DEPOKPOS – Mubalighah Kota Depok, Mumun Siti Munawaroh menegaskan ibadah puasa di bulan Ramadhan membentuk insan mulia dan bertakwa.
“Hikmah yang akan dipetik dari kita melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan agar dia takwa, dengan puasa maka seseorang akan terbentuk dalam dirinya takwa,” ungkapnya dalam forum Kajian Keluarga Sakinah: Ramadhan Mulia dengan Takwa Berkah dengan Syariah, Ahad (22/02/2026) di Depok.
Menurutnya, kaum Muslim sering dengar istilah takwa. “Lalu takwa itu apa?” tanyanya di hadapan puluhan peserta yang hadir.
Ia pun menegaskan, berbagai ulama mendefinisikan takwa. “Secara bahasa takwa itu diibaratkan sebagai ‘wikoyah’ atau perisai. Perisai apa? Perisai dari segala bentuk marahnya Allah kalau kita tidak taat. Wikoyah dari neraka, wikoyah dari azab, wikoyah dari siksa. Takwa itu membuat orang menjadi tidak rela untuk mendapatkan murka-Nya Allah,” bebernya.
Menurut Imam Ali, lanjutnya, secara rinci tentang takwa. “Bahwasannya yang pertama itu takut khauf) kepada yang Maha Kuasa. Takut kalau perbuatan kita tidak sesuai dengan perintah Allah, takut menyalahi perintah Allah,” jelasnya.
Selanjutnya dari rasa takut tadi kepada yang Maha Kuasa, lanjutnya jadi melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Puasa, shalat, zakat, beramal, ngaji, menjalankan kewajiban. Itu semua merupakan amal shalih.
“Begitu juga qona’ah dengan yang sedikit. Jadi karena iman, orang yang bertakwa maka dia qona’ah terhadap apa yang Allah berikan saat ini, tidak banyak mengeluh, tidak banyak mengkhayal. Qona’ah itu lahir dari ketaatan dan ketakwaan,” lanjutnya.
Lalu, yang terakhir, ujarnya, senantiasa bersiap-siap kita kembali yaitu perjalanan perpisahan alam dunia ke alam akhirat. “Jadi orang yang bertakwa akan senantiasa siap-siap untuk kemudian menyambut terhadap kehidupan setelah kematian. Bukan menjadikannya sesuatu yang ditakuti tapi harusnya disiapkan, dengan apa?Mencari bekal. Itulah takwa yang didedikasikan oleh Imam Ali,” bebernya.
Oleh karenanya, menurutnya, dengan seseorang itu memahami takwa tadi Allah memberikan predikat kepada orang takwa, yaitu inna akramakum indzallahi Atqakum (sesungguhnya orang yang mulia di antara kalian adalah orang yang takwa. [Sari Liswantini]

