<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/artikel/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jun 2025 03:27:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Artikel Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/artikel/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Minimnya Pekerjaan Ditengah Tekanan Hidup Modern</title>
		<link>https://jakpos.id/minimnya-pekerjaan-ditengah-tekanan-hidup-modern/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2025 03:27:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Lowongan Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[UKM]]></category>
		<category><![CDATA[UMKM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88529</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di era kehidupan yang semakin modern ini segala gemerlap dengan berbagai kemajuannya, yang&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/minimnya-pekerjaan-ditengah-tekanan-hidup-modern/">Minimnya Pekerjaan Ditengah Tekanan Hidup Modern</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era kehidupan yang semakin modern ini segala gemerlap dengan berbagai kemajuannya, yang membuat pengangguran yang semakin meningkat pada saat ini yang mencapai 3,09 juta orang yang terjadi karena minimnya lapangan pekerjaan di tengah tekanan hidup yang semakin mencekik. Sehingga generasi muda, khususnya saat ini merasakan beban ini dengan sangat nyata. Yang dimana Persaingan yang ketat, tuntutan kualifikasi yang tinggi, dan biaya hidup yang terus merangkak naik sehingga menciptakan siklus sulit yang membuat banyak orang merasa terjebak di era kehidupan modern saat ini.</p>
<p>Salah satu faktor utamanya yaitu karena kesenjangan sosial atau pendidikan dan <a href="https://www.depokpos.com/2024/04/sudahkah-merata-dan-berkualitas-upaya-pemerintah-kota-depok-dalam-menciptakan-lapangan-kerja/">lapangan kerja</a>. Banyak lulusan perguruan tinggi sekarang yang mengalami berbagai kesulitan dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi mereka, Keterampilan yang diajarkan di kampus dan skill yang mereka miliki yang terkadang tidak selaras dengan kebutuhan industri itu sendiri, sehingga dapat menciptakan kesenjangan yang menghambat penyerapan tenaga kerja. Hal ini diperparah oleh otomatisasi dan digitalisasi yang semakin pesat, yang menggantikan peran manusia dalam beberapa sektor pekerjaan.</p>
<p>Yang dimana tekanan <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/kesenjangan-ekonomi-pengangguran-dan-tantangan-sosial-ekonomi-indonesia/">ekonomi</a> juga dapat menjadi pemicu utama. Tingginya biaya hidup saat ini, mulai dari perumahan, transportasi, hingga pendidikan,yang memaksa banyak orang untuk bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Minimnya pekerjaan berkualitas memaksa mereka untuk menerima pekerjaan dengan gaji rendah dan kondisi kerja yang kurang ideal, yang menciptakan lingkaran sendiri yang sulit diputuskan.</p>
<p>Mungkin Kondisi ini semakin diperburuk oleh karena kurangnya akses terhadap program pelatihan dan pengembangan keterampilan yang terjangkau dan relevan. Dampaknya pun terasa luas. Minimnya pekerjaan dapat menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran semakin tinggi, kemiskinan, dan bahkan kriminalitas. Yang dapat terjadinya stres dan kecemasan yang ditimbulkan oleh tekanan ekonomi dan persaingan kerja dapat berdampak negatif yang dapat menganggu kesehatan mental baik individu maupun dalam keluarga. Karena hal ini juga dapat menghambat kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.</p>
<p>Upaya yang kita lakukan untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak. Pemerintah juga perlu berperan aktif dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan melalui kebijakan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi, serta membuat berbagai program pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri. Sektor swasta juga perlu berperan dalam menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan bermartabat. Selain itu, peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas dan program pengembangan keterampilan sangat penting untuk dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja.Penting juga untuk menumbuhkan budaya kewirausahaan di kalangan masyarakat.</p>
<p>Membangun bisnis sendiri dapat menjadi solusi alternatif bagi mereka yang kesulitan mencari pekerjaan formal agar dapat mengurangi tingkat pengangguran saat ini, dan dengan adanya dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait dalam bentuk akses permodalan, pelatihan, dan mentoring sangat krusial yang mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah (<a href="https://www.depokpos.com/2024/12/mui-dki-jakarta-ungkap-outlook-industri-syariah-dan-ukm-pada-2025/">UKM</a>). Minimnya pekerjaan di tengah tekanan hidup yang modern pada saat ini merupakan masalah kompleks yang membutuhkan solusi terpadu dan berkelanjutan. Hanya dengan kerja sama dan komitmen dari semua pihak, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih adil dan berkesempatan bagi semua orang dalam meraih kehidupan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Titi Purnama Sari Giawa</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/minimnya-pekerjaan-ditengah-tekanan-hidup-modern/">Minimnya Pekerjaan Ditengah Tekanan Hidup Modern</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/newsreal.id/wp-content/uploads/2025/05/29ENAKER.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tidak Sibuk Artinya Tidak Sukses: Hustle Culture, Produktif atau Burnout?</title>
		<link>https://jakpos.id/tidak-sibuk-artinya-tidak-sukses-hustle-culture-produktif-atau-burnout/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2025 00:50:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Burnout]]></category>
		<category><![CDATA[Hustle Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Produktif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87807</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hustle culture adalah pola hidup yang menekankan kerja keras tanpa henti sebagai cara utama untuk mencapai keberhasilan</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tidak-sibuk-artinya-tidak-sukses-hustle-culture-produktif-atau-burnout/">Tidak Sibuk Artinya Tidak Sukses: Hustle Culture, Produktif atau Burnout?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Hustle culture adalah pola hidup yang menekankan kerja keras tanpa henti sebagai cara utama untuk mencapai keberhasilan</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di zaman yang serba cepat ini, menjadi sibuk sering kali dianggap sebagai bentuk keberhasilan. “Gila, jadwalnya super padat” kini bukan dianggap sebagai keluhan, tapi pujian. Generasi muda hidup dalam lingkungan yang menjunjung tinggi produktivitas, dan tanpa disadari, terperangkap dalam jeratan budaya kerja berlebihan yang biasa disebut dengan hustle culture.</p>
<p>Hustle culture adalah pola hidup yang menekankan kerja keras tanpa henti sebagai cara utama untuk mencapai keberhasilan. Hal ini menimbulkan tantangan bagi individu dalam mempertahankan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka. Sekilas, budaya ini terlihat menginspirasi. Namun, benarkah demikian?</p>
<p>Pada awalnya, hustle culture tampak menginspirasi. Banyak individu yang telah sukses berbagi cerita tentang perjuangan mereka yang mengorbankan waktu siang dan malam untuk mencapai posisi mereka sekarang. Sayangnya, tanpa disadari, budaya ini bisa berubah menjadi racun yang dapat merusak kesehatan mental dan fisik mereka. Terpaku untuk selalu bekerja membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dasar seperti istirahat, bersosialisasi, bahkan makan. Dorongan tak terkendali untuk selalu produktif ini sering kali berujung pada penurunan kualitas hidup yang signifikan.</p>
<p>Hustle culture mendorong gaya hidup di mana bekerja tanpa jeda dianggap sebagai jalan utama menuju kesuksesan. Tak cukup kerja dari pukul 8 pagi hingga 5 sore, banyak diantara mereka yang merasa harus lembur, mengambil pekerjaan sampingan, bahkan mengorbankan waktu tidur demi mencapai target pribadi. Kemajuan teknologi turut mempercepat fenomena ini, di mana media sosial menjadi panggung utama untuk memamerkan produktivitas sebagai ukuran nilai diri. Di Indonesia, budaya ini berkembang pesat di kalangan anak muda yang didorong oleh tekanan dari lingkungan sosial dan ekspektasi karir yang tinggi.</p>
<p>Mengutip laporan dari Merdeka.com, budaya ini berdampak langsung pada kesehatan mental generasi muda. Kecemasan, stres berkepanjangan, hingga burnout bukan hal asing bagi mereka yang selalu merasa harus “mengejar sesuatu” agar tak tertinggal. Individu yang terjebak dalam budaya ini sering kali merasa bersalah saat beristirahat, sehingga memaksakan diri untuk terus bekerja karena takut dianggap tidak produktif. Mereka cenderung berjuang untuk mencapai standar yang tidak realistis, yang pada akhirnya menyebabkan stres, kecemasan, dan kelelahan mental.</p>
<p>Fenomena hustle culture harus diatasi, generasi muda perlu ruang untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang kerja tapi juga keseimbangan antara pekerjaan, hubungan sosial, dan kesehatan mental. Meski tampak menginspirasi, hustle culture berpotensi menjadi racun tersembunyi yang dapat menguras kualitas hidup. Oleh karena itu individu juga perlu menyadari pentingnya menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi guna menjaga keseimbangan yang sehat dan mengedepankan keseimbangan hidup serta mendefinisikan ulang kesuksesan menjadi bukan &#8220;yang paling sibuk&#8221; tapi &#8220;yang paling seimbang&#8221; agar tidak terjebak dalam glorifikasi kerja tanpa henti.</p>
<p><em>Wiwi Adani</em><br />
<em>Mahasiswi Universitas Pamulang</em><br />
<em>Prodi S1 Akuntansi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tidak-sibuk-artinya-tidak-sukses-hustle-culture-produktif-atau-burnout/">Tidak Sibuk Artinya Tidak Sukses: Hustle Culture, Produktif atau Burnout?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdinf61chG1oP23Z05xioyeAKQoCWuJenjD79tkHBKQuG74wTe9sdp0b4oOTooZpToY5bzUF0Ai9-c_5LBZA9vMLYvXhFOpbEEGXhKls_pBP1accIR2VpavPczgeaBazLxzZbHVc4WgK92dO_YrxG5nlWlSgefU2iO3505ZK9yKASzY-8hF7G4N3FjF0s/w640-h334/Picture1.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Pola Interaksi Sosial dalam Keluarga akibat Ketergantungan Teknologi</title>
		<link>https://jakpos.id/perubahan-pola-interaksi-sosial-dalam-keluarga-akibat-ketergantungan-teknologi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 11:13:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87689</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di era digital seperti sekarang, teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-interaksi-sosial-dalam-keluarga-akibat-ketergantungan-teknologi/">Perubahan Pola Interaksi Sosial dalam Keluarga akibat Ketergantungan Teknologi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital seperti sekarang, teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Penggunaan perangkat seperti smartphone, tablet, dan laptop telah mengubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan bahkan berinteraksi dengan keluarga.</p>
<p>Meskipun teknologi menawarkan berbagai manfaat, seperti kemudahan berkomunikasi dan akses informasi, dampaknya terhadap pola interaksi sosial dalam keluarga tidak bisa dipandang sebelah mata.</p>
<p>Ketergantungan terhadap teknologi dalam keluarga dapat mempengaruhi kualitas hubungan antar anggota keluarga, baik secara positif maupun negatif.</p>
<h3>1. Perubahan Cara Komunikasi dalam Keluarga</h3>
<p>Salah satu dampak paling terlihat dari ketergantungan teknologi adalah perubahan cara komunikasi antar anggota keluarga. Dulu, keluarga lebih sering berinteraksi langsung, berbicara face-to-face, atau setidaknya melakukan percakapan lewat telepon. Kini, banyak keluarga yang lebih banyak berkomunikasi melalui pesan teks, panggilan video, atau bahkan media sosial.</p>
<p>Teknologi, meskipun memudahkan komunikasi lintas jarak, terkadang membuat percakapan yang terjadi terasa kurang mendalam. Komunikasi digital seringkali lebih singkat dan terkesan lebih formal atau bahkan terputus-putus, dibandingkan percakapan langsung yang lebih hangat dan memungkinkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Akibatnya, hubungan antar anggota keluarga bisa menjadi lebih dangkal atau terpisah oleh jarak emosional.</p>
<h3>2. Ketergantungan pada Gadget dan Isolasi Sosial</h3>
<p>Fenomena lain yang muncul adalah kecenderungan anggota keluarga untuk lebih fokus pada gadget mereka masing-masing. Misalnya, saat makan malam bersama, alih-alih saling berbicara dan berbagi cerita, banyak keluarga yang lebih memilih untuk bermain ponsel atau menjelajahi internet. Meskipun secara fisik berada dalam satu ruang, interaksi sosial yang terjadi semakin terbatas.</p>
<p>Isolasi sosial semacam ini tidak hanya terjadi pada anak-anak atau remaja, tetapi juga orang dewasa. Terkadang, orang tua yang seharusnya menjadi pengarah dan pengawas bagi anak-anak mereka, malah terjebak dalam dunia digital mereka sendiri. Hal ini membuat kualitas waktu bersama keluarga berkurang, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi keharmonisan keluarga itu sendiri.</p>
<h3>3. Dampak Ketergantungan Teknologi pada Anak-anak dan Remaja</h3>
<p>Anak-anak dan remaja adalah kelompok yang paling terpengaruh oleh perkembangan teknologi. Sejak usia dini, mereka telah dikenalkan dengan perangkat digital yang memungkinkan mereka untuk mengakses berbagai hiburan, informasi, dan bahkan berkomunikasi dengan teman-teman mereka. Namun, penggunaan teknologi yang berlebihan bisa berpotensi menyebabkan gangguan dalam perkembangan sosial dan emosional mereka.</p>
<p>Anak-anak yang lebih sering berinteraksi dengan dunia maya cenderung menghabiskan waktu lebih sedikit dalam berinteraksi dengan keluarga mereka. Ini dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat di dunia nyata. Selain itu, ketergantungan pada media sosial dapat menyebabkan masalah seperti kecemasan, tekanan sosial, dan bahkan depresi pada remaja.</p>
<h4>4. Menjaga Keharmonisan Keluarga di Tengah Ketergantungan Teknologi</h4>
<p>Meskipun dampak negatif dari ketergantungan teknologi bisa cukup besar, ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga dan memperbaiki kualitas interaksi sosial. Salah satunya adalah dengan menetapkan batasan yang jelas terkait penggunaan perangkat digital di dalam rumah. Misalnya, saat makan bersama, semua anggota keluarga sepakat untuk meletakkan ponsel mereka dan fokus pada percakapan langsung. Begitu pula saat berkumpul di ruang keluarga, waktu untuk berbicara dan bermain bersama lebih diutamakan dibandingkan dengan memeriksa media sosial.</p>
<p>Selain itu, keluarga juga bisa menciptakan kegiatan offline yang menyenangkan dan edukatif, seperti bermain board game, berolahraga bersama, atau melibatkan anak dalam kegiatan memasak atau berkebun. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan kualitas waktu bersama, tetapi juga mempererat ikatan emosional antar anggota keluarga.</p>
<h4>5. Peran Orang Tua dalam Membimbing Penggunaan Teknologi</h4>
<p>Orang tua memiliki peran besar dalam membimbing anak-anak agar tidak terjebak dalam ketergantungan pada teknologi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi contoh yang baik dalam penggunaan teknologi. Jika orang tua bijak dalam menggunakan perangkat digital, anak-anak akan lebih cenderung meniru perilaku tersebut.</p>
<p>Selain itu, orang tua harus aktif dalam mengawasi dan membatasi waktu layar anak-anak, serta memastikan bahwa teknologi digunakan untuk tujuan yang positif, seperti pembelajaran atau kegiatan kreatif. Pendidikan tentang dampak negatif dari kecanduan teknologi juga perlu disampaikan kepada anak-anak agar mereka bisa memahami pentingnya keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata.</p>
<h4>6. Mengoptimalkan Teknologi untuk Meningkatkan Kualitas Keluarga</h4>
<p>Sementara ketergantungan teknologi bisa menurunkan kualitas interaksi sosial, teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan keluarga. Misalnya, aplikasi video call dapat menjadi alat untuk menjaga komunikasi dengan anggota keluarga yang berada jauh, atau aplikasi bersama yang memungkinkan keluarga untuk berbagi momen secara real-time, seperti foto atau kegiatan harian.</p>
<p>Selain itu, teknologi dapat mendukung kegiatan keluarga dalam bentuk program edukasi atau hiburan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi alat untuk isolasi, tetapi juga bisa digunakan untuk mempererat hubungan keluarga dengan cara yang sehat dan produktif.</p>
<p>Ketergantungan teknologi dalam keluarga memang membawa tantangan baru dalam pola interaksi sosial. Meski demikian, dengan pendekatan yang bijaksana, teknologi dapat dioptimalkan untuk memperkaya hubungan keluarga, bukan mengurangi kualitasnya. Yang penting adalah menciptakan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan waktu yang dihabiskan bersama keluarga secara langsung. Dengan demikian, teknologi dapat tetap memberikan manfaat, sambil menjaga kehangatan dan kedekatan dalam kehidupan keluarga.</p>
<p><em>Siti Amalia Putri</em><br />
<em>Mahasiswi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-interaksi-sosial-dalam-keluarga-akibat-ketergantungan-teknologi/">Perubahan Pola Interaksi Sosial dalam Keluarga akibat Ketergantungan Teknologi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/asset.kompas.com/crops/2oAiGCaI0HBSzKYT5vDIRL--qbE=/0x36:1000x703/750x500/data/photo/2019/10/06/5d99e5c556f8a.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Bahagia di Usia 20-an, Antara Harapan dan Tekanan</title>
		<link>https://jakpos.id/bahagia-di-usia-20-an-antara-harapan-dan-tekanan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2025 12:45:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87539</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Usia 20-an sering kali digambarkan sebagai masa emas: penuh semangat bebas mencoba banyak&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bahagia-di-usia-20-an-antara-harapan-dan-tekanan/">Bahagia di Usia 20-an, Antara Harapan dan Tekanan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Usia 20-an sering kali digambarkan sebagai masa emas: penuh semangat bebas mencoba banyak hal, dan saat yang tepat untuk “menata hidup”. Namun di balik Gambaran ideal itu, banyak orang di usia ini justru marasa cemas, bingung , bahkan tertekan oleh harapan-harapan, baik dari luar maupun dari dalam diri sendiri.</p>
<p>Tekanan itu datang dalam berbagai bentuk. Mulai dari tuntunan untuk memiliki karier yang mapan, pasangan yang tepat, hingga pencapaian yang bisa dibanggakan di media sosial. Tanpa sadar, kita membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain, padahal latar belakang dan tujuan kita sangat berbeda.</p>
<p>Kebahagiaan modern pun jadi terasa seperti target yang harus dicapai, bukan sesuatu yang bisa dirasakan dalam keseharian. Kita merasa selalu produktif, selalu tumbuh, dan selalu berhasil. Akibatnya, kita jadi sulit menikmati proses. Bahkan saat sedang istirahat pun, rasa bersalah sering kali muncul karena merasa “tidak melakukan apa-apa”.</p>
<p>Padahal. Kebahagiaan bukan hanya soal pencapaian besar. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana: bisa tidur nyenyak, punya teman yang bisa diajak bicara, atau merasa damai walau sedang belum tahu arah hidup.</p>
<p>Mungkin sudah saatnya kita mendefinisikan ulang makna bahagia di usia 20-an. Bahwa tidak apa-apa jika kita belum tahu akan jadi apa. Tidak apa-apa jika karier belum stabil atau belum belum menemukan pasangan hidup. Tidak semua orang harus “sukses” di usia muda. Kita punya waktu dan hak untuk meraba-raba jalan, bahkan tersesat sejenak.</p>
<p>Usia 20-an bukan tentang menjadi sempurna. Ini tentang belajar mengenali diri sendiri dengan segala pencapaian dan ketidakpastian yang menyertainya.</p>
<p><strong><em>GHINA CAHYA AURA SAPUTRA</em></strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bahagia-di-usia-20-an-antara-harapan-dan-tekanan/">Bahagia di Usia 20-an, Antara Harapan dan Tekanan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Peluang Berharga dalam Kewirausahaan Sosial: Pengaruh Pengalaman, Kebutuhan Sosial, dan Strategi Sumber Daya</title>
		<link>https://jakpos.id/menciptakan-peluang-berharga-dalam-kewirausahaan-sosial-pengaruh-pengalaman-kebutuhan-sosial-dan-strategi-sumber-daya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2023 03:25:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Peluang Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=59942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Faktor-faktor kunci yang memengaruhi pembentukan peluang dalam kewirausahaan sosial</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menciptakan-peluang-berharga-dalam-kewirausahaan-sosial-pengaruh-pengalaman-kebutuhan-sosial-dan-strategi-sumber-daya/">Menciptakan Peluang Berharga dalam Kewirausahaan Sosial: Pengaruh Pengalaman, Kebutuhan Sosial, dan Strategi Sumber Daya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Faktor-faktor kunci yang memengaruhi pembentukan peluang dalam kewirausahaan sosial</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Kewirausahaan sosial adalah bidang yang memiliki potensi besar dalam menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Namun, menciptakan peluang yang berharga dalam kewirausahaan sosial bukanlah tugas yang mudah. Proses ini melibatkan dua langkah utama: menghasilkan ide yang menjanjikan dan mengembangkan ide tersebut menjadi peluang yang menarik. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi faktor-faktor kunci yang memengaruhi pembentukan peluang dalam kewirausahaan sosial.</p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Sebagai Sumber Ide</strong></p>
<p>Ide-ide kewirausahaan sosial sering kali muncul dari pengalaman pribadi. Motivasi, inspirasi, atau ketidakpuasan terhadap keadaan saat ini dapat memicu munculnya ide-ide berharga. Pengalaman positif, seperti rasa pemberdayaan dari memulai bisnis, juga dapat memotivasi individu untuk mencari peluang dalam kewirausahaan sosial.</p>
<p>Namun, penting untuk diingat bahwa pengalaman juga dapat memiliki dampak negatif, yaitu bias yang membatasi pandangan. Orang yang sudah berpengalaman dalam suatu bidang mungkin cenderung terjebak dalam cara berpikir yang terbatas, sementara pemula lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan.</p>
<p><strong>Mengidentifikasi Kebutuhan Sosial yang Sesungguhnya</strong></p>
<p>Sebuah gagasan wirausaha sosial yang sukses harus merespons kebutuhan sosial yang sesungguhnya, bukan hanya preferensi pribadi. Ini menunjukkan pentingnya memahami kebutuhan masyarakat dan pasar dengan baik. Memahami dengan baik konteks dan keadaan sosial menjadi langkah kunci dalam menciptakan solusi yang relevan dan berdampak positif.<br />
Pentingnya Nilai-nilai Pribadi dan Motivasi</p>
<p><strong>Nilai-nilai pribadi juga dapat menjadi motivator yang kuat bagi pengusaha</strong></p>
<p>sosial dan gagasan mereka. Meskipun mungkin ada perbedaan pendapat tentang nilai-nilai ini di masyarakat, nilai-nilai tersebut dapat menjadi pendorong yang kuat dalam menciptakan perubahan sosial.</p>
<p><strong>Adaptasi dan Inovasi Berkelanjutan</strong></p>
<p>Pengusaha sosial harus memiliki pola pikir berorientasi peluang, aktif mencari kemungkinan baru untuk memberikan dampak sosial positif yang signifikan. Di dunia kewirausahaan sosial, adaptasi dan inovasi berkelanjutan sangat penting. Perubahan dalam demografi atau teknologi, misalnya, dapat memicu ide-ide yang menjanjakan.</p>
<p><strong>Teori Dampak Sosial dan Evolusi Strategi</strong></p>
<p>Teori dampak sosial sangatlah penting. Teori ini bukan hanya menjadi panduan untuk mencapai dampak sosial yang diinginkan, tetapi juga merupakan landasan strategi dan nilai-nilai organisasi. Pengujian dan evolusi teori dampak sosial seiring berjalannya waktu merupakan hal penting untuk menyesuaikan dan meningkatkan efektivitas.</p>
<p><strong>Strategi Sumber Daya dan Model Operasional</strong></p>
<p>Dalam pengembangan dan menjalankan usaha sosial, strategi sumber daya dan model operasional memainkan peran penting. Pengelolaan sumber daya, termasuk pendanaan dan aspek lainnya, harus dipertimbangkan dengan cermat. Kreativitas, inovasi, dan perencanaan strategis sangat dibutuhkan dalam proses ini.</p>
<p>Dari faktor-faktor tersebut, semoga dapat memberikan wawasan yang bermanfaat tentang bagaimana menciptakan peluang berharga dalam kewirausahaan sosial. Pengalaman pribadi, pemahaman kebutuhan sosial, dan strategi sumber daya yang efektif adalah faktor-faktor kunci dalam proses ini. Kewirausahaan sosial bukan hanya tentang mencari keuntungan finansial, tetapi juga tentang menciptakan dampak positif dalam masyarakat. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, pengusaha sosial dapat mengubah ide menjadi peluang yang berharga dan bermanfaat bagi banyak orang.</p>
<p><em>Tsurayya Faizatul Aliya,</em><br />
<em>STEI SEBI</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menciptakan-peluang-berharga-dalam-kewirausahaan-sosial-pengaruh-pengalaman-kebutuhan-sosial-dan-strategi-sumber-daya/">Menciptakan Peluang Berharga dalam Kewirausahaan Sosial: Pengaruh Pengalaman, Kebutuhan Sosial, dan Strategi Sumber Daya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/news.unair.ac.id/wp-content/uploads/2020/01/Ilustrasi-oleh-jendela-bisnis.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Negosiasi Ketika Terjadi Konflik sebagai Solusi Penyelesaian</title>
		<link>https://jakpos.id/negosiasi-ketika-terjadi-konflik-sebagai-solusi-penyelesaian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jun 2023 04:28:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=55603</guid>

					<description><![CDATA[<p>Konflik berasal dari kata kerja Latin, configere yang berarti saling memukul.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/negosiasi-ketika-terjadi-konflik-sebagai-solusi-penyelesaian/">Negosiasi Ketika Terjadi Konflik sebagai Solusi Penyelesaian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Konflik berasal dari kata kerja Latin, configere yang berarti saling memukul</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Banyak pendapat mengemukakan bahwa kemajuan yang kita lihat sampai pada saat ini adalah merupakan alhasil dari perbedaan pandangan berbagai pihak. Perbedaan pandangan tersebut dari satu sisi dapat terjadinya konflik, tetapi disisi lain dapat menghasilkan solusi yang dapat memberikan hasil terbaik, untuk menghindari perbedaan dapat menyebabkan timbulnya konflik, maka diperlukan kemampuan para pihak yang berinteraksi untuk melakukan negosiasi.</p>
<p>Konflik berasal dari kata kerja Latin, configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Sedangkan negosiasi adalah suatu upaya yang dilakukan antara pihak-pihak yang berkonflik dengan maksud untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan pertentangan yang sesuai kesepakatan bersama. Proses negosiasi dianggap selesai apabila diperoleh kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak Agar proses negosiasi berjalan lancar, maka kedua belah pihak harus saling memahami karakteristik negosiasi.</p>
<p>Karakteristik negosiasi Dalam buku Manajemen Konflik (2018) karya Weni Puspita, dijelaskan beberapa karakteristik negosiasi, yaitu:</p>
<ul>
<li>Negosiasi dilakukan untuk menghasilkan kesepakatan.</li>
<li>Keputusan yang dihasilkan dalam negosiasi harus saling menguntungkan kedua belah pihak.</li>
<li>Negosiasi dilakukan sebagai sarana untuk mencari penyelesaian.</li>
<li>Negosiasi mengarah kepada tujuan praktis.</li>
<li>Prioritas utama dalam negosiasi terletak pada kepentingan bersama.</li>
</ul>
<p>Tujuan utama negosiasi yaitu memperoleh kesepakatan antara pihak terkait. Jika salah satu pihak yang tidak sepakat maka proses negosiasi tersebut tidak efektif. Jika terjadi, kedua belah pihak bisa memilih cara penyelesaian yang lain.</p>
<p><em>Bagas Nur Wicakso &#8211; Destiyas Fitriani &#8211; Mutia Dwi Putri</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/negosiasi-ketika-terjadi-konflik-sebagai-solusi-penyelesaian/">Negosiasi Ketika Terjadi Konflik sebagai Solusi Penyelesaian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/is3.cloudhost.id/img-kbrt/2022/11/Ilustrasi-penyebab-konflik-dalam-organisasi.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Perlunya Kreatifitas dalam Persaingan Industri Makanan Ringan</title>
		<link>https://jakpos.id/perlunya-kreatifitas-dalam-persaingan-industri-makanan-ringan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/perlunya-kreatifitas-dalam-persaingan-industri-makanan-ringan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Dec 2017 01:37:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[UMKM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=16217</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bisnis makanan ringan merupakan bisnis berskala rumah tangga yang memiliki peluang sangat bagus untuk saat ini maupun yang akan datang. Permintaan pasar untuk makanan ringan terus mengalir. Melihat penikmat makanan ringan, tidak hanya anak-anak, tetapi juga remaja, dewasa, hingga orang tua. Maka tidak mengherankan jika pelaku bisnis makanan yang sering disajikan sebagai selingan saat melakukan kegiatan ini sering kali kebanjiran pelanggan.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perlunya-kreatifitas-dalam-persaingan-industri-makanan-ringan/">Perlunya Kreatifitas dalam Persaingan Industri Makanan Ringan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_16219" aria-describedby="caption-attachment-16219" style="width: 699px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-16217 wp-image-16219" src="https://res.cloudinary.com/de5lnco7h/image/upload/v1513647360/UMKM-Makanan-di-Banyumas-Terkendala-Biaya-Label-Halal_xmmqt5.jpg" alt="" width="699" height="393" /><figcaption id="caption-attachment-16219" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktivitas sehari-harinya. Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia paling utama yang dapat membantu manusia dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak. Memakan makanan yang bergizi akan membantu pertumbuhan manusia, baik otak maupun badan. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, dan lemak adalah salah satu contoh gizi yang akan didapatkan dari makanan.</p>
<p>Berbicara tentang makanan sendiri tentunya tidak sedikit orang yang hanya menjadikan makanan itu sebagai pemenuhan kebutuhan pokok saja, tapi bagi orang yang memiliki jiwa bisnis hal tersebut dijadikan sebagai peluang usaha. Karena usaha dibidang makanan sangat potensial sekali dan peluang bisnis makanan atau usaha kuliner boleh dibilang salah satu jenis usaha yang tidak akan pernah mati karena akan selalu dicari oleh banyak orang untuk memenuhi kebutuhan tubuh mereka.</p>
<p>Kalau kita melihat pasar Indonesia, tentu ada banyak sekali peluang usaha makanan yang bisa dilakukan oleh calon pebisnis yang menyukai usaha kuliner. Masyarakat Indonesia terkenal konsumtif dibanding negara-negara lain, termasuk dalam hal makanan. Indonesia punya banyak jenis makanannya yang beragam dari berbagai daerah, mulai dari makanan utama hingga makanan ringan. Harganya pun beragam mulai dari yang murah, hingga yang mahal.</p>
<p>Bisnis makanan ringan merupakan bisnis berskala rumah tangga yang memiliki peluang sangat bagus untuk saat ini maupun yang akan datang. Permintaan pasar untuk makanan ringan terus mengalir. Melihat penikmat makanan ringan, tidak hanya anak-anak, tetapi juga remaja, dewasa, hingga orang tua. Maka tidak mengherankan jika pelaku bisnis makanan yang sering disajikan sebagai selingan saat melakukan kegiatan ini sering kali kebanjiran pelanggan.</p>
<p>Apalagi melihat beragamnya jenis makanan ringan yang terkenal di masyarakat kita adalah aneka gorengan, aneka keripik, aneka kue, dan masih banyak lagi yang dijual dengan berbagai variasi harga. Membuat peluang bisnis makanan ringan ini semakin terbuka lebar.</p>
<p>Kementerian Perindustrian (Kemprin) memprediksi sektor makanan dan minuman tahun 2017 hanya tumbuh kisaran 7,5%-7,8%. Sementara, pengusaha memperkirakan bisa tumbuh minimal sama dengan 2016 yakni sekitar 8,2%-8,5%.</p>
<p>Menurut Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), pertumbuhan bisnis makanan tahun 2017 masih bisa sama dengan tahun lalu yakni sekitar 8,5%. Karena itulah, &#8220;Kemprin sepakat mau merevisi proyeksi bisnis industri makanan 2017. Harusnya bisa sama optimistis,&#8221; kata Adhi seperti dikutip KONTAN, Minggu (22/1/2017).</p>
<p>Dari data tersebut bisa dilihat bahwa pertumbuhan industri makanan dan minuman domestik tahun ini optimistis tumbuh lebih baik ketimbang tahun lalu. Bahkan, prediksi pelaku industri tahun ini lebih tinggi dari prediksi pemerintah.</p>
<p>Saat ini banyak sekali jenis makanan ringan yang muncul di pasar industri makanan. Berbagai variasi dan bentuk unik menjadi salah satu andalan dari pengusaha agar konsumen tertarik dengan produk yang ditawarkan. Produk-produk hasil olahan industri rumahan ini memiliki differensiasi tersendiri dibanding produk kompetitor di pasaran.</p>
<p>Berkembangnya beragam jenis industri makanan dan minunan baik itu industri tradisional maupun industri moderen, merupakan reaksi atas beragamnya permintaan konsumen. Fenomena ini menunjukan persaingan yang semakin ketat diantara usaha yang ada. Persaingan untuk menarik perhatian konsumen sangat diperlukan guna mempertahankan dan merebut target pasar. Konsekuensinya adalah masing-masing industri harus memiliki strategi-strategi khusus guna pengembangan usahanya dengan melihat faktor-faktor eksternal maupun internal yang ada di sekitar maupun diluar perusahaan. Sebagai contohnya yaitu memberikan produk yang unik, promosi yang menarik, kemudahan untuk mendapatkan produk yang ditawarkan dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menarik perhatian pelanggan.</p>
<p>Kreatifitas dari para pengusaha sangat dibutuhkan untuk bertahan dalam persaingan industri makanan. Oleh karena itulah tercipta berbagai kreasi makanan yang sengaja dibuat oleh pengusaha untuk menarik konsumen.</p>
<p>Ditulis oleh: Sansan Hasan Basri – Mahasiswa STEI SEBI.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perlunya-kreatifitas-dalam-persaingan-industri-makanan-ringan/">Perlunya Kreatifitas dalam Persaingan Industri Makanan Ringan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/perlunya-kreatifitas-dalam-persaingan-industri-makanan-ringan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fenomena Masih Maraknya Perdukunan di Daerah</title>
		<link>https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Dec 2017 01:25:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=16213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Mardhiyatun Nurul Ulfi Kemajuan peradaban manusia, sering kali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/">Fenomena Masih Maraknya Perdukunan di Daerah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mardhiyatun Nurul Ulfi</p>
<p>Kemajuan peradaban manusia, sering kali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau tahayul. Namun lain halnya, dizaman sekarang ini praktik perudukunan justru marak bak cendawan di musim penghujan.</p>
<p>Praktik perdukuknan memiliki akar dalam sejarah. Perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-temurun saling diwarisi, hingga saat ini dukun masih mendapatkan tempat bukan saja disisi masyarakat tradsional, tetapi juga ditengah lingkungan modern.</p>
<p>Hakikat dukun yang tidak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan jin (setan). Sedangkan meminta bantuan kepada jin termasuk syirik yang paling besar terhadap Allah SWT. Meminta bantuan kepada jin dalam beberapa perkara tidaklah akan bisa terjadi kecuali dengan taqarrub(mendekatkan diri) kepada jin tersebut dengan sesuatu yang termasuk peribdatan.</p>
<figure id="attachment_16215" aria-describedby="caption-attachment-16215" style="width: 512px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-post-16213 wp-image-16215" src="https://res.cloudinary.com/de5lnco7h/image/upload/v1513646632/Praktik-Perdukunan-dari-Masa-ke-Masa_qcgphq.jpg" alt="" width="512" height="341" /><figcaption id="caption-attachment-16215" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Jika kita telusuri lebih jauh, maka tak dapat dipungkiri bahwa tegaknya bendera kekufuran melalui sihir dan perdukunan jelas mengancam dan merusak akidah umat.</p>
<p>Ironisnya ini terjadi dimasayarakat yang mengaku religius dan agamis. Dan bila kita amati kehidupan ditengah masyarakat maka kita sering mendapati penyakit TBC, yaitu Tahayul dengan hal-hal mistik, Bid’ah dan Khurafat. Itulah sederet fenomena keganjilan dalam permasalahan aqidah yang ada ditengah masyarakat muslimin dimana kita berada didalam nya. Seorang muslim yang jujur ketika ditanya tentang hukum perdukunan, tentu saja akan menjawab bahwa itu adalah hal yang terlarang dan merupakan perbuatan syirik kepada Allah SWT. Yang dimana spekulasi mereka berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>Dukun atau yang sering disebut dengan “orang pinter” adalah suatu profesi yang tidak asing kedengarannya di telinga masyarakat pada umumnya. Walaupun nama atau istilahnya berbeda antar satu daerah dengan daerah yang lainnya, Dukun adalah profesi yang sangat populer. Keterlibatan mereka dalam kehidupan masyarakat selama ini sangat kuat.</p>
<p>Tidak dipungkiri,meski saat ini kita hidup dalam era digital, tetapi pada sebagian masyarakat masih ada saja yang memeprcayai bahwa dukun adalah sosok yang bisa dimintai jasa untuk kepentingan tertentu. Diketahui bahwa dukun merupakan orang yang memiliki kemampuan tertentu untuk membantu seseorang. Dukun yang dimaksud dalam pengamatan atau observasi saya adalah paranormal yang membantu masyarakat dalam masalah jodoh, pelaris bagi pedagang,kekuasaan politik, dan disukai atau dihormati orang lain. Hal tersebut masih sering saya jumpai di daerah tempat tinggal saya.</p>
<p>Fenomena kesyirikan dan pelanggaran tauhid banyak terjadi di masyarakat kita, karena kurangnya pengetahuan mereka tentang masalah tahuid dan keimanan, serta hal-hal yang bisa mendangkalkan bahkan merusak akidah atau keyakinan seorang muslim.</p>
<p>Kenyaataan pahit yang dialami umat islam sekarang ini berupa kebodohan dalam masalah aqidah dan masalah-masalah keyakinan lainnya, serta perpecahan dalam metodologi pemahaman dan pengamalan islam . Apalagi sekarang ini penyebaran dakwah islam diberbagai belahan bumi tidak lagi sesuai dengan aqidah dan manhaj generasi pertama yang telah mampu melahirkan generasi terbaik.</p>
<p>Di zaman yang serba modern masih banyak yang menggunakan dukun sebagai alternatif untuk memeperkaya diri. Menyaksikan hal tersebut, praktek sihir yang sudah merejalela dan transparan khususnya yang berada di setiap daerah, membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana mungkin sebuah dosa besar berlangsung sangat transparan dan tidak ada tindakan apapun dari segelinitir orang yang bisa dikatakan lebih paham akan kesesatan yang terjadi.</p>
<p>Kepercayaan masyarakat terkait perdukunan memang mengakar cukup kuat dan menjadi sebuah mitos tersendiri. Nilai spiritual atau mistis sebenarnya selalu ada dalam setiap diri manusia menjadi kebutuhan yang mendasar untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Manusia dalam mengahdapi berbagai permasalahan memilih jalan keluar yang rasional, ada pula yang irrasional. Bahkan yang rasional tentu dilakukan berkaitan dengan melalui cara berfikir logis. Namun fakta sosial menyatakan bahwa masyarakat banyak mencari hal-hal mistis. Salah satunya mereka mencari jalan keluar permaslahan hiudpnya melalui penanyaan atau paranormal. Agama seringkali menjadi salah satu jalan keluar dari berbagai persoalan tersebut. Walau begitu, tak sedikit pula yang bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Fenomena sebuah fakta sosial yang nyata terjadi dimasayarakat. Sebagai contoh, dari mulai pemilihan kepala desa, pencalonan anggota dewan, bupati, gubernur dan presiden tak bisa dilepaskan dari hal tersebut.</p>
<p>Saya berusaha mempelajari fakta sosial tersebut, adapun pembahasan tidak memasuki wilayah benar arau tidaknya prilaku kepercayaan terhadap paranormal tersebut. Akan tetapi hanya mencoba melalui kajian sosiologis dari adanya kenyataan yang terjadi sebagai sebuah gambaran nyata fenomena tersebut. Sebagaimana kenyataan terjadi didaerah kelahiran saya sendiri yang masih ada atau bisa katakan banyak yang masih percaya kepada dukun dan menggunakan jasa dukun untuk membantu berbagai deret masalah kehidupan.</p>
<p>Istilah dukun biasa disebut paranormal atau sebaliknya masyarakat menyebut paranormal itu dukun tapi pada kenyataan dilapangan, dukun atau paranormal tidak mau dianggap dukun hanya saja sang dukun menganggap dirinya sama saja dengan masyarakat sekitar, hanya saja yang membedakan bahwa sang dukun punya kelebihan indra ke enam sehingga bisa menerawang dan dianggap memiliki kekuatan supranatural.</p>
<p>Dari pengamatan awal didapatkan bebrapa tujuan masyarakat menggunakan jasa dukun. Memperoleh hubungan harmonis dan damai, termasuk soal jodoh, pelaris dagangan bagi pedagang dan mengatur cuaca bagi petani dan masyarakat yang mempunyai hajatan seperti mantu (perkawinan), sunatan (khitanan), bahkan untuk mendapatkan kedudukan politik mereka masih memanfaatkan media perdukunan.</p>
<p>Dari hasil pra survei tersebut dapat dipahami bahwa masyarakat memanfaatkan jasa dukun memiliki beberapa tujuan. Pada praktek perdukunan tersebut, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa tujuannya dapat terwujud. Yang berarti masyarakat tidak memiliki aqidah yang kuat, miris memang.</p>
<p>Selama ini memang ada kelompok masyarakat yang merasa sangat terbantu bahkan diuntungkan dengan adanya praktik perdukunan, namun banyak juga yang merasa sangat dirugikan bahkan kecewa dengan adanya praktik ini. Sebagai bukti yang pernah saya alami sendiri bahwa dunia perdukunan tersebut masih dianut oleh masyarakat didaerah saya yang kebetulan daerah pariwisata, dimana adanya persaingan usaha yang tidak sehat dengan cara seseorang meminta jimat pelaris kepada dukun atau yang biasa mereka sebut orang pintar agar diberi kelancaran dalam usaha dagang mereka. Dimana ada salah satu pengunjung yang datang ketempat saya berjualan tetapi mereka tidak melihat apa yang saya jual. Secara logika, hal tersebut tidak masuk akal. Karena apa? Hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh dukun yang sudah jelas bersekutu dengan syaitan. Maka dari itu, walaupun saya yang awalnya tidak mempercayai adanya praktik perdukunan tersebut. Tetapi nyatanya saya pernah menjadi korban keegoisan seseorang yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi.</p>
<p>Secara umum status paranormal dan dukun dalam kacamata masyarakat awam dipandang sebagai sebuath status sosial yang terhormat dan bergengsi. Hal tersebut terlihat dari maraknya kalangan pejabat, pengusaha kecil, konglomerat, pedagang asongan, petani, nelayan, politius hingga PSK, untuk emlancarkan usahanya datang ramai-ramai ke paranormal, duku atau kyai karomah.</p>
<p>Berdasarkan hal yang telah dijabarkan diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab masyarakat mempercayai duku, yaitu mereka tidak berpegang teguh kepada aqidah yang benar, kurang nya kesabaran dalam menerima ujian kemiskinan, dan banyak diantara masyarakat yang ingin keluar dari masalah dengan cara yang instan tanpa memikirkan resiko dan dosa yang diemban. Berdasarkan pernyataan diatas daoat dioahami bahwa kepercayaan terhadap dukun dapat disebabkan oleh beberapa faktor diatas memberikan gambaran yang menjadi landasan pengamatanan saya mengenai dunia perdukunan.</p>
<p>Kenyataannya keberadaan dukun secara fungsional masih tetap dibutuhkan sehingga masyarakat tetap memiliki kepercayaan terhadapnya. Maraknya perdukunan disebabkan oleh lemahnya Aqidah atau imam mereka dan kurang nya pemahaman agama. Hal tersebut merupakan faktor utama bagi seseorang untuk mencari alternatif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat merupakan solusi yang sebenarnya lebih tepat untuk menyelesaikan masalah.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/">Fenomena Masih Maraknya Perdukunan di Daerah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Pemenang Disetiap Kondisi</title>
		<link>https://jakpos.id/menjadi-pemenang-disetiap-kondisi/</link>
					<comments>https://jakpos.id/menjadi-pemenang-disetiap-kondisi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Dec 2017 04:02:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=16155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam menjalani hidup, pasti kita akan menemukan berbagai macam rintangan yang harus kita lewati demi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjadi-pemenang-disetiap-kondisi/">Menjadi Pemenang Disetiap Kondisi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-post-16155 wp-image-16157" src="https://res.cloudinary.com/de5lnco7h/image/upload/v1513137714/1483932719-c9faa22c78076698bd1927a6e1b96e97-1_p2q1qi.jpg" width="535" height="340" />Dalam menjalani hidup, pasti kita akan menemukan berbagai macam rintangan yang harus kita lewati demi mencapai tujuan. Kita sering menemui keadaan dimana diri kita stress, putus asa dan lain sebagainya. Namun, itulah kehidupan yang harus kita jalani dan kita syukuri sebagai manusia.</p>
<p>Dalam menjalankan kehidupan ini, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi dengan keputusan yang cepat dan terukur. Ujian itu pasti ada, bahkan orang-orang diluar sana yang sekarang sudah menjadi orang-orang hebat, sebelumnya pasti mengalami berbagai keadaan yang membuat dirinya rapuh. Tetapi, ia mampu melewatinya dengan keberanian dan kekuatan. Jika dalam hidup kita tidak menemukan atau tidak merasakan cobaan, maka hidup akan terasa hambar dan biasa-biasa saja.</p>
<p>Hidup yang biasa-biasa saja tidak mengajarkan kita bagaimana menjadi orang dewasa dan sabar akan ujian yang datang pada diri kita. Orang yang berani menemui keadaan apapun dalam hidupnya dalah orang-orang yang tidak takut mengambil resiko apapun, karena dengan adanya ujian, membuat dirinya semakin termotivasi untuk bergerak lebih baik lagi dari apa yang dilakukan sebelumnya.</p>
<p>Keadaan tersulit dalam diri kita sering kali terjadi dan tidak banyak orang yang bertahan dalam keadaan yang sulit karena mereka berpikir tidak mampu dalam melewatinya dan bingung harus berbuat apa. Padahal, jika kita menikmati setiap keadaan dalam hidup ini, dan tidak menjadikannya sebagai beban, kita pasti mampu dan mau untuk bergerak maju.</p>
<p>Terkadang pikiran menyerah lebih dahulu menyelimuti otak otak manusia yang tidak percaya bisa melewati keadaan apapun dalam hidupnya.maka dari itu, jadilah pemenang dalam keadaan apapun dalam kehidupan ini, dan jadilah orang yang selalu sabar karena Allah bersama orang-orang yang sabar. Akan ada hadiah terindah yang menghampiri kita jika kita selalu siap dalam menyambut ujian yang datang pada diri kita.</p>
<p><em><strong>Oleh: Rismayanti (Mahasiswi STEI SEBI)</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjadi-pemenang-disetiap-kondisi/">Menjadi Pemenang Disetiap Kondisi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/menjadi-pemenang-disetiap-kondisi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Langkah Lindungi Anak dari Kejahatan Seksual</title>
		<link>https://jakpos.id/5-langkah-lindungi-anak-dari-kejahatan-seksual/</link>
					<comments>https://jakpos.id/5-langkah-lindungi-anak-dari-kejahatan-seksual/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Dec 2017 14:40:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[kejahatan seksual anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=16016</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maraknya pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur saat ini, mengharuskan para orang tua untuk selalu waspada dan berhati-hati. Pelecehan seksual tidak melulu dilakukan oleh orang yang tidak dikenal, tetapi bisa saja keluarga terdekat.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/5-langkah-lindungi-anak-dari-kejahatan-seksual/">5 Langkah Lindungi Anak dari Kejahatan Seksual</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_16018" aria-describedby="caption-attachment-16018" style="width: 780px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-post-16016 wp-image-16018" src="https://res.cloudinary.com/de5lnco7h/image/upload/v1512398355/kejahatan-seksual-pada-anak_csjuqj.jpg" alt="" width="780" height="390" /><figcaption id="caption-attachment-16018" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Maraknya pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur saat ini, mengharuskan para orang tua untuk selalu waspada dan berhati-hati. Pelecehan seksual tidak melulu dilakukan oleh orang yang tidak dikenal, tetapi bisa saja keluarga terdekat.</p>
<p>Karena itulah, ada baiknya orang tua menerapkan tindakan spesifik untuk mencegah anak agar terhindar dari tindak kekerasan seksual.</p>
<p>Seperti dikutp dilansir perenting.co.id, menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children di Inggris, ada 5 langkah yang bisa diterapkan.</p>
<p>Pertama, memberitahu anak area pribadinya yang tidak boleh disentuh oleh orang lain.</p>
<p>Kedua, orang tua memberikan pendidikan seksual terhadap anak dengan bahasa yang sesuai usianya.</p>
<p>Ketiga, orang tua harus memberikan pemahaman terhadap anak, bahwa anak bisa menceritakan apapun yang terjadi pada dirinya.</p>
<p>Keempat, anak diajarkan untuk tidak merahasiakan kejadian yang buruk.</p>
<p>Kelima, ajarkan anak untuk menolak apapun yang mereka tidak suka atau sesuatu hal yang menyakiti mereka.</p>
<p>Itulah 5 tindakan untuk para orang tua, agar anak bisa terlindungi dari kejahatan seksual. (Syintia)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/5-langkah-lindungi-anak-dari-kejahatan-seksual/">5 Langkah Lindungi Anak dari Kejahatan Seksual</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/5-langkah-lindungi-anak-dari-kejahatan-seksual/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
