DEPOKPOS – Manusia merupakan makhluk sosial yang berarti tidak dapat berdiri sendiri dalam rangka memenuhi seluruh kebutuhannya. Hal tersebut menuntut manusia untuk berinteraksi dengan manusia yang lain. Karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dalam berinteraksi antarsesama manusia perlu memperhatikan norma-norma, sikap, serta kesopanan dalam berbahasa.
Menurut Havighurst, tugas perkembangan remaja adalah mencapai hubungan yang matang antarteman sebaya yang nantinya akan berdampak pada pembentukan karakter dalam diri remaja. Menurut Santrock (2011), rentang usia dewasa berkisar antara 18 tahun hingga 25 tahun. Dengan demikian, mahasiswa tergolong manusia dewasa yang artinya telah melewati masa remajanya dan melaksanakan tugas perkembangan sebagai remaja.
Di masa perkuliahan mahasiswa sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan teman sebaya sebagai pendukung keberlangsungan perkuliahan terutama dalam meningkatkan kualitas diri. Dalam memilih relasi pertemanan bukanlah hal yang bisa disepelekan karena kualitas relasi pertemanan nantinya berdampak pada kualitas diri mahasiswa baik dari segi pola pikir, rasa tanggung jawab, kedisiplinan, maupun perkembangan psikologis mahasiswa. Hal tersebut sesuai dengan teori Bandura bahwa perilaku individu merupakan hasil pengelolaan observasi pada lingkungannya. Sederhananya, ketika kita berteman dengan penjual parfum kita akan tertular aroma wangi dari parfumnya, sebaliknya kita akan bau sampah bila bermain-main dengan sampah. Maksudnya adalah ketika relasi pertemanan kita berkualitas secara tidak langsung memberikan pengaruh kepada diri kita sehingga berevolusi ke arah yang positif, sebaliknya apabila relasi pertemanan kita adalah orang-orang yang suka menunda-nunda, bermalas-malasan, dan tidak bertanggung jawab maka diri kita akan terbawa arus untuk bersikap demikian.
Pernahkah kalian menemui fenomena mahasiswa yang membentuk kelompok-kelompok tertentu bahkan hubungan antarkelompok tersebut tidak terlalu akrab? Kira-kira apa penyebab fenomena tersebut bisa terjadi? Fenomena tersebut bisa saja terjadi akibat perbedaan frekuensi, pola pikir, tujuan, bahkan prinsip yang dipegang dalam suatu kelompok. Relasi pertemanan dalam suatu kelompok juga tidak selalu berjalan mulus, padahal sebagai mahasiswa perlu hadirnya teman sebaya sebagai support system setelah keluarga. Agar terjalin relasi pertemanan yang optimal maka setiap individu penting untuk memahami dan mampu beradaptasi dengan baik. Adapun salah satu upaya agar relasi pertemanan dapat terjalin secara optimal yaitu melalui analisis perilaku asertif.
Menurut Skinner (1983) dalam Soekidjo Notoatmodjo (2005), perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari luar. Menurut Sri Purwanti, asertif adalah kemampuan berkomunikasi secara jujur dan menunjukkan ekspresi sesuai dengan perasaan dan pikiran serta kebutuhan kita. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah reaksi seseorang terhadap rangsangan luar yang dikomunikasikan dan diekspresikan secara jujur dan sesuai porsinya. Tujuan dari perilaku asertif adalah mengkomunikasikan sesuatu secara jujur sehingga terbentuk suasana saling percaya antarmanusia yang satu dengan manusia yang lain. Adapun menurut Rakos (dalam Santosa) orang yang asertif memiliki kemampuan untuk:
Berkata “tidak”
Meminta pertolongan
Mengekspresikan perasaan-perasaan yang positif maupun yang negatif secara wajar
Berkomunikasi dengan hal-hal yang bersifat umum
Setelah menganalisis perilaku asertif, kita perlu mengetahui fungsi dari teman sebaya sehingga relasi pertemanan dapat terjalin secara optimal dan manusia dapat berevolusi ke arah yang positif.
Menurut Kelly dan Hansen dalam Desmita (2015:220-221) ini memiliki 6 fungsi diantaranya:
Mengontrol impuls impuls agresif. Melalui interaksi dengan teman sebaya, remaja belajar bagaimana memecahkan pertentangan-pertentangan dengan cara-cara lain selain tindakan secara langsung.
Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih independent. Teman sebayanya memberikan dorongan bagi remaja untuk mengambil peran dan tanggung jawab yang baru. Dorongan yang diperoleh remaja dari teman-teman sebaya mereka ini menyebabkan berkurangnya ketergantungan remaja pada dorongan keluarga mereka.
Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang. Melalui percakapan dan perdebatan dengan teman sebaya, remaja belajar mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan serta mengembangkan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah.
Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin. Sikap-sikap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin terutama terbentuk melalui teman sebayanya. Remaja belajar mengenai tingkah laku dan sikap yang mereka asosiasikan dengan laki-laki dan perempuan muda.
Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai, umumnya orang dewasa mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang apa yang benar dan apa yang salah. Di dalam teman sebaya, remaja mencoba mengambil keputusan atas diri mereka sendiri. Remaja mengevaluasi nilai yang dimilikinya dan yang dimiliki oleh lingkungan teman sebayanya, serta memutuskan mana yang benar. Proses evaluasi ini dapat membantu remaja mengembangkan kemampuan penalaran moral mereka.
Meningkatkan harga diri. Menjadi orang yang disukai oleh sejumlah besar teman-teman sebayanya membuat remaja merasa enak atau senang tentang dirinya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai mahasiswa, relasi pertemanan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan perkuliahan terutama dalam meningkatkan kualitas diri mahasiswa. Setelah melakukan survei, didapatkan sekitar 87% dari total 123 responden setuju bahwa relasi pertemanan berpengaruh terhadap kualitas diri mahasiswa. Salah satu alasan yang dapat mewakili responden lainnya diungkap oleh mahasiswa ITB yang berinisial AK,”Menurut saya, lingkungan pertemanan sangat berpengaruh dengan kualitas diri mahasiswa karena pada masa ini mahasiswa sedang mencari jati dirinya dan sering mencoba banyak hal yang baru. Mahasiswa terkhusus mahasiswa baru juga masih belum bisa dianggap sepenuhnya dewasa dan juga masih labil. Oleh karena itu, teman berperan dalam memberikan solusi atau pendapat dari permasalahan yang dialami sehingga bisa mempengaruhi pemikiran dan juga perbuatan mahasiswa.” Agar relasi pertumbuhan terjalin secara optimal, salah satu upaya yang dapat diterapkan adalah dengan berperilaku asertif yang berarti bersikap dan mengekspresikan suatu respon dari rangsangan luar dengan jujur dan tidak berlebihan. Dengan kita bersikap apa adanya dalam berinteraksi, hukum alam akan secara otomatis memilah relasi pertemanan mana yang bisa mendukung perkembangan diri kita dan mana yang nantinya akan menghambat atau bahkan memberikan dampak buruk pada diri kita. Apabila kita ingin meningkatkan kualitas diri, kita bisa memilih untuk berada di lingkungan yang bisa mendukung perkembangan diri kita dan berkata “tidak” pada orang-orang yang memberikan dampak buruk, namun hal ini tidak secara mutlak menolak berinteraksi dan menutup diri dengan mereka. Dengan demikian, sebagai individu kita bisa mendapatkan relasi pertemanan yang sejalan dengan pola pikir, tujuan, dan prinsip hidup sehingga dapat mendukung diri kita tumbuh secara optimal menuju pribadi yang lebih berkualitas.
Azizah Dwi Permata
Mahasiwa Uiversitas Sebelas Maret