Resensi Buku Gadis Kretek, Romansa Seorang Gadis dan Jejak Kretek

Judul : Gadis Kretek
Penulis : Ratih Kumala
Genre : Novel Sejarah
Tahun Terbit : 2023 (cetakan kedelapan)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 274
Bahasa : Indonesia
ISBN : 978-979-22-8141-5
Harga Buku : Rp 63.000, 00

Gadis Kretek merupakan novel cerita sejarah karya Ratih Kumala, buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2012. Per tahun 2023 buku ini sudah melalui cetakan yang ke delapan, per tahun ini juga buku ini mulai banyak dicari kembali oleh pembaca karena munculnya adaptasi serial sebanyak 5 episode dari buku ini dengan judul yang sama di platform streaming Netflix. Cetakan terbaru buku ini memiliki foto Jeng Yah yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo di bagian sampul.

Bacaan Lainnya

Sang penulis novel, Ratih Kumala merupakan seseorang yang mengenyam pendidikan di jurusan sastra, tepatnya di Sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret. Buku pertama Ratih Kumala yang ia tulis berjudul Tabula Rasa yang juga mendapatkan penghargaan di Sayembara Novel Dewan Kesenian di tahun yang sama saat buku ini pertama kali diterbitkan yaitu tahun 2004.

Dalam sejarahnya keluarga Ratih Kumala juga pernah memiliki bisnis kretek keluarga di kota Muntilan, Jawa Tengah. Dengan latar belakang keluarga tersebut lah yang menginspirasi Ratih Kumala dalam menuliskan buku Gadis Kretek. Hal ini juga merupakan hal yang menarik, karena di dalam buku tersebut hanya satu nama kota yang disamarkan yaitu Kota M, beberapa pembaca berspekulasi bahwa kota yang dimaksud merupakan kota Muntilan yang berada di Jawa Tengah.

Di dalam novel ini cerita dimulai dari perspektif seorang lelaki bernama Lebas yang memiliki dua orang kakak lelaki serta sang ayah yang sedang dalam keadaan sakit parah. Keluarga Lebas memiliki sebuah perusahaan keluarga yang bergerak di bidang rokok dengan nama Rokok Cap Djagad Raja. Namun seiring dengan berjalannya cerita terjadi perubahan perspektif dengan alur mundur ke tahun 1940-an, yang menceritakan tentang seorang lelaki bernama Idroes Moeria yang merupakan seorang buruh linting klobot yang menyukai seorang anak gadis dari seorang Juru Tulis, bernama Roemaisa.

Namun kisah percintaan Idroes Moeria dan Roemaisa tidak selalu berjalan dengan lancar. Pada awalnya, Idroes Moeria harus bersaing dengan seseorang yang ia anggap teman dekatnya yang juga menyukai Roemaisa, Soedjagad. Hingga akhirnya Idroes Moeria menikahi Roemaisa dan mulai membangun usaha klobotnya hingga menjadi terkenal di Kota M hingga ke kota-kota lain di Pulau Jawa. Idroes Moeria dan Roemaisa dikaruniai dua orang anak perempuan, Dasiyah dan Rukayah.

Dasiyah, putri sulung Idroes Moeria sedari kecil sudah senang membantu sang ayah melinting dengan karyawan lainnya di pabrik kretek, seiring dengan berkembangnya Dasiyah berkembang pula minat sang anak untuk melanjutkan bisnis keluarga tersebut. Dari situlah nama Jeng Yah muncul. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Soeraja, mereka jatuh cinta namun cinta mereka tidak selalu berjalan dengan mulus dan Soeraja harus pergi meninggalkan Jeng Yah.

Novel ini merupakan novel dengan latar sejarah Indonesia yang cukup kental, mulai dari jalan cerita mengenai perkembangan kretek di daerah Jawa Tengah hingga peristiwa penting bangsa lainnya seperti pemberontakan PKI di Jawa. Dalam sejarahnya kretek merupakan salah satu kebutuhan lokal masyarakat akan rempah-rempah terutama di Jawa. Salah satu tokoh terkenal yang memperkenalkan campuran tembakau, cengkeh dan saus pada kretek adalah Haji Jamhari yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Beliau-lah yang disebut sebagai salah satu pelopor kretek yang ada di Indonesia, hingga akhirnya berkembang menjadi salah satu industri yang menopang ekonomi nasional.

Misteri dimana sebenarnya Kota M masih terus berlanjut, namun berdasarkan sejarah Indonesia sendiri, hal-hal yang disebutkan di dalam novel mengenai Kota M cukup merujuk kepada Madiun, dimana Madiun merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang menjadi daerah penghasil kretek di Jawa serta keberadaan pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1948, beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Namun, hal tersebut masih terus menjadi misteri yang cukup menarik bagi para pembaca, dan membuat pembaca mencari tahu lebih dalam mengenai hal tersebut.

Salah satu hal yang cukup menarik lainnya adalah bagaimana Idroes Moeria mempercayakan bisnis keluarga yang ia miliki kepada Jeng Yah sepenuhnya, walaupun Jeng Yang merupakan seorang wanita, serta bagaimana warga di Kota M menerima dengan baik hal tersebut. Hal ini cukup menarik mengingat budaya patriarki yang cukup kental di lingkungan keluarga dan masyarakat Jawa, namun Jeng Yah bisa merepresentasikan bahwa wanita juga bisa dan patut menjalankan bisnis keluarga sang ayah dan mencapai keberhasilan dalam melakukannya.

Salah satu hal yang cukup disayangkan mengenai buku ini adalah, di awal buku, cerita lebih banyak berfokus kepada Idroes Moeria dan Roemaisa, sehingga pembaca akan mengira bahwa mereka-lah karakter utama dalam cerita ini. Namun di tengah dan di akhir buku terbukti bahwa mereka bukanlah karakter utama, melainkan Soeraja dan Jeng Yah. Hal ini berbanding terbalik isi dari serial, dimana penceritaan difokuskan pada Soeraja dan Jeng Yah sehingga penonton dapat lebih memfokuskan cerita.

Di tengah-tengah buku juga terdapat karakter yang seperti ‘hilang’ dari cerita yaitu, Soedjagad. Pembaca tidak diberikan informasi lebih lanjut kemana Soedjagad ‘pergi’ meskipun di awal cerita, Soedjagad merupakan karakter yang sering muncul dan berkaitan secara langsung dengan Idroes Moeria. Hal ini mungkin terjadi juga karena adanya perubahan fokus dari Idroes Moeria dan Roemaisa menuju Jeng Yah dan Soedjagad,

Di dalam novel ini juga banyak berisi detil-detil yang tidak ada di dalam serial. Walaupun buku ini menggunakan alur maju dan mundur, pembaca tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami alur cerita. Mungkin pembaca akan merasa sedikit bingung di bagian awal, namun cerita dapat dibaca dan dipahami dengan mudah, serta penggambaran latar yang jelas, membantu pembaca untuk membayangkan situasi dan kondisi yang ada di dalam buku.

Bagi para penonton serial Netflix Gadis Kretek, buku ini akan banyak memberikan lebih banyak informasi yang cukup signifikan mengenai cerita secara keseluruhan. Karena penceritaan yang cukup detailing, pembaca dapat benar-benar memahami dan mengikuti cerita secara mendalam sehingga penonton yang juga membaca buku ini dapat lebih memahami cerita.

Karen N. Qursyah, Naveesha Mazaya Prayoga
Mahasiswa Prodi Sastra Belanda Universitas Indonesia

Pos terkait