<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Belimbing Dewa Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/belimbing-dewa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/belimbing-dewa/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 Apr 2016 23:15:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Belimbing Dewa Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/belimbing-dewa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Suatu Ketika, Kebun Belimbing di Kota Depok Tinggal Cerita</title>
		<link>https://jakpos.id/suatu-ketika-kebun-belimbing-di-kota-depok-tinggal-cerita/</link>
					<comments>https://jakpos.id/suatu-ketika-kebun-belimbing-di-kota-depok-tinggal-cerita/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2016 23:15:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belimbing]]></category>
		<category><![CDATA[Belimbing Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5166</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Potensi pertanian Belimbing di Kota Depok Sampai Tahun 2006 Berjumlah 33.729 dengan total&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/suatu-ketika-kebun-belimbing-di-kota-depok-tinggal-cerita/">Suatu Ketika, Kebun Belimbing di Kota Depok Tinggal Cerita</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/8.-Agrowisata-Belimbing-Dewa.jpg" rel="attachment wp-att-5167"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-5166 wp-image-5167 aligncenter" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/8.-Agrowisata-Belimbing-Dewa.jpg" alt="8.-Agrowisata-Belimbing-Dewa" width="533" height="400" /></a></p>
<p>DEPOK &#8211; Potensi pertanian Belimbing di Kota Depok Sampai Tahun 2006 Berjumlah 33.729 dengan total luas Areal 135 ha menyebar di wilayah kota Depok. Tanaman belimbing yang produktif ini kurang lebih sekitar 27.500-28.000 pohon terdapat di Depok. Sehingga perkiraan total produksi yang dihasilkan dari belimbing Depok berkisar antara 2.700 Ton sampai 3.000 ton per tahun.</p>
<p>Pertanaman Belimbing di kota Depok banyak dikembangkan dilahan-lahan masyarakat. Uniknya banyak juga dikembangkan disepanjang kali ciliwung, contohnya seperti di kelurahan Pondok Cina, Kelurahan Tugu dan Kelurahan Kelapa Dua. Sehingga pemandangan sepanjang kali Ciliwung menjadi indah dan asri dengan keberadaan tanaman belimbing ini.</p>
<p>Tentu saja ini sangat berpotensi dengan menjadikan Depok sebagai kawasan Agrowisata Belimbing, khususnya di sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Potensi Sumber Daya Alam ditengah hiruk pikuknya kemacetan jalan-jalan di kota Depok.</p>
<p>Sebutan Depok sebagai kota belimbing telah ada sejak tahun 2007. Kabarnya, saat ini ada sekitar 600 petani belimbing yang tersebar di enam kecamatan. Setiap petani rata-rata memiliki luas lahan 500 meter persegi sampai 3 hektar. Setiap 500 meter lahan dapat ditanami 16 hingga 20 pohon belimbing.</p>
<p>Belimbing memiliki nama ilmiah Averrhoa carambola L. Buah ini merupakan tanaman asli kawasan Asia Tenggara. Pohon belimbing memiliki tinggi 5 – 12 meter. Bunganya berbentuk lonceng dan berwarna merah keunguan. Buah yang sudah matang berwarna kuning hingga kuning kemerahan. Buah ini cocok dibudidayakan di daerah tropis seperti Indonesia. Selain Depok, Blitar dan Pekalongan adalah dua kota yang dikenal sebagai penghasil belimbing di negara kita.</p>
<p>Jika ingin melihat langsung perkebunan buah ini, bisa berkunjung ke Kelurahan Pasir Putih, Sawangan, Depok. Pemerintah Kota Depok menjadikan Kelurahan Pasir Putih sebagai agrowisata belimbing bukan hanya karena lahan perkebunannya yang luas. Desa di kecamatan Sawangan ini juga pernah memiliki koperasi serta tempat pengolahan belimbing yang bernama Pusat Koperasi Pengembangan dan Pengolahan Belimbing Dewa.</p>
<p><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/284663_agrowisata-belimbing-kota-depok_663_382.jpg" rel="attachment wp-att-5146"><img decoding="async" class="alignright wp-post-5166 wp-image-5146 size-medium" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/284663_agrowisata-belimbing-kota-depok_663_382-300x173.jpg" alt="284663_agrowisata-belimbing-kota-depok_663_382" width="300" height="173" /></a>Agrowisata Belimbing Dewa di Pasir putih tidak hanya meliputi satu kompleks perkebunan. Beberapa kebun milik petani juga dijadikan destinasi untuk lebih mengenal buah yang kaya vitamin C ini. Di tempat wisata ini pengunjung tidak hanya dapat memetik buah belimbing langsung dari pohonnya. Tapi juga mendapat edukasi mengenai seluk-beluk buah tersebut. Para petani dengan senang hati membagi tips memilih buah dengan kualitas baik.</p>
<p>Sebagai buah tangan tentu Anda dapat membeli buah belimbing langsung dari petani. Buah belimbing segar juga pernah tersedia di koperasi. Setiap hari para petani memang selalu menyetorkan hasil pertaniannya ke koperasi. Ketika itu satu kilogram belimbing dewa dihargai antara Rp 5.500 sampai Rp 6.500. Selain buah asli Anda juga bisa membeli aneka olahannya seperti manisan, jus, sirup, keripik, wingko, hingga mayonnaise. Anda juga dapat membeli dodol belimbing Rasa Dewa yang telah menjadi ikon oleh-oleh kota Depok.</p>
<p>Keunggulan di Kota Depok semestinya dilestarikan. Diharapkan, potensi sumber daya alam potensial yang ada di kota ini, dengan ikonnya sebagai Kota Belimbing, tetap menjadi kebanggaan masyarakat. Agar tidak punah, juga diharapkan lahan belimbing menjadi ruang terbuka hijau di Kota Depok.</p>
<p>Kita tidak berharap, kebun belimbing yang ditanam orang tua terdahulu, mulai dari Haji Asmawi hingga Haji Usman Deteng, tidak tinggal cerita dan kenangan. Kebun Belimbing di Kota Depok harus tetap bertahan, dan terus berkembang oleh generasi penerusnya. Terpenting, harus mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Depok. (Desmoreno)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/suatu-ketika-kebun-belimbing-di-kota-depok-tinggal-cerita/">Suatu Ketika, Kebun Belimbing di Kota Depok Tinggal Cerita</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/suatu-ketika-kebun-belimbing-di-kota-depok-tinggal-cerita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Haji Asmawi, Petani Belimbing Pertama di Kota Depok (Bag. 2)</title>
		<link>https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-2/</link>
					<comments>https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2016 10:58:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belimbing]]></category>
		<category><![CDATA[Belimbing Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5164</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kenapa Harus Belimbing? Kenapa Belimbing? Kenapa tidak menanam pohon buah yang lain? Kata Husin, karena&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-2/">Haji Asmawi, Petani Belimbing Pertama di Kota Depok (Bag. 2)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kenapa Harus Belimbing?</strong></p>
<p>Kenapa Belimbing? Kenapa tidak menanam pohon buah yang lain? Kata Husin, karena sekali tanam belimbing, hasilnya cukup memuaskan. Tak butuh waktu yang lama. Setiap tiga bulan sudah panen. Dalam setahun bisa tiga kali panen. Pohon belimbing hingga puluhan tahun, akan terus berkembang. Bahkan jika tumbuh besar, saat dipotong, hasilnya malah lebih bagus.</p>
<p>“Setiap tiga bulan sekali kita panen. Kalau perawatannya bagus, 50 pohon belimbing sudah bisa panen sebanyak tiga ton. Pemasarannya, sudah ada tengkulak yang datang untuk membeli. Tengkulak yang ngambil ke saya bisa sampai setengah ton, bahkan mencapai satu ton. Tentu, ada juga yang gagal panen, karena faktor cuaca seperti banyaknya curah hujan, hasilnya tidak bagus.”</p>
<figure id="attachment_5162" aria-describedby="caption-attachment-5162" style="width: 300px" class="wp-caption alignright"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/image62.jpg" rel="attachment wp-att-5162"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5164 wp-image-5162" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/image62.jpg" alt="Bang Husin." width="300" height="351" /></a><figcaption id="caption-attachment-5162" class="wp-caption-text">Bang Husin.</figcaption></figure>
<p>Yang membuat petani bertahan dengan tanaman belimbingnya, kata Husin, karena petani merasa puas di belimbing. Apalagi Depok dikenal sebagai Kota Belimbing. “Ini sudah ciri khas Depok dengan belimbingnya. Harusnya Pemerintah Kota Depok memperkuat ikon Depok sebagai Kota Belimbing, dengan mengurangi penyusutan lahan belimbing.”</p>
<p>Husin mengaku ada yang merasa berat dengan modal perawatan belimbing. Mulai dari modal membeli pupuk, penyemprotan. Untuk 50 pohon saja bisa menghabiskan modal sebanyak Rp. 2 juta. Itu baru penyemprotan saja. Belum lagi modal untuk pembungkusan belimbing yang menelan biaya di atas Rp. 5 juta.</p>
<p>“Jika sebelumnya menggunakan bungkusan dari kertas karbon, sekarang diganti dengan kantong plastik hitam. Saat ini untuk mendapatkan kertas karbon sudah sulit. Kami menggantinya dengan kantong kresek hitam. Hasilnya sama. Dibanding plastik, kertas karbon lebih mahal.</p>
<p>Kata Husin, sekarang kertas karbon sudah di atas Rp. 10 ribu per kilo. Sedangkan plastik Rp. 20 ribu per kilo. Biaya untuk membeli bungkusan bisa mencapai Rp. 600. 000. Jika ditotal, bisa menghabiskan puluhan juta untuk modal pupuk, penyemprotan dan pembungkusan.</p>
<p>“Meski penjualan belimbing stabil, Petani tetap aja di bawah. Penjualan belimbing, jika lagi musim hujan bisa di atas Rp. 7.000 per kilo. Sedangkan, kalau lagi langka harganya bisa diatas Rp. 9000- 10.000. Musim hujan seperti ini belimbing lagi langka,” kata Husin.(Desmoreno)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-2/">Haji Asmawi, Petani Belimbing Pertama di Kota Depok (Bag. 2)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Haji Asmawi, Petani Belimbing Pertama di Kota Depok (Bag. 1)</title>
		<link>https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-1/</link>
					<comments>https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2016 10:33:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belimbing]]></category>
		<category><![CDATA[Belimbing Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5157</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Bicara sejarah orang pertama yang menanam pohon Belimbing di Kota Depok, adalah Haji&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-1/">Haji Asmawi, Petani Belimbing Pertama di Kota Depok (Bag. 1)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/belimbing.jpg" rel="attachment wp-att-5158"><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-5157 wp-image-5158" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/belimbing.jpg" alt="belimbing" width="600" height="332" /></a></p>
<p>DEPOK &#8211; Bicara sejarah orang pertama yang menanam pohon Belimbing di Kota Depok, adalah Haji Asmawi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Haji Mawi. Beliau adalah petani belimbing pertama asal Pasar Minggu yang ketika itu menanam pohon belimbing di lahan miliknya seluas 5 hektar. Ketika itu tahun 1980-an.</p>
<p>Demikian dituturkan Bang Husin, salahsatu petani Belimbing di Pancoran Mas Depok, saat ditemui depokpos di kebun belimbingnya di kelurahan Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, belum lama ini.</p>
<figure id="attachment_5162" aria-describedby="caption-attachment-5162" style="width: 300px" class="wp-caption alignright"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/image62.jpg" rel="attachment wp-att-5162"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5157 wp-image-5162" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/image62.jpg" alt="Bang Husin." width="300" height="351" /></a><figcaption id="caption-attachment-5162" class="wp-caption-text">Bang Husin.</figcaption></figure>
<p>Sejak Depok masih berstatus Kota Administratif (Kotif) tahun 1980-an, saat itu belum banyak masyarakat yang menanam pohon belimbing. “Petani yang pertama kali menanam pohon Belimbing itu namanya Haji Asmawi atau yang Haji Mawi, asal Pasar Minggu. Haji Mawi ketika itu punya tanah di Depok, tepatnya di Kelurahan Rangkapan Jaya (kini Perumahan Puri Hasanah). Kini beliau sudah meninggal dunia,” ujar Husin mengenang.</p>
<p>Dalam perkembangannya, Haji Mawi sukses sebagai petani belimbing, lalu diikuti masyarakat lokal, dengan menanam pohon belimbing Dewa. Petani di wilayah Kalilicin menyebutnya dengan Belimbing Dewi. Saat itu Haji Mamit, warga asli Pancoran Mas dipercaya untuk merawat, sekaligus belajar bercocok tanam belimbing dengan Haji Asmawi.</p>
<p>Sejak itu jumlah petani belimbing di Pancoran Mas Depok bertambah dan berkembang hingga ke wilayah lain. Selain Haji Mamit, juga ada Haji Usman Deteng, Haji Niman, Haji Sanusi, Haji Yunus, Munasik, Husin, Nanang Yusup dan sebagainya.</p>
<p>“Yang pertama belajar menanam pohon belimbing adalah Haji Mamit. Dulu beliau yang rawat kebun belimbing Haji Mawi seluas 5 hektar. Ketika itu saya masih muda, dan sudah belajar membungkus,” kata Bang Husin. (<strong>Bersambung</strong>)</p>
<p>Desmoreno</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-1/">Haji Asmawi, Petani Belimbing Pertama di Kota Depok (Bag. 1)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/haji-asmawi-petani-belimbing-pertama-di-kota-depok-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembangunan Perumahan, Ikon Depok “Kota Belimbing” Terancam Punah</title>
		<link>https://jakpos.id/pembangunan-perumahan-ikon-depok-kota-belimbing-terancam-punah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/pembangunan-perumahan-ikon-depok-kota-belimbing-terancam-punah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2016 06:36:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belimbing Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Belimbing]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5145</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Sejak masa Nur Mahmudi Ismail menjabat sebagai Wali Kota Depok , buah Belimbing&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pembangunan-perumahan-ikon-depok-kota-belimbing-terancam-punah/">Pembangunan Perumahan, Ikon Depok “Kota Belimbing” Terancam Punah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/284663_agrowisata-belimbing-kota-depok_663_382.jpg" rel="attachment wp-att-5146"><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-5145 wp-image-5146" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/04/284663_agrowisata-belimbing-kota-depok_663_382.jpg" alt="284663_agrowisata-belimbing-kota-depok_663_382" width="600" height="346" /></a></p>
<p>DEPOK &#8211; Sejak masa Nur Mahmudi Ismail menjabat sebagai Wali Kota Depok , buah Belimbing Dewa diusung sebagai ikon kota. Bahkan untuk menyukseskan program tersebut, Nur Mahmudi membuat kebijakan dengan membentuk sebuah dinas khusus yakni Dinas Pertanian yang sebelumnya hanyalah sebuah Kantor Pemberdayaan Pertanian dan Perternakan.</p>
<p>Ketika itu, program Pemkot banyak menuai kritik dari berbagai kalangan masyarakat maupun para akademisi. Mereka ragu, apa mungkin Depok sebagai penyanggah Kota Jakarta masih memiliki lahan yang cukup luas untuk pertanian. Apalagi banyaknya peralihan fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pemukiman. Dari tahun ke tahun, kawasan pemukimandi Kota Depok kian berkembang pesat.</p>
<p>Tapi kini, luas lahan pertanian semakin berkurang, apalagi dikhususkan hanya untuk pertanian buah Belimbing. Hal itu dibenarkan pejabat Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perternakan Kota Depok. Lahan pertanian untuk Belimbing tahun 2010 seluas 128 hektare, 2011 turun menjadi 115 hektar, 2012 menjadi 105 hektar dan 2013 sampai awal tahun 2014 hanya tinggal 98 hektar.</p>
<p>Pemkot berdalih, upaya untuk menanggulangi alih fungsi lahan tetap di lakukan. Seperti, peningkatan produktifitas petani dan mendorong pengembangan agro wisata. Pemkot bahkan mendorong agro wisata, dengan membantu sertifikasi dan registrasi. Hanya saja, dalam regulasi belum bisa bersikap tegas pada pengembang yang mengambil lahan pertanian Belimbing untuk dijadikan perumahan. Artinya, tidak ada sanksi bagi pengembang yang mengambil lahan satu hektar dengan mengganti 250 pohon belimbing.</p>
<p>Belimbing Dewa bisa terus dijadikan maskot kota, asalkan pemerintah mau melihat potensi buah lokal Depok. Sebab, Belimbing Dewa asal Depok, pernah terpilih menjadi buah dengan kualitas nomor wahid di Indonesia pada kontes buah nasional tahun 2000.</p>
<p>Setiap Event Lomba Buah Unggul dan pameran-pameran buah Nasional serta Internasional, Buah Belimbing Dewa ini lebih unggul dan selalu menjuarai sebagai buah unggul nasional versi Trubus.</p>
<p><strong>Lahan Abadi</strong></p>
<p>Ketua Asosiasi Belimbing Depok, Nanang Yusup, warga Kali Licin, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, pernah menyatakan, ia membina lebih dari 500 petani belimbing dewa di Depok. Luas lahan belimbing yang menjadi binaannya ada seluas 20 hektar. Setiap tahun ada tiga kali musim buah dengan nama Latin Averhoa bilimbi itu. &#8220;Dipanen tiga kali setahun. Setiap satu hektar ada 150 pohon. Satu pohon bisa menghasilkan 200-250 kg.</p>
<p>Karena kualitasnya yang baik, banyak warga asing yang ingin membudidayakan Belimbing Dewa. Mulai dari Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan sebagian besar warga timur tengah.</p>
<p>Nanang berharap Depok bisa membeli lahan abadi yang khusus ditanami Belimbing Dewa. Pembelian lahan tersebut untuk menjaga agar keberadaan ikon ini tetap bertahan. &#8220;Seharusnya seperti Bekasi yang membeli lahan abadi untuk pertanian. Bila tidak, nasib belimbing dewa bisa terancam,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Satu hal, Belimbing Dewa sebagai ikon Kota Depok mulai dipertanyakan. Pasalnya untuk memperoleh buah belimbing di kota ini sulit didapat. Biasanya, kota yang menjadi sentra produksi dapat dengan mudah menemukannya seperti di sepanjang jalan utama atau mudah dijangkau.</p>
<p>Lebih memperihatinkan lagi, koperasi pemasaran buah dan olahan belimbing Kota Depok sudah tak berjalan hampir delapan tahun. Gedung pusat koperasi tersebut terbengkalai dan tidak beroperasi. Hal serupa terjadi pada pabrik pengolahan belimbing yang bahkan tidak beroperasi sama sekali.</p>
<p>Nanang Yusup mengatakan, permintaan Belimbing Dewa sangat banyak bahkan untuk diekspor. Namun petani tidak bisa menjamin kesinambungan dari produksi Belimbing tersebut. Petani seperti berjalan sendiri dalam mengembangkan dan mempertahankan keberadaan pohon Belimbing.</p>
<p>&#8221;Katanya Belimbing ikon Depok, tapi Perda yang melindungi lahan Belimbing pun tidak ada. Bahkan untuk audensi dengan Pemkot Depok pun sangat sulit,&#8221; tandas Nanang ketika itu.(Desmoreno)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pembangunan-perumahan-ikon-depok-kota-belimbing-terancam-punah/">Pembangunan Perumahan, Ikon Depok “Kota Belimbing” Terancam Punah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/pembangunan-perumahan-ikon-depok-kota-belimbing-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
