Studi Sebut Gula Nol Kalori Bisa Picu Stroke

Banyak orang menganggap bahwa gula nol kalori jadi pilihan lebih sehat dibandingkan gula biasa. Namun, studi teranyar justru menemukan bahaya di balik konsumsi gula nol kalori.

DEPOKPOS – Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine pada 2023 lau tersebut menemukan bahwa konsumsi gula nol kalori bisa meningkatkan risiko pembekuan darah, stroke, dan serangan jantung.

Bacaan Lainnya

“Tingkat risikonya tidak kecil,” ujar penulis studi utama, Stanley Hazen dari Cleveland Clinic Lerner Research Institute, melansir CNN.

Salah satu penyebabnya adalah eritritol, pengganti gula yang biasa ditemukan dalam stevia atau gula nol kalori lainnya. Kadar eritritol dalam darah yang tinggi membuat orang dengan diabetes dua kali lebih mungkin mengalami serangan jantung atau stroke.

“Jika kadar eritritol dalam darah berada di atas 25 persen, ada risiko serangan jantung dan stroke dua kali lipat lebih tinggi daripada mereka dengan kadar eritritol di bawah 25 persen,” jelas Hazen.

Eritritol, lanjut Hazen, tampaknya menyebabkan trombosit darah menggumpal lebih mudah. Gumpalan dapat pecah dan berjalan ke jantung hingga memicu serangan jantung atau berjalan ke otak hingga memicu stroke.

Eritritol sendiri adalah gula alkohol atau karbohidrat yang ditemukan secara alami pada buah dan sayuran. Para ahli menyebut eritritol memiliki nol kalori dan tidak meningkatkan kadar gula dalam darah.

Hubungan antara eritritol dan risiko kardiovaskular sendiri ditemukan secara tidak sengaja dalam penelitian.

Mulanya, penelitian tersebut dilakukan untuk menemukan senyawa dalam darah yang dapat memprediksi risiko masalah kardiovaskular. Peneliti menganalisis 1.157 sampel darah pada orang yang memiliki risiko kardiovaskular sepanjang tahun 2004-2011.

“Kemudian kami menemukan bahwa senyawa itu adalah eritritol, pemanis nol kalori,” ujar Hazen.

Untuk mengkonfirmasi temuan tersebut, tim yang dipimpin Hazel menguji sampel darah lain dari 2.100 orang di Amerika Serikat dan 883 sampel tambahan dari Eropa hingga tahun 2018.

Sekitar 75 persen dari ketiga populasi tersebut memiliki masalah kardiovaskular. Sementara seperlima di antaranya mengidap diabetes. Lebih dari setengahnya merupakan laki-laki berusia 60-70 tahun.

Pada ketiga populasi tersebut, peneliti menemukan bahwa tingkat eritritol yang lebih tinggi terkait dengan risiko serangan jantung dan stroke dalam kurun waktu tiga tahun.

Untuk mengetahui alasan di baliknya, peneliti kemudian melakukan pengujian lebih lanjut pada hewan dan laboratorium. Mereka menemukan bahwa eritritol memicu peningkatan trombosis atau pembekuan darah.
Pada dasarnya, pembekuan darah merupakan proses alami yang diperlukan oleh tubuh. Pembekuan darah membantu darah berhenti mengalir saat seseorang mengalami luka.

Namun, ukuran gumpalan yang dibuat oleh trombosit bergantung pada ukuran pemicu yang merangsang sel tersebut. Misalnya, jika pemicunya hanya 10 persen, maka Anda hanya mendapatkan 10 persen gumpalan.

“Tapi, apa yang kami lihat dengan eritritol adalah trombosit yang menjadi sangat responsif. Stimulan 10 persen saja bisa menghasilkan 90-100 persen pembentukan gumpalan,” jelas Hazen.

Namun, studi belum berakhir. Pada bagian akhir penelitian, delapan sukarelawan sehat diminta mengonsumsi minuman yang mengandung 30 gram eritritol. Angka ini setara dengan 1/2 liter es krim keto.

Peneliti kemudian melacak kadar eritritol dalam darah dan risiko pembekukan tiga hari setelah konsumsi.

“Tiga puluh gram sudah cukup membuat kadar eritritol dalam darah naik seribu kali lipat. Itu angka yang tinggi di atas ambang batas dan bisa meningkatkan risiko pembekuan darah,” jelas Hazen mengingatkan.

Namun demikian, ahli kimia di RMIT University, Australia Oliver Jones mencatat bahwa penelitian tersebut hanya mengungkapkan korelasi, bukan sebab akibat.

“Seperti yang dicatat oleh peneliti, mereka menemukan hubungan antara eritritol dan risiko pembekuan darah. Bukan bukti definitif hubungan antara keduanya,” ujar Jones yang tidak terlibat dalam penelitian.

Jones mengatakan bahwa risiko kelebihan eritritol perlu diimbangi dengan risiko kesehatan yang nyata dari asupan glukosa berlebih.

Sumber: pafidara.org

Pos terkait