<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bank syariah Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/bank-syariah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/bank-syariah/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jun 2025 04:37:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>bank syariah Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/bank-syariah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Syariah Itu Keren! Bank Syariah Harus Kekinian demi Menarik Hati Gen Z</title>
		<link>https://jakpos.id/syariah-itu-keren-bank-syariah-harus-kekinian-demi-menarik-hati-gen-z/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2025 04:37:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[bank syariah]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berbeda dengan realita, masih banyak yang belum mau hijrah ke bank syariah, ada apa ya?</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/syariah-itu-keren-bank-syariah-harus-kekinian-demi-menarik-hati-gen-z/">Syariah Itu Keren! Bank Syariah Harus Kekinian demi Menarik Hati Gen Z</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h4><em>Berbeda dengan realita, masih banyak yang belum mau hijrah ke bank syariah, ada apa ya?</em></h4>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Dewasa ini, Gen Z adalah raja di dunia digital; termasuk ekonomi. 75% Gen Z saat ini memiliki dan aktif menggunakan e-wallet untuk menabung, belanja, hingga investasi. Tapi sayangnya, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Populix pada tahun 2023 menyebutkan bahwa hanya 12% dari teman-teman Gen Z yang memiliki rekening di bank syariah. Apakah bank syariah belum “kekinian” menurut teman-teman Gen Z, atau ada yang belum paham konsep perbankan syariah itu sendiri?</p>
<p>Gen Z itu unik. Mereka bisa nongkrong membahas dunia keuangan sembari menyeruput americano di coffee shop langganan mereka. Mereka cepat, serba digital, dan kini sudah mulai banyak yang peduli dengan gaya hidup halal. Nyatanya, prinsip syariah itu sejalan dengan semangat teman-teman Gen Z: adil, transparan, no ribet-ribet.</p>
<p>Berbeda dengan realita, masih banyak yang belum mau hijrah ke bank syariah, ada apa ya? Artikel ini akan membantu teman-teman untuk memahami lebih dalam yang semestinya dilakukan oleh perbankan syariah agar lebih relatable dengan teman-teman Gen Z.</p>
<h3>Gen Z Tidak Cuma Mau Halal, Tapi Cepat dan Personal</h3>
<p>Gen Z adalah generasi yang lahir di era digital native atau era yang serba digital. Mereka terbiasa dengan hal-hal yang praktis, cepat, dan mudah diakses. Termasuk urusan finansial. Bagi Gen Z, membuka rekening baru di sebuah bank bukan hanya sekedar menaruh uang, tapi juga pengalaman.</p>
<p>Mereka ingin melakukan transaksi atau investasi itu dengan simpel, hanya dengan aplikasi tanpa harus mendatangi ATM atau kantor cabang. Sebanyak 68% Gen Z memilih fintech karena prosesnya yang anti ribet ketimbang bank umum.</p>
<p>Gen Z peduli dengan hal-hal yang berbau keberlanjutan. Mulai dari keuangan bebas riba hingga financial freedom. Mayoritas Gen Z lebih percaya dengan review yang diunggah di media sosial ketimbang iklan-iklan yang terpampang di baliho ataupun TV. Mereka menuntut autentik dan juga lebih relate dengan kehidupan mereka.</p>
<h3>Bank Syariah Masih Terlihat Kuno Bagi Gen Z</h3>
<p><strong>Aplikasi Kurang User Friendly</strong></p>
<p>Gen Z sudah terbiasa dengan antarmuka aplikasi yang responsif dan juga aesthetic. Namun, bank syariah kebanyakan di Indonesia masih terkesan ‘jadul’ bagi sebagian besar Gen Z yang membuat mereka bingung dengan tampilan, loading yang lambat hingga proses pembukaan rekening yang memakan waktu cukup banyak. Padahal di bank digital lain daftar rekening baru memerlukan waktu hanya sampai 5 menit.</p>
<p><strong>Komunikasi Perusahaan yang Kurang Relate Dengan Gen Z</strong></p>
<p>Istilah syariah seperti mudharabah, wadiah, dan yang lainnya kurang familiar dan sulit dimengerti di telinga Gen Z yang sebenarnya adalah hal paling penting secara hukum fikih. Bank syariah semestinya memberikan pendekatan yang to the point, menggunakan visual, dan relate dengan keseharian Gen Z.</p>
<p><strong>Inovasi Produk Yang Minim</strong></p>
<p>Produk-produk yang ditawarkan oleh perbankan syariah terkadang terasa kaku dan kurang kreatif. Sementara produk yang ditawarkan oleh bank yang lain sudah memiliki jenis tabungan yang diikutsertakan dengan nama-nama yang asik seperti:</p>
<ul>
<li>Nabung beli HP</li>
<li>Dompet Jajan Anabul</li>
<li>Investasi Crypto ‘to the moon’</li>
</ul>
<p>Saat ini, perbankan syariah semestinya melakukan inovasi yang lebih ‘kekinian’ demi menarik hati teman-teman Gen Z tanpa harus menghilangkan prinsip syariah.</p>
<h3>Saatnya Bank Syariah Jadi ‘Kece’ di Kalangan Gen Z</h3>
<p>Gen Z butuh alasan yang konkret ketika diberi pilihan hijrah ke bank syariah. Mereka tidak hanya ingin memilih karena “sesuai syariah” saja, namun mereka ingin bank syariah lebih adaptif, kreatif, dan relevan sehingga mampu menarik minat teman-teman Gen Z.</p>
<p>Buat Gen Z, iklan yang berseliweran di TV atau baliho itu sudah lewat zamannya. Kini, mereka lebih percaya dengan konten yang lebih relate dengan mereka yang biasa mereka temukan di FYP TikTok ataupun Reels Instagram.</p>
<p>Beberapa cara yang bisa bank syariah lakukan adalah dengan berkolaborasi dengan influencer yang berbasis syariah dan juga menciptakan konten singkat namun mengena serta relate dengan teman-teman Gen Z.</p>
<p>Kuncinya adalah: menjual “syariah” tidak semestinya terasa kaku, namun bisa dikemas dengan kreatif dan sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh teman-teman Gen Z. Mereka tidak hanya melihat bank syariah sebagai cara menabung yang halal, namun juga harus memiliki kesan cepat, kreatif, dan sesuai dengan masa kini.</p>
<p>Gen Z tidak hanya butuh yang syariah, tapi juga harus terasa personal dan cepat. Bank yang memenangkan kompetisi adalah mereka yang mengerti kebutuhan, tidak terasa kaku, dan membentuk cara mereka mengambil keputusan finansial.</p>
<p>Kalau bank syariah tidak segera bertindak, apakah Gen Z akan memilih fintech konvensional yang lebih baik dan lebih responsif?</p>
<p>Sekarang waktunya bukan cuma hanya “yang penting digital”, tetapi seharusnya melakukan perubahan masif secara digital yang mengerti Gen Z. Ini bukan hanya soal canggih, namun juga soal pendekatan yang lebih personal serta memiliki empati bagi para penggunanya.</p>
<p><em><strong>Hamizan Suheil Ibnu Hadi</strong></em><br />
<em><strong>Mahasiswa Universitas Tazkia</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/syariah-itu-keren-bank-syariah-harus-kekinian-demi-menarik-hati-gen-z/">Syariah Itu Keren! Bank Syariah Harus Kekinian demi Menarik Hati Gen Z</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/media.suara.com/pictures/653x366/2024/03/06/72646-ilustrasi-bank-syariah-ilustrasi-transaksi.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Produk Perbankan Syariah Kurang Menarik?</title>
		<link>https://jakpos.id/produk-perbankan-syariah-kurang-menarik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Dec 2023 02:23:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[bank syariah]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan syariah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61676</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Sistem Perbankan sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-harinya. Perbankan menawarkan pelayanan yang memudahkan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/produk-perbankan-syariah-kurang-menarik/">Produk Perbankan Syariah Kurang Menarik?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Sistem Perbankan sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-harinya. Perbankan menawarkan pelayanan yang memudahkan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi.</p>
<p>Perbankan memiliki produk berupa pinjaman uang dengan jaminan atau tidak dengan jaminan. Produk pinjaman ini tentunya mempermudah nasabah memenuhi kebutuhan.</p>
<p>Produk pinjaman pada perbankan umumnya (konvensional) memungut tambahan berupa bunga yang besarannya tergantung pada jumlah pinjaman.</p>
<p>Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, masyarakat islam menyadari bahwa tambahan atau bunga yang dimaksud masuk kedalam riba. Dan riba telah dilarang dalam ajaran Agama Islam.</p>
<p>Dari situ muncullah perbankan dengan sistem yang telah disesuaikan dengan syariat-syariat islam. Atau yang biasa kita sebut sebagai Bank Syariah.</p>
<p>Bank Syariah sendiri adalah lembaga keuangan dengan model usaha berupa pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang dengan prinsip dasar syariah, demi menyelamatkan umat Islam dari praktek riba.</p>
<p>Meski sering terjadi perbedaan mengenai hukum bunga bank adalah riba. Namun permasalah riba ini mendorong pertumbuhan perbankan syariah di dunia terutama negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama islam, salah satunya Indonesia.</p>
<p>Namun dengan begini, kehadiran bank syariah masih kurang menarik minat Masyarakat ketimbang bank umum atau konvensional.</p>
<p>Meskipun jumlah nasabah bank syariah kedapatan naik di tiap tahunnya, hal tersebut masih belum bisa menyaingi jumlah nasabah bank konvensional di Indonesia pada tahun 2020 yaitu sejumlah 76.122.714 rekening.</p>
<p>menurut finansial.bisnis.com, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Mencatat total nasabah hingga periode Mei 2023 terpantau terus mengalami pertumbuhan mencapai 18,7 juta.</p>
<p>Ada beberapa faktor yang menjadi alasan bahwa bank syariah masih kurang diminati Masyarakat</p>
<p>Apa saja? Yuk lansung kita bahas alasannya</p>
<p><strong>Sistem Perbankan Syariah yang masih asing di telinga Masyarakat</strong></p>
<p>Yang pertama menjadi alasan bahwa bank syariah kurang diminati adalah karna sistemnya yang masih asing ditelinga Masyarakat luas</p>
<p>Dari dulu masyarakat Indonesia jauh lebih mengenal sistem bank yang berbentuk suku bunga ketimbang sistem bank bagi hasil. Inilah salah satu alasan kenapa bank syariah kalah dengan bank konvensional.</p>
<p>Bank syariah sendiri baru berdiri dan beroperasi pada tahun 1992. Yang mana bank konvensional telah sangat lama berdiri dan sudah menjadi bagian dari kehidupan Masyarakat.</p>
<p>Pada bank syariah tidak menggunakan sistem bunga, tapi menggunakan sistem bagi hasil.</p>
<p>Ada juga beberapa sistem lain yang dialikasikan pada bank syariah seperti  Al-Wadiah atau tabungan yang berarti uang nasabah disimpan atau dijaga dan dapat di kembalikan kapanpun sesuai keinginan nasabah dan tidak ada bunganya.</p>
<p>Tentunya bank syariah bakal menjelaskan sistem yang diterapkan sesuai dengan prinsip syariah Islam yaitu bebas riba.</p>
<p>Dari dulu masyarakat Indonesia jauh lebih mengenal sistem bank yang berbentuk suku bunga ketimbang sistem bank bagi hasil. Inilah salah satu alasan kenapa bank syariah kalah dengan bank konvensional.</p>
<p><strong>Sumber daya manusia yang belum memadai</strong></p>
<p>Untuk alasan lain kenapa bank syariah kalah peminat bank konvensional adalah sumber daya manusia kurang memadai.</p>
<p>Para akademisi yang ada di Indonesia kebanyakan memilih ilmu perekonomian konvensional sebagai disipin ilmu yang ditekuni.</p>
<p>Mereka yang mempelajari ilmu ekonomi konvensional beralasan bahwa ilmu ekonomi konvenisional lebih mudah dan dianggap lebih baik ketimbang ilmu ekonomi syariah.</p>
<p>Maka dari itu pantas saja jika perkembangan bank syariah lambat di Indonesia.</p>
<p><strong>Pelayanan khusus bagi nasabah</strong></p>
<p>Menurut Statistik Perbankan Syariah (SPS) Tingkat pertumbuhan nasabah bank syariah memang lebih unggul pada 3 sampai 5 tahun terakhir</p>
<p>Namun hal ini belum dapat menyaingi jumlah nasabah pada bank konvensional meski persentase pertumbuhannya dapat dibilang tidak stabil.</p>
<p>Ada beberapa alasan yang menjadik bank konvensional lebih bisa menarik nasabah ketimbang bank syariah adalah;</p>
<p>Bank Konvensional mengadakan undian untuk nasabah-nya dengan nilai fantastis setiap tahunnya. Ini salah satu senjata bagi bank konvensional untuk memikat nasabah-nya.</p>
<p>Sering dengan naiknya suku bunga tabungan (simpanan) pada tiap tahunnya. Hal ini sangat menggiurkan bagi pengusaha yang memiliki jumlah uang tabungan di atas 1 M. uang mereka dapat tumbuh tanpa harus di investasi-kan.</p>
<p>Sering menjadi sponsor. Hal ini bukan menjadi rahasia lagi jika bank konvensional sering berkontribusi dalam beberapa event besar,untuk sekedar memamerkan nama.</p>
<p>Adanya fasilitas berupa mobil transaksi berjalan yang memudahkan masyarakat perkampungan bisa dengan mudah menabung di mobil tersebut tanpa harus pergi ke bank yang mungkin jauh jaraknya</p>
<p>Melihat dari beberapa alasan diatas, sepertinya bank syariah masih kurang dalam mengembangkan inovasi untuk menarik para masyarakat agar mau membuka rekening di bank yang berbasis syariah yang bebas bunga.</p>
<p>Agar peningkatan di masyarakat. Selain itu, inovasi juga bisa dilakukan di dalam marketing bank syariah.</p>
<p>Seperti diadakannya reward atau hadiah. Karena biasanya nasabah sangat senang dengan adanya hadiah.</p>
<p>Bank syariah memang masih tertinggal dari bank konvensional tetapi dengan tingkat kepekaan umat muslim tentang riba sekarang ini bukan tidak mungkin 10 tahun kedepan bank syariah akan menjadi bank yang maju seperti bank konvensional akan tetapi tidak mengunakan riba.</p>
<p>Nah, itulah beberapa hal yang jadi alasan kalua bank syariah tidak terlalu banyak peminatnya.</p>
<p><em>Hanny Arrifai</em><br />
<em>Mahasiswi STEI SEBI</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/produk-perbankan-syariah-kurang-menarik/">Produk Perbankan Syariah Kurang Menarik?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.kompas.com/crops/WYkOLfh0KX6YAZqpXuIMLv7wxWs=/1161x0:5661x3000/1200x800/data/photo/2023/10/16/652cfcd7ef50c.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mengetahui Pelaporan Tata Kelola Syariah Pada Bank Syariah di Malaysia</title>
		<link>https://jakpos.id/mengetahui-pelaporan-tata-kelola-syariah-pada-bank-syariah-di-malaysia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2023 11:17:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bank syariah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=60375</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Bank syariah (IB) mempunyai tata kelola tambahan yang dikenal dengan tata kelola syariah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mengetahui-pelaporan-tata-kelola-syariah-pada-bank-syariah-di-malaysia/">Mengetahui Pelaporan Tata Kelola Syariah Pada Bank Syariah di Malaysia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><del>DEPOKPOS</del></a> &#8211; Bank syariah (IB) mempunyai tata kelola tambahan yang dikenal dengan tata kelola syariah (SG). Tata kelola syariah adalah alat pertama yang digunakan oleh bank syariah untuk mengurangi risiko yang berkaitan dengan ketidakpatuhan syariah. Organisasi Akuntansi dan Audit untuk Lembaga Keuangan Islam (AAOIFI) dan Dewan Jasa Keuangan Islam (IFSB) menggunakan konsep ini untuk mengembangkan serta menilai tata kelola syariah pada lembaga keuangan Islam (IFI). Dewan Jasa Keuangan Islam mengartikannya sebagai pengaturan organisasi dan kelembagaan untuk membuktikan pengawasan kepatuhan syariah yang efektif dan independen pada pernyataan syariah yang sesuai dan sosialisasinya kemudian tinjauan atau audit kepatuhan syariah internal dan tahunan.</p>
<p>Mengidentifikasi beberapa faktor perlunya pelaporan tata kelola syariah (SGR) pada lembaga keuangan Islam, antara lain:</p>
<p>Pelaporan informasi tentang produk, layanan, operasi dan tata kelola melalui laporan tahunan yang memungkinkan pemangku kepentingan menilai kepatuhan institusi pada prinsip-prinsip syariah.</p>
<p>Transparansi pada pelaporan tata kelola syariah untuk meningkatkan kepercayaan investor, dewan direksi, manajemen serta pihak yang bersangkutan dengan menjaga integritas dan reputasi lembaga keuangan Islam (IFI).</p>
<p>Pelaporan tata kelola syariah mewakilkan kemampuan lembaga keuangan Islam untuk memahami serta menafsirkan aturan dan prinsip syariah untuk membenarkan bahwa ada penerapan prinsip syariah pada setiap aktivitas bisnis agar mematuhi aturan agama.</p>
<p>Tata kelola syariah dan tata kelola perusahaan tradisioanal sudah sesuai dengan standar tata kelola yang diterima secara menyeluruh yang artinya tata kelola perusahaan tradisional sebagai “sistem yang diciptakan untuk mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dari direksi bertanggung jawab atas tata kelola perusahaan”. Pada penelitian Cadbury tahun 1992, investor menunjuk direktur dan auditor untuk memastikan struktur tata kelola yang efektif. Pada negara Malaysia, dasar-dasar tata kelola perusahaan tradisional dapat dicari dalam Kode Tata Kelola Perusahaan Malaysia (MCCG) pada tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Komisi Sekuritas Malaysia. Kemudian mendefinisikan tata kelola perusahaan tradisional (CG) sebagai, “prosedur dan struktur yang diterapkan untuk mengawasi serta mengelola urusan bisnis perusahaan pada suatu cara untuk meraih kesuksesan dan akuntabilitas perusahaan yang memiliki tujuan utama yaitu menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham serta menjaga kepentingan pada pemangku kepentingan. Pada tahun 2013 Bank Negara Malaysia mengatakan bahwa tata kelola perusahaan tradisional (CG) lembaga keuangan di Malaysia mencakup pada pedoman Tata Kelola Perusahaan untuk Lembaga Berlisensi 2013.</p>
<p>Pedoman IFSB mengenai tentang sistem tata kelola syariah (SG) untuk lembaga yang menawarkan jasa keuangan Islam mengartikannya sebagai koordinasi antara peran strategis dan fungsi masing-masing tata kelola dan proses untuk menyesuaikan dengan lembaga yang menawarkan jasa keuangan Islam dengan menjaga akuntabilitasnya kepada pihak yang berkepentingan. Tata kelola syariah lembaga keuangan Islam di negara Malaysia diawasi oleh komite penasihat syariah (SAC), Bank Negara Malaysia memberdayakan komite penasihat syariah untuk mematuhi kepatuhan lembaga keuangan Islam di luar negeri pada kerangka tata kelola syariah tahun 2010.</p>
<p>Hasil penelitian yang di tulis oleh Tasya Aspiranti dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa bank syariah yang menjadi sample sudah melaporkan lebih dari 60% informasi mengenai tata kelola syariah yang menjadi indicator pelaporan yang baik. Pelaporan syariah yang mendominasi tren pelaporan tata kelola syariah secara menyeluruh. Peta pikiran mengatakan jika keenam dimensi tersebut ( komite syariah, tinjauan syariah, audt syariah, risiko syariah, transaransi keseluruhan dan pemegang akun investasi) pelaporan tata kelola syariah dilaporkan oleh semua bank syariah. Akan tetapi pola pemberitaan lebih tersebar jika dibandingan dengan pola pemberitaan tematik.</p>
<p>Pada temuan penelitian ini ada beberapa implikasi manajerial dan kebijakan, antara lain:</p>
<p>Wawasan terhadap pelaporan tata kelola syariah yang ditawarkan pada penelitian ini dapat memfasilitasi untuk para manajer, dewan direksi, anggota komite syariah, peninjauan syariah dan auditor untuk memberikan dukungan pada bank syariah agar memperbaiki mekanisme pelaporan tata kelola syariah pada laporan tahunan.</p>
<p>Regulator industri keuangan Islam di Malaysia, seperti Bank Negara Malaysia dan Dewan Jasa Keuangan Islam (IFSB) dapat mengembangkan kerangka peraturan yang ketat dan kuat untuk menerapkan pelaporan tata kelola syariah yang nantinya mengharuskan bank syariah mempraktikkan pengungkapan penuh berbagai dimensi.</p>
<p>Regulator industri keuangan Islam mampu mendorong bank syariah untuk berperan dalam inisiatif gobal dan mematuhi standar pelaporan global yang ditetapkan leh lembaga lain seperti AAOIFI, hal tersebut akan meningkatkan kerangka tata kelola syariah bank syariah dan melestarikan reputasi nama perbankan Islam.</p>
<p>Usulan pelaporan tata kelola syariah pada penelitian yang di tulis oleh Tasya Aspiranti dan kawan-kawan dapat digunakan untuk tolak ukur untuk pelatihan bank syariah yang peduli dengan peningkatan pelaporan tata kelola syariah.</p>
<p>Penulis: Dwi Yuniarti Mardiatun</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mengetahui-pelaporan-tata-kelola-syariah-pada-bank-syariah-di-malaysia/">Mengetahui Pelaporan Tata Kelola Syariah Pada Bank Syariah di Malaysia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/img.idxchannel.com/media/700/images/idx/2021/02/05/bank_syariah_indonesia.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
