Sejarah Penyebaran Ilmu Kefarmasian Berbagai Peradaban

Zaman Prasejarah

Manusia yang hidup ribuan tahun lalu selalu hidup dalam kelompok dan cenderung berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Dengan gaya hidup yang tidak tetap, mereka dapat dengan mudah terjangkit berbagai penyakit. Dengan pengetahuan yang sangat terbatas pada masa itu, mereka percaya bahwa penyakit yang menyerang merupakan akibat dari kutukan para dewa atau karena disebab- kan oleh roh-roh jahat yang memasuki tubuh. Proses penyembuhan biasanya dilakukan dengan ritual, alat musik, atau, dengan cara yang sedikit lebih modern, menggunakan ramuan dari tanaman.

Sekitar 3000 tahun yang lalu, orang Sumeria sudah memanfaatkan tanaman sebagai obat. Hal ini terbukti melalui penemuan tablet Sumeria dari abad ke-3 SM. Tablet ini terbuat dari tanah yang dicampur dengan getah resin dari markazhi dan herbal thyme yang dicampurkan dalam bir, lalu dibentuk menjadi tablet. Sekarang, lempengan resep ini disimpan di Museum Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat.

Ilmu farmasi sudah ada sejak manusia mulai berpikir, meskipun masih dalam bentuk yang sangat mendasar. Manusia purba memperhatikan hewan dan burung untuk belajar mengandalkan naluri dan pengamatan. Mereka juga menggunakan air dingin, daun, kotoran, dan tanah liat. Melalui berbagai eksperimen, manusia purba mempelajari banyak hal untuk membantu satu sama lain. Dalam waktu yang relatif singkat, mereka mampu menerapkan pengetahuan itu untuk kebaikan orang lain. Meskipun metode yang digunakan masih sangat primitif, beberapa obat yang ada saat ini diambil dari sumber yang sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita.

Farmasi pada Masa Babylonia Kuno

Babylon, permata bagi Mesopotamia kuno, sering disebut juga sebagai tempat munculnya peradaban manusia, adalah yang pertama menemukan dan melaksanakan praktik peraci kan obat. Para ahli penyembuh ketika itu (sekitar 2600 SM) melaksanakan tiga peran berbeda secara bersamaan sebagai agamawan, dokter, dan apoteker. Naskah-naskah medik di- tulis di atas tablet-tablet tanah liat yang berisikan gejala-gejala penyakit, resep dan cara peracikan obat, dan juga doa-doa Orang-orang babylon telah berhasil menemukan hal-hal pen- ting dalam upaya penyembuhan penyakit yang pada masa sekarang dikenal dengan farmasetik modern, ilmu kedokteran, serta kegiatan-kegiatan spiritual.

Farmasi pada Masa Cina Kuno

Kefarmasian di Tiongkok menurut cerita rakyat dimulai oleh Shen Nung sekitar tahun 2000 SM. Ia merupakan seorang pemimpin suku yang mencari dan mengeksplorasi manfaat dari tanaman obat. Dikatakan bahwa ia mencoba berbagai tumbuhan tersebut pada dirinya sendiri dan menciptakan tulisan pertama tentang herbal, yaitu Pen T-Sao, yang mencakup 365 jenis obat-obatan. Karya ini masih dihormati oleh orang Tiongkok asli sebagai simbol perlindungan dari Tuhan. Shen Nung dengan luar biasa melakukan uji coba terhadap beberapa tumbuhan, kulit kayu, dan akar yang diperoleh dari ladang, rawa, dan hutan yang masih diakui dalam ilmu kefarmasian hingga sekarang. Ia juga menggunakan konsep “Pa Kua,” yang merupakan simbol matematis mengenai penciptaan dan kehidupan. Di antara tanaman obat yang ditemukan oleh Shen Nung adalah podophyllum, rhubarb, ginseng, stramonium, kulit kayu kayu manis, dan ma huang, yang juga dikenal sebagai ephedra, seperti yang terlihat di tangan seorang anak dalam gambar.

Papyrus Ebers

Selanjutnya, penemuan arkeologi yang berkaitan dengan catatan penting di bidang farmasi adalah penemuan yang disebut Papyrus Ebers. Papyrus ini adalah selembar kertas yang panjangnya mencapai 60 kaki (sekitar 20 meter) dan lebar 1 kaki (kurang lebih sepertiga meter), di dalamnya terdapat lebih dari 800 rumus atau resep. Selain itu, tercatat pula 700 jenis obat yang beragam, termasuk obat-obatan yang diperoleh dari tumbuhan seperti akasia, biji jarak, anise, dan lain-lain, serta mineral seperti oksida besi, natrium bikarbonat, natrium klorida, dan sulfur.

Praktik pengobatan di Mesir telah ada sejak tahun 2900 SM, dan mereka juga diketahui memiliki catatan luar biasa mengenai formula obat, yakni Papyrus Ebers, yang dibuat pada tahun 1500 SM.

Bapak Botani: Theophrastus

Theophrastus (circa 300 SM) merupakan seorang ilmuwan dari zaman Yunani kuno yang terkenal, diakui sebagai filosofi ulung dan pakar dalam bidang sains alam dan sering disebut sebagai Bapak Botani. Berbagai penelitian dan pengamatan yang dilakukannya tentang tanaman dan rempah-rempah telah memberikan wawasan baru bagi pemahaman manusia. Dia berperan sebagai pengajar bagi sekelompok pelajar yang memiliki ketertarikan serupa dengan dirinya.

Ahli Toksikologi Lagu: Mithridates VI

Mithridates VI adalah penguasa Pontus pada sekitar tahun 100 SM, yang selalu melawan kekuasaan Romawi. Dia juga dikenal sebagai seorang ahli dalam bidang toksikologi, menginvestigasi berbagai racun serta cara-cara untuk mencegah dan menyembuhkan keracunan. Dengan berani, Mithridates VI menggunakan tubuhnya dan para tahanan sebagai subjek percobaan untuk berbagai racun dan penawarnya.

Di belakang Mithridates terlihat para rhizotomist yang menawarkan aconite mekar, jahe, dan gentian yang segar. Di sudut kanan bawah, terlihat dua wadah bagi sampanye. Salah satu formula paling terkenal yang diciptakan oleh Mithridates adalah suatu antidot yang dikenal sebagai Mithridatum, yang digunakan selama kurang lebih seribu tahun.

Terra Silgillata: Merek Obat Pertama.

Orang-orang di masa lalu telah memahami keuntungan dari merek, yang berfungsi sebagai identitas untuk suatu produk guna menarik konsumen. Salah satu bahan terapeutik yang menggunakan merek adalah Terra Sigillata, yang merupakan tablet tanah liat dari pulau Mediterania di Lemnos, yang ada sebelum tahun 500 SM. Setiap tahun, tanah liat tersebut ditambang di terowongan Lemnian, yang dihadiri oleh pemerintah dan para pendeta.

Tanah liat dibersihkan, disaring, dan digulung hingga ketebalan tertentu, kemudian dibentuk seperti pastilles dan diberi tanda oleh pendeta wanita, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah itu, tablet-tablet tersebut disebarkan secara komersial.

Dioscorides.

Dengan munculnya berbagai prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan serta kemajuan yang menginspirasi banyak individuuntuk melakukan pengamatan atau penelitian mendalam oleh para ilmuwan, penelitian menjadi semakin krusial untuk kebutuhan perdagangan dan pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Pedanios Dioscorides, yang hidup pada abad pertama masehi, adalah seorang ilmuwan yang telah memberikan kontribusi bagi bidang farmasi. Dalam upaya mempelajari Materia Medica, ia bekerja sama dengan tentara Romawi di berbagai wilayah. Ia mendokumentasikan hasil pengamatannya, menjelaskan metode yang tepat untuk mengumpulkan, menyimpan, dan memanfaatkan obat-obatan. Berbagai eksperimen yang telah dilakukannya masih digunakan hingga abad keenam.

Galen.

Galen merupakan tokoh sejarah yang hingga kini masih sangat dihargai dalam bidang farmasi dan kedokteran. Ia adalah seorang ahli dalam praktik dan pendidikan farmasi serta kedokteran di kota Roma. Metode yang digunakannya untuk menyiapkan dan meracik obat telah diterapkan di dunia Barat selama setengah milenium terakhir, dan namanya sendiri menjadi terkenal dengan teknik peracikannya yang disebut galenika. Ia adalah pencipta formula krim dingin, yang pada dasarnya serupa dengan krim yang kita kenal saat ini. Banyak prosedur yang ia kembangkan masih dipraktikkan di laboratorium-racikan modern saat ini.

Galen (120-130 M) adalah seorang dokter dan apoteker dari Yunani yang mendapatkan kewarganegaraan Romawi. Ia menciptakan sistem pengobatan serta merumuskan titik-titik penting

Dalam fisiologi dan patologi yang telah menjadi pedoman selama 1500 tahun. Ia dikenal sebagai penulis terbanyak pada masanya, dengan pengakuan atas 500 karyanya yang berkaitan dengan ilmu kedokteran-farmasi dan 250 buku tambahan tentang filosofi, hukum, serta tata bahasa.

Hipokrates

Sejak zaman Hipocrates (460-370 SM), yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”, profesi Farmasi belum ada. Seorang dokter yang mendiagnosis penyakit juga berperan sebagai “Apoteker” yang menyiapkan obat. Seiring waktu, penyediaan obat menjadi semakin kompleks, baik dari segi formulasi maupun pembuatan, sehingga memerlukan keahlian khusus. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II mengeluarkan perintah untuk memisahkan secara resmi Farmasi dari Kedokteran melalui dekrit yang dikenal sebagai “Two Silices”. Dari kisah ini, satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa dasar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran berasal dari sumber yang sama.

Dampak dari revolusi industri menjangkau dunia farmasi dengan munculnya industri obat, sehingga kegiatan farmasi di sektor industri obat terpisah dari pelayanan “penyedia/pembuat obat di apotek.” Dalam konteks ini, keterampilan kefarmasian jauh lebih penting di industri farmasi dibandingkan di apotek. Dari segi pendidikan Farmasi, di Indonesia sebagian besar program farmasi belum dianggap sebagai bidang yang mandiri , melainkan
termasuk dalam kategori MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) yang merupakan cabang ilmu dasar (basic science).

Iqlima Sabira

Pos terkait