DEPOKPOS – Kantong plastik, benda kecil, praktis nan serbaguna yang sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia, beli cilok depan kampus, pakai plastik, beli air mineral pakai botol plastik, beli sayur dipasar tradisional pakai kantong plastik, beli baju baru dibungkus plastik, belanja online packing-nya plastik, semua makanan yang dijual disupermarket dikemas menggunakan plastik.
Baru baru ini di media sosial viral ibu-ibu memposting video complain kepada merchat makanan siap saji karena tidak diberi kantong plastik, kemudian menimbulkan banyak komentar dari nitizen yang beradu pendapat di postingan tersebut.
Di kota-kota besar hampir seluruh minimarket, swalayan, toko grosir, sudah tidak lagi memberikan kantong plastik secara cuma-cuma, beralih ke kantong belanja berbahan spunbond yang digunakan sebagai bahan goody bag yang tentunya harga jualnya lebih mahal dari kantong plastik, berbeda dengan kantong plastik, kantong belanja dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama,
Namun dipasar tradisional, diwarung kecil, didaerah desa di kota-kota provinsi penggunaan kantong plastik masih massif digunakan, dan gratis diberikan penjual kepada pembeli.
Sekretaris Deputi Bidang Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga, Gatot Hendrarto dalam opening acara Leader’s Academy Online Indonesia 2023 yang merupakan bagian dari kegiatan tahunan World Cleanup Day (WCD) Indonesia menyampaikan,
Hasil input dari 202 Kab/kota se-Indonesia pada tahun 2022 jumlah timbunan sampah nasional mencapai 21,1 juta ton, dan 65.71% atau setara 13.9 juta ton sampah dapat Kembali dikelola atau didaur ulang sedangkan sisanya 34.29% (7.2 juta ton) belum terkelola dengan baik.
Dikutip dari laman resmi kementrian lingkungan hidup dan kehutanan. Komposisi sampah dibagi menjadi 9 berdasarkan jenis sampah, yaitu sisa makanan, kayu/ranting/daun, kertas/karton, plastik, karet/kulit, kain, kaca, logam dan lainnya. Persentase sampah sisa makanan merupakan yang paling tinggi yaitu 40.2% diikuti sampah plastik di urutan kedua sebesar 18.1%.
Sumber tumpukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) penyumbang terbesarnya adalah rumah tangga dan pasar tradisional.
Risiko limbah sampah rumah tangga terhadap kesehatan manusia sangat banyak, sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan atau illegal di daratan seperti pecahan kaca, tusuk sate, jarum dapat menyebabkan luka tetanus kepada manusia maupun hewan seperti kucing. Risiko limbah yang dibuang di lautan dapat mencemari biota laut.
Risiko yang disebabkan manusia akan kembali lagi kepada manusia, seperti hukum sebab akibat, sampah-sampah yang belum dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran air tanah seperti Sungai, danau dan laut, pencemaran tanah dan pencemaran udara.
Meskipun demikian, sampah-sampah yang setiap hari nya disetorkan ke TPA menjadi sumber potensial bagi pemulung untuk menghasilkan pendapatan. Barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomis seperti logam, plastik, barang elektronik bekas, kertas, kaleng, atau barang bekas lainnya dapat dijual kembali. Dengan adanya pemulung yang aktif memilah sampah dapat mengurangi jumlah sampah yang masuk dan memperpanjang usia operasi TPA itu sendiri.
Sebagai contoh Bpk. Ibrohim pemulung di TPA Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat dalam sebuah wawancara di media massa mengatakan mampu meraih pendapatan sebesar Rp 136 juta rupiah dari hasil kerja 8 jam per hari dan menjual rata-rata 200-ton sampah plastik per bulannya kepada pengepul pengolahan bijih plastik di Bantargebang.
Sampah tidak selamanya tentang hal-hal yang tidak berguna dan harus dibuang, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya, seperti pemulung melihat TPA Bantargebang sebagai mata pencaharian, yang sangat berpeluang menghasilkan uang, juga bentuk dari pengelolaan risiko limbah sampah dengan cara memilah sampah sesuai jenisnya dan berkontribusi pada daur ulang.
Singapura adalah salah satu contoh negara yang telah berhasil melakukan daur ulang sampah tingkat tinggi, yang menerapkan program pengurangan sampah dengan kebijakan yang sangat ketat dalam pengelolaan sampah juga sanksi yang tegas kepada oknum-oknum yang membuang sampah sembarangan yaitu membayar sebanyak 300 SGD atau sekitar 2,9 juta rupiah.
Masyarakat dan pemerintah berkerjasama menjalankan peran masing-masing, pemerintah sebagai pihak yang menfasilitasi cara atau tools sedangkan masyarakat sebagai pihak yang patuh menjalankannya.
Berbeda dengan negara kita, penyebab maraknya sampah di indonesia timbul karena permasalahan klasik berkepanjangan yang sampai hari ini belum terlihat program solusi konkret yang berhasil diterapkan dari pemerintah, belum adanya kesadaran diri akan risiko yang ditimbulkan dari sampah yang dihasilkan tiap harinya.
Green business atau bisnis hijau yang mulai populer kembali diterapkan, karena maraknya kasus-kasus pencemaran lingkungan yang terjadi di indonesia. Tujuan dari green business adalah mengurangi risiko yang ditimbulkan dari kegiatan produksi, distribusi, maupun penggunaan produk yang dihasilkan perusahaan. Perusahaan harus ikut andil memikirkan akhir dari produk yang mereka buat hingga hilang semua dampak negatif terhadap lingkungan.
Brand air mineral dalam kemasan, Le Minerale yang menerapkan green bussiness memegang prinsip sustainability, Le Minerale berinovasi menambah ukuran kemasan yang besar dan galon menggunakan plastik yang berbahan dasar PET atau Polyethylenec Terephthalate, merupakan bahan plastik yang diakui secara global sebagai kemasan yang aman juga dapat di daur ulang. Bahan plastik PET memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi sebagai limbah karena dapat didaur ulang menjadi produk turunan yang sangat beragam.
Selain itu Le Minerale juga berkerjasama dengan PT Polindo Utama sebagai mitra dalam pengelolaan limbah plastik. Peta alur penarikan kembali kemasan plastik agar bisa dimanfaatkan dan didaur ulang kembali yakni dengan adanya partner-partner yang tersebar lebih dari 350 titik pengumpulan sampah plastik di wilayah jabodetabek, menukarkan sampah menjadi saldo e-wallet.
Terdapat 5 tahapan manajemen risiko dalam buku managing risk in organizations karya J. Davidson Frame, yaitu perencanaan risiko, identifikasi risiko, mengukur dampak risiko secara kualitatif dan kuantitatif, merancang strategi penanganan risiko, dan terakhir pengawasan dan pengendalian risiko.
Inilah yang diterapkan oleh produsen air mineral Le Minerale. Brand air mineral Le Minerale menjadi contoh perusahaan yang mengimplentasikan perencanaan risiko dan merancang strategi penanganan risiko.
Syifa Kurnia Salsabila
Mahasiswi STEI SEBI

