Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam

DEPOKPOS – Sebagai orang tua, salah satu tujuan terbesar kita adalah membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang. Dalam mengasuh anak-anak kita, tidak hanya penting untuk memperhatikan perkembangan fisik dan intelektual mereka, tetapi juga perkembangan spiritual mereka.

Dalam pandangan Psikologi Islam, spiritualitas memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan kesejahteraan anak-anak kita. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita mengasuh anak-anak dengan cara yang seimbang dan mengedepankan nilai-nilai Islami.

Bacaan Lainnya

Adapun cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk menumbuhkembangkan pribadi yang baik pada anak menurut pandangan psikologi islam yaitu:

Memberi Teladan

Orang tua harus bertindak sebagai contoh bagi anaknya pada tahap pertama. Orang tua harus memahami dan mengamalkannya sebelum menjadi teladan. Pengamalan ajaran agama oleh orang tua secara tidak langsung memberikan pendidikan yang baik, terutama akhlak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Orang tua harus mengajarkan anak-anak mereka nilai-nilai moral. Jalaluddin (2014) menyatakan bahwa akhlak sangat terkait dengan Kholiq (Allah SWT), yang berbeda dengan moral. Artinya, terkait erat dengan ibadah atau penghambaan diri kepada Allah Swt.

Kepribadian anak yang saleh sangat dipengaruhi oleh pendidikan moral yang diberikan oleh keluarga mereka. Hal ini sesuai dengan peran Rasulullah Saw. dan metode pendidikan yang dia terima.

Rasulullah SAW berkata: Artinya: “Sesungguhnya aku Muhammad di utus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak” (Al-Hadist).

Saat ini, orang tua lebih sibuk membantu anak-anak mereka belajar bahasa Inggris, IPA, Mandarin, dan bidang lain. Bahkan mereka tidak mengingat masa lalu pendidikan moral anak di rumah. Mereka tidak mengerti mengapa Rasulullah Saw. dipuji, hidupnya dalam perlindungan Allah, dan menjadi teladan bagi orang lain. Jawabannya adalah akhlak.

Dalam firmannya, Allah Swt. bahkan memuji Rasulullah Swt. Yang artinya: “Sungguh engkau memiliki akhlaq yang sangat tinggi” (Q.S. al-Qalam: 4). Pendidikan moral dalam keluarga sangatlah penting dan saat ini merupakan solusi.

Akhlak tersebut berfungsi sebagai benteng yang melindungi anak dari dampak budaya asing yang dapat merusak moral anak. Berpotensi membahayakan kepribadian anak, terutama jika tidak melewati proses identifikasi budaya.

Memelihara Anak

Fokus tanggung jawab ini adalah meningkatkan potensi anak dan menjaga kesehatan secara fisik melalui makanan dan minuman. Orang tua harus memperhatikan makanan dan minuman anak karena penting untuk kelancaran pertumbuhan fisik mereka.

Menurut Jalaluddin (2002: 7), makanan dan minuman harus memenuhi persyaratan halal (hukumnya) dan thayyib (bahannya). Halal dari segi mencari dan mendapatkannya dalam berbagai cara, seperti berdagang, menjadi guru, dan berbisnis.

Thayyib secara gizi meliputi berbagai makanan seperti nasi, daging, jagung, susu, tempe, tahu, dan makanan empat sehat lima sempurna. Makanan dan minuman thayyib agar dan halal diperhatikan dan dianggap penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: Artinya: “Makanlah dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah berkeliaran di muka bumi ini dengan berbuat kerusakan” (Q.S. al-Baqarah: 60).

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diharuskan untuk mencari makanan dan minuman yang berasal dari Allah Swt kapan saja dan sesuai kebutuhan, tetapi tidak terlalu banyak. Selain itu, penting untuk memperhatikan ke-halal-an dan ke-thayyib-annya saat mencari rezeki dari Allah.

Manusia terus digoda oleh setan agar mereka tidak memperhatikan kedua hal tersebut. Salah satu cara untuk mendapatkan uang yang tergoda oleh tindakan jahat adalah melalui praktik riba, perjudian, korupsi, merampok, dan lain-lain.

Makanan dan minuman juga berdampak pada kepribadian anak, terutama pada pembentukan akhlak. Para orang tua saat ini mencari rizki melalui cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, seperti korupsi, padahal anak adalah anugerah terbaik dari Allah yang harus dijaga dan dipelihara sebaik mungkin.

Ironisnya, ini adalah kenyataan. Orang tua membentuk kepribadian anaknya secara signifikan. Jika mereka memberinya rangsangan yang positif, maka kepribadiannya juga akan positif, dan sebaliknya. Ibn Miskawih mengatakan bahwa karakter atau watak dapat berubah karena rangsangan pendidikan.

Membiasakan Anak Sesuai dengan Perintah Agama

Fokus tugas ini adalah memberikan aturan agama kepada anak-anak. Aturan agama memiliki hubungan dengan syariat dan sistem nilai masyarakat.Orang tua harus melaksanakan perintah agama melalui pelatihan atau pembiasaan. Pembiasaan ini terkait dengan berperilaku dengan baik terhadap Allah Swt., kedua orang tua, dan sesama manusia.

Dalam kitabnya Thabiz al-Akhlaq, Ibn Miskawih (1967: 9) mengatakan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan tertentu tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan sebelumnya. Al-Ghazali juga menganggap akhlak sebagai sesuatu yang tetap dalam jiwa dan dapat muncul dalam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran sebelumnya.

Akhlak tidak berasal dari perbuatan, kekuatan, atau ma’rifah. “Haal”, atau kondisi jiwa, adalah bentuk akhlak bathiniyah (Rohayati, 2011: 12). Dengan kata lain, akhlak adalah keadaan jiwa yang memotivasi tindakan.

Dua jenis perspektif jiwa atau keadaan jiwa ini berasal dari kebiasaan. Yang pertama berasal dari watak (bawaan) atau fitrah sejak kecil, dan yang lain berasal dari latihan. pelanggaran ibadah agama seperti sholat, puasa, dan sebagainya.

Akhlak anak, seperti makan dan minum dengan tangan kanan, berbicara dengan orang yang lebih tua, dan hal lainnya, terkait dengan pelanggaran sistem nilai.Akhlak adalah sesuatu yang dapat mendorong perbuatan manusia secara spontan, seperti yang dilakukan oleh fitrah (naluria) manusia sejak kecil, serta melalui kebiasaan latihan dan proses pendidikan, sehingga perbuatan-perbuatan itu menjadi baik.

Seorang ibu harus berusaha keras untuk mengasuh dan memuaskan cinta kasih anaknya, seperti dengan sering mengelus kepalanya sebagai tanda cinta. Ayah juga harus memperhatikan kebutuhan cinta kasih anak-anaknya, menempatkan mereka di pangkuannya atau di sebelahnya sebagai tanda kasih.

Ada empat teori yang dikatakan oleh seorang psikolog dan peneliti Mesir, Sayyid Muhammad Ghanim. Mereka termasuk teori perkembangan sosial Erickson, teori perkembangan identitas Albert, teori pola perkembanan seksual Freud, dan teori perkembangan kognitif Piaget.

Yang paling penting dari empat perspektif ini setuju bahwa anak-anak memerlukan kasih sayang dan perhatian psikologis dari kedua orang tua sejak kecil (Mazhahiri, 2000: 202).

Sebenarnya, kasih sayanglah yang dapat membangun kepribadian anak. Ia memiliki kemampuan untuk berkembang dengan baik secara fisik dan mental sehingga ia dapat menjadi anak yang memenuhi harapan agama dan orang tua.

Mengadopsi Kekuatan Psikologi Islam dalam Mengasuh Anak yang Berkarakter Islami

Dalam mengasuh anak-anak kita, penting untuk mengadopsi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual, moral, dan emosional mereka.

Dengan memahami pentingnya pertumbuhan spiritual anak, peran spiritualitas dalam pengasuhan, prinsip-prinsip Psikologi Islam, dan praktik pengasuhan sehari-hari yang Islami, kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang, dengan identitas Islami yang kuat.

Meskipun ada tantangan dalam mengaplikasikan Psikologi Islam dalam pengasuhan, dengan tekad dan dukungan yang tepat, kita dapat mengatasi hambatan ini. Mari kita memeluk kekuatan Psikologi Islam dalam mengasuh anak-anak kita dan membantu mereka menjadi individu yang berakhlak baik, berdaya tahan, dan memiliki ikatan yang kuat dengan Allah.

Dalam mengasuh anak yang tangguh dan seimbang, kita membentuk generasi masa depan yang Islami dan bermanfaat bagi umat manusia.

Umar Hamid Nugroho
Universitas Muhammadiyah. Prof. Dr. Hamka

Pos terkait