DEPOKPOS – Bangsa ditunjukkan oleh bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun bukan satu-satunya faktor, bahasa sangat menentukan kemajuan negara. Kehidupan bangsa akan dipengaruhi oleh penggunaan bahasa yang baik dan benar, begitu pula sebaliknya kehidupan bangsa yang sejahtera juga akan mempengaruhi penggunaan bahasa.
Wajah teks media massa Indonesia telah berubah akibat perkembangan sosial di era reformasi. Seiring dengan berkembangnya standar transparansi di Indonesia, media kini bebas mengungkapkan kritik apapun terhadap fenomena sosial tanpa campur tangan pihak luar.
Orang menjadi sasaran penggunaan ekspresi yang tidak logis dan merusak hampir setiap hari. Perkembangan dan pendidikan masyarakat sangat dipengaruhi oleh media massa juga.. Media massa seringkali menjadi model bagi bahasa pembacanya karena selalu berhubungan dengan strata sosial yang berbeda.
Tentu penggunaan bahasa yang tidak rasional, vulgar, tidak sopan, dan merusak harus dikutuk, dan ini menjadi tantangan bagi para ahli bahasa Indonesia untuk menanggapi masalah ini dengan lebih serius.
Ahli bahasa seharusnya tidak meninggalkan apa pun. Oleh karena itu, esai ini mengungkapkan gagasan tentang upaya mengangkat derajat bangsa melalui penggunaan bahasa media massa yang santun dan bernalar.
Realisasi Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2009, realisasi UU Pers No. 40 Tahun 1999, Kode Etik Jurnalistik, Sepuluh Pedoman Pemakaian Bahasa Pers, dan Rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia I–X hanyalah beberapa dari inisiatif yang telah dibuat sebagai tanggapan atas perkembangan dan penggunaan bahasa yang meluas. Outlet media besar mana pun tidak akan ada tanpa bahasa.
Menggunakan bahasa lugas di media memungkinkan masyarakat umum untuk berkomunikasi dengan pemirsanya. Sebagian besar media harus selalu menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan cakap. Masyarakat umum khususnya berdedikasi pada pendidikan bahasa Indonesia berbasis media.
Mirip dengan pasar, bahasa akan tumbuh negatif jika pengontrol media tidak menggunakan perannya secara efektif. Masyarakat akan langsung mengadopsi norma kebahasaan jika media berani melakukannya.
Kesalahan bahasa dapat menjadi kebiasaan di masyarakat, terutama di kalangan generasi milenial, yang dipandang sebagai penggunaan yang tepat. Berbeda dengan bahasa yang merupakan identitas sekelompok orang dalam suatu bangsa, bahasa merupakan identitas bangsa.
Sebagai akibat penerapan budaya bahasa yang tidak tepat, suatu bahasa pada akhirnya dapat punah dan produk bahasa alternatif dapat muncul yang belum tentu mewakili masyarakat dan belum tentu mencerminkan budaya asalnya.
Dalam arti yang lebih luas, bahasa Indonesia bahkan dapat diakui sebagai bahasa bangsa yang berbeda. Tidak ada keraguan bahwa ini adalah masalah serius. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan proaktif dan berpikiran maju untuk mempertahankan identitas bangsa melalui bahasa.
Termasuk inisiatif untuk memaksimalkan penggunaan bahasa yang baik, santun, dan logis oleh generasi milenial, khususnya generasi milenial sebagai akselerator budaya berbahasa yang baik dan benar.
Dalam situasi ini, generasi milenial dapat meluncurkan self-direct campaign untuk mengajak masyarakat Indonesia aktif berkomunikasi secara tepat dan benar, menghindari singkatan yang tidak baku dan bahasa yang tidak baku semaksimal mungkin untuk mengurangi kesalahan.
Bisa juga dengan mengunggah materi-materi terkait budaya berbahasa yang baik, literasi, dan lain-lain. Selain itu, setiap postingan dari sosial media masing-masing generasi millenial juga seyogyanya menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Hal ini merupakan contoh yang baik bagi masyarakat, terlebih dalam rangka penguatan jati diri bangsa melalui bahasa. Tidak hanya bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa daerah maupun bahasa asing. Generasi milenial menggunakan pembelajaran bahasa untuk keuntungan mereka.
Setiap anggota generasi milenial memiliki tanggung jawab sebagai pembelajar, meskipun mereka tidak sedang mengikuti kursus linguistik atau sastra. Dalam hal ini, pembelajar bahasa dapat selalu belajar bagaimana berbicara dengan tepat, sopan, dan tanpa menyinggung orang lain melalui media sosial mereka sendiri.
Akibatnya, citra diri yang berkembang secara tidak langsung akan menggugah masyarakat luas untuk lebih memperhatikan bahasa yang digunakan dan menyesuaikan diri dengan hukum kebahasaan, sehingga jiwa dan jati diri bangsa akan terlihat melalui bahasa yang digunakan.
Sebagai ilustrasi budaya bahasa, pertimbangkan generasi milenial. Dalam situasi ini, generasi milenial akan menampilkan dirinya sebagai contoh dengan bertindak sebagai juru bicaranya. Dengan demikian, ia akan dipandang sebagai kiblat di setiap postingan media sosial.
Oleh karena itu, dengan menjadi contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar, Anda secara bertahap akan mendidik orang untuk menggunakannya dengan menggunakannya sendiri. Ini akan memberi mereka rangsangan dan membantu mereka menyesuaikan diri dengannya.
Perkembangan dan pendidikan masyarakat sangat dipengaruhi oleh media massa. Media massa seringkali menjadi model bagi bahasa pembacanya karena selalu berhubungan dengan strata sosial yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan bahasa yang rasional dan santun di media publik untuk membangun karakter bangsa yang logis dan santun.
NUR ANDINI
PRODI AKUNTANSI S1
UNIVERSITAS PAMULANG