhi minat baca di Indonesia menjadi rendah yaitu kurangnya akses terhadap buku di era digital. (Colin Mc. Elwee, Co Founder Worldreader, Suara.com). Banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dimana perkembangan sekarang yang serba instan sehingga menyebabkan mindset atau pola pikir anak mengalami perubahan.

Kejadian yang saya jumpai yaitu, jikalau dahulu ketika istirahat anak berkerumun untuk dapat masuk ke perpustakaan yang disediakan sekolah untuk mencari informasi belajar, sekedar menyalurkan hobi, ataupun untuk mengisi waktu kosong.

Akan tetapi kejadian yang dialami sekarang sangatlah bertolak belakang dengan kejadian di masa lalu. Adanya kemudahan dalam mengakses terhadap hal yang berupa teknologi yang semakin canggih seperti halnya google, chrome dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat anak lebih mengandalkan teknologi yang ada karena anak berpikir bahwa di zaman sekarang sesuatu dapat didapat dengan sangat mudah. Terdapat berbagai sisi sudut pandang terkait hal tersebut. Namun, yang demikian itu kondisi tersebut membuat akses anak terhadap buku menjadi terhambat.

Di sisi lain, faktor yang kedua yaitu masih minimalnya terbitan buku di Indonesia. Terbitan buku di Indonesia menunjukkan angka yang masih minim jikalau dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Secara nasional, jumlah terbitan sejak 2015-2020 sebanyak 404.037 judul buku dengan jumlah penerbit aktif secara nasional sebanyak 8.969 penerbit.

Tiga provinsi dengan jumlah terbitan tertinggi adalah DKI Jakarta, diikuti Jawa Barat, dan DI Yogyakarta. di daerah saya radius yang ditempuh anak untuk sampai ke toko buku masih terbilang jauh apalagi di kalangan anak-anak.

Sehingga akses terhadap buku yang berkurang dan minimnya terbitan buku di daerah saya membuat anak kurang gemar dalam hal minat baca. Anak lebih menyukai hal yang serba instan dibanding dengan hal yang memerlukan usaha. (Data Badan Pusat Statistik/BPS Tahun 2020 dan Kajian Penerbitan)

Selanjutnya, akses terhadap buku yang berkurang dan radius anak dalam memperoleh buku yang diinginkan tergolong jauh berdampak pada menurunnya semangat anak dalam membaca sehingga anak belum merasakan pentingnya akan minat baca terlebih di kalangan anak-anak.

Masyarakat Indonesia berada di sebuah data yang menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Yakni minat baca di Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara. Dengan minat baca sekitar 0,001%, itu artinya jika terdapat 1000 penduduk Indonesia hanya 1 orang yang memiliki minat dalam membaca. (Data United Nations Educational Scientific and Cultural Organization/UNESCO).

Kebanyakan anak belum sadar pentingnya membaca buku bagi dirinya sendiri. Ada pepatah yang sudah tidak asing terdengar yaitu buku adalah jendela dunia. Mengapa dikatakan demikian? Karena dengan adanya buku kita dapat memperoleh, memahami, mempelajari suatu hal yang asal mulanya kita tidak tahu menjadi tahu.

Selain itu, buku menjadi sumber yang sangat penting bagi seorang pengajar yang tentunya kegemaran dalam membaca harus diturunkan kepada murid terkhusus kalangan anak-anak.

Neni Rohaeni, Mahasiswa STAI Riyadhul Jannah Subang

Pos terkait