DEPOKPOS – Agama, sebagai suatu sistem kepercayaan dan pedoman hidup, memiliki peran yang signifikan dalam membentuk akhlak manusia. Berbagai agama di dunia menawarkan nilai-nilai moral dan etika yang dianggap sebagai landasan bagi perilaku manusia. Artikel ini akan mengeksplorasi seberapa efektif agama dalam membentuk akhlak manusia.
Berdasarkan hasil penelitian, agama, khususnya agama Islam, dianggap efektif dalam membentuk akhlak manusia. Akhlak dianggap sebagai nilai pribadi dan harga diri seseorang, dan agama Islam diyakini dapat memberikan pengaruh bagi peserta didik, seperti meningkatkan kesadaran, mengarahkan perilaku, dan memandu dalam berinteraksi dengan sesama manusia.
Al-Quran juga menetapkan bahwa akhlak tidak terlepas dari aqidah dan syariah, dan menekankan perlakuan baik terhadap sesama manusia. Selain itu, agama Islam juga dianggap penting dalam pengembangan kualitas akhlak siswa dan pembentukan kepribadian yang islami. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa agama, khususnya agama Islam, dianggap efektif dalam membentuk akhlak manusia secara spesifik.
Aqidah, syaria’ah dan akhlak merupakan 3 ajaran pokok yang saling berkaitan atau satu mata rantai ajaran Islam yang mutlak diketahui dan diaplikasikan oleh umat Islam.Aqidah atau iman yaitu pengakuan dengan lisan dan membenarkan dengan hati bahwa semua yang dibawa Rasulullah adalah benar dan hak.
Pengakuan tersebut diimplementasikan melalui syari’at yang mengandung cara/metode peraturan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, ibadah haji dan lainnya, yang dalam istilah lain disebut dengan “Hablum minallah”. Syariat ini juga mengandung ajaran muamalat seperti perkawinan, hutang, piutang, jual beli, keadilan sosial, pendidikan dan lain-lain yang menyangkut hubungan umat manusia, atau disebut juga “Hablum minannas”.
Akhlak manusia dapat dicapai melalu cara berjuang secara sungguh- sungguh (mujahadah) dan latihan (riyadhah) yaitu membiasakan diri untuk melakukan perbuatan-perbutan baik (akhlak mulia) ini yang dapat di lakukan oleh manusia melalui proses pendidikan maupun latihan, baik melalui pendidikan formal (sekolah) maupun pendidikan informal (keluarga).(Yatimin Abdullah, 2014:21)
TOLOK UKUR DALAM BERAKHLAK
Al-Quran menetapkan bahwa akhlak itu tidak terlepas dari aqidah dan syariah, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat dari surat al-Baqarah (2): 177, yang berarti: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Ayat al-Quran tersebut menjelaskan bahwa iman kepada Allah Swt. adalah merupakan dasar dari kebajikan. Kenyataan ini tidak akan pernah terbukti, kecuali jika iman tersebut telah meresap di dalam jiwa dan ke seluruh pembuluh nadi yang disertai dengan sikap khusyuʾ, tenang, taat, patuh, dan hatinya tidak akan meledak-ledak lantaran mendapatkan kenikmatan, dan tidak putus asa ketika ditimpa musibah. Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah Swt. hanya mau tunduk dan taat kepada Allah Swt. dan syariat-syariat-Nya.
MACAM – MACAM AKHLAK
Para ahli membagi akhlak ini menjadi dua macam:
1. Akhlak Mahmudah atau akhlak yang terpuji. Ini termasuk budi pekerti yang baik. Menurut Hasan rahimahullah bahwa budi pekerti yang baik adalah menunjukkan wajah yang berseri-seri, memberikan bantuan sebagai tanda kedermawanan dan menahan diri dari perbuatanyang menyakiti. Selanjutnya Hasan menambahkan budi pekerti yang baik ialah membuat kerelaan seluruh makhluk, baik dalam kesukaan (karena murah rezeki) atau dalam kedukaan (keadaan kekurangan). Jadi budi pekerti ini hakikatnya adalah suatu bentuk dari sesuatu jiwa yang benar-benar telah meresap dan dari situlah timbulnya berbagai perbuatan dengan cara spontan dan mudah, tanpa dibuat-buat dan tanpa membutuhkan pemikiran atau angan-angan. Contoh akhlak terpuji di dalam al-Quran surat Ali-imran (3): 159, yang artinya: “Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Contoh akhlak mulia di dalam hadits riwayat Muslim yang diterima dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “Hak seorang Muslim atas seorang Muslim ada enam perkara: apabila engkau bertemu dia hendaklah engkau beri salam kepadanya, apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau memenuhinya, apabila ia meminta nasihat, hendaklah engkau menasihatinya, apabila ia bersin kemudian ia berkata “alhamdulillah” hendaklah engkau doakan dia, jika ia sakit hendaklah engkau mengunjunginya, dan apabila ia meninggal dunia hendaklah engkau mengikuti janazahnya.”
2. Akhlak Madzmumah atau akhlak yang tercela. Al-Quran menjelaskan akhlak tercela ini di dalam surat al-Hujurȃt (49): 12, Yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Contoh akhlak tercela ini di dalam hadits Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. telah bersabda: “Ada empat perkara, barangsiapa yang memiliki semuanya itu dalam dirinya, maka ia adalah seorang munafik, sedang barangsiapa yang memiliki salah satu dari sifat-sifat itu di dalam dirinya, maka ia memiliki salah satu sifat kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat tadi. Empat perkara itu adalah jika berbicara dusta, jika berjanji menyalahi, apabila menjanjikan sesuatu cidera, dan jika bermusuhan berlaku curang.” Termasuk juga akhlak yang tercela adalah ghibah, yang didalam hadits Muslim, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa ghibah adalah jika engkau menyebutkan perihal saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya. Hal-hal yang menyebabkan ghibah di antaranya: ingin melenyapkan kemarahan, dorongan kemegahan diri, kedengkian, penghinaan, dan lain-lain.
Contoh akhlak tercela di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Ibn Masud r.a. bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan meninggalkan yang lain, tetapi hendaklah kamu bercampur dengan sesama manusia, karena sikap yang demikian akan menjadikan dia kecewa.” Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan doa agar dihindarkan dari hal-hal yang jelek, termasuk salah satunya dari akhlak yang tercela. Doa Rasulullah tersebut berbunyi: “Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak, amal, kemauan, dan penyakit yang jelek.”
SASARAN AKHLAK
Akhlak mempunyai makna yang luas, yang dapat mencakup sifat lahiriyah maupun batiniah. Akhlak menurut pandangan Islam mencakup berbagai aspek, dapat mencakup akhlak terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk seperti manusia dan lingkungan.
1. Akhlak terhadap Allah Swt.
Landasan umum berakhlak terhadap Allah Swt. adalah pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu yang semua makhluk tidak dapat mengetahui dengan baik dan benar betapa kesempurnaan dan keterpujian Allah swt. Oleh karena itu, mereka sebelum memuji-Nya, bertasbih terlebih dahulu dalam arti menyucikan-Nya. Jadi jangan sampai pujian yang mereka ucapkan tidak sesuai dengan kebesaran-Nya, sebagaimana al-Quran surat ash-Shaffat (37): 159-160, yang artinya: “Mahasuci Allah dari segala sifat yang mereka sifatkan kepada-Nya, kecuali (dari) hamba-hamba Allah yang terpilih.” Demikian juga al-Quran surat asy-Syura (42): 5 menetapkan: “Dan para malaikat menyucikan sambil memuji Tuhan mereka.” Begitu juga al-Quran surat ar-Raʻad (13): 13 menjelaskan: “Guntur menyucikan (Tuhan) sambil memuji-Nya.” Selanjutnya al-Quran surat al-Isra (17): 44, menetapkan: “Dan tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih (menyucikan Allah) sambil memuji-Nya.”
Bertitik tolak dari uraian tentang kesempurnaan Allah Swt. tersebut, maka al-Quran memerintahkan manusia untuk berserah diri kepada-Nya, karena segala yang bersumber dari Allah adalah baik, benar, indah, dan sempurna. Berkaitan dengan hal ini, sebagian ayat al-Quran memerintahkan manusia untuk menjadikan Allah sebagai “wakil”, seperti al-Quran surat al-Muzzammil (73): 9, menerangkan: “(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka jadikanlah Allah sebagai wakil (pelindung).” Kata “wakil”dapat diterjemahkan sebagai pelindung. Jika seseorang mewakilkan kepada orang lain (untuk suatu persoalan), maka ia telah menjadikan orang yang mewakili sebagai dirinya sendiri dalam menangani persoalan tersebut, sehingga sang wakil melaksanakan apa yang dikehendaki oleh orang yang menyerahkan perwakilan kepadanya. Allah Swt., yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adalah Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan semua Maha yang mengandung pujian. Manusia sebaliknya, memiliki keterbatasan pada segala hal. Oleh karena itu, maka perwakilan-Nya pun berbeda dengan perwakilan manusia. Jadi jika seseorang menjadikan Allah sebagai wakil, sejak semula ia menyadari keterbatasan dirinya dan menyadari Kemahamutlakan Allah Swt. Dan ia akan menerimanya dengan sepenuh hati, baik mengetahui maupun tidak hikmah suatu perbuatan Tuhan. Sebagaimana firman Allah Swt.: “Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216), dan lihat (QS al-Ahzab [33]: 36).
2. Akhlak terhadap sesama manusia.
Al-Quran menjelaskan perlakuan sesama manusia, baik berupa larangan, seperti membunuh, menyakiti badan atau harta tanpa alasan yang benar, juga termasuk larangan menyakiti hati, walaupun disertai dengan memberi. Lihat (QS al-Baqarah [2]: 263). Selain itu, al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar, termasuk Nabi Muhammad Saw. dinyatakan pula sebagai manusia biasa, namun dinyatakan pula beliau adalah Rasul yang memperoleh wahyu dari Allah. Atas dasar ini beliau berhak memperoleh penghormatan melebihi manusia lain, seperti dalam al-Quran (QS al-Hujurat [49]: 2; QS an-Nur [24]: 63). Al-Quran juga menekankan perlunya privasi (kekuasaan atau kebebasan pribadi), (QS an-Nur [24]: 27 dan 58); salam yang diucapkan wajib dijawab dengan salam yang serupa, dan dianjurkan agar dijawab dengan salam yang lebih baik (QS an-Nisa [4]: 86); Setiap ucapan harus ucapan yang baik (QS al-Baqarah [2]: 83 dan QS al-Ahzab [33]: 70) Seseorang tidak boleh mengolok-olokkan orang lain atau kelompok lain dan tidak boleh memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Demikian juga seseorang tidak boleh berprasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan menggunjing orang lain. Al-Quran menjelaskan juga di antara ciri-ciri orang yang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 134-135). Selain itu, al-Quran menetapkan harus mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri (QS al-Hasyr [59]: 9).
3. Akhlak terhadap lingkungan.
Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan ini menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum matang, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Hal ini mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan terhadap lingkungan di sekitarnya. Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini meyakinkan setiap muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Berkaitan dengan hal ini, al-Quran surat al-Anʻam (6): 38 menegaskan bahwa binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya merupakan umat-umat juga seperti manusia, sehingga semuanya tidak boleh diperlakuka secara aniaya, baik dalam masa damai maupun ketika terjadi peperangan. Termasuk mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang, kecuali jika terpaksa, tetapi inipun harus seizin Allah, dalam arti harus sejalan dengan tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan (QS al-Hasyr [59]: 5). Dengan pengakuan semua milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran bahwa apapun yang berada dalam genggaman-Nya, tidak lain kecuali amanat yang harus dipertanggungjawabkan (QS at-Takatsur (102): 8. Manusia dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah Swt. menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
Pernyataan Allah dalam al-Quran surat al-Ahqaf (46): 3, mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, tetapi juga harus berpikir dan bersikap demi kemaslahatan semua pihak. Manusia tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam. Yang menundukkan alam menurut al-Quran adalah Allah. Mereka tidak sedikitpun mempunyai kemampuan, kecuali berkat kemampuan yang dianugrahkan Tuhan kepadanya (QS az-Zukhruf [43]: 13). Oleh karena itu manusia harus mengusahakan keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus bersahabat. Al-Quran mengharuskan setiap orang mukmin untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. yang diutus membawa rahmat bagi seluruh alam. Selain itu, Rasulullah Saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana hadits riwayat at-Timidzi dari Abu Dardaˋ yang menjelaskan bahwa beliau bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur.”
Secara keseluruhan, agama dapat dianggap sebagai kekuatan penting dalam membentuk akhlak manusia. Ajaran moral, motivasi spiritual, dan tanggung jawab moral yang diberikan oleh agama dapat menjadi pilar utama dalam pembentukan karakter yang baik. Meskipun demikian, penting untuk memahami bahwa efektivitas agama dalam membentuk akhlak juga tergantung pada bagaimana individu menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Penulis: Najwa Alina Putri Alamsyah
Mahasiswa Psikologi, Program Studi Psikologi,
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka