<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AI Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/ai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/ai/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Sep 2025 12:24:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>AI Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/ai/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Antisipasi Suap, AI jadi Menteri di Negara Ini</title>
		<link>https://jakpos.id/antisipasi-suap-ai-jadi-menteri-di-negara-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 12:24:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Albania]]></category>
		<category><![CDATA[Diella]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91801</guid>

					<description><![CDATA[<p>Diella adalah anggota kabinet pertama yang tidak memiliki wujud fisik, tetapi diciptakan secara virtual oleh AI</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/antisipasi-suap-ai-jadi-menteri-di-negara-ini/">Antisipasi Suap, AI jadi Menteri di Negara Ini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Diella adalah anggota kabinet pertama yang tidak memiliki wujud fisik, tetapi diciptakan secara virtual oleh AI</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Albania mencatat sejarah baru dalam pemerintahan dengan langkah yang tak biasa. Untuk pertama kalinya, negara di Eropa Tenggara itu menunjuk menteri yang bukan berasal dari kalangan manusia, melainkan robot AI bernama &#8216;Diella&#8217;.</p>
<p>Diella sendiri memiliki arti &#8216;Matahari&#8217; dalam bahasa Albania. Diella ditugaskan untuk mengurus program pengadaan publik, sehingga kebal terhadap suap, ancaman, atau upaya untuk menjilat.</p>
<p>Perdana Menteri Albania, Edi Rama, mengatakan Diella akan mengelola dan memberikan penunjukkan untuk semua tender publik. Sebagai informasi, biasanya pemerintah mengontrak perusahaan swasta untuk berbagai proyek.</p>
<p>&#8220;Diella adalah anggota kabinet pertama yang tidak memiliki wujud fisik, tetapi diciptakan secara virtual oleh AI,&#8221; kata Rama dalam pidato saat mengumumkan kabinet baru, dikutip dari Reuters, Selasa (16/9/2025).</p>
<p>&#8220;Diella akan membuat Albania sebagai negara dengan tender publik yang 100% bebas korupsi,&#8221; ia menambahkan.</p>
<p>Pemberian kontrak pemerintah ke swasta telah lama menjadi sumber skandal korupsi di Albania. Menurut para ahli, negara Balkan tersebut merupakan pusat bagi geng-geng mafia yang berusaha mencuci uang mereka dari perdagangan narkoba dan senjata di seluruh dunia. Korupsi merajalela di Albania.</p>
<p>Citra tersebut mempersulit upaya Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa, yang ingin dicapai Rama pada tahun 2030, tetapi menurut para analis politik terlalu ambisius.</p>
<p>Pemerintah tidak memberikan perincian tentang pengawasan manusia yang mungkin ada terhadap Diella, atau membahas risiko bahwa seseorang dapat memanipulasi bot AI.</p>
<p>Diella mulanya dirilis pada awal tahun ini sebagai asisten virtual berbasis AI pada platform e-Albania. Platform tersebut membantu warga dan bisnis untuk mengurus dokumen negara.</p>
<p>Mengenakan pakaian tradisional Albania, Diella memberikan bantuan melalui perintah suara dan menerbitkan dokumen dengan stempel elektronik, sehingga mengurangi penundaan birokrasi.</p>
<p>Tidak semua orang yakin. Seorang pengguna Facebook berkata: &#8220;Bahkan Diella akan dikorupsi di Albania.&#8221;</p>
<p>Pengguna lain berkata: &#8220;Pencurian akan terus berlanjut dan Diella akan disalahkan.&#8221;</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/antisipasi-suap-ai-jadi-menteri-di-negara-ini/">Antisipasi Suap, AI jadi Menteri di Negara Ini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/static.toiimg.com/thumb/msid-123877872,imgsize-1026974,width-400,resizemode-4/1.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Dampak Penggunaan AI di Era Ini</title>
		<link>https://jakpos.id/dampak-penggunaan-ai-di-era-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2025 06:21:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91187</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; AI (Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence) adalah teknologi yang memungkinkan mesin untuk meniru&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-penggunaan-ai-di-era-ini/">Dampak Penggunaan AI di Era Ini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://jakpos.id/go/">DEPOKPOS</a> </strong>&#8211; AI (Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence) adalah teknologi yang memungkinkan mesin untuk meniru kemampuan kognitif manusia seperti belajar, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memahami bahasa. Teknologi ini menyimulasikan kecerdasan manusia dalam sistem komputer atau perangkat lainnya untuk melakukan tugas-tugas kompleks, menganalisis data, memberikan rekomendasi, hingga membuat konten orisinal.</p>
<p>Tujuan utama AI adalah untuk:</p>
<p>• Meniru kecerdasan manusia: Meniru cara manusia berpikir, belajar, dan memecahkan masalah.<br />
• Meningkatkan produktivitas: Mengotomatiskan tugas-tugas berulang dan meningkatkan efisiensi.<br />
• Membuat keputusan yang lebih baik: Menganalisis data dalam jumlah besar untuk memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti.<br />
• Menciptakan solusi inovatif: Menghasilkan konten orisinal, seperti teks dan gambar, serta mengembangkan aplikasi baru di berbagai sektor.</p>
<p>Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di era ini memiliki dampak positif signifikan seperti peningkatan produktivitas, inovasi di bidang kesehatan dan transportasi, analisis data yang lebih baik, dan layanan yang lebih personal. Namun, AI juga membawa dampak negatif seperti hilangnya lapangan kerja akibat otomatisasi, isu privasi dan keamanan data, potensi bias algoritma, dan ancaman penyalahgunaan untuk hoaks atau konten palsu. Selain itu, ada pula kekhawatiran ketergantungan berlebihan pada teknologi yang dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan keterampilan manusia.</p>
<p>Dampaknya penggunaan AI di era ini :</p>
<p>• Pengurangan Lapangan Kerja:<br />
Otomatisasi berbasis AI menggantikan pekerja manusia dalam tugas-tugas rutin, menyebabkan potensi peningkatan pengangguran.</p>
<p>• Ketergantungan dan Penurunan Keterampilan:<br />
Ketergantungan pada AI dapat mengurangi kemampuan manusia dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mempertahankan fungsi kognitifnya.</p>
<p>• Kurangnya Empati dan Kreativitas:<br />
Penggunaan AI secara luas dalam beberapa bidang dapat mengurangi sentuhan manusiawi dan kebebasan berekspresi.</p>
<p>• Privasi dan Keamanan Data:<br />
Pengumpulan data besar-besaran oleh sistem AI menimbulkan risiko kebocoran dan penyalahgunaan informasi pribadi pengguna.</p>
<p>Mari bersama – sama untuk mengurangi penggunaan AI di era ini, mulai mengasah kemampuan diri sendiri dari sekarang. Kalau bukan sekarang kapan lagi.</p>
<p><em>Apla Rahma Alya</em><br />
<em>Mahasiswi IAI SEBI Akuntansi Syariah 2023</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-penggunaan-ai-di-era-ini/">Dampak Penggunaan AI di Era Ini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/desaplembutan.gunungkidulkab.go.id/assets/files/artikel/sedang_1676695344What-is-M.Tech-in-Artificial-Intelligence_AI.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Manajemen Era Digital: Menyatukan Teknologi dan Budaya Kerja</title>
		<link>https://jakpos.id/manajemen-era-digital-menyatukan-teknologi-dan-budaya-kerja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2025 03:47:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Artificial Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[HRIS]]></category>
		<category><![CDATA[Internet of Things]]></category>
		<category><![CDATA[IoT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=89098</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta Human Resource Information System (HRIS) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional modern</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/manajemen-era-digital-menyatukan-teknologi-dan-budaya-kerja/">Manajemen Era Digital: Menyatukan Teknologi dan Budaya Kerja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta Human Resource Information System (HRIS) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional modern</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di tengah percepatan digitalisasi, organisasi dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana mengadopsi teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai manusiawi di tempat kerja. Transformasi <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/">digital</a> bukan sekadar soal adopsi alat-alat canggih, tapi tentang membentuk pendekatan manajerial baru yang menyatukan teknologi, budaya kerja, dan strategi organisasi secara keseluruhan.</p>
<p>Teknologi seperti Artificial Intelligence (<a href="https://www.depokpos.com/2025/06/menjaga-kesehatan-tubuh-di-masa-remaja-kunci-masa-depan-yang-lebih-baik/">AI</a>), Internet of Things (<a href="https://www.depokpos.com/2024/09/mahasiswa-ugm-kembangkan-kit-pemeliharaan-anggrek-indoor-berbasis-iot/">IoT</a>), serta Human Resource Information System (HRIS) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional modern. Sistem otomatisasi membantu mempercepat proses bisnis, sementara data analitik mendukung pengambilan keputusan yang lebih presisi dan berbasis fakta. Namun, semua itu akan kehilangan makna jika tidak ditopang oleh sumber daya manusia yang adaptif.</p>
<p>Di bidang manajemen <a href="https://www.depokpos.com/2024/07/manajemen-sdm-6-komponen-yang-dapat-dilakukan-untuk-pengembangan-karyawan-baru/">SDM</a>, organisasi dituntut untuk lebih strategis. HR tidak lagi sekadar urusan administrasi, tetapi menjadi pendorong utama transformasi. Penggunaan HRIS memungkinkan perusahaan mengelola data karyawan secara real-time, merancang pelatihan yang sesuai kebutuhan, serta mengembangkan sistem evaluasi berbasis data. Pelatihan digital dan platform e-learning kini menjadi alat utama dalam pengembangan keterampilan karyawan, khususnya dalam menghadapi perubahan yang cepat.</p>
<p>Namun, transformasi digital juga membawa tantangan tersendiri. Banyak organisasi menghadapi resistensi dari dalam, terutama dari karyawan yang belum terbiasa dengan sistem baru. Di sinilah peran manajemen menjadi krusial: membangun komunikasi yang terbuka, menyediakan pendampingan, dan menciptakan budaya kerja yang inklusif. Budaya perusahaan yang mendorong kolaborasi, inovasi, dan pembelajaran menjadi syarat utama agar teknologi benar-benar dapat diterapkan secara efektif.</p>
<p>Model manajemen lama yang mengandalkan evaluasi tahunan kini bergeser ke arah sistem yang lebih fleksibel dan responsif. Sistem Key Performance Indicators (KPI) berbasis digital dan umpan balik (feedback) real-time memungkinkan organisasi untuk terus menyesuaikan strategi mereka terhadap dinamika pasar. Balanced scorecard yang dulu hanya digunakan secara periodik, kini diperkaya dengan data harian yang langsung terhubung ke kinerja tim.</p>
<p>Keberhasilan manajemen di era digital tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan organisasi dalam menyelaraskan teknologi dengan nilai-nilai kerja dan kebutuhan manusia. Pemimpin yang mampu beradaptasi, berpikiran terbuka, dan mengutamakan kemajuan bersama akan menjadi penggerak utama dalam proses ini.</p>
<p>Dengan membangun sinergi antara manusia dan mesin, antara strategi dan empati, manajemen yang efektif dapat menjadi fondasi organisasi untuk bertahan dan berkembang secara berkelanjutan di tengah arus perubahan zaman yang tak terhindarkan.</p>
<p><strong><em>Kezya Adelia Putri</em></strong><br />
<em>Mahasiswi aktif Jurusan Manajemen UIN Jakarta</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/manajemen-era-digital-menyatukan-teknologi-dan-budaya-kerja/">Manajemen Era Digital: Menyatukan Teknologi dan Budaya Kerja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/unair.ac.id/wp-content/uploads/2023/06/illustration-1-dari-www.hashmicro.com_-1024x576.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>AI dan Otomasi dalam Ekonomi Berdampak Terhadap Tenaga Kerja dan Produktifitas</title>
		<link>https://jakpos.id/ai-dan-otomatisasi-dalam-ekonomi-berdampak-terhadap-tenaga-kerja-dan-produktifitas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2025 23:22:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Otomatisasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88880</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Kecerdasan buatan (AI) dan otomasi kini bukan lagi sekadar konsep futuristic mereka telah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ai-dan-otomatisasi-dalam-ekonomi-berdampak-terhadap-tenaga-kerja-dan-produktifitas/">AI dan Otomasi dalam Ekonomi Berdampak Terhadap Tenaga Kerja dan Produktifitas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Kecerdasan buatan (AI) dan otomasi kini bukan lagi sekadar konsep futuristic mereka telah menjadi bagian nyata dalam kehidupan <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/kesenjangan-ekonomi-pengangguran-dan-tantangan-sosial-ekonomi-indonesia/">ekonomi</a> modern. Dari lini produksi di pabrik, layanan pelanggan, hingga sistem keuangan dan logistik, AI mulai memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi kerja.</p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/2025/03/dari-teknologi-ke-akuakultur-sebuah-kisah-perjalanan-dan-pembelajaran/">Teknologi</a> ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan produktivitas secara signifikan, bahkan mengubah cara kita memandang pekerjaan. Tapi di balik semua potensi positif tersebut, muncul pertanyaan besar: Bagaimana nasib tenaga kerja manusia di tengah pesatnya adopsi AI? Apakah AI akan menciptakan peluang baru atau justru memperbesar kesenjangan dan menggantikan banyak peran manusia?</p>
<h2>Lonjakan Produktivitas Berkat AI</h2>
<p>Sejumlah <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/jic-jadi-center-of-exellent-for-islamic-studies/">studi</a> menunjukkan bahwa AI dan otomasi  telah meningkatkan efisiensi secara signifikan di berbagai sektor:</p>
<p>Di sektor manufaktur global, penggunaan AI dalam predictive maintenance mampu mengurangi downtime hingga 25% dan meningkatkan akurasi deteksi kerusakan produk hingga 95% (Vanguard, 2024).</p>
<p>Di perusahaan teknologi seperti Salesforce, CEO Marc Benioff menyatakan bahwa AI kini menjalankan hingga 50% aktivitas operasional perusahaan, termasuk dalam pengembangan perangkat lunak dan layanan pelanggan membawa efisiensi dan penghematan waktu yang luar biasa (San Francisco Chronicle, 2024).</p>
<p>Studi dari Vanguard juga memproyeksikan bahwa integrasi AI secara menyeluruh dapat meningkatkan produktivitas global hingga 20% pada 2035 (Vanguard, 2024).</p>
<p>Bahkan dalam pekerjaan yang melibatkan kreativitas dan kognisi, dampak AI cukup mencolok. Dalam riset dari MIT dan Stanford, penggunaan generative AI pada layanan pelanggan meningkatkan produktivitas staf junior hingga 35%, karena AI membantu menyusun jawaban, menyarankan solusi, dan mempercepat waktu penanganan pelanggan (arXiv MIT-Stanford Study, 2023).</p>
<h3>Transformasi Struktur Tenaga Kerja</h3>
<p>Meski peningkatan produktivitas terdengar menjanjikan, implikasinya terhadap tenaga kerja tidak bisa diabaikan. AI cenderung menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang, namun di sisi lain juga memperkuat peran manusia dalam pekerjaan yang membutuhkan pemikiran analitis, kreativitas, dan interaksi sosial.</p>
<p>World Economic Forum memproyeksikan bahwa pada 2025, sebanyak 85 juta pekerjaan lama akan hilang, namun 69 juta peran baru akan tercipta, sebagian besar di bidang teknologi dan analisis data (WEF Future of Jobs Report, 2023).</p>
<p>Di Indonesia, sektor industri mulai merasakan pergeseran ini. Banyak perusahaan yang mengotomasi proses logistik, layanan pelanggan, hingga pemrosesan data. Namun, tantangannya adalah kesenjangan keterampilan tenaga kerja banyak pekerja belum siap menghadapi kebutuhan digital baru.</p>
<p>Studi dari berbagai jurnal nasional menekankan pentingnya program reskilling dan upskilling agar para pekerja tidak tertinggal. Pekerjaan baru yang muncul karena AI cenderung membutuhkan kompetensi digital yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan yang tergantikan.</p>
<h4>Paradox Produktivitas: Mengapa Data Makro Tidak Selalu Sesuai?</h4>
<p>Menariknya, meskipun AI telah digunakan secara luas, pertumbuhan produktivitas nasional di banyak negara belum menunjukkan lonjakan signifikan. Fenomena ini dikenal sebagai “productivity paradox”, di mana kemajuan teknologi tidak secara langsung tercermin dalam peningkatan output ekonomi secara agregat.</p>
<p>Misalnya, di Inggris, pertumbuhan produktivitas rata-rata hanya sekitar 0,3% per tahun dalam satu dekade terakhir, meski banyak sektor sudah mengadopsi AI (The Times UK, 2024).</p>
<p>Sebaliknya, di beberapa sektor di Amerika Serikat, otomatisasi justru membantu perusahaan tetap tumbuh meskipun jumlah pekerjanya stagnan atau bahkan menurun. Artinya, manfaat produktivitas dari AI belum merata, dan seringkali hanya dirasakan oleh perusahaan besar atau sektor tertentu.</p>
<h4>Arah Kebijakan: Kolaborasi Manusia dan Mesin</h4>
<p>Agar manfaat AI benar-benar dirasakan secara luas tanpa meninggalkan tenaga kerja manusia, beberapa strategi penting perlu dilakukan:</p>
<p><strong>Meningkatkan literasi digital dan program pelatihan</strong><br />
Pemerintah dan dunia usaha perlu bekerja sama menyediakan akses pelatihan keterampilan digital, analisis data, hingga literasi AI untuk semua lapisan masyarakat.</p>
<p><strong>Mendorong model kerja kolaboratif</strong><br />
Bukan menggantikan manusia, AI sebaiknya menjadi alat bantu yang meningkatkan produktivitas pekerja. Ini bisa diterapkan melalui sistem cobots (collaborative robots) di pabrik maupun asisten AI di layanan digital.</p>
<p><strong>Regulasi dan kebijakan yang berpihak pada pekerja</strong><br />
Negara harus menciptakan regulasi dan sistem perlindungan sosial yang adaptif terhadap era otomatisasi, termasuk insentif bagi perusahaan yang melakukan pelatihan bagi pekerjanya.</p>
<p><strong>Distribusi hasil produktivitas yang lebih adil</strong><br />
Sejumlah ekonom bahkan menyarankan konsep seperti empat hari kerja dalam seminggu, sebagai upaya menyeimbangkan hasil produktivitas AI dengan kualitas hidup manusia (Business Insider &#8211; Bernie Sanders, 2025).</p>
<h5>AI Sebagai Alat Pembebas, Bukan Pengganti</h5>
<p>AI dan otomasi memang menjanjikan produktivitas yang luar biasa. Tapi bila tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat dan kesiapan SDM, teknologi ini bisa memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi.</p>
<p>Justru di sinilah tantangan sekaligus peluang terbesar Indonesia: bagaimana menjadikan AI sebagai alat pembebas, bukan pengganti. Melalui kolaborasi lintas sektor dan fokus pada pengembangan manusia, teknologi ini bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.</p>
<p><em>Melisa Agustina</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ai-dan-otomatisasi-dalam-ekonomi-berdampak-terhadap-tenaga-kerja-dan-produktifitas/">AI dan Otomasi dalam Ekonomi Berdampak Terhadap Tenaga Kerja dan Produktifitas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/idmetafora.com/img/teknologi-otomasi-dan-dampaknya-pada-pekerjaan-manusia_thumb.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh AI di Era Digital untuk Generasi Masa Depan</title>
		<link>https://jakpos.id/pengaruh-ai-di-era-digital-untuk-generasi-masa-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2025 08:04:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Artificial Intelligence]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88652</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Artificial Intelligence (AI) atau yang lebih dikenal dengan kecerdasan buatan adalah teknologi yang&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pengaruh-ai-di-era-digital-untuk-generasi-masa-depan/">Pengaruh AI di Era Digital untuk Generasi Masa Depan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Artificial Intelligence (AI) atau yang lebih dikenal dengan kecerdasan buatan adalah teknologi yang mengacu pada kemampuan mesin untuk meniru kecerdasan manusia. Dimana AI ini mampu melakukan hal yang dilakukan oleh manusia seperti kemampuan untuk melihat, menalar, dan memecahkan masalah.</p>
<p>Teknologi AI diharapkan membawa pengaruh positif yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa AI semakin berkembang dan melahirkan beberapa pengaruh negatif dimana teknologi ini mampu menggantikan peran manusia di masa depan.</p>
<p>Dikutip dari ppg.dikdasmen.go.id H. A. Simon mengklaim bahwa kecerdasan buatan (AI) adalah bidang yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas yang lebih unggul dari manusia. Knight dan Rich setuju dengan Simon bahwa kecerdasan buatan (AI) adalah cabang ilmu komputer yang memandang upaya membangun komputer sebagai sesuatu yang dapat dilakukan manusia, bahkan lebih baik dari itu.</p>
<p>Ini artinya teknologi AI akan dapat mengambil alih peran manusia dan membawa banyak pengaruh untuk generasi di masa depan nanti.</p>
<p>Berikut contoh pengaruh Artificial Intelligence (AI) yang mungkin terjadi di Masa Depan:</p>
<h3>Pengaruh Positif</h3>
<p>⦁ Perawatan Kesehatan yang lebih baik<br />
Kita dapat memanfaatkan teknologi AI untuk memudahkan diagnosis dini dan langkah awal untuk pengembangan obat.</p>
<p>⦁ Dunia Kerja lebih Maju<br />
AI dapat membantu kita menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, efektif dan efisien.</p>
<p>⦁ Pendidikan lebih Berkembang<br />
AI dapat membantu dalam proses pembelajaran adaptif, dan memberikan umpan balik secara instan.</p>
<h3>Pengaruh Negatif</h3>
<p>⦁ Ketergantungan terhadap Teknologi terutama (AI)<br />
Kemudahan yang didapat dengan instan menggunakan AI menjadikan kita terlalu bergantung terhadap AI dan menyelesaikan semua tugas dengan bantuan AI.</p>
<p>⦁ Keamanan Data yang Lemah<br />
Penggunaan AI membutuhkan data yang besar yang dapat menimbulkan penyalahgunaan data pribadi.</p>
<p>⦁ Hilangnya Pekerjaan<br />
AI semakin berkembang dan dapat menggantikan pekerjaan yang sifatnya rutin sehingga menyebabkan PHK.</p>
<p>Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa dampak yang besar bagi generasi masa depan dari berbagai sektor. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda di masa depan untuk tidak hanya menjadi pengguna tetapi juga pencipta dan pengendali teknologi AI. Diperlukan pendidikan yang adaptif, kebijakan,serta nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi agar AI benar-benar menjadi alat bantu untuk memperkuat peradaban, bukan menggantikannya.</p>
<p><em><strong>Rahayu Yessy Cahyani Putri</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pengaruh-ai-di-era-digital-untuk-generasi-masa-depan/">Pengaruh AI di Era Digital untuk Generasi Masa Depan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/aici-umg.com/wp-content/uploads/2024/10/Seorang-anak-asal-Indonesia-yang-belajar-bahasa-asing-dengan-bantuan-robot-AI-di-rumah.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Modus Baru Narkoba: Cairan Vape yang Mengintai Generasi Muda</title>
		<link>https://jakpos.id/modus-baru-narkoba/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 May 2025 03:23:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=86525</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Liquid vape dengan kandungan narkoba merupakan cairan yang telah dicampur dengan zat psikoaktif&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/modus-baru-narkoba/">Modus Baru Narkoba: Cairan Vape yang Mengintai Generasi Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Liquid vape dengan kandungan narkoba merupakan cairan yang telah dicampur dengan zat psikoaktif ilegal seperti THC atau ganja sintetis. Pada tahun 2024, laporan awal menunjukkan bahwa penggunaan narkoba di Indonesia terus meningkat, terutama di kalangan anak muda yang kerap menjadi sasaran utama modus baru seperti ini. Cairan ini dimodifikasi untuk menghasilkan efek seperti euforia atau halusinasi saat dihirup melalui perangkat vape. Karena tampilan dan aroma cairan ini serupa dengan liquid vape biasa, keberadaannya sulit dideteksi. Label atau kemasan produk pun seringkali tidak mengungkapkan kandungan berbahaya tersebut, sehingga pengguna tidak menyadari risikonya.</p>
<p>Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam konferensi pers di Mabes Polri, mengungkapkan kasus peredaran narkoba di Bali yang diubah menjadi cairan untuk vape. Kasus ini menunjukkan bahwa tren peredaran narkoba di Indonesia semakin berkembang dengan metode yang lebih sulit terdeteksi dibandingkan tahun sebelumnya, di mana modus konvensional lebih mendominasi. Modus ini dilakukan untuk menyembunyikan narkotika sekaligus menjangkau kalangan muda, yang menjadi target utama karena tren penggunaan vape. Dengan kemasan yang menyerupai produk biasa, distribusi narkoba ini menjadi lebih sulit terdeteksi. Kasus ini menjadi perhatian serius dalam upaya pemberantasan narkoba di Indonesia.</p>
<p>Polri berhasil membongkar pabrik narkoba di Uluwatu, Bali, yang beroperasi dengan kedok produksi cairan vape. Pengungkapan ini sejalan dengan strategi baru yang diterapkan pada tahun 2024 oleh Desk Pemberantasan Narkoba, yang berfokus pada pencegahan dan penghancuran jaringan narkoba modern. Pengungkapan ini merupakan langkah menindaklanjuti Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Desk Pemberantasan Narkoba yang dibentuk Menko Polkam. Kapolri menegaskan komitmennya untuk memberantas narkoba dari hulu hingga hilir.</p>
<p>Laboratorium ini terungkap berkat kerja sama antara Bareskrim Polri dan Bea-Cukai, yang sebelumnya juga menemukan laboratorium serupa di Yogyakarta. Dalam operasi ini, sebanyak 25 kilogram narkotika jenis hashish yang diproduksi di Bali berhasil disita.</p>
<p>Upaya pemberantasan narkoba tidak hanya berhenti pada penindakan hukum. Pemerintah juga terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat melalui program penyuluhan bahaya narkoba yang menyasar pelajar dan generasi muda. Selain itu, langkah rehabilitasi bagi pengguna narkoba turut menjadi fokus, agar mereka dapat kembali ke masyarakat tanpa stigma negatif.</p>
<p>Empat orang warga negara Indonesia yang diduga terlibat dalam operasi ilegal tersebut berhasil diamankan. Mereka adalah MR, RR, N, dan DA, yang masing-masing berperan sebagai peracik dan pengemas hashish. Hal ini diungkapkan oleh Kabareskrim Polri, Komjen Wahyu Widada, dalam konferensi pers pada Selasa, 19 November 2024.</p>
<p>Komjen Wahyu menjelaskan bahwa laboratorium ilegal tersebut memproduksi hashish cair untuk digunakan dalam cartridge pod vape sebagai bagian dari modus penyamaran narkoba. &#8220;Proses produksi hashish dilakukan dengan mengekstrak THC, senyawa aktif dalam ganja, di mana 1.000 gram ganja dapat menghasilkan 200 gram hashish,&#8221; jelas Wahyu. Setelah itu, hashish cair ini dikemas dalam cartridge pod dan dijual dengan harga yang berbeda dari cartridge biasa.</p>
<p>Ia menambahkan, metode ini digunakan untuk menarik perhatian anak muda, mengingat tren penggunaan vape yang sedang populer. Wahyu mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati, karena cairan ini jika diuji melalui tes urine akan menghasilkan hasil positif narkoba.</p>
<p>&#8220;Kita sering kali tidak mencurigai apa yang diisap dari vape teman kita, tetapi kita harus tetap waspada agar tidak terjebak dalam penyalahgunaan zat terlarang seperti ini,&#8221; pungkas Wahyu. Ia mengimbau semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan vape dan mencegah penyebaran narkoba yang semakin sulit terdeteksi.</p>
<p>Peredaran narkoba dalam bentuk cairan vape adalah ancaman besar, terutama bagi generasi muda. Modus penyamaran ini memanfaatkan popularitas vape untuk menyembunyikan narkoba, yang membuatnya sulit terdeteksi dan berisiko tinggi bagi penggunanya. Penemuan laboratorium ilegal yang memproduksi narkoba cair di Bali mengungkapkan bagaimana jaringan narkoba terus beradaptasi dengan tren saat ini untuk menjangkau lebih banyak korban. Dengan data sementara tahun 2024 yang menunjukkan peningkatan kasus narkoba, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus bekerja sama dalam memerangi ancaman ini. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk tetap waspada dan memperkuat upaya bersama dalam mencegah penyalahgunaan narkoba.</p>
<p>Di sisi lain, peran masyarakat menjadi kunci dalam memerangi peredaran narkoba. Dengan meningkatkan kesadaran melalui kampanye bahaya narkoba di lingkungan sekitar dan berani melaporkan aktivitas mencurigakan, kita dapat membantu memutus mata rantai distribusi narkoba. Semakin banyak pihak yang peduli, semakin kuat benteng melawan ancaman narkoba di tengah tren modern.</p>
<p><em>Zulfikar Mutawaqil Mufid</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/modus-baru-narkoba/">Modus Baru Narkoba: Cairan Vape yang Mengintai Generasi Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/images.tokopedia.net/img/KRMmCm/2022/11/16/e709ac5e-886a-4b38-b21d-402945c99fa6.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Memanfaatkan AI untuk Pengembangan dan Pelestarian Bahasa Indonesia</title>
		<link>https://jakpos.id/memanfaatkan-ai-untuk-pengembangan-dan-pelestarian-bahasa-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2025 12:51:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=86420</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Teknologi semakin hari semakin canggih, termasuk AI (kecerdasan buatan). Dari dunia medis sampai&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/memanfaatkan-ai-untuk-pengembangan-dan-pelestarian-bahasa-indonesia/">Memanfaatkan AI untuk Pengembangan dan Pelestarian Bahasa Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Teknologi semakin hari semakin canggih, termasuk AI (kecerdasan buatan). Dari dunia medis sampai musik, semuanya udah menyentuh AI. Tapi, pernah kepikiran nggak sih AI bisa juga bantu urusan bahasa?</p>
<p>Di tengah gempuran budaya asing dan internet yang isinya mencampur adukkan bahasa, posisi Bahasa Indonesia makin diujung tanduk. Para remaja lebih sering ngomong yang terkesan inggris, misalnya</p>
<p>“udah pada ready buat acara besok belum nih?”</p>
<p>Tapi jangan salah, AI juga bisa jadi senjata buat jaga dan ngenalin Bahasa Indonesia dengan cara yang kekinian.</p>
<h3>Belajar Bahasa Nggak Lagi Ngebosenin Berkat AI</h3>
<p>Dulu belajar bahasa itu kayak hafalan. kaku, membosankan. Sekarang? Udah beda banget. Bayangin kamu ngobrol sama AI yang ngerti Bahasa Indonesia, bisa jawab kapan aja, dan nggak bakal bosenin.</p>
<p>Beberapa hal keren yang udah ada:</p>
<p>⦁ AI buat latihan ngomong<br />
⦁ Aplikasi cek grammar dan ejaan<br />
⦁ Mencari sinonim dan antonim<br />
⦁ Dan banyak lagi</p>
<h3>AI Bikin Bahasa Indonesia Makin Eksis di Dunia Digital</h3>
<p>Jujur aja, internet sekarang masih didominasi konten berbahasa asing. Cari info, nonton video, atau baca artikel semuanya didominasi Bahasa Inggris. Tapi tenang, AI bisa bantu ngejar ketertinggalan ini.</p>
<p>Contohnya?</p>
<p>⦁ AI bisa bikin artikel otomatis dalam Bahasa Indonesia<br />
⦁ Konten luar bisa langsung diterjemahkan ke bahasa kita<br />
⦁ Video bisa punya subtitle Bahasa Indonesia dengan cepat</p>
<p>Nggak cuma itu. AI juga bisa dipakai buat bikin asisten virtual yang ngerti dan ngomong Bahasa Indonesia. Bayangin kamu tanya ke chatbot dari aplikasi pemerintah atau customer service toko online dan dijawab pakai bahasa yang sopan, jelas, dan Indonesia banget.</p>
<p>Kalau makin banyak aplikasi dan sistem pakai Bahasa Indonesia, otomatis kita juga bakal makin sering pakai. Bahasa kita jadi makin relevan, nggak tenggelam di tengah dunia digital.</p>
<h3>Menciptakan Kamus Digital yang ditenagai AI</h3>
<p>Jaman dulu untuk mencari sinonim saja harus membuka kamus KBBI yang super tebal tapi sekarang mah beda. Bayangin kamu bisa nanya arti kata ke AI dan langsung dapet jawaban detik itu juga. Bukan cuma arti mentahnya, tapi juga sinonim, antonim, asal kata, dan bahkan contoh kalimatnya. Itu semua bisa terjadi dengan kamus digital cerdas berbasis AI.</p>
<p>Gimana cara kerjanya?</p>
<p>AI bakal pakai data besar (big data) yang isinya jutaan kosakata Bahasa Indonesia. Terus diproses pakai teknologi NLP (Natural Language Processing) dan machine learning biar makin pintar. Jadi, waktu kamu nanya “Apa arti kata berkelakar?”, jawabannya langsung muncul, lengkap dan jelas.</p>
<p>Tapi yang paling keren?</p>
<p>Kamus yang ditenagai AI ini bisa ngerti konteks. Contoh, kamu ketik: “Aku merasa sungkan”. AI bakal kasih arti “sungkan” sesuai situasi bukan sekadar definisi kaku dari kamus cetak zaman dulu.</p>
<p>Dengan akses kayak gini, siapa aja jadi bisa belajar bahasa dengan gampang:</p>
<p>⦁ Pelajar yang lagi nyari arti kata buat tugas<br />
⦁ Content creator yang pengen nulis lebih rapi<br />
⦁ Jurnalis yang butuh sinonim biar nggak repetitif<br />
⦁ Atau kamu yang sekadar penasaran sama kata-kata keren<br />
Tapi, Jangan Lupa AI Juga Bisa Bikin Salah</p>
<p>AI itu emang pintar, tapi bukan berarti selalu bener. Kalau data yang dipakai untuk melatihnya nggak akurat, ya hasilnya juga bisa kacau. Bisa aja tulisan yang dihasilkan jadi aneh, nggak sesuai dengan aturan yang ada, atau malah bikin bingung.</p>
<p>Itu kenapa penting banget untuk punya tim khusus yang fokus pada pengembangan dan penyempurnaan AI, terutama yang berfokus pada bahasa. Tim ini bakal pastiin kalau AI ngerti konteks, aturan bahasa, dan cara komunikasi yang tepat.</p>
<p>dan Meskipun AI udah canggih, tetap perlu dicek hasilnya. Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia sepenuhnya. Dengan begitu, kita bisa dapat hasil yang lebih akurat dan berkualitas.</p>
<p>AI punya potensi besar buat bantu Bahasa Indonesia tetap hidup dan berkembang. Mulai dari bantu belajar, ngehasilin konten, sampai dipakai di layanan publik. Tapi biar nggak asal, kita harus pastiin AI dilatih dengan baik dan diawasi dengan bijak.</p>
<p>Kolaborasi teknologi dan budaya itu penting banget. Biar Bahasa Indonesia nggak cuma bertahan tapi juga bisa ikut bersaing di tengah derasnya arus globalisasi.</p>
<p><em>Ardhan Novealdio</em><br />
<em>Mahasiswa Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/memanfaatkan-ai-untuk-pengembangan-dan-pelestarian-bahasa-indonesia/">Memanfaatkan AI untuk Pengembangan dan Pelestarian Bahasa Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/campusnet.news/wp-content/uploads/2025/01/where-is-ai-used.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>AI era 4.0 : Pengaruhnya dalam Pemilu 2024</title>
		<link>https://jakpos.id/ai-era-4-0-pengaruhnya-dalam-pemilu-2024/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Dec 2023 03:56:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2024]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62307</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Istilah “Internet of Things” menjadi salah satu penanda bahwa Indonesia hari ini telah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ai-era-4-0-pengaruhnya-dalam-pemilu-2024/">AI era 4.0 : Pengaruhnya dalam Pemilu 2024</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPO</strong></a>S &#8211; Istilah “Internet of Things” menjadi salah satu penanda bahwa Indonesia hari ini telah berpijak pada suatu era revolusi industri 4.0. Mengutip dari Forbes, Revolusi Industri 4th generation ini diartikan dengan adanya campur tangan dari sebuah sistem cerdas dan otomatisasi dalam pengolahan data. Berkembang pesatnya kecerdasan buatan atau biasa dikenal sebagai AI, dengan berbagai mesin dan sistem pemrograman yang amat canggih, sangat mempengaruhi proses kehidupan zaman ini. Hal ini merujuk pada perangkat komputer yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menyerupai kecerdasan dan jalan pikir manusia, baik itu dalam mengambil keputusan, berperilaku, bahkan dalam menyebarkan informasi. Hal inilah yang pada akhirnya mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, diantaranya pendidikan, kesehatan, ekonomi, atau bahkan politik.</p>
<p>Seperti yang kita ketahui bahwa pada 14 Februari 2024 menjelang akan diadakan Pemilu 2024 untuk menetapkan presiden dan wakil presiden yang akan menjadi sosok pemimpin baru. Bila pada pemilu 2019 disebut sebagai “Pemilu Medsos”, lain halnya dengan Pemilu 2024 yang disebut “Pemilu AI”. Kita sebagai Warga Negara Indonesia, terutama yang telah berusia 17 tahun, tentu memiliki hak suara untuk turut memilih pemimpin bangsa selanjutnya. Periode ini merupakan saat yang pas bagi kita untuk mengkritisi informasi, maupun visi misi, serta tujuan setiap calon sebagai bahan pertimbangan sebelum menentukan siapa yang pada akhirnya akan kita beri amanah untuk memimpin negara ini. Dengan gempuran kemajuan teknologi saat ini, proses yang satu ini memiliki tantangan tersendiri.</p>
<p>Dalam konteks kampanye dan berpolitik, sebenarnya AI dapat sangat membantu. Bukan cuma di Indonesia, bahkan negara-negara di sisi lain dunia, seperti India, Perancis, Brazil, dst. telah memanfaatkan sistem ini pada konteks yang sama. Berkampanye melalui poster-poster kreatif, video interaktif, maupun berbagai platform digital sudah banyak dilakukan. Hal ini bertujuan untuk dinotice dan mendapatkan daya tarik masyarakat terhadap rencana program-program kerja ke depan. Capres dan cawapres dapat menggapai masyarakat luas, baik dari Sabang sampai Merauke, dengan mensosialisasikan dan menyebarkan informasi persuasif sebagai ajang berkompetisi dan meminta dukungan. Bisa kita nilai bahwa hal ini merupakan strategi dan senjata paling efektif pada zaman sekarang, karena pada dasarnya masyarakat Indonesia di seluruh dunia sangat aktif dalam menggunakan kemajuan industri pada kehidupan sehari-harinya.</p>
<p>Akan tetapi di sisi lain, pemanfaatan kemajuan sistem ini juga dapat menjadi bumerang besar bagi penyelenggaraan pemilu 2024. Menkominfo Budi Arie Setiadi sendiri sudah memperingatkan tentang rentannya terjadi konflik akibat penyalahgunaan AI (20/10/2023). Bahkan saat ini, beberapa AI, seperti chat bot, sudah mampu memprediksi terkait siapa pemenang capres dan cawapres yang akan datang. Banyak sekali beredar konten manipulatif maupun framing hasil penggunaan kecanggihan teknologi saat ini yang pada akhirnya menyebabkan disinformasi maupun fitnah terhadap masing-masing kandidat. AI juga bisa generate gambar-gambar provokatif maupun deepfake videos untuk menggiring dan mempengaruhi pandangan masyarakat. Pemilu 2024 dinilai akan menjadi medan perang hoax yang lebih dahsyat dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Oknum-oknum seperti beberapa buzzer yang kurang bertanggung jawab dalam penggunaan AI merupakan salah satu pemicu terbesar hal tersebut bisa terjadi.</p>
<p>Dengan adanya potensi tersebut menunjukkan seberapa besar pengaruh AI terkait proses berjalannya Pemilu 2024. Kekhawatiran akan rendahnya netralitas memperumit keadaan. Bahkan beberapa masyarakat telah beropini bahwa kedepannya, ada baiknya setiap pemilu tidak lagi memilih presiden yang berbasis manusia, melainkan humanoid berbasis AI. Tahun ini telah menjadi tahun politik dan 1 sampai 2 bulan ke depan merupakan puncaknya. Di sinilah Warga Negara Indonesia diuji pola pikirnya dalam mengolah dan menyerap informasi terutama terkait konteks politik yang telah beredar pada banyak media. Kita harus selalu waspada atas adanya kecurangan Pemilu terlebih lagi dengan banyaknya keterlibatan AI yang kerap disalahgunakan.</p>
<p>Pemilu di tengah-tengah era Industrial Revolution 4th generation memang bukanlah hal yang sepele. Namun, bukan juga sesuatu yang mustahil atau tidak mungkin bagi kita untuk mewujudkan pemilu 2024 yang damai, adil, netral, dan demokratis. Maka dari itu, sebagai warga negara dan masyarakat yang bijak, hendaklah kita teliti dan memperbanyak literasi agar tidak terjebak dengan berita bohong atau hoax yang sudah banyak disebarkan. Singkatnya, dalam merespon ancaman tersebut, kita hanya perlu menerima, menyerap, memilah, dan pada akhirnya memilih. Gunakanlah hak suara yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Bijaklah dalam berpendapat, berperilaku, dan mengambil keputusan. Sejatinya satu suara yang kita miliki itu menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia kedepannya.</p>
<p>Cinka Andili Rosa<br />
Mahasiswa Universitas Brawijaya</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ai-era-4-0-pengaruhnya-dalam-pemilu-2024/">AI era 4.0 : Pengaruhnya dalam Pemilu 2024</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/ajaib-wp-s3-artifact.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/img/2022/11/23160759/machine-learning-1024x576.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pemanfaatan AI Terhadap Pembelajaran</title>
		<link>https://jakpos.id/pemanfaatan-ai-terhadap-pembelajaran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Nov 2023 03:23:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Artificial Intelligence]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61088</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kecerdasan buatan adalah proses pemodelan cara berpikir manusia dan merancang mesin agar berperilaku seperti manusia.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pemanfaatan-ai-terhadap-pembelajaran/">Pemanfaatan AI Terhadap Pembelajaran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Kecerdasan buatan adalah proses pemodelan cara berpikir manusia dan merancang mesin agar berperilaku seperti manusia.</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI) saat ini sangatlah penting.Hal ini juga berlaku dalam dunia pendidikan ketika merancang kegiatan pembelajaran serta membawa banyak perubahan pada dunia pendidikan.</p>
<p>Kecerdasan buatan adalah proses pemodelan cara berpikir manusia dan merancang mesin agar berperilaku seperti manusia.</p>
<p>Istilah lainnya adalah kognitif. Artinya, bagaimana mesin dapat secara otomatis belajar dari data dan informasi yang telah diprogram. Pembelajaran dengan sistem AI adalah pembelajaran yang dipersonalisasi dan berbasis teknologi yang menumbuhkan kemandirian siswa dan mempersiapkan siswa untuk masa depan.</p>
<p>AI menemukan bakat terpendam siswa dan memfasilitasi pembelajaran dengan menyediakan berbagai informasi yang diperlukan untuk pembelajaran. serta membantu pembelajaran dengan memberikan informasi yang relevan dan andal.</p>
<p>Dengan memanfaatkan AI, siswa dapat belajar kapan saja dan dimana saja tanpa terikat ruang dan waktu. Selain itu, AI memungkinkan siswa mengakses sumber belajar dan informasi yang beragam, meningkatkan pengalaman belajar dan keterampilan mereka, serta memungkinkan guru memberikan umpan balik secara cepat terhadap hasil pembelajaran siswa.</p>
<p>Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran meningkat pesat, menjadikannya salah satu teknologi paling inovatif di zaman kita.Hal ini memungkinkan pendidik menjadikan kegiatan pembelajaran lebih efisien dan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih besar.</p>
<p>Ada beberapa Manfaat AI dalam pembelajaran yaitu :</p>
<p>1. AI meningkatkan pengalaman pembelajaran dengan memungkinkan pendidik menggunakan data yang relevan untuk memahami kinerja siswa, meningkatkan kualitas metode dan konten pembelajaran, dan memantau proses pembelajaran siswa secara keseluruhan.</p>
<p>2. AI memungkinkan pendidik mengidentifikasi keterampilan yang masih perlu dipelajari siswa, memungkinkan mereka mengidentifikasi informasi penting, memantau kemajuan, dan membuat keputusan lebih tepat waktu.</p>
<p>3. AI membantu siswa mengembangkan keterampilan dengan membantu mereka mengembangkan keterampilan otomatis dan menyediakan akses cepat ke informasi berbasis teks.</p>
<p>4. AI dapat meningkatkan kualitas proses belajar dan mengajar dengan memungkinkan guru menjadikan pembelajaran lebih fleksibel, mudah diakses, dan terukur.</p>
<p>5. AI dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran, dan dalam berbagai cara, AI digunakan untuk memahami kebutuhan dan preferensi siswa.</p>
<p>AI dapat diprogram untuk mempelajari gaya belajar setiap siswa dan menyesuaikan pembelajaran mereka. Hal ini membantu siswa mencapai tujuan belajarnya dengan lebih cepat dan efektif.</p>
<p>Dalam pemanfaatan ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas aktivitas belajar mengajar Ai dapat menyimpan semua data pembelajaran yang dihasilkan oleh siswa selama aktivitas belajar mengajar dan menggunakannya untuk menyesuaikan materi pembelajaran kebutuhan siswa, menganalisis aktivitas siswa dan menyarankan cara untuk membantu mereka meningkatkan keterampilan dan hasil belajar.</p>
<p>Ia juga dapat digunakan untuk memungkinkan pembelajaran dari jarak jauh dan banyak lokasi AI dapat membantu para guru untuk mengintegrasikan pembelajaran dari jarak jauh dan banyak lokasi dengan cara yang efisien yang mana memungkinkan para guru untuk menyampaikan informasi secara Real Time memantau kemajuan siswa.</p>
<p>Ada beberapa jenis Ai yang dapat digunakan dalam pelajaran Berikut ini adalah beberapa contoh;</p>
<p>Pertama, Chatbot adalah program komputer yang menggunakan kecerdasan buatan untuk berinteraksi dengan pengguna dalam bentuk percakapan dalam konteks pendidikan seperti memberikan bantuan menjawab pertanyaan atau memberikan penjelasan tentang topik tertentu.</p>
<p>Kedua, sistem rekomendasi sistem rekomendasi menggunakan AI untuk menganalisis data pengguna dan memberikan rekomendasi yang relevan dalam pendidikan hal ini dapat membantu siswa dalam memilih kursus atau materi pembelajaran yang sesuai dengan minat dan tingkat keahlian mereka.</p>
<p>Ketiga, pembelajaran mesin, pembelajaran mesin adalah cabang Ai yang melibatkan penggunaan algoritma dan model statistik untuk mengerjakan komputer agar dapat belajar dari data dan mengambil keputusan atau membuat prediksi dalam pendidikan pembelajaran mesin juga dapat digunakan untuk menganalisis data siswa dan memberikan rekomendasi personalisasi memprediksi hasil ujian atau mengidentifikasi pola belajar yang efektif.</p>
<p>Keempat, Analisis sentimen menggunakan Ai untuk menganalisis teks atau suara dan menentukan sentimen atau emosi yang terkandung di dalamnya dalam pendidikan analisis sentimen dapat digunakan untuk memonitor kepuasan siswa mendeteksi tingkat kecemasan atau frustrasi atau menganalisis umpan balik siswa pengenalan pola Ai dapat digunakan untuk pengenalan pola dalam data dalam pendidikan pengenalan pola dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola perilaku siswa mengenali pola kesalahan dalam jawaban tes atau menganalisis pola pembelajaran yang efektif.</p>
<p>Tentu saja, ini hanyalah beberapa contoh dari banyak cara AI dapat digunakan dalam pendidikan.</p>
<p>Dalam Perkembangan AI terus berlanjut, dan mungkin kedepannya akan muncul inovasi-inovasi baru yang dapat digunakan dalam situasi pembelajaran. Dalam hal ini, generasi muda harus tetap penasaran dengan perkembangan teknologi agar bisa beradaptasi tanpa menyalahgunakannya. Kecerdasan buatan ini khusus ditujukan kepada para guru.</p>
<p><em>Siti Saroh, mahasiswa STAI RIYADUL JANNAH subang prodi S-1 PAI</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pemanfaatan-ai-terhadap-pembelajaran/">Pemanfaatan AI Terhadap Pembelajaran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/calakpendidikan.com/wp-content/uploads/2023/05/63e226d5c74bb.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>AI Disrupsi Perguruan Tinggi &#8211; Akankah Perguruan Tinggi Bertahan?</title>
		<link>https://jakpos.id/ai-disrupsi-perguruan-tinggi-akankah-perguruan-tinggi-bertahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2023 05:34:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=57351</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; AI sedang berkembang pesat, dan mahasiswa menggunakannya untuk menavigasi tugas. Akankah perguruan tinggi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ai-disrupsi-perguruan-tinggi-akankah-perguruan-tinggi-bertahan/">AI Disrupsi Perguruan Tinggi &#8211; Akankah Perguruan Tinggi Bertahan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; AI sedang berkembang pesat, dan mahasiswa menggunakannya untuk menavigasi tugas. Akankah perguruan tinggi bertahan?</p>
<p>Munculnya kecerdasan buatan (ArtificiaI Intelligence-AI) telah mengubah banyak industri, tidak terkecuali di bidang pendidikan. Ketika AI terus mengganggu model pembelajaran tradisional, banyak yang bertanya-tanya apakah perguruan tinggi dan universitas tradisional dapat mengikuti lanskap yang terus berkembang. Dalam artikel ini, kita akan membahas dampak AI pada perguruan tinggi, tantangan yang ditimbulkannya terhadap institusi tradisional, dan bagaimana perguruan tinggi dapat beradaptasi agar tetap relevan di era digital.</p>
<p>Institusi perguruan tinggi dapat memanfaatkan kekuatan AI untuk merevolusi pengalaman pendidikan dalam banyak cara. Salah satu peluang yang paling signifikan terletak pada area pembelajaran yang dipersonalisasi. Dengan memanfaatkan algoritme AI, perguruan tinggi dapat menganalisis data mahasiswa untuk mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan gaya, preferensi, dan kecepatan belajar masing-masing individu. Hal ini meningkatkan keterlibatan mahasiswa dan menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang materi pelajaran.</p>
<p>AI juga dapat berperan penting dalam memberikan umpan balik secara real-time kepada siswa dan pendidik. Melalui alat penilaian yang didukung AI, siswa dapat memperoleh umpan balik instan tentang kinerja mereka, memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan menyesuaikan strategi pembelajaran mereka. Sebaliknya, para pendidik dapat menggunakan wawasan yang dihasilkan oleh AI untuk menyempurnakan metode pengajaran mereka, mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan, dan memberikan dukungan yang ditargetkan jika diperlukan.</p>
<p>Kekuatan AI untuk Institusi</p>
<p>AI memiliki potensi untuk merevolusi perguruan tinggi dengan beberapa cara, Berikut adalah tiga cara AI membantu perguruan tinggi:</p>
<p>1. Pembelajaran yang dipersonalisasi &#8211; Platform yang didukung AI dapat menganalisis gaya belajar, kekuatan dan kelemahan masing-masing siswa, serta menyesuaikan materi pelajaran dan sumber daya yang sesuai. Pendekatan yang dipersonalisasi ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri, memenuhi kebutuhan unik mereka, dan memastikan pengalaman pendidikan yang lebih efektif.</p>
<p>2. Dukungan mahasiswa yang ditingkatkan &#8211; Melalui chatbot dan asisten virtual yang didukung oleh AI, perguruan tinggi dapat memberikan dukungan mahasiswa secara instan, 24/7 menjawab pertanyaan, memberikan panduan, dan memantau kemajuan. Hal ini menguntungkan mahasiswa dan membebaskan waktu yang berharga bagi fakultas dan staf untuk fokus pada tugas-tugas yang lebih kompleks.</p>
<p>3. Proses administrasi yang efisien &#8211; AI dapat mengotomatiskan tugas-tugas administrasi yang memakan waktu seperti penerimaan, penjadwalan, dan pencatatan, sehingga menghasilkan operasi yang lebih efisien dan penghematan biaya bagi institusi. Hal ini, pada gilirannya, memungkinkan perguruan tinggi untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif, yang berpotensi meningkatkan kualitas pendidikan.</p>
<p>Ancaman terhadap Pendidikan Tinggi Tradisional</p>
<p>Meskipun AI menawarkan manfaat yang signifikan, AI juga menantang perguruan tinggi dan universitas tradisional dengan cara-cara berikut:</p>
<p>1. Pergeseran ke pendidikan online &#8211; Munculnya platform yang didukung oleh AI telah mempercepat pertumbuhan pendidikan online, menyediakan opsi pembelajaran yang fleksibel dan mudah diakses. Pergeseran ini terutama terlihat setelah pandemi COVID-19, yang memaksa institusi untuk beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh. Dengan kemudahan dan keterjangkauan pendidikan online, beberapa siswa mungkin memilih untuk tidak lagi merasakan pengalaman belajar di kampus tradisional.</p>
<p>2. Berkurangnya permintaan untuk pembelajaran di kampus &#8211; Permintaan untuk pembelajaran di kampus dapat berkurang karena lebih banyak siswa memilih model pendidikan online dan alternatif. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya jumlah pendaftaran dan tekanan keuangan bagi institusi tradisional, sehingga memaksa mereka untuk mengevaluasi kembali penawaran dan model bisnis mereka.</p>
<p>3. Meningkatnya persaingan dari penyedia pendidikan alternatif &#8211; Pasar yang berkembang untuk penyedia pendidikan online dan alternatif yang didukung oleh AI menimbulkan ancaman yang signifikan bagi perguruan tinggi tradisional. Mahasiswa sekarang memiliki akses ke berbagai pilihan mulai dari kursus khusus dan bootcamp hingga program kredit mikro, seringkali dengan biaya yang lebih rendah daripada gelar tradisional.</p>
<p>Bagaimana perguruan tinggi tradisional akan bertahan?</p>
<p>Agar tetap kompetitif, perguruan tinggi tradisional harus beradaptasi dengan lanskap yang berubah dan merangkul potensi AI untuk meningkatkan pendidikan.</p>
<p>1. Beradaptasi dengan inovasi teknologi &#8211; Institusi harus berinvestasi pada alat dan platform yang digerakkan oleh AI untuk meningkatkan pengalaman siswa, merampingkan operasi, dan mengurangi biaya. Hal ini termasuk mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum dan memberikan akses ke teknologi mutakhir yang mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.</p>
<p>2. Memupuk kolaborasi antara AI dan tenaga pendidik manusia &#8211; Kunci untuk mengelola disrupsi yang disebabkan oleh AI adalah dengan menyadari bahwa AI tidak boleh menggantikan tenaga pendidik manusia, melainkan melengkapi upaya mereka. Institusi harus fokus untuk membina hubungan simbiosis antara AI dan pengajar, menggunakan teknologi untuk mendukung dan meningkatkan pengajaran dan pembelajaran dengan tetap menjaga hubungan manusia yang tak ternilai yang mendefinisikan pendidikan tinggi.</p>
<p>Kemunculan AI tidak diragukan lagi telah mengganggu pendidikan tinggi, memaksa perguruan tinggi tradisional untuk beradaptasi atau berisiko menjadi usang. Dengan merangkul potensi AI untuk mengubah pengalaman belajar, menata ulang pengalaman kuliah, dan mendorong kolaborasi antara teknologi dan tenaga pengajar, perguruan tinggi dapat bertahan dan berkembang di era digital.</p>
<p>Dengan berfokus pada pengembangan hubungan simbiosis antara AI dan fakultas, perguruan tinggi dapat menggunakan teknologi untuk mendukung dan meningkatkan pengajaran dan pembelajaran sambil mempertahankan hubungan antarmanusia yang tak ternilai yang mendefinisikan pendidikan tinggi.</p>
<p>Mendesain ulang pengalaman kuliah</p>
<p>Mengintegrasikan AI ke dalam perguruan tinggi juga membutuhkan penataan ulang pengalaman perguruan tinggi. Hal ini termasuk memikirkan kembali peran pengajar dalam proses pembelajaran. Daripada sekadar memberi kuliah, dosen harus menjadi fasilitator dan mentor, membimbing mahasiswa melalui perjalanan belajar mereka dan menumbuhkan keingintahuan intelektual mereka.</p>
<p>Selain itu, seiring dengan semakin banyaknya alat bertenaga AI di mana-mana, kebutuhan akan literasi digital di kalangan mahasiswa dan fakultas menjadi sangat penting. Institusi harus berinvestasi dalam program pelatihan literasi digital yang komprehensif untuk memastikan bahwa semua anggota komunitas pendidikan tinggi dapat secara efektif memanfaatkan kekuatan teknologi dan platform yang digerakkan oleh AI.</p>
<p>Membina kolaborasi antara teknologi dan pendidik manusia</p>
<p>Untuk memastikan integrasi AI yang mulus ke dalam pendidikan tinggi, lembaga pendidikan harus mendorong kolaborasi antara teknologi dan tenaga pendidik. Hal ini termasuk menciptakan budaya inovasi di mana para staf pengajar didorong untuk bereksperimen dengan metode pengajaran, teknologi, dan pedagogi baru. Institusi juga harus berinvestasi dalam peluang pengembangan profesional bagi staf pengajar agar mereka tetap mengikuti kemajuan terbaru dalam teknologi pendidikan berbasis AI.</p>
<p>Selain itu, lembaga pendidikan harus memprioritaskan kolaborasi interdisipliner di antara anggota fakultas dari berbagai disiplin ilmu. Hal ini dapat memfasilitasi pertukaran ide dan praktik terbaik, yang mengarah pada pengembangan strategi baru dan praktis untuk mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran.</p>
<p>Rumaisha Tsamaratul Afifah</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ai-disrupsi-perguruan-tinggi-akankah-perguruan-tinggi-bertahan/">AI Disrupsi Perguruan Tinggi &#8211; Akankah Perguruan Tinggi Bertahan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/kliklegal.com/wp-content/uploads/2023/04/Sumber-cloudcomputing-id.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
