<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ayah Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/ayah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/ayah/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Dec 2023 08:28:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Ayah Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/ayah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Peran Ayah Terhadap Kepercayaan Diri Remaja</title>
		<link>https://jakpos.id/peran-ayah-terhadap-kepercayaan-diri-remaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2023 08:28:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Kepercayaan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62203</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Peran ayah dalam mengasuh anak dan bagaimana mereka memengaruhi perkembangan anak terutama diusia&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-ayah-terhadap-kepercayaan-diri-remaja/">Peran Ayah Terhadap Kepercayaan Diri Remaja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Peran ayah dalam mengasuh anak dan bagaimana mereka memengaruhi perkembangan anak terutama diusia remaja adalah topik yang sangat mendapat perhatian di era digital. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi ayah dalam pengasuhan anak sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan emosional diri di kalangan remaja. Keterlibatan ini mencakup perkembangan moral, kesejahteraan psikologis, dan pembelajaran nilai-nilai kehidupan tentunya selain dukungan finansial.</p>
<p>Penelitian telah menunjukkan nilai partisipasi ayah dalam membesarkan anak, menyoroti fakta bahwa hal ini tidak hanya menguntungkan bagi situasi keuangan keluarga tetapi juga penting untuk kesehatan mental remaja. Ayah adalah panutan penting bagi anak-anak mereka, yang menanamkan prinsip-prinsip moral, agama, disiplin, dan tanggung jawab. Meskipun demikian, telah dicatat bahwa anak-anak cenderung lebih dekat kepada ibu mereka, yang mungkin disebabkan oleh kenyamanan emosional yang intens yang diberikan ibu untuk mereka. Namun, para ayah tetap memainkan peran penting dalam membentuk pikiran anak, baik secara positif maupun negatif.</p>
<p>Perilaku ayah sangat berdampak terhadap hasil yang diperoleh anak., pengembangan atribut seperti tanggung jawab, ketegasan, dan ketekunan dalam menghadapi kesulitan dapat dihasilkan dari ikatan emosional antara ayah dan sang anak. Selain itu, ayah yang berperan aktif dalam pengasuhan anak-anak mereka membantu mengendalikan emosi dan reaksi stres, yang berpengaruh dalam membantu remaja mengembangkan rasa percaya diri yang lebih kuat.</p>
<p>Tidak mungkin melebih-lebihkan, Menurut penelitian Erna, dkk, peran ayah berkontribusi sebesar 38 persen, komunikasi sebesar 33 persen, aktivitas bersama sebesar 36 persen, dan kedekatan emosional sebesar 31 persen terhadap kepercayaan diri anak.</p>
<p>Nilai dukungan sosial dalam pengasuhan anak, terutama kontribusi yang diberikan oleh para ayah dalam memberikan dukungan emosional dan sosial. Keterlibatan dan dukungan orang tua berpengaruh besar terhadap perkembangan sosial dan intelektual anak. Selain itu, salah satu komponen terpenting dari perilaku ayah yang membantu anak menumbuhkan rasa percaya diri adalah kemampuan untuk menjadi teman bagi anak-anak mereka dan menanamkan nilai-nilai dan norma-norma kepada mereka.</p>
<p>Disampaikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bahwa anak-anak akan merasa dekat dengan ayahnya karena ayahnya mengasuh dan memberikan kasih sayang secara aktif dan memiliki interaksi yang cukup dengan mereka. Ini akan membuat mereka secara fisik dan mental merasa lebih baik karena kehadiran ayahnya penuh dengan jiwanya.</p>
<p>Partisipasi ayah terhadap tumbuh kembang anak juga bisa membantu menekan angka gangguan psikis yang berupa father hunger, yang terjadi akibat absennya peran ayah didalam keluarga, khususnya didalam perannya menyangi anak. Dapat dibuktikan oleh Indonesia yang mendapatkan urutan ke-3 sebagai fatherless country. Isu ini memunculkan banyak sekali pertanyaan tentang eksistensi seorang ayah di dalam keluarga.</p>
<p>Menurut psikolog Amerika Serikat, Edward Elmer Smith, fatherless country berarti masyarakatnya cenderung tidak merasakan kehadiran dan peran figur ayah bagi kehidupan anaknya, baik dalam konteks fisik maupun psikologisnya. Fenomena ini memiliki dampak yang erat terhadap perkembangan diri anak, seperti kepercayaan diri pada anak.</p>
<p>Disarankan agar para ayah mengambil peran aktif dalam pengasuhan anak untuk membina hubungan yang positif dengan anak-anak mereka. Karakteristik seperti keramahan, kepercayaan, menggali minat yang sama, dan komunikasi yang erat, semuanya dapat membantu mendorong kedekatan ayah dengan anak. Para ayah dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap harga diri dan kesejahteraan anak remajanya dengan menerapkan hal-hal ini.</p>
<p>Pemahaman yang lebih besar tentang peran penting yang dimainkan oleh para ayah dalam perkembangan psikologis anak-anak mereka sangatlah dibutuhkan, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan pengaruhnya terhadap harga diri remaja.</p>
<p>Danyah Abidya<br />
Mahasiswa Universitas Brawijaya</p>
<p>.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-ayah-terhadap-kepercayaan-diri-remaja/">Peran Ayah Terhadap Kepercayaan Diri Remaja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/static.promediateknologi.id/crop/0x0:0x0/750x500/webp/photo/2023/04/10/Apa-Itu-Father-Hunger-504887368.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Biarlah Ia Mencintai Dalam Diamnya</title>
		<link>https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 17:42:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biarlah ia mencintaiku dalam diamnya Biarlah cinta itu tak terucapkan Rasa cintanya akan tetap kurasa&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/">Biarlah Ia Mencintai Dalam Diamnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5803" aria-describedby="caption-attachment-5803" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/anak-ayah-gandengan-tangan_20150602_120627.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-5802 wp-image-5803" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/anak-ayah-gandengan-tangan_20150602_120627.jpg" alt="Ilustrasi (google)" width="700" height="393" /></a><figcaption id="caption-attachment-5803" class="wp-caption-text">Ilustrasi (google)</figcaption></figure>
<p><em>Biarlah ia mencintaiku dalam diamnya</em><br />
<em> Biarlah cinta itu tak terucapkan</em><br />
<em> Rasa cintanya akan tetap kurasa meski tak sepatah kata diucapkan.</em></p>
<p>Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tidak akan habis termakan masa, tapi di belakang sosok ibu yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungannya secara terang-terangan kepada anaknya, ada sosok ayah di belakangnya. Sosok ayah yang diam-diam mengkhawatirkan anak-anaknya.</p>
<p>Ayah yang jika dekat terlihat cuek dan tak acuh. Sosok ayah yang terkadang terlihat begitu sibuk dengan dunianya sendiri. Diam-diam dialah yang memperhatikan apa yang sedang aku lakukan, diam-diam dialah yang mengkhawatirkanku. Di saat aku pulang telat ke rumah raut khawatir tergurat jelas di wajahnya. Seberondong pertanyaan juga tak akan lupa ia tanyakan kepadaku. kemana aku pergi tadi ? apa yang terjadi seharian ini padaku? dan jika aku terlambat pulang ia akan bertanya kenapa aku terlambat pulang.</p>
<p>Ayah sosok yang dengan ikhlas menguras seluruh tenaganya demi anak yang ia kasihi. Ayah yang hanya mengukir senyum di kala ia letih. Tubuh yang kian hari makin renta, namun tak pernah mengeluh. Tinggal jauh dari ayah membuatku menyadari betapa besar kasih sayangnya, pertemuan yang tak intens lagi membuatku semakin peka terhadap kasih sayang yang ia curahkan padaku.</p>
<p>Kala itu ia datang, dalam perjalanan bertemu denganku ayah menelfon, kalimat yang dikatakan ayah dalam telfon membuat hatiku terenyuh “ kak, papa lagi di jalan, ntar lagi sampai. Nanti beli nasi bungkus ya, kita makan berdua.” Seketika hatiku seakan jatuh, ia tak mengungkapkan rindunya secara gamblang. Ia menyuratkan kerinduannya padaku dengan kalimatnya yang mengatakan ingin makan berdua.</p>
<p>Pergi pagi pulang petang, hingga harus berada jauh dari sisi keluarga rela dilakukan oleh ayah untuk menafkahi serta memperjuangkan kehidupan keluarganya. Tak pernah sekalipun terdengar kata keluhan terucap dari bibirnya. Bahkan kata rindu pun tak ia ucapkan secara gamblang, ia hanya menyiratkan kerinduannya lewat kalimat yang biasa ia ucapkan, ia hanya menyiratkannya dengan tindak tanduknya.</p>
<p>Di sana letak keikhlasan seorang ayah, tak banyak kadang yang menyadari bagaimana perjuangan seorang ayah, lelahnya seorang ayah. Bagaimana seorang ayah yang hanya bisa menitipkan rasa cemas, rasa ingin tahu, serta rasa ingin menjaga anaknya kepada seorang ibu. Hingga membuat sang anak lupa jika ada seorang ayah yang selalu mengkhawatirkannya. Terkadang aku juga lupa akan ayah, namun pertemuan singkatku dengannya membuatku sadar bahwa di balik sosok ibu selama ini ada ayah yang selalu memperhatikanku.</p>
<p><strong>Tesa Bismihayati</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/">Biarlah Ia Mencintai Dalam Diamnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masihkah Kau Menilai Ayah dengan Sebelah Mata?</title>
		<link>https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/</link>
					<comments>https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 07:09:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dia mungkin bukan sosok lelaki sempurna, tapi yang pasti, dia akan melakukan apa saja untuk&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/">Masihkah Kau Menilai Ayah dengan Sebelah Mata?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dia mungkin bukan sosok lelaki sempurna, tapi yang pasti, dia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan keluarganya. bahkan ketika nyawa taruhannya.</strong></p>
<figure id="attachment_5774" aria-describedby="caption-attachment-5774" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/k3-pekerja-burj-dubai.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5768 wp-image-5774" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/k3-pekerja-burj-dubai.jpg" alt="Ilustrasi." width="500" height="380" /></a><figcaption id="caption-attachment-5774" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Sosok pekerja keras melekat padanya. Bekerja dari sang surya terbit hingga terbenam. Segala macam rintangan, seperti hujan, panas, maupun yang mengancam keselamatannya tetap ia terjang, hanya demi mencari nafkah untuk keluarganya. Kata “malas” dan “menyerah” pantang baginya.</p>
<p>Ia adalah sosok bertanggung jawab. Meski anaknya suka mengeluh dan menuntut kepadanya, ia selalu mau mendengarkan dan terus berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang Ayah, yaitu membahagiakan anaknya.<br />
Sifatnya keras dalam mendidik sehingga menjadi sosok yang ditakuti. Namun, di balik sifat kerasnya, tersimpan hati yang lembut, berisi cinta sebesar cinta Ibu. Ia memang tidak dapat menyampaikan cintanya melalui kata-kata indah, namun pengorbanannya adalah wujud cintanya yang tulus.</p>
<p>Ia pintar menyembunyikan rasa. Hanya sekilas dapat terlihat raut wajahnya yang tampak lelah saat tiba di rumah. Begitu pula saat ia kehilangan sosok orang yang dicintainya, dirinya tak mau menampakkan tangisan di wajahnya karena tetap ingin terlihat kuat di depan anaknya.</p>
<blockquote><p>Ia mencintai dalam diam. Ia pintar menyembunyikan rasa. Ia sosok menginspirasi. Ia satu-satunya laki-laki yang tak pernah menyakiti. Ialah sosok yang sering dipanggil dengan sebutan Ayah.</p></blockquote>
<p>Akan tetapi, semua rasa yang selama ini berhasil disembunyikannya dapat terlihat jelas saat ia tertidur. Wajahnya menampakkan rasa lelah yang teramat, terdapat kantung mata, wajahnya terlihat lesu dan pucat, serta raut wajahnya terlihat gelisah. Terkadang tidurnya tak lelap, sering kali terbangun dari tidurnya.</p>
<p>Sungguh banyak rasa yang telah ia sembunyikan dengan sempurna dari orang-orang terdekatnya. Tak pernah baginya mengeluh akan suatu hal karena tak mau menambah beban pikiran orang lain. Bagi yang tak begitu mengenalnya, pasti akan merasa tertipu dengan topeng yang dikenakannya.</p>
<p>Ayah memang tidak mengandung, tapi di dalam darah anaknya mengalir darahnya. Ia tidak melahirkan, tapi dirinyalah yang paling mengerti kesakitan Ibu. Ia juga tidak menyusui, tapi dari keringatnyalah yang menjadi setiap tetes air susu anaknya.</p>
<p>Masihkah kau menilai Ayah dengan sebelah mata? Di saat tiap keringat dan hembusan napasnya hanya ditujukan untuk keluarganya. Kerja keras dan usahanya bahkan tak pernah ia ungkit atau berharap diganti. Kasih sayangnya selalu membekas di hati dan tak lekang oleh waktu. Ayah adalah pahlawan sejati yang nyata dalam kehidupan. Terima kasih atas kasih, cinta, dan pengorbanan tulus yang tak terganti. Terima kasih, Ayah.</p>
<p><strong>Fitriana Monica Sari</strong><br />
<strong>Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/">Masihkah Kau Menilai Ayah dengan Sebelah Mata?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rumah Terindah</title>
		<link>https://jakpos.id/rumah-terindah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/rumah-terindah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 May 2016 12:11:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5690</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tak seperti biasanya, sore ini begitu sunyi dan lengang. Suasananya santai dan udaranya sejuk untuk&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rumah-terindah/">Rumah Terindah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5691" aria-describedby="caption-attachment-5691" style="width: 576px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/logo-home-sweet-home-clipart-2.jpg"><img decoding="async" class="wp-post-5690 wp-image-5691 size-full" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/logo-home-sweet-home-clipart-2.jpg" alt="logo-home-sweet-home-clipart-2" width="576" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5691" class="wp-caption-text">Ilustrasi</figcaption></figure>
<p>Tak seperti biasanya, sore ini begitu sunyi dan lengang. Suasananya santai dan udaranya sejuk untuk dihirup.<br />
Langit sore ini berwarna kekuningan, ini semua karena sebelum senja tadi terjadi mencairnya air hujan. Ia membiaskan cahaya di langit, biasanya lahir si pelangi.,namun tak terlihat kali ini.</p>
<p>Ruang kamar kos ini lumayan nyaman, walaunpun penuh barang karena dihuni oleh dua gadis. Memang tidak senyaman kamar di rumah tetapi kamar ini bisa membuat nyaman saat tertidur lelap.</p>
<p>Tidak akan pernah ada tempat nyaman rumah sendiri. Ya, perasaan nyaman saat di rumah. Rasanya bisa membagi seluruh gundah gulana hingga keceriaan di rumah. Selalu menganggap rumah adalah surga. Sore yang sejuk ini mengingatkan pada sosok Ayah.</p>
<p>Seorang pria yang paruh baya itu selalu membersihkan gigi, menyisir rambut, mengantar kemanapun putrinya ingin pergi walaupun berkendara berpuluh-puluh kilometer, beliau selalu ada saat menengok kebelakang. Ayah adalah rumah.</p>
<p>Ayah adalah pria yang sangat pekerja keras, ulet, dan tidak pernah putus asa. Ia bekerja sebagai desainer grafis di perusahaan advertising swasta di Jakarta, kesibukannya kadang membuat ia tak bisa setiap hari berjumpa dengan putrinya. Setiap kali didekatnya, ada hal yang selalu menyenangkan untuk dilihat oleh mata. Terlihat saat guratan senyumnya muncul, senyumnya selalu berbinar walaupun wajahnya pucat pasi.</p>
<p>Hal yang paling indah yang bisa dibagikan itu ada tiga: waktu, ilmu, dan materi. Ketiga hal itu didapat dari ayah. Yang paling utama adalah ayah rela memberikan banyak waktu dan ilmunya. Itu yang paling berarti.</p>
<p>Saat masih kanak-kanak putrinya jarang bisa bertemu dengan ayahnya. Karena sibuk mengurusi event di luar kota, ia pernah tidak bertemu dengannya selama enam bulan lebih. Hanya suara yang dapat mempertemukan keduanya. Setiap malam hal yang ditunggu adalah telepon dari ayah. Putrinya selalu merindukannya.</p>
<p>Rasanya tidak pernah ingin jauh dari Ayah, Ayah mengajarkan banyak hal. Ayah selalu menanamkan kepercayaan dan menjadikan putrinya anak perempuan yang berani. Hingga sekarang. Ia juga mengajarkan untuk selalu menjadi diri sendiri dalam keadaan apapun. Teringat pada perkataan ayah “Bekalmu nasi goreng maka kamu akan jadi nasi goreng, bekalmu mi goreng maka kamu akan jadi mi goreng, bekalmu cahaya maka jadilah cahaya” Ayah membekali anaknya dengan itu semua hingga menjadikan anaknya kuat seperti sekarang.</p>
<p>Ayah selalu berusaha untuk menafkahi keluarganya, dengan cara apapun asalkan halal ia rela. Dengan kuatnya ia melakukan itu semua agar aku bisa lanjut bersekolah dan makan makanan yang sehat setiap harinya. Kehebatannya menyembunyikan segala sedih dan kepiluannya hingga ini masih membuat takjub.</p>
<p>Saat ada masalah dan tidak tahu lagi harus bagaimana, ayah menjadi tempat berbagi cerita. Berbagi waktu dan cerita dengannya adalah hal yang paling nyaman dan menentramkan hati. ia selalu mau mendengarkan semua keluh kesah, Ayah selalu tertawa bila sedang bercerita sedih. “ya kalau temen atau dosen ngeselin kok ya jangan di balikin kesel dong, nanti juga dia capek sendiri hahahaha anak ayah enggak boleh cengeng ah” ujarnya saat bercerita.</p>
<p>Setiap kali menghabiskan waktu rasanya tidak pernah cukup, rasanya ingin berbagi cerita dan tawa dengannya. Tapi bukankah memang begitu? Waktu memang tidak pernah selalu cukup.</p>
<p>Ayah selalu menegaskan “jangan pernah pelit sama siapapun, kalo punya ilmu, waktu atau uang ya bagi juga ke orang lain, jangan dimakan sendiri. Mau kamu jadi orang serakah terus perutnya buncit? ”</p>
<p>Sesungguhnya berbagi itu hal yang mudah jika kita mulai dari hal kecil hingga ke hal yang besar. Tidak peduli sesulit apapun itu, berbagi harus dilakukan. Karena sedari kecil hingga besar selalu diajarkan berbagi.</p>
<p>Rumah selalu memberikan tempat ternyaman untuk melakukan banyak hal, saat sedih pun bisa terasa nyaman di dalam rumah untuk mengobati rasa sedih. Ayah bak rumah yang menjadi tempat ternyaman, tempat di mana bisa meluapkan segala rasa yang ada dalam hati. Memang terkadang rasanya ingin pergi dan lari dari rumah untuk mencari banyak hal baru. Terkadang, rasanya ingin jauh dari Ayah agar bisa menghadapi dunia. Karena Ayah sudah menjadikan putrinya wanita yang hebat dan tidak takut akan apapun.</p>
<p>Setelah jauh dari rumah, banyak bertemu orang, memperhatikan banyak hal, sekarang banyak orang yang tidak menjadi dirinya sendiri dalam usaha menjadi dirinya sendiri. Memang hal yang terlihat mudah namun sulit untuk dilakukan. Ayah bilang “tetaplah jadi diri sendiri, nggak ada yg kayak ade. Orang kepala batu ini cuma ada satu di dunia. Ade spesial pokoknya”.</p>
<p>Sebagai manusia pasti ingin mencari apa yang diinginkan bagaimanapun caranya. Walaupun hingga mengelilingi dunia, banyak bertemu orang, berkendara berpuluh-puluh bahkan ribuan kilometer, makan pagi dan makan siang di tempat yang berbeda, berbicara banyak hal hingga mendengarkan apapun yang ditemui telinga dan ini adalah apa yang kita inginkan, setelah itu baru setelahnya akan sadar sesungguhnya hal inginkan adalah pulang ke rumah.</p>
<p><strong>Sonya Annasha Bonita</strong><br />
<strong> Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rumah-terindah/">Rumah Terindah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/rumah-terindah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ayah Akan Selalu Menjadi Cinta Pertama Putrinya</title>
		<link>https://jakpos.id/ayah-akan-selalu-menjadi-cinta-pertama-putrinya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/ayah-akan-selalu-menjadi-cinta-pertama-putrinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 17:51:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5656</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bicara soal cinta, begitu indah untuk sebagian orang yang merasakannya. Bagi seorang anak perempuan, sosok&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ayah-akan-selalu-menjadi-cinta-pertama-putrinya/">Ayah Akan Selalu Menjadi Cinta Pertama Putrinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5657" aria-describedby="caption-attachment-5657" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/fatherdaughter.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5656 wp-image-5657" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/fatherdaughter.jpg" alt="Ilustrasi." width="600" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5657" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Bicara soal cinta, begitu indah untuk sebagian orang yang merasakannya. Bagi seorang anak perempuan, sosok laki-laki yang membuatnya jatuh dalam cintanya, jatuh pada cinta yang sempurna. Sosok pahlawan untuknya dan keluarganya. Ia yang dipanggil dengan sebutan Ayah.</p>
<p>Usianya hampir diujung senja. Rambutnya mulai memutih, tetapi masih berdiri gagah sebagai malaikat penjaga tanpa sayap untuk putrinya. Macan pelindung yang siap menerkam siapapun yang akan menyakiti putri kecilnya.</p>
<p>Ayah, ia adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Sosok yang mampu membuat putrinya terjatuh dalam pelukan hangat cinta kasihnya. Ayah, si pekerja keras yang tak pernah kenal lelah. Ia selalu mampu membuat keluarga kecilnya bahagia. Berkerja dari pagi hingga malam demi membahagiakan keluarga kecilnya.</p>
<p>Ayah, sosok yang begitu penyayang. Ia selalu bisa membuat putri kecilnya bahagia. Ayah tak pernah lupa membuat kejutan kecil untuk sang putri dikala mendapat prestasi. “Dapat peringkat berapa? Mau hadiah apa?” kalimat yang selalu diutarakan saat putrinya mendapat prestasi.</p>
<p>Saat larut malam, telihat rawut wajahnya yang pucat. Ia sedang duduk di teras rumah menunggu putrinya yang tak kunjung pulang. Pandangan sayup dan mata yang memerah menandakan tulus cintanya menunggu putri kecilnya kembali pulang.</p>
<p>Ayah, sosok yang begitu penyabar. Tak pernah marah, ia hanya menegur dikala putri kecilnya berbuat salah. Ia adalah pemimpin keluarga yang berhati lembut. Tak pernah kasar atau membentak selagi marah. Ia hanya diam membisu dan menegur dengan penuh kasih sayang disaat amarahnya memuncak.</p>
<p>Diusia sang putri yang meranjak dewasa, ia masih tetap menganggap putrinya sebagai putri kecil. Memanjakan putrinya dengan penuh kasih sayang. Ayah selalu menjadi anutan setiap anak perempuannya.</p>
<p>Belajar menjadi lebih baik dan selalu berdoa untuknya adalah cara seorang anak perempuan untuk membalas semua yang telah ia berikan.</p>
<p>Ayah, ia adalah cinta pertama untuk putrinya. Ayah yang membuat seorang anak perempuannya selalu merasa menjadi putri kecil keistimewaannya. Anak perempuan mana yang tak bangga memiliki cinta pertama dari sang ayah. Ayah, pahlawan putri kecilnya.</p>
<p>Putri kecilnya mencintainya tanpa syarat. Tak ingin berpisah dengannya seperti roti dan selai cokelat kesukaan putrinya. Menyayanginya setulus jiwa. Terimakasih atas segalanya. Ayah, sehat selalu ya!</p>
<p><strong>Oleh Siti Azizah</strong><br />
<strong> (Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ayah-akan-selalu-menjadi-cinta-pertama-putrinya/">Ayah Akan Selalu Menjadi Cinta Pertama Putrinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/ayah-akan-selalu-menjadi-cinta-pertama-putrinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Si Manusia Rela Itu Bernama&#8230;</title>
		<link>https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/</link>
					<comments>https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 16:50:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5648</guid>

					<description><![CDATA[<p>Matahari mulai bergeser ke arah barat. Senja mulai datang untuk menyambut malam. Lama-kelamaan, matahari mulai&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/">Si Manusia Rela Itu Bernama&#8230;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5649" aria-describedby="caption-attachment-5649" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/old_man_sunset_by_thelifeinfocus-d5f5g8t-640x427.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5648 wp-image-5649" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/old_man_sunset_by_thelifeinfocus-d5f5g8t-640x427.jpg" alt="Ilustrasi." width="600" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5649" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Matahari mulai bergeser ke arah barat. Senja mulai datang untuk menyambut malam. Lama-kelamaan, matahari mulai menghilang dan bergantikan malam yang gelap dan pekat. Dengan raut wajah yang lelah, ia membuka pintu dan mengucapkan salam. Menaruh tas dan seluruh dokumen yang ia bawa. Terdengar jelas helaan napasnya. Mungkin ia berharap masalah hari itu akan hilang begitu saja.</p>
<p>Usianya sudah hampir setengah abad. Namun, ia masih semangat bekerja. Tidak ada satu keluhan pun yang keluar dari bibirnya. Ia selalu berusaha dan berusaha agar dapat memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Dia juga rela melakukan apa saja. Dia adalah seseorang yang disebut, Ayah.</p>
<p>Hari-harinya selalu dipenuhi masalah. Tapi, dia selalu rela mendengarkan seluruh keluhan anaknya yang tak seberapa. Ia selalu menjadi pendengar yang baik. Tidak pernah mencela, tidak pernah memotong pembicaraan. Hanya menjadi pendengar dan memberikan pendapatnya.</p>
<p>Sudah setahun belakangan ia harus pindah ke luar Jakarta. Hal ini membuatnya sedih karena hal tersebut membuat ia dan keluargannya berjauhan. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini sudah menjadi konsekuensi dari pekerjaan yang harus dia terima. Toh, hanya jarak yang memisahkan ia dari keluargannya.</p>
<p>Dia akan pulang ke rumah sekitar satu bulan atau dua bulan sekali. Tergantung kesibukan yang sedang ia hadapi. Sebuah ketakutan terbesit dibenak keluarganya. Takut kalau hal yang tidak diinginkan terjadi dan tidak bisa membantu saat ia butuh pertolongan.</p>
<p>Ketakutan itu ternyata benar. Senin pagi, ayah masuk ruang ICU. Ia terkena serangan jantung. Entah bagaimana keadaanya saat itu. Tidak ada yang bisa menolong selain berdoa dan berharap ia akan baik-baik saja.</p>
<p>Selang beberapa jam, ia masih harus berada di ruang ICU dan harus menunggu keputusan dokter mengenai jantungnya. Sayangnya, hasil keputusan dokter tidak bisa didapat pada hari itu juga. Ia dan keluargannya harus menunggu dua atau tiga hari lagi.</p>
<p>Setelah menunggu keputusan yang cukup lama, dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan operasi padanya. Penyempitan yang terjadi di jantungnya sudah sangat parah. Pemasangan ring pada jantungnya merupakan solusi terbaik. Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi pada malam itu juga.</p>
<p>Peristiwa itu menyadarkan keluargannya. Membuat anak-anaknya tersadar betapa pentingnya dia bagi anak-anaknya. Merelakan hari liburnya, kurang tidur, kelelahan, bahkan sakit hanyalah sebagian kecil pengorbanan yang ia lakukan. Pengorbanan dan kerja kerasnya tidak akan pernah tergantikan oleh apapun.</p>
<p>Ia adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuk menaungi keluarganya. Harapan yang ia katakan pada anak-anaknya sangatlah sederhana. Berharap suatu hari nanti anak-anaknya bisa menjadi seseorang yang lebih baik darinya.<br />
Ayah tidak banyak menuntut apapun. Ia melebihi definisi dari kata sempurna. Ia sederhana tapi pengorbanannya istimewa. Ia adalah manusia yang rela. Rela, bertarung sampai mati demi nafas bahagia keluarganya.</p>
<p>Ditulis oleh <strong>Savira Tavana Dewi</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/">Si Manusia Rela Itu Bernama&#8230;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Catatan Seorang Anak yang Merindukan Ayahnya</title>
		<link>https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 04:22:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5633</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ayah mungkin akan selalu menjadi sosok lelaki terhebat yang pernah kita temui. Tidak hannya menjadi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/">Catatan Seorang Anak yang Merindukan Ayahnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5634" aria-describedby="caption-attachment-5634" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/ayah-dan-anak.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5633 wp-image-5634" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/ayah-dan-anak.jpg" alt="Ilustrasi." width="600" height="337" /></a><figcaption id="caption-attachment-5634" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Ayah mungkin akan selalu menjadi sosok lelaki terhebat yang pernah kita temui. Tidak hannya menjadi sosok seorang ayah yang baik dan tegas, tetapi seorang Ayah bagaikan seorang sahabat sekaligus peri di dunia nyata. ia bisa melakukan apa saja sesuai apa yang kita inginkan.</p>
<p>Saat kita menginginkan sesuatu pasti Ayah dengan cepat mengabulkan permintaan sang anak. Contohnya saat itu anaknya menginginkan sebuah sepeda dan sang anak mengatakan hal tersebut kepada sang Ayah. Selang beberapa jam setelah sang anak memintanya tiba-tiba saja sepeda yang sang anak inginkan itu sudah ada di depan teras rumah. Betapa senangnya hati sang anak saat itu.</p>
<p>Seorang Ayah tak akan pernah lelah mengajari anaknya bagaimana caranya menjadi anak yang baik, dan peduli terhadap sesama manusia. Ayah selalu mengajakan kepada anaknya agar bersikap sopan dan santun terhadap anaknya selali itu ayah pernah mengatakan satu pesannya yang selalu kami ingat “Jadi orang itu <em>ga boleh</em> pelit, nanti kamu <em>ga</em> punya temen <em>kalo</em> pelit. Selagi kamu punya sesuatu yang lebih berikan juga kepada teman-temanmu”.</p>
<p>Ayah juga merupakan sesosok orang yang penyabar. Bisa dilihat dari perlakuannya kepada anak-anaknya. Saat anaknya melakukan sebuah kesalahan, sedikitpun ia tidak pernah memarahi. Sebesar apapun kesalahan anak-anaknya kepadanya. Ia tak pernah mengatakan kata-kata kasar ataupun melakukan kekerasan terhadap anaknya.</p>
<p>Betapa sangat merindukan masa-masa itu, masa di mana kita selalu melewati waktu bersama disetiap hari, disetiap menit, dan di setiap detiknya. Selalu kita jalani bersama dengan hati riang gembira.</p>
<p>Namun nasib berkata lain, pada 3 Mei 2004 Ayah menghembuskan nafas terakhirnya di depan kami. Saat itu kami masih polos, tidak mengerti apa-apa saat semuanya menangisi kepergian sang Ayah. Yang kami lakukan hannya melihat jasad Ayah yang sedang tertidur pulas sambil terlihat tersenyum bahagia. Sebelum Ayah menghembuskan nafas terakhirnya, Ayah sempat berpesan kepada kami untuk rajin beribadah, menjalankan sholat lima waktu tepat pada waktunya.</p>
<p>Walau kini ayah sudah tak ada di sisi, akan tetapi kami masih bisa merasakan bahwa ayah masih terus melihat dan menjaga kami di kejauhan sana. Ayah, semoga engkau tenang di sana. Di sini, kami akan selalu ingat akan semua nasihat yang engkau berikan. Semoga kita bisa berjumpa lagi di surga nanti. Dariku yang sedang merindukanmu.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Adinda Pertiwi</strong><br />
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/">Catatan Seorang Anak yang Merindukan Ayahnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rindu Untukmu Ayah</title>
		<link>https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 May 2016 14:10:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kasih sayang selalu diberikan oleh setiap orang tua. Tak hanya itu, mereka selalu lantunkan doa&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/">Rindu Untukmu Ayah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5622" aria-describedby="caption-attachment-5622" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/tumblr_inline_mugquu1u6m1r4vqpv.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-post-5621 wp-image-5622 " src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/tumblr_inline_mugquu1u6m1r4vqpv.jpg" alt="ilustrasi. (tumblr)" width="510" height="339" /></a><figcaption id="caption-attachment-5622" class="wp-caption-text">ilustrasi. (tumblr)</figcaption></figure>
<p>Kasih sayang selalu diberikan oleh setiap orang tua. Tak hanya itu, mereka selalu lantunkan doa dan harapan yang terbaik untuk anak-anaknya. Air mata, keringat, dan nyawa pun mereka taruhkan untuk kebahagiaan keluarga dan buah hatinya. Walaupun harus berjuang mengarungi lautan.</p>
<p>Tak ada satu orang pun di dunia ini yang menginginkan kehilangan orang tua. Bersyukur dan berbahagialah jika kalian masih memiliki keluarga yang lengkap. Saya merasa beruntung karena masih memiliki keluarga yang utuh, tak merasakan sebuah kehilangan.</p>
<p>Dari jutaan anak di dunia, mereka menyepelakan peran orang tua dalam kehidupannya. Membantah dan menganggap angin berlalu setiap kata yang terlontar darinya. Lupa dengan kewajiban sebagai anak yang harus berbakti kepada orang tua, termasuk saya. Entah bagaimana saya membalas jasa mereka?</p>
<p>Saya sangat beruntung, dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhana. Ayah dan Ibu mengajarkan kami selalu bersyukur di setiap keadaan.</p>
<p>Kekecewaan, masih sering saya lakukan pada mereka. Hanya mampu meneteskan air mata kesedihan. Tetapi saya berpikir, saya hanya bisa memberikan kebahagiaan melalui nilai di bidang pendidikan. Walaupun saya sering menyakiti hatinya dengan hal disadari atau tidak disadari, saya sangat menyayanginya.</p>
<p>****</p>
<p>Effendi, nama yang selalu saya sebut dalam doa. Wajah yang selalu bersinar, muda dan tidak ada sedikit pun rambut yang berwarna putih, memberikan sinyal bahwa ia adalah seorang laki-laki kuat yang memiliki seribu alasan dilahirkan di dunia ini.</p>
<p>Membahagiakan keluarganya, adalah sebagian kecil tapi dengan perjuangan sangat besar yang ingin ia capai. Mungkin, inilah alasan mengapa ia lahir di dunia ini. Sosok ayah yang rela mengorbankan waktu kebersamaannya dengan keluarga.</p>
<p>Jauh dari keluarga pun ia relakan untuk mencari nafkah. Badai dan ombak besar pun beliau terjang untuk tetap menjalankan tugas sebagai teknisi mesin kapal.</p>
<p>***</p>
<p>Bagi Ayah, manusia yang memiliki pendidikan tinggi tidak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Menurutnya, pendidikan ialah nomor satu, ia mendukung ketiga anak-anaknya dalam mencapai pendidikan setinggi mungkin. Ayah tak pernah memaksa saya untuk mendapatkan juara kelas, tetapi saya selalu berusaha untuk mencapai semua yang diinginkannya. Ia berkata seperti itu karena tak ingin memberatkan saya dalam menjalankan pendidikan.</p>
<p>Dari dulu hingga sekarang, saya berusaha memberikan hasil yang terbaik. “Alhamdulillah, ayah sangat senang mendengar nilai kakak, semua beban ayah seketika hilang. Ayah bangga dengan kakak”, ujar Ayah. Air mata kebahagiaan pun menetes karena sudah membuat ayah senang meskipun hanya sebatas nilai.</p>
<p>Ayah tak pernah membentak saya, namun sikapnya yang sangat tegas dalam mendidik membuat saya seperti sekarang ini. Ia adalah sosok yang saya rindukan.</p>
<p>Seiring bertambahnya usia, saya paham dengan apa yang dilakukan ayah selama ini. Semuanya ia lakukan untuk kebaikan anak-anaknya. Beruntung, bahagia, dan bersyukur adalah ungkapan karena memiliki ayah hebat sepertinya. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup saya.</p>
<p>Akan tiba saatnya, orang tua saya mengistirahatkan dirinya di rumah dan menikmati hasil kerja keras dan bimbingan terhadap anak-anaknya selama ini.</p>
<p>Kutitipkan rindu ini untuk Ayah di sana.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Feny Sasmitha</strong><br />
(Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/">Rindu Untukmu Ayah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
