Perjuangan Gen Z Menghadapi Tantangan Kesehatan Mental Masa Kini

DEPOKPOS – Generasi Z atau biasa disebut dengan Gen Z,terdiri dari individu yang dilahirkan antara 1996-2012, dan menghadapi tantangan unik dalam hidup mereka. Tekanan sedemikian rupa membuat orang dengan rentang usia 18-35 tahun ini memiliki persoalan yang sering mereka alami seperti kemungkinan merasakan kelesuan secara emosional dan kecemasan yang berlebih.

Generasi inilah yang hidup dalam era dipenuhi teknologi canggih, dan telah mengalami pengalaman hidup yang sangat berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Secara khusus, mereka terhubung secara global dengan berbagai individu dan mayoritas komunikasi mereka dilakukan melalui teknologi dan platform media sosial. Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang sangat terpapar dengan media sosial. Meskipun media sosial dapat memberikan manfaat seperti meningkatkan konektivitas sosial, tetapi juga dapat berkontribusi pada perasaan lesu dan kecemasan.

Media Sosial kerap menjadi wadah untuk memperlihatkan citra diri yang sempurna, gaya hidup yang glamor, dan pencapaian yang mengagumkan. Gene Z seringkali merasa tertekan untuk membandingkan diri mereka dengan gambaran yang tidak realistis ini, yang menghasilkan kecemasan mengenai ketidakmampuan mereka dalam mencapai standar yang tinggi. Hal ini menyebabkan perasaan kurang berharga dan tidak memadai pada Generasi Z. Dampaknya dapat berupa depresi, kecemasan, dan kebencian terhadap diri sendiri yang dirasakan oleh banyak anggota Generasi ini.

Dilansir dari Dataindonesia.id, berdasarkan hasil survei Alvara Research Center, ada 28,3% responden dari generasi Z yang mengaku cemas. Rinciannya, sebanyak 23,3% merasa cemas dan 5% lainnya sangat cemas. Di generasi milenial, persentase responden yang cemas sebesar 28,1%. Ini terdiri dari 23,5% milenial yang merasa cemas dan 4,6% sangat cemas.

Menurut Alvara, tingginya tingkat kecemasan generasi Z karena mereka belum memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi tekanan. Ini berbeda dengan generasi pendahulunya, seperti X dan milenial. Atas dasar itu, wajar jika generasi Z mudah berpindah-pindah kerja. Mereka akan mencari lingkungan kerja yang cenderung nyaman dan tidak memiliki tekanan tinggi. Sebagai informasi, Alvara melakukan survei terhadap 1529 responden di 34 provinsi seluruh Indonesia.

Tetapi ada berbagai langkah yang dapat diambil untuk menjaga kesehatan mental dan mengatasi kecemasan, seperti meningkatkan kesadaran akan pengaruh sosial media terhadap kesejahteraan mental dan membatasi waktu yang dihabiskan di platform tersebut. Mengatur batasan waktu harian untuk menggunakan media sosial dan menghindari membandingkan diri terlalu banyak dengan orang lain. Fokuslah pada penggunaan media sosial yang positif, seperti mengikuti akun yang memberikan inspirasi dan informasi bermanfaat. Berperan aktif dalam berbagi konten yang positif dan memberikan kontribusi pada komunitas online yang sehat dan mendukung. Selain menghabiskan waktu di media sosial, penting untuk mengalokasikan waktu untuk kegiatan offline yang bermanfaat, seperti berolahraga, melakukan aktivitas seni, membaca, atau bertemu langsung dengan teman. Hal ini membantu menjaga keseimbangan dan keragaman dalam pengalaman sehari-hari.

Generasi Z menghadapi tantangan yang unik dan kompleks dalam kehidupan mereka, yang dapat meningkatkan risiko perasaan lesu dan kecemasan. Dengan meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental, mengambil tindakan untuk mengelola stres, dan mencari dukungan sosial, Generasi Z dapat menghadapi tantangan ini dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna. Penting bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan untuk memahami perjuangan yang dihadapi oleh Generasi Z dan memberikan dukungan yang diperlukan.

Putri Anggraeni

Pos terkait