<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Budaya Betawi Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/budaya-betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/budaya-betawi/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Jul 2024 05:40:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Budaya Betawi Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/budaya-betawi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pelestarian Tradisi dan Budaya Betawi Lewat Penterjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi</title>
		<link>https://jakpos.id/pelestarian-tradisi-dan-budaya-betawi-lewat-penterjemahan-al-quran-ke-dalam-bahasa-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jul 2024 05:40:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=71745</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Menarik, memang, ketika PSB (Pusat Studi Betawi),UIN Jakarta diajak berkolaborasi dengan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pelestarian-tradisi-dan-budaya-betawi-lewat-penterjemahan-al-quran-ke-dalam-bahasa-betawi/">Pelestarian Tradisi dan Budaya Betawi Lewat Penterjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Menarik, memang, ketika PSB (Pusat Studi Betawi),UIN Jakarta diajak berkolaborasi dengan Puslitbang LKKMO(Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi) Kemenag RI, untuk menerjemahkan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi.</p>
<p>Menariknya, karena selama ini, terjemahan al-qur’an yang biasa dibaca adalah terjemahan bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda dan Melayu, sehingga bagi yang ingin memahami arti dari ayat yang dibaca, bisa langsung dapat dimengerti. Tanpa harus belajar bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah dan seterusnya.</p>
<p>Selain itu, terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa daerah, juga merupakan salah satu upaya pelestarian bahasa dan budaya suatu daerah, seperti kebudayaan Betawi. Terlebih proyek ini dikerjakan bareng dengan lembaga semi otonom UIN Jakarta, PSB( Pusat Studi Betawi).</p>
<p>Lembaga ini selain memiliki otoritas keilmuan, karena akan melibatkan para ahli di bidangnya, juga semua penerjemah adalah para sarjana dan guru besar asli dari komunitas etnis masyarakat Betawi.</p>
<p>Jadi, dengan demikian, proyek penterjemahan al-qur’an ke dalam bahasa Betawi, menjadi sangat menarik dan sangat penting. Terlebih, kerja ini juga melibatkan pemprov DKI yang mengajak budayawan dan pemerhati kebudayaan Betawi.</p>
<p>Hal yang lebih menarik lagi yang perlu diketahui bahwa masyarakat Betawi merupakan komunitas etnis yang sangat religius. Sebab hampir semua tradisi dan budaya yang diciptakannya selalu bernuansa teligi. Karenanya, sekali lagi, kerjasama ini sangat menguntungkan kedua belah pihak.</p>
<p>Pihak pengelola proyek, berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Pihak PSB dan komunitas etnis masyarakat Betawi juga sangat diuntungkan, karena bahasa dan budayanya dapat dilestarikan dan dikembangkan dengan baik, sehingga masyarakat Betawi tidak perlu resah lagi akan kehilangan pijakan dasar budaya dan bahasanya.</p>
<h3>Bahasa Betawi= Bahasa Melayu Indonesia</h3>
<p>Dahulu, sebelum dilakukan penterjemahan al-qur’an ke dalam bahasa daerah dan khususnya Bahasa Betawi, umumnya mereka yang bukan ahli agama atau masyarakat awam, mereka membaca terjemahan yang berbahasa Indonesia. Dan ini mungkin juga hingga kini, sebelum proyek terjemahan al-qur’an ke dalam bahasa Betawi, mereka masih melakukannya.</p>
<p>Kalau begitu, pertanyaan yang mesti dimunculkan adalah, apakah orang Betawi awam akan tetap meneruskan membaca terjemahan al-qur’an berbahasa Indonesia atau terjemahan berbahasa Betawi. Karena hanya mngganti ejaan berbahasa Indonedia menjadi bahasa Betawi. Terlebih jika penterjemahnya ada yang kurang paham suatu istilah Betawi.</p>
<p>Pertanyyan lainnya, Betawi itu merupakan sebuah konsep kultural, bukan teritorial. Secara kultural, yang disebut masyarakat Betawi adalah masyarakat yang berbudaya dan berbahasa Betawi. Cakupannya lebih luas dari hanya sekadar teritorial.</p>
<p>Jika secara teritorial, yang disebut Betawi dahulu hanya sebatas wilayah DKI Jakarta saja. Maka secara kultural, yang disebut Betawi adalah masyarakat yang tinggal dan menetap di wilayah Jakarta,Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Kerawang (JABODETABEKWANG). Mereka menetsp di daerah yang sudah beakulturasi dengan bahasa dan budaya Sunda.</p>
<p>Karenanya, bahass Betawi mereka, seperti yang disebut YasminShahab, sebagai masyarakat Betawi pinggiran. Berbeda dengan bahasa dan budaya masyarakat Betawi Tengah atau pusat. Masyarkat Betawi Tengah memiliki bahasa dan budaya yang dipengaruhi oleh budaya dan bahasa Melayu dan Arab Islam.</p>
<p>Oleh karena itu, saya menyarankan, terjemahan al-qur’an ke dalam Bahasa Betawi Tengah, yang halus dan hasil dari akultasi budaya Betawi Melayu Islam. Seperti terjemahan dari kata أنا-أنت, harus diterjemahkan dengan kata (ane dan ente), jangan diterjemahkan jadi kata (elu-gue), dll. Karena bahasa al-Wyr’an merupakan bahasa sangat santun dan debgan strukrur bagasa yang tinggi. Jadi, jangan menggunakan bahasa guyonan yang biasa dipergunakan sehari-hari. Dengan begitu, kita juga meledtarikan budaya dan bahasa Arab yang sangat mulia dan ssntun tersebut.</p>
<p>Jika disepakati begitu, maka terjemahan ini menjadi khazanah tersendiri dalam pelestarian tradisi bahasa dan budaya Betawi.</p>
<p>Pamulang, 10 Juli 2024.<br />
Murodi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pelestarian-tradisi-dan-budaya-betawi-lewat-penterjemahan-al-quran-ke-dalam-bahasa-betawi/">Pelestarian Tradisi dan Budaya Betawi Lewat Penterjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.uinjkt.ac.id/uploads/fmXyXwZY/2022/09/IMG-20220923-WA0051.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ondel-ondel: Tradisi Kebudayaan Betawi yang Tergadai</title>
		<link>https://jakpos.id/ondel-ondel-tradisi-kebudayaan-betawi-yang-tergadai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 May 2024 01:35:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Ondel-ondel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=68334</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Generasi 60,70 dan 80, an masih ingat lagu Gamban Kromong yang&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ondel-ondel-tradisi-kebudayaan-betawi-yang-tergadai/">Ondel-ondel: Tradisi Kebudayaan Betawi yang Tergadai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Generasi 60,70 dan 80, an masih ingat lagu Gamban Kromong yang dinyanyikan ole Benyamin S, seniman legendaris dari tanah Betawi. Lagunya Ondel-ondel. Lagu ini menghantarkan kreasi seniman masyarakat Betawi, ondel-ondel menjadi salah satu ikon kebudayaan komunitas etnis masyarakat Betawi. Bahkan menjadi simbol tersendiri di Daerah Khusus Ibu Kota(DKI) Jakarta, sebelum adanya Kepres tentang perpindahan Ibu Kota ke Penajam (Kalimantan Timur). IKN (Ibu Kota Nusantara), menggantikan posisi DKI Jakarta. Dan juga sudah ada Pergub DKI Jakarta bahwa setiap bangunan pemerintah dan swasta, diharuskan menggunakan simbol Betawi, seperti adanya ukiran gigi belalang dalam setiap bangunan, selain simbol Betwi, Ondel-ondel Betawi.</p>
<p>Pernah suatu hari saat saya sedang naik angkot, ketika ada ondel-ondel sedang atraksi di jalanan pagi hari, ada salah seorang penumpang berceloteh. “ Wah kasihan ya sekarang. Orang Berawi sudah pada jatuh miskin. Gak punya pekerjaan dan gak punya duit, sampai-sampai ondel-ondel disuruh kerja cari duit. Emang dasar orang Betawi pemalas. Culas dan gak kreatif apalagi produktif. Masa ondel-ondel yang disuruh bekerja, cari duit. Padahal, dahulu banyak orang Betawi yang kaya. Tanahnya luas. Kontrakannya banyak, sekarang ludes. Habis males sih. Mau ngawinin, jual tanah. Mau naik haji jual tanah. Mau makan enak jual tanah. Dan sekarang benar-benar ludes semuanya.</p>
<p>Tampaknya, sang penumpang punya dendam tersendiri pada orang Betawi. Entah apa tang terjadi. Tapi,<br />
kalau dipikir-pikir, kadang ada benarnya juga. Orang Betawi itu memang pemalas. Gak mau bekerja keras. Terlebih mereka yang cuma lulusan SMP atau SMA. Paling banter juga cuma ngojek. Mau kerja kantoran, banyak pesaing yang sudah sarjana. Kalau diterima di kantoran, paling jadi OB atau security. Sangat jarang yang mnduduki jabatan top leader di lembaga atau perusahaan pemerintah.</p>
<p>Eit, sebentar dulu. Boleh kita dengar dan pahami komentar si penumpang angkot tadi. Dia kasihan pada di ondel-ondel Betawi yang dipaksa bekerja cari duit. Tapi, kalau kita cermati dan tanya satu-perstau pemain ondel-ondel, pasti akan tercengang. Kenapa…? Karena dari para pemain ondel-ondel keliling, semua bukan penduduk Betawi. Mereka berasal dari beberapa daerah di Jawa; seperti dari Cirebon, Indrammayu dan ada juga yang berasal dari Brebes dan Tegal.</p>
<p>Mereka datang ke Jakarta, tujuan utamanya bukan jadi pemain ondel-ondel. Tapi cari pekerjaan lain. Karena mereka kalah bersaing dan belum memperoleh pekerjaan yang mereka inginakan, untuk sementara waktu, mereka menjadi pemain ondel-ondel. Meski akhirnya banyak di antara mereka yang terus menjadi pengamen ondel-ondel jalananan.</p>
<h3>Ondel-ondel Betawi: Sejarah dan fungsi awal sebagai Tolak Bala</h3>
<p>Tidak ada data dan bukti sejarah yang menunjukkan secara detil siapa orang pertama yang membuat ondel-ondel. Hanya ada yang mengatakan bahwa ondel-ondel sudah ada sebelum tahun 1600 M. Hal ini dapat ditemukan dalam catatan seorang pedagang dari Inggris W. Scot. Dalam catatannya W. Scot mengatakan bahwa terdapat sebuah pertunjukkan adat yang unik berupa Boneka Raksasa terbuat dari kertas yang dilakukan oleh masyarakat adat di Betawi. Pada mulanya, patung besar terbuat dari kertas tersebut digunakan untuk melindungi masyarakat dari gangguan ruh jahat. Sebagai Tolak Bala.</p>
<p>Hal ini seperti apa yang dikatakan Kustopo, semula patung ondel-ondel digunakan oleh masyarakat sebagai media tolak bala. Karena pada masa itu, ada masyarakat satu kampung di Sundapura, terkena bencana dan semua warga sakit. Karena waktu itu belum ada dokter yang mampu mengobati penyakit tersebut, akhirnya ada seorang dukun yang dianggap mampu mengobati penyakit massal tersebut.</p>
<p>Kemudian Sang dukun melakukan semedi untuk mendapatkan wangsit dari langit. Dalam persemedian itu, ia mendapat wangsit agar membuat patung besar dari kertas.</p>
<p>Karena itu kemudian, setelah bangun, sang dukun membuat patung raksasa terbuat dari kertas yang digunakan sebagai alat tolak bala, untuk menyembuhkan penyakit. Boneka kertas tersebut diarak dengan diiringi musik, sehingga patung itu berjalan sembari geleng-geleng kepala, mengusir bala yang mengancam masyarakat Sundapura. Dan akhirnya, satu persatu warga sembuh sehingga masyarakat satu kampung di Sundapura, sembuh dari penyakit.</p>
<p>Jadi, patung orang-orangan yang terbuat dari kertas tersebut, dijadikan sebagai media pengobatan dan mengusir ruh jahat. Kemudian dianggap sakral dan dalam setiap acara adat, selalu ada ondel-ondel, sebagai media tolak bala dan pengusir ruh jahat, yang kemudian menjadi hiburan warga. Sejak saat itulah ondel-ondel dijadikan sebagai hiburan buat warga.</p>
<p>Dari gerakan menggelengkan kepala itulah kemudian masyarakat menyebutkan dengan ondel-ondel. Nama itu terus digunakan hingga saat ini.</p>
<h3>Kebijakan Gubernur DKI Jakarta</h3>
<p>Ketika Ali Sadikin mrnjabat Gubernur DKI Jakarta pada 1966-1977, ia mengeluarkan kebijakan bahwa ondel-ondel sebagai seni pertunjukkan rakyat untuk menghibur masyarakat. Kian hari terjadi pergeseran makna spiritual magic boneka ondel-ondel, dari boneka tolak bala menjadi bonek seni hiburan buat masyarakat Jakarta. Dari boneka yang mengerikan, karena tampang wajah dan matanya yang menyeramkan, diubah dengan tampang yang bersahabat dan humanis.</p>
<p>Dengan demikian, perubahan sakralitas pada ondel-ondel menjadi profan, karenanya ia tidak lagi menjadi media atau alat tolak bala dalam penyembuhan, tetapi menjadi boneka hiburan yang dapat dinikmat masyarakat.</p>
<p>Perubahan itu juga sebagai akibat pemda DKI menghendaki adanya simbol buat kebudayaan Betawi di DKI Jakarta. Dan Boneka ondel-ondel sekarang menjadi simbol kebudayaan masyarakat Betawi, yang memiliki makna filosofis sebagai kekuatan yang mampu memberikan perlindungan pada masyarakat.</p>
<p>Tapi sekarang, sepertinya ada penyimpangan dan penyalahgunaan bonek ondel-ondel, sudah berubah fungsi dari sesuatu yang sakral, menjadi benda profan, dan dimainkan hanya sekadar hiburan untuk mencari uang. Lebih parahnya lagi, bukan dimainkan oleh masyarakat Betawi, sebagai pewaris sah dari kebudayaan ini. Karena itu, menurut saya, harus ada kebijakan pelarangan menjajagan pertunjukkan ondel-ondel di jalanan. Tidak hanya merusak citra ondel-ondel itu sendiri, terlebih masyarakat Betawi{Odie}.</p>
<p>Pamulang, 05-05-2024.<br />
Murodi al-Batawi.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ondel-ondel-tradisi-kebudayaan-betawi-yang-tergadai/">Ondel-ondel: Tradisi Kebudayaan Betawi yang Tergadai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/indonesiadaily.net/wp-content/uploads/2023/02/ondel-ondel-tradisional-betawi.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tari Topeng Betawi: Tradisi Seni Teater Pertunjukkan Masyarakat Betawi</title>
		<link>https://jakpos.id/tari-topeng-betawi-tradisi-seni-teater-pertunjukkan-masyarakat-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2024 01:04:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=67603</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tari Topeng Betawi adalah seni pertunjukkan masyarakat Betawi pinggir yang mengandung unsur tari, musik, vokal, sastra dan seni rupa</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tari-topeng-betawi-tradisi-seni-teater-pertunjukkan-masyarakat-betawi/">Tari Topeng Betawi: Tradisi Seni Teater Pertunjukkan Masyarakat Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Tari Topeng Betawi adalah seni pertunjukkan masyarakat Betawi pinggir yang mengandung unsur tari, musik, vokal, sastra dan seni rupa. Dalam beberapa pertunjukkan Tari Topeng hampir sama dengan pertunjukkan Lenong Betawi.</p>
<p>Kalau pertunjukkan Lenong Betawi, selalu diawali dengan musik gambang kromong diikuti dengan suara penyanyi pemain Lenong. Sementara pertunjukkan Tari Topeng Betawi diawali dengan musik kliningan dan pemain yang menari dengan menggunakan Topeng, ia menari mengikuti irama musik yang dimainkan.</p>
<p>Setelah itu, baru ada pertunjukkan permainan dengan scenario yang dibuat oleh penulis naskah dan dikembangkan lewat improvisasi para pemain Tari Topeng. Cara seperti ini hampir sama dengan pertunjukkan permainan Lenong Betawi.</p>
<h3>Tari Topeng: Sejarah dan perkembangannya</h3>
<p>Kesenian Tari Topeng Betawi merupakan hasil kreasi para seniman Betawi pinggir, Betawi Ora. Penciptanya adalah Mak Kinong dan Kong Djioen pada tahun 1930-an. Mereka terinspirasi dari kesenian tari Cirebon. Pada awalnya, para penari Topeng tampil berkeliling kampung dan bermain di tengah lapangan disinari oleh lampu minyak tanah.</p>
<p>Seni tari ini terus mengalami perkembangan setelah diundang oleh orang yang punya hajat, seperti perkawinan dan sunatan. Para penari tidak lagi menari di lapangan tengah malam, tapi sudah menggunakan panggung dan lampu petromax, yang kemudiaan berganti dengan lampu listrik, setelah listrik mulai digunakan oleh masyarakat.</p>
<p>Dalam pertunjukkan Tari Topeng, para penari menggunakan dua topeng, minimal. Topeng warna Putih dan Topeng warna Merah. Topeng warna putih melambangkan kesucian dengan topeng tersenyum atau ajer. Sedang topeng warna merah simbol kegagahan dan keperkasaan. Para penari harus kuat fisik, terutama kaki. Karena kaki dijadikan tumpuan untuk menahan badan dan badan harus gendes, gemulai.</p>
<p>Para penari Topeng dan masyarakat Betawi Pinggir saat itu menganggap bahwa Tari Topeng memiliki kekuatan Magis. Karena itu, sebelum pertunjukkan, mereka melakukan meditasi dengan cara membakar kemenyan dan lain sebagainya. Bahkan banyak juga masyarakat Betawi pinggir beranggapan, Tari Topeng dapat mengusir musibah dan menghalau kejahatan.</p>
<p>Di antara Group Tari Topeng yang cukup terkenal pada masanya adalah Topeng Setyawarga. Mereka mentas dari satu kampung ke kampung lainnya di daerah Betawi. Hanya perkembangan Topeng Betawi tidak sepesat Lenong Betawi. Kalau Lenong Betawi hampir tersebar ke seluruh Jabodetabek, sedang Tari Betawi hanya ada di daerah Cisalak, Cimanggis, Depok dan Bekasi.{Odie}</p>
<p><em>Pamulang, 19 April 2024</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tari-topeng-betawi-tradisi-seni-teater-pertunjukkan-masyarakat-betawi/">Tari Topeng Betawi: Tradisi Seni Teater Pertunjukkan Masyarakat Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2023/09/Properti-Apa-yang-Digunakan-Tari-Gegot.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
