DEPOKPOS – Donald Trump kembali berubah sikap dan menyampaikan akan menghancurkan Iran. Hal tersebut sontak mendapat respon dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang siap turun tangan membantu Timur Tengah.
Dilansir Al Jazeera, Jumat (3/4/2026), kesiapan Putin disampaikannya kepada Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty. Putin berharap konflik ini bisa segera berakhir.
“Kita semua berharap konflik yang sedang berlangsung ini segera diselesaikan. Seperti yang Anda ketahui, Presiden Trump juga membahas masalah ini kemarin,” kata Putin dalam pertemuan di Kremlin, menurut siaran pers Rusia.
Putin menegaskan Rusia siap membantu Timur Tengah agar kembali seperti sedia kala.
“Izinkan saya menegaskan kembali bahwa kami siap melakukan segala upaya untuk membantu menstabilkan situasi dan, seperti yang mereka katakan dalam kasus seperti ini, mengembalikannya ke keadaan normal,” imbuhnya.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (27/3/2026), Putin juga mengatakan bahwa beberapa pihak telah membandingkan potensi dampak perang AS-Israel melawan Iran dengan pandemi COVID-19 yang melumpuhkan dunia sekitar enam tahun lalu.
Menurut Presiden Rusia tersebut, konsekuensi perang ini diperkirakan bisa sama seriusnya dengan dampak pandemi secara global. Konflik Timur Tengah, kata Putin, telah menyebabkan kerusakan signifikan pada logistik internasional, produksi, dan rantai pasokan, sekaligus memberikan tekanan hebat pada perusahaan hidrokarbon, logam, dan pupuk.
Dilansir Al Jazeera, Trump sebelumnya mengatakan akan melakukan serangkaian serangan baru. Dia menyatakan militer AS akan menghancurkan sisa infrastruktur Iran yang belum hancur.
“Militer kita, yang terhebat dan terkuat (jauh!) di mana pun di dunia, bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran. Jembatan selanjutnya, lalu pembangkit listrik!” kata Trump.
Trump juga mendesak adanya pergantian rezim di Iran. Dia meminta proses ini dilakukan sesegera mungkin. “Kepemimpinan rezim baru akan tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan, cepat!” katanya.
Diketahui, perang ini dimulai sejak 28 Februari lalu. AS dan Israel lebih dulu melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran yang terus berlanjut hingga kini.
Sedikitnya 1.340 orang tewas akibat rentetan serangan AS-Israel di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.