Qailulah, Istirahat Singkat di Siang Hari

Oleh: Alifah Samhana Nadhilah, Mahasiswa Institut SEBI

Banyak pelajar dan mahasiswa saat ini mengeluhkan mudah lelah, sulit berkonsentrasi, serta mengantuk saat menjalani aktivitas belajar di siang hari. Kondisi ini sering kali langsung dikaitkan dengan kurangnya waktu tidur di malam hari. Padahal, persoalan kelelahan tidak hanya disebabkan oleh durasi tidur malam, tetapi juga oleh kurangnya manajemen istirahat di siang hari.

Di tengah gaya hidup yang padat, kebiasaan begadang, serta tingginya tuntutan akademik, kebutuhan istirahat sering diabaikan. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa remaja usia 12–18 tahun membutuhkan waktu tidur ideal sekitar 8–9 jam per hari. Namun, realitasnya banyak yang tidak memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga berdampak pada konsentrasi, kesehatan mental, dan performa belajar.

Dalam konteks ini, terdapat satu kebiasaan sederhana yang sering terabaikan, yaitu qailulah. Qailulah bukan sekadar tidur siang, melainkan bentuk istirahat di pertengahan hari yang dapat dilakukan dengan tidur singkat atau sekadar berbaring untuk memulihkan energi. Kebiasaan ini tidak hanya memiliki dasar ilmiah, tetapi juga telah dianjurkan dalam ajaran Islam sejak lama.

Secara bahasa dan praktik, qailulah merujuk pada istirahat di siang hari, khususnya sebelum waktu Zuhur. Menariknya, qailulah tidak selalu harus berupa tidur. Menurut Ash-Shan’ani, qailulah tetap bernilai meskipun seseorang tidak tertidur, selama ia berhenti sejenak dari aktivitas untuk menenangkan tubuh dan pikiran. Di sini ada asumsi yang sering keliru: banyak orang menyamakan qailulah dengan tidur siang panjang. Padahal, esensi qailulah adalah pemulihan energi, bukan hanya sekadar tidur.

Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa istirahat singkat di siang hari memiliki dampak positif bagi fungsi kognitif. Tidur selama 10–30 menit terbukti dapat:

  • Meningkatkan daya ingat dan kemampuan belajar
  • Memperbaiki suasana hati
  • Mengurangi kelelahan mental
  • Meningkatkan fokus dan produktivitas

Secara neurologis, tidur singkat membantu proses konsolidasi memori, yaitu penguatan informasi yang telah dipelajari sebelumnya agar lebih mudah diingat. Namun, penting untuk mengkritisi: manfaat ini sangat bergantung pada durasi dan timing. Jika terlalu lama (lebih dari 30–60 menit), justru bisa menyebabkan sleep inertia (rasa pusing dan lemas setelah bangun).

Dalam islam telah lebih dahulu mengenalkan konsep qailulah sebagai bagian dari gaya hidup yang meningkatkan kualitas ibadah, terutama qiyamul lail. Imam Al-Ghazali juga menekankan bahwa qailulah membantu menjaga stamina agar seseorang tetap produktif, baik dalam ibadah maupun aktivitas sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa qailulah bukan simbol kemalasan, melainkan bentuk manajemen energi yang strategis.

Selain itu, Al-Qur’an dalam Q.S. Ar-Rum ayat 23 menyebutkan bahwa tidur di siang dan malam hari merupakan tanda kekuasaan Allah SWT. Ayat ini memperkuat bahwa istirahat adalah bagian dari fitrah manusia.

Agar qailulah memberikan manfaat optimal, perlu diperhatikan beberapa hal:

  • Durasi ideal: 10–30 menit
    Waktu terbaik: sebelum atau sekitar waktu Zuhur
  • Kondisi: tempat yang tenang dan nyaman
  • Niat: tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga sebagai bentuk mengikuti sunnah

Tidak semua orang memiliki kesempatan melakukan qailulah setiap hari. Oleh karena itu, qailulah sebaiknya diposisikan sebagai opsi strategis, bukan kewajiban yang dipaksakan.

Qailulah merupakan kebiasaan sederhana yang memiliki manfaat besar, baik dari sisi kesehatan maupun spiritual. Istirahat singkat di siang hari dapat membantu memulihkan energi, meningkatkan konsentrasi, serta menjaga keseimbangan emosi. Lebih dari itu, qailulah juga memiliki nilai ibadah ketika dilakukan dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Namun, qailulah perlu dipahami dan diterapkan secara bijak. Durasi yang tepat, waktu yang sesuai, serta kondisi yang mendukung menjadi faktor penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Oleh karena itu, qailulah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang sia-sia atau identik dengan kemalasan. Sebaliknya, qailulah adalah bentuk strategi cerdas dalam mengelola energi, sehingga seseorang dapat menjalani aktivitas dengan lebih produktif, sehat, dan seimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat.

Pos terkait