<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Body Shaming Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/body-shaming/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/body-shaming/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jun 2025 04:34:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Body Shaming Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/body-shaming/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Investigasi Etnografi Digital Mengenai Fenomena Body Shaming di Instagram</title>
		<link>https://jakpos.id/investigasi-etnografi-digital-mengenai-fenomena-body-shaming-di-instagram/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 04:34:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Body Shaming]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87605</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Kemajuan teknologi telah mendorong munculnya berbagai platform media sosial sebagai sarana komunikasi dan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/investigasi-etnografi-digital-mengenai-fenomena-body-shaming-di-instagram/">Investigasi Etnografi Digital Mengenai Fenomena Body Shaming di Instagram</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Kemajuan teknologi telah mendorong munculnya berbagai platform media sosial sebagai sarana komunikasi dan pencarian informasi, salah satunya adalah (Instagram).</p>
<p>Saat ini, mayoritas individu, termasuk institusi pendidikan dan organisasi, memanfaatkan Instagram untuk berbagai keperluan.</p>
<p>Namun, kemudahan akses ini juga membuka peluang terjadinya penyalahgunaan, seperti tindakan body shaming—komentar negatif terhadap penampilan fisik seseorang—yang marak terjadi di platform tersebut.</p>
<p>Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola pikir pelaku body shaming di Instagram, dengan mempertimbangkan pengaruh lingkungan sosial dan digital.</p>
<p>Lingkungan sosial mencakup interaksi langsung dalam kehidupan sehari-hari, sementara lingkungan digital meliputi aktivitas di dunia maya. Kedua lingkungan ini berperan dalam membentuk perilaku individu.</p>
<p>Metode yang digunakan adalah etnografi digital, dengan pengumpulan data melalui observasi komentar di Instagram dan wawancara daring dengan pelaku serta korban body shaming.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku seringkali menggunakan akun anonim untuk melindungi identitas mereka dan menganggap tindakan body shaming sebagai bentuk hiburan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap korban.</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas di dunia maya dapat memengaruhi persepsi dan perilaku individu terhadap norma sosial.</p>
<p><em>Amalina Aqilah</em><br />
<em>Mahasiswa S1 Akutansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/investigasi-etnografi-digital-mengenai-fenomena-body-shaming-di-instagram/">Investigasi Etnografi Digital Mengenai Fenomena Body Shaming di Instagram</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/majalahsunday.com/wp-content/uploads/2022/07/discrimination-and-bullying-towards-fat-girl-768-720x432.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Perilaku Body Shaming, dari Bercanda hingga Ancaman Penjara</title>
		<link>https://jakpos.id/body-shaming/</link>
					<comments>https://jakpos.id/body-shaming/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Dec 2019 08:22:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Body Shaming]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=24512</guid>

					<description><![CDATA[<p>Body shaming adalah perilaku mengejek atau mengomentari fisik atau tubuh orang lain dengan cara yang negatif.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/body-shaming/">Perilaku Body Shaming, dari Bercanda hingga Ancaman Penjara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Body shaming adalah perilaku mengejek atau mengomentari fisik atau tubuh orang lain dengan cara yang negatif.</em></h3>
</blockquote>
<p>Seorang psikolog terkenar Dr. Zakiah Daradjat di dalam buku nya yang berjudul “Kesehatan Mental” mengatakan kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar dan kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.</p>
<p>Seseorang yang terkena kesehatan mental adalah seseorang yang jiwa nya terganggu dari yang berat hingga ringan dan juga dari berbagai faktor yang berbeda dari faktor psikologis maupun faktor biologis, adapun ciri-ciri nya seperti mudah cemas halusinasi,perasaan sedih yang berlebihan dan juga perilaku tidak wajar (tertawa sendiri,berbicara sendiri dan lainnya). Sangat memungkinkan bagi <em>millennials</em> terkena penyakit kesehatan mental ini karena banyak mereka lah yang sering terkena banyak tekanan dari orang terdekat maupun tidak. Contohnya perilaku <em>body shaming</em> ini.</p>
<p><strong><em>Body shaming</em> adalah</strong> perilaku mengejek atau mengomentari fisik atau tubuh orang lain dengan cara yang negatif. Entah itu mengejek tubuh gendut, kurus, pendek, atau tinggi, sama seperti saat Anda melakukan<strong><em> bullying</em></strong> secara verbal, namun hal ini bisa berpengaruh ke masalah mental orang yang dikomentari dan permasalahan <em>body shaming</em> ini tidak bisa kita anggap masalah biasa.</p>
<p>Banyak yang bertanya-tanya kenapa <em>body shaming</em> ini termasuk hal yang sangat serius dan dapat mempengaruhi kesehatan seseorang?  Karena dari body shaming ini lah bisa memicu depresi dan depresi salah satu penyakit mental. Depresi dapat menyarang semua kalangan contohnya seperti sulli ex FX dan jonghyun shine yang memilih mengakhiri hidup nya akibat depresi. Bukankah ini sangat meresahkan bagi kita semua?</p>
<p>Tidak hanya dari publik figur saja yang bisa mendapatkan hal tersebut namun dari sekitar kita juga banyak yang mendapatkan perlakuan<em> body shaming</em> ini masih banyak korban yang di luar sana yang sangat terpuruk dengan body shaming ini.</p>
<p>Dilansir detik.com, kasus <em>body shaming</em> di Indonesia cukup tinggi dan disebutkan bahwa polisi sudah menanangani kasus body shaming selama 2018 sebanyak 966 kasus dan perempuan adalah paling banyak yang menjadi korban <em>body shaming</em>.</p>
<p>”Disaat berat badan lagi benar-benar berat-beratnya, dan <em>emang</em> sadar <em>kalo</em> dititik dimana <em>udah gendut banget</em>, benar-benar <em>gak</em> pede buat ketemu <em>temen</em> karana pasti dibilang gendutan, tapi dirumah pun selalu dijadiin bahan becandaan dengan <em>dikatain</em> yang berunsur <em>body shaming</em>. Kata-kata <em>nyakitin</em> itu jadi bikin depresi dan bikin <em>gue ga</em> keluar rumah 1-2 bulan dan <em>ga</em> ada gairah buat hidup,” kata Betty (19 tahun), mahasiswa Columbia University, kepada penulis saat diminta menceritakan pengalamannya menerima perlakuan <em>body shaming</em>.</p>
<p>Uniknya, acapkali pelaku <em>body shaming</em> ini tidak menyadari bahwa tindakannya termasuk aksi bullying verbal yang sangat merugikan orang lain dan hanya menganggapnya sebagai candaan biasa. Padahal tanpa disadari tindakan ini bisa terancam hukuman penjara. Dan biasanya pelaku <em>body shaming</em> justru adalah teman dekat dari korban yang seharusnya tidak melakukan itu terhadap teman nya sendiri.</p>
<p>Sudah banyak memakan korban dari body shaming ini dan mungkin kalian semua bertanya-tanya apakah pemerintah sendiri ‘aware’ terhadap kasus body shaming ini?atau ada undang-undang tentang body shaming ini? Tentu nya ada undang undang tentang body shaming ini yang tertulis <strong>Pasal 27 Ayat 3 jo Pasal 45 Ayat 3 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana yang telah diubah dalam UU Nomor 19 Tahun 2016 ancaman 4 tahun penjara paling lama dan denda paling banyak 750 juta</strong>.</p>
<p>Ternyata dari yang hanya bercanda bisa masuk penjara, maka dari itu kita mulai berhati-hati dalam berucap dan berkomentar tentang seseorang yang bisa berakibat fatal. Dan untuk para korban jangan merasa diri  rendah, cintai dirimu sendiri, self love itu penting lohh jadi tak perlu lagi buang buang waktumu untuk mendengarkan hal-hal negatif dari orang sekitarmu.</p>
<p><em><strong>Nadya Rizki Salsabila<br />
</strong>Mahasiswa London School of Public Relations &#8211; Jakarta</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/body-shaming/">Perilaku Body Shaming, dari Bercanda hingga Ancaman Penjara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/body-shaming/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
