Judul : Malam Seribu Jahanam
Penulis : Intan Paramadhita
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Juni, 2023
Tebal : 355 halaman
ISBN : 978-602-06-7144-4
DEPOKPOS – Mimpi buruk tidak selalu datang dari pihak eksternal, internal keluarga juga bisa ikut andil dari hancurnya mimpi yang telah kita rajut selama ini. Perbedaan latar belakang pengetahuan, prinsip ideologi dan kepercayaan terhadap suatu dapat berujung pada ‘Pengkhianatan’. Intan Paramaditha, seorang penulis sekaligus akademisi Indonesia, Beliau seringkali menulis karya sastra yang berkaitan dengan isu gender, seksualitas, budaya, hingga politik. Karya-karyanya kerap kali mendapatkan penghargaan baik di kancah nasional maupun internasional, diantaranya: Novelnya yang berjudul The Wandering (Harvill Secker/ Penguin Random House UK) yang diterjemahkan dari bahasa Indonesia oleh Stephen J. Epstein, masuk nominasi Stella Prize di Australia dan mendapat penghargaan Tempo Best Literary Fiction in Indonesia, English PEN Translates Award, dan PEN / Hibah Dana Terjemahan Heim dari PEN Amerika. Selain itu esainya, “Tentang Pertanyaan Rumit Seputar Penulisan Tentang Perjalanan,” terpilih untuk Penulisan Perjalanan Amerika Terbaik 2021. Kegemaran Intan dalam menuliskan cerita dengan genre gothic seakan menjadi sebuah identitas atas gaya penulisan. Seperti karya-karya yang pernah diterbitkan sebelumnya seperti Kumpulan Budak Setan (2010), Sihir Perempuan (2017), Gentayangan (2017), dan Apple and Knife (2018).
Alasan kami meresensi novel ini adalah karena banyaknya latar kejadian yang dekat sekali dengan realita dan isu sosial yang marak terjadi di kehidupan nyata dewasa ini. Misalnya, novel ini membawa isu-isu ekstrim yang terjadi dengan membawa embel-embel agama, dalam novel ini juga mengandung kritik terhadap budaya dominan, muslim kelas menengah yang tinggal di Jawa, atas kekerasan yang terjadi dengan argumen bahwa ‘kekerasan bukan lah peristiwa, melainkan sebuah struktur’, Intan Paramaditha menjelaskan mengenai maksud dari kata ‘struktur’ disini adalah sebuah kejadian atau peristiwa yang terjadi secara sistematis dan tidak hanya sekali terjadi kemudian selesai. Lantas keterkaitan seperti apa yang diceritakan dalam novel ‘Malam Seribu Jahanam’ dengan realita sosial yang yang ada?
“Malam Seribu Jahanam” mengisahkan kisah tiga kakak beradik yang bernama Mutiara si anak sulung sebagai ‘sang penjaga’ kemudian Maya ‘sang pengelana’ si anak tengah yang hidup jauh dari rumah, dan Annisa si anak kesayangan ‘pengantin’ yang bungsu. Cerita ini diceritakan oleh narator yaitu ‘sang pendongeng’ yang bernama Rosalinda. Mutiara anak sulung yang selalu diandalkan dalam keadaan apapun, harus tahan banting, dituntut sempurna hingga harus menjaga keluarganya sampai tua. Maya mengeksplorasi dunia dengan bertualang ke luar negeri dengan buku-bukunya. Sementara itu, Annisa adik bungsu kesayangan mereka harus pergi meninggalkan mereka dengan jejak tercerai-berai yang penuh dengan kerumitan dan pengkhianatan hingga menguji ketabahan keluarganya.
Novel ini memadukan elemen religi, feminis dan drama emosional keluarga, menciptakan pengalaman membaca yang mendalam dan tak terlupakan hingga halaman terakhir. Tokoh utama dalam novel ini sulit ditebak karena semua bab membahas cerita dari semua sudut pandang tokoh dan masing-masing dari mereka memiliki kesalahan dan dosa. Novel ini diangkat dari kisah nyata bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya, meskipun begitu cerita ini dimodifikasi dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga cerita ini berbeda dengan kenyataannya. Cerita ini juga mengangkat isu sosial yang terjadi di realita, misalnya: kekerasan, diskriminasi, primordialisme hingga radikalisme. Novel ini dapat membuka wawasan karena memperlihatkan sudut pandang yang berbeda dari sisi yang dialami kaum marjinal (transpuan), misalnya seperti kesulitan yang dialami oleh tokoh Rosadi alias Rosalinda selama hidupnya dalam menghadapi realita sosial. Malam Seribu Jahanam mengantarkan pembaca untuk mengenal lebih dekat dengan karakter sang penulis, Intan Paramaditha, yang mana beliau merupakan penulis yang sering membahas isu-isu sosial seperti hubungan antar gender, seksualitas, budaya dan politik. Dalam wawancaranya, Intan Paramaditha pernah mengungkapkan niatnya secara eksplisit tentang pesan apa yang ingin disampaikan, sehingga resensi ini dibuat dengan penyesuaian yang dilakukan berdasarkan apa yang beliau ingin sampaikan.
Berdasarkan karya-karya yang pernah dibuat sebelumnya, gaya penulisan yang diterapkan pada novel ini sangat menggambarkan bahwa novel ini dibuat oleh Intan Paramaditha. Secara komposisi, digambarkan alur yang maju-mundur dengan interval waktu yang terlalu jauh, sehingga membuat pembaca merasa semakin bingung akan jalan cerita yang ingin disampaikan. Untuk dapat mengerti secara utuh apa isi dari novel ini, dibutuhkan pengetahuan umum yang luas, karena untuk masyarakat awam, banyak sekali pemilihan diksi yang agak segmented yang hanya diketahui oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Misalnya, istilah-istilah yang dipakai dalam terorisme. Disisi lain, hal tersebut dapat memperkaya wawasan pembaca setelah membacanya. Penggambaran situasi juga dilakukan secara detail membantu pembaca untuk masuk ikut ke dalam cerita, sehingga pembaca dapat merasakan emosi di dalamnya.
Novel ini memiliki keterkaitan dengan novel sebelumnya yang berjudul “Sihir Perempuan” yang mana terdapat kalimat “Revolusi dimulai oleh saudara tiri yang buruk rupa”. Kalimat tersebut memiliki kesinambungan dengan cerita-cerita dalam novel “Sihir Perempuan”, misalnya pada cerita yang berjudul “Perempuan Tanpa Ibu Jari”. Dalam novel tersebut, saudara tiri yang buruk rupa secara eksplisit ditujukkan kepada saudara tiri Sindelarat, sedangkan pada novel ini, secara implisit ditujukkan kepada Rosalinda, yang merupakan orang yang sudah dianggap seperti anak angkat keluarga Hajjah Victoria.
Novel ini sangat menarik untuk dibaca, karena menyajikan cerita yang mengandung isu sosial yang sangat erat kaitannya dengan realita sosial. Misalnya radikalisme yang terjadi atas nama agama, kekerasan, diskriminasi terhadap kaum marginal seperti LGBT, hingga primordialisme yang seringkali terjadi, dimana kita dituntut untuk hidup sesuai dengan tradisi atau norma adat maupun tuntutan yang juga mengatasnamakan agama yang ditanamkan dan berlaku sejak kecil.
Zaky Rizqy Zaidaan dan Rusmasiela Mewipiana Presilla
Mahasiswa jurusan Sastra Belanda Universitas Indonesia