<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>artikel keluarga Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/artikel-keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/artikel-keluarga/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 May 2017 04:55:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>artikel keluarga Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/artikel-keluarga/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ibu Sebagai Guru Pertama Anak-anaknya</title>
		<link>https://jakpos.id/ibu-sebagai-guru-pertama-anak-anaknya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/ibu-sebagai-guru-pertama-anak-anaknya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 May 2017 04:55:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11689</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebab guru terbaik bagi seorang anak bukanlah gurunya di sekolah, melainkan seorang ibu. Tidak mengherankan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ibu-sebagai-guru-pertama-anak-anaknya/">Ibu Sebagai Guru Pertama Anak-anaknya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11690" aria-describedby="caption-attachment-11690" style="width: 554px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-11689 wp-image-11690" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1494132817/wanita-ibu-anak-muslimah-_wywdfw.jpg" alt="" width="554" height="224" /><figcaption id="caption-attachment-11690" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<blockquote><p>Sebab guru terbaik bagi seorang anak bukanlah gurunya di sekolah, melainkan seorang ibu.</p></blockquote>
<p>Tidak mengherankan bila seseorang memiliki sebuah sosok yang dia pandang dan kagumi. Tidak membingungkan juga bila sosok itu akhirnya mampu membuatnya melakukan hal-hal besar di dalam hidup. Tidak aneh pula jika sosok tersebut adalah orang terdekat yang sudah dikenalnya semenjak dia belum mengenal siapapun di dunia ini.</p>
<p>Untuk beberapa orang, bisa jadi sosok tersebut adalah seorang ayah. Sementara untuk beberapa orang lainnya, mungkin saja sosok itu adalah seorang ibu. Tak jarang, banyak juga yang menganggap sosok itu adalah keluarga yang sangat dekat dengan mereka.</p>
<p>Namun, bagi seorang anak perempuan, penginspirasi nomor satu dalam hidup mereka biasanya adalah Ratu mereka. Ratu yang kemudian mereka panggil sebagai ‘ibu’. Memang tidak semua anak perempuan beranggapan demikian, tetapi paling tidak, ada beberapa di antara mereka yang menganggap bahwa sosok Sang Ibu memiliki pengaruh yang besar di dalam hidupnya.</p>
<p>Maka bukan hal yang aneh bila kemudian seorang anak perempuan menjadikan ibunya sebagai seorang panutan. Sebab sejak kecil, semua ilmu yang mereka pelajari, pelajaran yang mereka terima, nilai hidup yang mereka teladani – semua itu didapatkan pertama kali dari Sang Ibu, bukan dari guru. Karena guru terbaik bagi seorang anak perempuan bukanlah gurunya di sekolah, melainkan ibunya.</p>
<p>Saat usia anak perempuan memasuki fase remaja, pelajaran hidup yang dia dapat dari ibunya bukan lagi tentang budi pekerti dan tatakrama, melainkan tentang perlindungan diri juga. Ibu sering memberitahu kalau anak perempuannya harus bisa menjaga diri, dia menasihati anak perempuannya supaya berani berkata tidak kepada hal-hal yang dapat merusak diri, dia juga berpesan kepada anak perempuannya agar memilih-milih teman untuk kebaikan diri. Memang siapa orang yang mau menasihati serinci itu selain ibu?</p>
<p>Menjelang dewasa pun, masih banyak pesan yang disampaikan seorang ibu kepada anak perempuannya. Pesan-pesan yang mungkin akan dijadikan sebuah pegangan oleh anak itu hingga akhirnya dia tumbuh dan memiliki keturunan sendiri.</p>
<p>Mungkin seorang ibu tidak selalu memanjakan dan menuruti semua keinginan anak perempuannya, seperti yang sering dilakukan seorang ayah. Namun, segala kalimat dan perkataan dari ibu akan berdampak besar untuk anak perempuannya. Sebab, guru pertama mereka di dunia adalah ibunya.</p>
<p>Seperti yang dialami oleh seorang gadis yang kini sedang melanjutkan studi di perguruan tinggi yang terletak di Kota Belimbing ini. Dia memiliki sebuah pedoman hidup yang berasal dari ibunya. Sebuah kalimat yang pernah dia dengar dan dia jadikan sebagai kunci untuk mencapai tujuan-tujuan di dalam hidupnya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Selama masih gratis, boleh-boleh aja kok kamu bermimpi.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalimat tersebut diucapkan dengan nada ringan oleh sosok yang telah dia kagumi sejak kecil, Ibunya. Dalam ingatan gadis tersebut, masih tergambar jelas bagaimana senyum menghiasi wajahnya ketika Ibunya mengucapkan kalimat majikal itu. Sebuah kalimat yang akhirnya mengantarkannya pada impian-impian yang ingin dia gapai saat ini.</p>
<p>Untuk semua ibu di Indonesia, kalian memang bukan penopang hidup utama dalan keluarga. Namun, ingatlah selalu jika kalian adalah pendidik pertama untuk generasi penerus bangsa, terutama untuk anak-anak perempuan. Perilaku yang sudah kalian ajarkan, serta nasihat yang telah kalian ucapkan kepada anak perempuan kalian, bisa jadi merupakan sumber semangat utama mereka dalam hidup. Kalianlah guru terbaik di dalam hidup mereka. <em>(Tanayastri Dini Isna Khairunnisa/PNJ)</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ibu-sebagai-guru-pertama-anak-anaknya/">Ibu Sebagai Guru Pertama Anak-anaknya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/ibu-sebagai-guru-pertama-anak-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sosok Ibu Sebagai Panutan Keluarga</title>
		<link>https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/</link>
					<comments>https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 May 2017 09:33:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel ibu]]></category>
		<category><![CDATA[artikel keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11638</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu ku kecil hidupku amatlah senang Senang dipangku dipangku dipeluknya Serta dicium dicium dimanjakan, namanya&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/">Sosok Ibu Sebagai Panutan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<figure id="attachment_11667" aria-describedby="caption-attachment-11667" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-post-11638 wp-image-11667" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1494063152/kartun-ibu-anak-kerudung-biru-sayap_p8jrii.jpg" alt="" width="640" height="423" /><figcaption id="caption-attachment-11667" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Waktu ku kecil hidupku amatlah senang<br />
Senang dipangku dipangku dipeluknya<br />
Serta dicium dicium dimanjakan,<br />
namanya kesayangan</p></blockquote>
<p>Begitulah lirik lagu yang masih terngiang di kepala hampir setiap orang. Lagu yang membawa seseorang menyelami kenangan masa kecil, momen tak terlupakan saat orang tua yang selalu menemani dan berada di samping kita, memberikan kasih dan sayang yang tiada tara. Serta terhanyut membayangkan sesosok mahluk yang memeluk untuk pertama kalinya kita bernafas di dunia ini. Ada yang memanggilnya mama, mami, umi, bunda, bundo, emak hingga ibu. Apapun panggilan yang digunakan tetap akan mengartikan satu yakni seseorang yang diciptakan Tuhan yang menjaga anak dan keluarganya, sampai kapanpun dan apapun yang terjadi dengan seluruh kekuatan yang ia punya, meski harus menyakiti ataupun menyusahkan diri sendiri, sosok ini tetap setia mengerahkan seluruh keringatnya demi anak tercinta.</p>
<p>Pernahkah terbesit dalam benak kalian, para anak perempuan tentang bagaimana memahami perasaan ibu kalian?, serta bagaimana kelak kalian akan menjadi seorang ibu? Siapakah yang menjadi role model seorang ibu bagi kalian? Ibu kalian sendirikah? Selain itu, bagaimanakah kalian memahami perasaan ibu kalian sehingga menjadi role model yang baik dan dapat kalian tiru dikemudian hari?</p>
<p>Lihatlah ke dalam hati, diam sejenak dan pikirkanlah bagaimana seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah, serta berjuang membeli sekotak susu di tengah – tengah sulitnya ekonomi yang menghadang. Tak perduli berapapun yang didapatkannya dari hasil keringat di kantor, ia tetap menyisihkan uang demi anaknya yang merengek meminta seteguk susu. Miris dan sedih rasanya membayangkan perjuangan yang tak henti hingga anaknya tumbuh dewasa dengan sehat.</p>
<p>Tak berhenti sampai disitu, ibu masih harus berjuang keras ketika anak mereka dilanda penyakit yang seiring waktu berdatangan. Saat jerit kesakitan sang anak terdengar karena sakit yang dirasakannya tidak tertahankan, Ibu dengan sigap dan setia menghampirinya, dan menemaninya menuju ke rumah sakit.</p>
<p>Ibu sibuk mondar – mandir mengurus pengobatan anaknya. Ibu juga masih harus menemani anaknya yang tak ingin ditinggal di ruang rawat inap sendirian. Ibu memeluknya penuh cinta, sayang, dan kecemasan, sambil berdoa dengan berbisik agar cepat disembuhkan oleh Tuhan, hingga ibu tertidur lelap mendekap anak tercintanya.</p>
<p>Terus berlanjut, sang ibu masih harus berteguh hati ketika anak tercintanya terserang penyakit yang cukup serius dan mengharuskannya memberi perhatian ekstra, di samping mengerjakan setumpuk tugas kantor yang juga menunggunya. Berbulan – bulan sudah perjuangan sang ibu mengurus anaknya menjalani pengobatan telah terlaksana. Setia menemani, menghibur, dan mengeluarkan auang yang tidak sedikit. Ya, lagi dan lagi sang ibu harus bertahan demi anak tercintanya di tengah kehidupan ekonomi yang cukup mencekik.</p>
<p>Saat itu, anaknya masih sangat belia, untuk memahami kenyataan hidup yang terjadi, masih terlalu dini membantu ekonomi sang ibu. Namun, anaknya tidak terlalu kecil untuk menghibur sang ibu dan sedikit membantu meringankan beban kerja rumah yang harus dijalani ibunya.</p>
<p>Begitu hebat luar biasanya kesetian sang ibu, tak hanya menjaga, dan menemi sang anak, ibu juga melindungi anaknya dari kemarahan sang ayah yang menyeramkan dan di luar batas. Dengan tubuh yang tidak sekuat pria, ibu berusaha melindungi anaknya dan meredam emosi sang ayah. Setangguh itulah sang ibu disaat Ia harus melindungi anaknya ia juga harus memberanikan diri menyadarkan sang ayah dari gelapnya emosi yang tidak terkendali.</p>
<p>Disamping itu, ibu masih harus berjuang dengan teguh menghadapi anak perempuannya yang seiring waktu tumbuh menjadi gadis dewasa. Mengawasi dan menjaga anaknya atas kekhawatirannya akan perkembangan pergaulan muda yang semakin mencemaskan. Sang Ibu sangat mengkhawatirkan kejahatan yang kian bertebaran dan tak kenal batas, seta keselamatan dan kesehatan puterinya yang membuatnya tak berhenti berdoa. Sinyal peringatan dan pesan yang terus berdatangan selalu diberikan untuk puterinya menjadi pembatas bagi sang anak agar kekhawatiran sang ibu dapat berkurang.</p>
<p>Terkadang, kemarahan dan kekesalan menghadang sang ibu di saat anaknya, tidak mendengarkan nasihat yang ia berikan. Hal ini membuat sang ibu kecewa namun khawatir dan sedih. Sebaliknya, terkadang sang anak juga merasa bahwa sang ibu tidak dapat mengerti dirinya sehingga membuatnya kesal, sedih dan marah.</p>
<p>Meski begitu, sang ibu tetap tidak berhenti memberikan perhatiannya dan mencoba untuk lebih memahami perasaan puterinya. Sang aanak juga merasa luluh dan sedih hingga tidak sanggup untuk marah dan merasa sebal terlalu lama dengan ibunya karena ia merasa bahwa hatinya tidak tenang, dan tidak ingin membuat ibunya kecewa dan sedih terlalu lama.</p>
<p>Ada begitu banyak perjuangan yang dikerahkan sang ibu dengan keringat, pengorbanan, kekuatan dan kasih sayang serta air mata. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi kekuatannya yang tidak dapat terkalahkan yakni, doa sang ibu. Doanya selalu menjadi sumber kekuatan terbesar untuk anaknya. Meski hanya berbisik sekalipun doanya mampu menjadi obat dari segala penyakit yang diderita anaknya. Doanya mamapu mengantarkan sang anak meraih sekolah negeri dan perguan tinggi negeri yang menjadi mimpi bagi ia dan anaknya. Doa dan pengajarannya mampu membimbing anaknya dalam menimba ilmu keagaaman maupun moral. Begitulah sosok yang sabar, membimbing dan teguh dari diri seorang ibu.</p>
<p>Kelak seorang anak mencintai ibunya dengan caranya sendiri baik dari sisi positif dan terlepas dari tindakan yang membuatnya kesal karena kelak Ibunya hanya memberikan kasih dan sayangnya serta tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada puterinya. Dan ingatlah kelak kita para perempuan juga akan menjadi seorang ibu, oleh karena itu jadikanlah ibumu sebagai role model dengan segala sisi postifnya dan kasih sayangnya. <em><strong>(Fikriah Nurjannah/PNJ)</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/">Sosok Ibu Sebagai Panutan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</title>
		<link>https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/</link>
					<comments>https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2017 07:04:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[artikel keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=10567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teknologi semakin canggih, banyak sekali bermunculan gadget-gadget baru di kalangan remaja. Salah satu nya adalah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/">Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_10568" aria-describedby="caption-attachment-10568" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-post-10567 wp-image-10568" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1487487792/Ketahui-Usia-Ideal-untuk-Mengenalkan-Gadget-Pada-Anak-anak_1_fd0afb.jpg" width="600" height="398" /><figcaption id="caption-attachment-10568" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Teknologi semakin canggih, banyak sekali bermunculan gadget-gadget baru di kalangan remaja. Salah satu nya adalah Android yang saat ini banyak di gandrungi kaum remaja. Globalisasi dan modernisasi nampaknya sudah memberikan kemajuan kepada masyarakat luas. Namun, tahukah jika Globalisasi dan Modernisasi ini dapat membawa kita pada hal-hal positif da negative. Tergantung bagaimana masyarakat selektif dalam memilih perkembangan teknologi yang canggih ini.</p>
<p>Bukan hanya anak muda, remaja, ibu-ibu,bapak-bapak namun anak kecil usia dini pun sudah banyak yang menggunakan Gadget. Beberapa mengungkapkan bahwa gadget adalah salah satu sarana komunikasi untuk saat ini. Memang benar, namun tahu kah bahwa anak-anak di usia dini saat ini yang sudah kehilangan harga diri nya, pelecehan, tindakan menyimpang lainnya yang di sebabkan oleh Gadget yang mereka miliki.</p>
<p>Salah satu faktor mendasar anak-anak di usia dini telah mengetahui aplikasi-aplikasi internet canggih yang dapat mereka akses kapan pun dan di mana pun. Ini sebabnya orang tua lah yang memberikan Gadget atau handphone kepada anak-anak nya pada usia dini atau terlalu terburu-buru.</p>
<p>Anak SD yang sudah mengenal Gadget bahkan bisa memberikan dampak positif dan negative pada orang-orang di sekitar nya. sebut saja si A yang karena kesibukan kedua orang tua nya, pulang pagi-sore-malam sehingga mereka memanfaatkan gadget untuk di berikan kepada anak nya. namun, tahukah bun. Anak yang kurang perhatian dari kedua orang tua nya memanfaatkan gadget sebagai teman hidup nya. ia jadikan handphone teman kemana-mana tidak lepas dari handphone. Miris, banyak waktu yang mereka habiskan hanya lewat telpon. Siang dan malam bermain games dengan gadget sesuka nya. akses internet yang canggih menyebabkan mereka terjerembab kedalam dunia pornografi yang mereka akses entah karena tidak di sengaja atau faktor lingkungan.</p>
<p>Kasus diatas lazim sekali terjadi di lingkungan kita. Banyak sekali mudharat gadget pada anak usia dini yang mereka pun kurang paham terkait penyalahgunaan gadget tersebut. Naudzubillah..</p>
<p>Salah satu cara agar anak tidak terlalu menghabiskan waktu dengan gadget nya atau bahkan jangan tergantung pada gadget dengan memberikan kegiatan-kegiatan positif terhadap anak, bimbingan belajar, bela diri, kepramukaan dan masih banyak lagi. Hal yang terbaik menjauhkan anak di usia dini pada gadget adalah perbanyak bergaul dan sosialisasi dengan sesama. Buatlah masa kecil anak kita sebagaimana mesti nya, sehingga pertumbuhan anak sekarang tidak cenderung pasif dengan aktivitas yang ada. Mereka tidak akan kaget setelah dewasa nanti memiliki masa kecil yang begitu indah tanpa harus dengan gadget. Jangan biarkan anak cucu kita menghabiskan waktu dengan gadget nya yaa bun.</p>
<p>Yuk, jangan dulu berikan gadget pada anak-anak di usia dini. Sarana komunikasi yang baik adalah salah satu nya dengan selalu berada di dekat anak. Kesibukan orang tua memang tidak ada yang tahu, namun kebersamaan bersama anak adalah hal yang utama di dunia.</p>
<p><strong>Reni Marlina (Writer Executive Media)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/">Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
