DEPOKPOS – Tanaman Singkong atau yang sering disebut ubi kayu merupakan jenis tanaman yang sering digunakan sebagai bahan pokok pengganti nasi karena tanaman yang memiliki nama latin “Manihot esculenta” mengandung karbohidrat yang baik digunakan untuk sumber tenaga bagi tubuh manusia.
Pada abad ke-16 tanaman yang ber-ordo Malpighiales ini pertama kali datang ke Indonesia diperkenalkan oleh bangsa Portugis yang sengaja ditanam untuk kebutuhan perdagangan. Tanaman ini juga banyak tersebar di penjuru dunia seperti Amerika Latin, Sebagian benua Afrika, India, Tiongkok, hingga Indonesia.
Di Indonesia, tanaman ini menjadi salah satu bahan pangan yang banyak diolah menjadi makanan tradisional seperti Getuk, Tiwul, Lemet, hingga Misro. Selain itu, singkong juga banyak digunakan dalam bidang Kesehatan sebagai salah satu obat alami diare hingga membantu mengontrol kadar gula darah bagi penderita diabetes.
Berdasarkan penggunaan diatas singkong sangat bermanfaat bagi manusia tapi hanya bagian dagingnya saja, lalu bagaimana pada bagian kulit singkong yang terbuang? Apakah hanya akan menjadi limbah yang tidak berguna? Berikut ini pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai material akustik yang ramah lingkungan.
Para peneliti menjelaskan material akustik dapat mendefinisikan sebagai material yang berfungsi untuk menyerap dan meredam suara. Material akustik ini mempunyai peranan penting dalam akustik ruangan.
Pemanfaatannya banyak digunakan untuk mengurangi kebisingan pada tempat-tempat seperti studio rekaman, ruang produksi, ruang perkantoran, dan ruang lain yang berpotensi menimbulkan kebisingan. Pada saat ini, telah banyak dikembangkan material akustik dan bio-material menjadi salah satu bahan yang baik sebagai alternatif material akustik yang terjangkau dan ramah lingkungan.
Seiring dengan berkembangnya hasil olahan produk dari singkong, maka berkembang juga berbagai jenis usaha yang menggunakan singkong sebagai bahan pokoknya. Singkong menghasilkan limbah terbesar dari kulitnya. Presentase kulit singkong bagian dalam dapat mencapai 15 % dari berat total singkong.
Kulit singkong selama ini hanya dibuang begitu saja, atau masih sebatas hanya untuk pakan ternak. Perlu dilakukan pemanfaatan terhadap limbah kulit singkong menjadi sesuatu yang bernilai tinggi untuk mengurangi penumpukan limbah kulit singkong yang akhirnya dapat mencemari lingkungan.
Pengembangan material akustik yang berbahan dasar dari tumbuh – tumbuhan sebelumnya pernah dilakukan oleh para peneliti, seperti ampas teh, bambu berstruktur hallow dan kelapa sawit. Berbeda dengan para peneliti sebelumnya, pada penelitian sebelumnya menjelaskan “Nilai koefisien serap bunyi yang lebih tinggi ditunjukkan oleh dari serat tandan kosong kelapa sawit dengan rata – rata sebesar 0,9 pada frekuensi diatas 1 kHz pada sampel dengan ketebalan 40 mm dan 50 mm yang memiliki kerapatan sebesar 292 kg/m^3,” kata Khai Hee Or, Azma Putra, & M. Zulkefli Selamat pada penelitian oil palm empty fruit bunch fibres as sustainable acoustic absorber tahun 2017.
Namun, pada penelitian ini perlu dilakukan investigasi efektivitas pemanfaatan kulit singkong sebagai alternatif material akustik ramah lingkungan. Penelitian dilakukan dengan komposisi kulit singkong , ketebalan material akustik, dan jarak material akustik dari sumber bunyi yang berbeda – beda. Yang hasilnya pada penelitian ini adalah memberikan wawasan baru bagi masyarakat ternyata limbah kulit singkong dapat digunakan sebagai material peredam suara yang alami.
Cara pembuatan material akustik dari penelitian ini hanya menggunakan limbah kulit singkong dan lem fox. Limbah kulit singkong yang sudah terkumpul kemudian di jemur dibawah sinar matahari 4-5 jam. Setelah dijemur kulit singkong dipanaskan melalui oven selama kurang lebih 12 jam pada suhu 100° C.
Kulit singkong yang sudah mongering selanjutnya selanjutnya dihaluskan dengan cara ditumbuk lalu disaring. Setelah menjadi butiran – butiran, kulit singkong kemudian di campur dengan lem fox untuk dibuat beberapa sampel material akustik dalam bentuk papan partikel.
Setiap sampel memiliki komposisi yang bervariasi 60 gram – 120 gram, tebal pada setiap sampel 0,5 – 2,0 cm, dan jarak pada sampel dengan alat penguji yang berjarak pada setiap sampel 25 cm, 50 cm, 75 cm. selanjutnya sampel di uji dengan alat untuk mengukur efektivitas reduksi kebisingan pada frekuensi 450 Hz selama 10 detik.
Pada percobaan pertama yang berjarak 25 cm menunjukan bahwa sampel 1 yang memiliki massa kulit singkong 60 gram dengan ketebalan 0,5 cm ternyata memiliki nilai efektivitas reduksi kebisingan sebesar 7,33%. Sedangkan pada percobaan berikutnya dengan jarak yang sama menunjukan bahwa sampel 2 yang memiliki massa kulit singkong 120 gram pada ketebalan 2,0 cm ternyata memiliki nilai efektivitas reduksi kebisingan sebesar 13,44%.
Hasil sementara pada percobaan pertama adalah nilai efektivitas reduksi kebisingan memiliki perbedaan antara sampel 1 dengan sampel 2 yang mengalami peningkatan seiring dengan penambahan ketebalan material akustik.
Pada percobaan kedua yang berjarak 50 cm menunjukan bahwa sampel 1 yang memiliki massa kulit singkong 60 gram dengan ketebalan 0,5 cm ternyata memiliki nilai efektivitas reduksi kebisingan sebesar 4,90%.
Sedangkan pada percobaan berikutnya dengan jarak yang sama menunjukan bahwa sampel 2 yang memiliki massa kulit singkong 120 gram pada ketebalan 2,0 cm ternyata memiliki nilai efektivitas reduksi kebisingan sebesar 10%.
Hasil sementara pada percobaan kedua telah diperoleh kecenderungan yang sama pada percobaan pertama yaitu nilai efektivitas reduksi kebisingan mengalami peningkatan seiring dengan penambahan ketebalan material akustik. Tetapi, pada percobaan kedua hasil nilai efektivitas reduksi kebisingan lebih rendah dari percobaan pertama.
Pada percobaan ketiga yang berjarak 75 cm menunjukan bahwa sampel 1 yang memiliki massa kulit singkong 60 gram dengan ketebalan 0,5 cm ternyata memiliki nilai efektivitas reduksi kebisingan sebesar 1,50%.
Sedangkan pada percobaan berikutnya dengan jarak yang sama menunjukan bahwa sampel 2 yang memiliki massa kulit singkong 120 gram pada ketebalan 2,0 cm ternyata memiliki nilai efektivitas reduksi kebisingan sebesar 9,8%.
Hasil sementara pada percobaan ketiga telah diperoleh kecenderungan yang sama pada percobaan pertama dan percobaan kedua yaitu nilai efektivitas reduksi kebisingan mengalami peningkatan seiring dengan penambahan ketebalan material akustik.
Tetapi, pada percobaan ketiga hasil nilai efektivitas reduksi kebisingan lebih rendah dari percobaan pertama percobaan ketiga. Hal ini dikarenakan jika semakin jauh sumber bunyi ke material akustik, maka semakin rendah nilai tingkat kebisingan setelah dipasang material akustik.
Berdasarkan hasil ketiga perobaan diatas menunjukan bahwa material akustik berbahan dasar dari kulit singkong dan lem fox sebagai perekat dapat digunakan sebagai bahan perduksi kebisingan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penurunan tingkat kebisingan oleh material akustik.
Reduksi tingkat kebisingan ini disebabkan karena kulit singkong memiliki struktur yang berpori pada susunan penyusun kulitnya. Telah diketahui bahwa struktur berpori sering digunakan sebagai bahan dasar peredam suara karena sifatnya yang mampu merubah energi suara menjadi energi panas.
Jadi, tanaman singkong selain dagingnya yang bisa diolah menjadi makanan. Ternyata kulitnya juga dapat digunakan sebagai material akustik yang ramah lingkungan karena memiliki nilai efektivitas reduksi kebisingan yang cukup baik. Tetapi, perlu adanya penelitian lebih lanjut dari penelitian yang sebelumnya untuk memaksimalkan limbah kulit singkong menjadi bahan material akustik yang lebih baik.
Jati Adinindra
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta