<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FOMO Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/fomo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/fomo/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jun 2025 00:03:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>FOMO Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/fomo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gen Z, FOMO Kuliner, dan Normalisasi Gaya Hidup Boros</title>
		<link>https://jakpos.id/gen-z-fomo-kuliner-dan-normalisasi-gaya-hidup-boros/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2025 00:03:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88794</guid>

					<description><![CDATA[<p>FOMO memicu kecemasan akan keterasingan dari pengalaman, acara, atau aktivitas yang sedang berlangsung, khususnya yang terlihat di media sosial</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/gen-z-fomo-kuliner-dan-normalisasi-gaya-hidup-boros/">Gen Z, FOMO Kuliner, dan Normalisasi Gaya Hidup Boros</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>FOMO memicu kecemasan akan keterasingan dari pengalaman, acara, atau aktivitas yang sedang berlangsung, khususnya yang terlihat di media sosial</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital yang serba cepat ini, meskipun hidup menjadi lebih mudah, hal tersebut juga memicu gaya hidup yang berpotensi merusak keuangan, utamanya untuk Generasi Z. Generasi ini tumbuh dalam suasana yang mendukung tingkat konsumsi yang tinggi. Dari sinilah muncul fenomena psikologis yang mendorong gaya hidup boros yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).</p>
<p>FOMO menciptakan kekhawatiran akan kehilangan sesuatu, sehingga banyak anak muda rela mengeluarkan uang demi mendapatkan pengakuan. FOMO memicu kecemasan akan keterasingan dari pengalaman, acara, atau aktivitas yang sedang berlangsung, khususnya yang terlihat di media sosial.</p>
<p>Sebuah studi yang dilakukan oleh Jakpat (2024) menunjukkan bahwa 75% pengeluaran Generasi Z dialokasikan untuk kebutuhan makanan. Ini lebih dari sekadar makan untuk bertahan hidup, melainkan juga untuk mengekspresikan diri, dari berkumpul di kafe yang menarik hingga mencari hidangan viral untuk konten di Instagram atau TikTok.</p>
<p>&#8220;Rasanya tidak lengkap jika makan di tempat yang estetik tetapi tidak diabadikan,&#8221; ungkap Tiara, seorang anggota Generasi Z yang gemar berburu kuliner di Tangerang.</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi kini telah bertransformasi dari sekadar kebutuhan menjadi bagian dari identitas diri. Makan telah menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, menampilkan gaya hidup, dan memperkuat hubungan sosial.</p>
<p>Kemudahan dalam layanan pengantaran makanan juga mengurangi kebiasaan memasak di rumah. Makan bersama teman atau keluarga, di sisi lain, menjadi aspek penting dalam membangun hubungan sosial. Banyak anggota Generasi Z memanfaatkan kesempatan makan bersama untuk memperkuat ikatan dengan orang-orang terdekat. Meski demikian, gaya hidup ini memiliki dampak negatif.</p>
<p>FOMO yang terus-menerus berseliweran di media sosial dapat mendorong perilaku konsumtif, pembelian impulsif, bahkan utang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa literasi keuangan Generasi Z hanya mencapai 44,04% pada tahun 2024, yang tergolong rendah dan lebih buruk daripada generasi milenial. Keterbatasan pemahaman keuangan ini meningkatkan risiko mengambil keputusan finansial yang merugikan diri sendiri.</p>
<p>Pola konsumsi yang tinggi pada Generasi Z dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti rendahnya literasi keuangan dan tekanan dari media sosial yang menampilkan gaya hidup instan. Selain itu, kecenderungan membeli barang secara impulsif karena terpikat promosi dan diskon memperburuk pola konsumsi yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Namun, tidak semua anggota Generasi Z terjebak dalam gaya hidup boros. Beberapa di antara mereka telah menunjukkan kesadaran baru untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan. Berikut adalah beberapa strategi yang mulai mereka terapkan untuk mengelola keuangan dengan lebih baik.</p>
<p>Pertama, mereka membuat anggaran bulanan dengan mencatat pengeluaran secara manual atau menggunakan aplikasi keuangan untuk memastikan pengeluaran tetap teratur dan menetapkan anggaran yang realistis. Kedua, mereka memanfaatkan teknologi melalui aplikasi keuangan untuk memantau pengeluaran, mengelola anggaran, serta merencanakan kebutuhan, tabungan, dan hiburan. Ketiga, mereka mulai berinvestasi sedari awal untuk mempersiapkan masa depan finansial yang lebih baik. Terakhir, berburu promo dan cashback merupakan langkah cerdas untuk mengurangi pengeluaran tanpa mengesampingkan kebutuhan.</p>
<h3>Tips Belanja Hemat ala Gen Z</h3>
<p><strong>⦁ Berbelanja Saat Flash Sale</strong><br />
Generasi Z cenderung menunggu momen flash sale untuk membeli barang yang mereka inginkan dengan harga lebih terjangkau. Mereka memanfaatkan hari-hari seperti Harbolnas, 9. 9, hingga 12. 12 sebagai waktu yang ideal untuk berbelanja. Dengan cara ini, mereka bisa menghemat uang tanpa mengorbankan kualitas produk.</p>
<p><strong>⦁ Menggunakan E-Wallet</strong><br />
Selain memudahkan transaksi, dompet digital sering menawarkan promosi menarik dan cashback. Generasi Z memanfaatkan fitur ini untuk melakukan pembelanjaan yang lebih hemat baik secara online maupun offline. Beberapa dompet digital juga menyediakan fitur pengelolaan anggaran yang membantu mereka merencanakan keuangan.</p>
<p><strong>⦁ Menyusun Daftar Keinginan</strong><br />
Sebelum berbelanja, mereka membuat daftar keinginan atau wishlist yang membantu menentukan prioritas kebutuhan. Ini dapat menghindarkan mereka dari pembelian yang tidak terencana, yang sering terjadi karena melihat diskon. Dengan perencanaan yang baik, pengeluaran mereka bisa lebih terkontrol.</p>
<p><strong>⦁ Berbelanja Berdasarkan Anggaran</strong><br />
Mereka menetapkan batasan pengeluaran sebelum berbelanja dan berkomitmen untuk tidak melebihi jumlah tersebut. Langkah ini sangat penting untuk menjaga kesehatan finansial dan menghindari kebiasaan boros. Dengan belanja sesuai anggaran, Generasi Z tetap bisa berhemat tanpa merasa kekurangan.</p>
<p><strong>⦁ Membandingkan Tarif</strong><br />
Sebelum membeli, Generasi Z teliti dalam memeriksa harga barang di berbagai marketplace. Mereka menggunakan alat pencarian harga otomatis atau membandingkan secara manual. Ini membantu mendapatkan produk terbaik dengan harga yang paling bersaing.</p>
<p><strong>⦁ Membeli Barang Bekas atau Thrifting</strong><br />
Thrifting menjadi pilihan menarik karena menyajikan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, Generasi Z juga melihatnya sebagai dukungan terhadap gaya hidup ramah lingkungan dan anti-konsumerisme. Dengan barang bekas yang berkualitas, mereka masih bisa tampil gaya tanpa menghabiskan banyak uang.</p>
<p><strong>⦁ Mengikuti Akun Promo dan Influencer</strong><br />
Generasi Z aktif mengikuti akun media sosial yang membagikan informasi tentang diskon, flash sale, dan kode promo. Mereka juga berlangganan influencer yang rutin mereview produk dengan harga terjangkau tetapi berkualitas. Ini membuat mereka selalu mendapatkan informasi terbaru dan bisa memanfaatkan peluang berhemat dengan maksimal.</p>
<p>Fenomena Generasi Z yang begitu suka berbelanja makanan tidak sepenuhnya berdampak buruk. Ini juga merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan diri dan menikmati hidup. Namun, penting bagi generasi ini untuk mulai menyeimbangkan gaya hidup mereka dengan kesadaran finansial, agar tidak terjebak dalam pola konsumsi yang boros.</p>
<p>Mengatur anggaran, belajar menabung, dan memilah antara keinginan serta kebutuhan bisa menjadi langkah awal untuk menuju kehidupan keuangan yang lebih baik.</p>
<p><em><strong>Oki Putri Aditya</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/gen-z-fomo-kuliner-dan-normalisasi-gaya-hidup-boros/">Gen Z, FOMO Kuliner, dan Normalisasi Gaya Hidup Boros</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/ik.trn.asia/uploads/2023/01/1673063600852.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Fenomena FOMO sebagai Tantangan Psikologis pada Generasi Z di Indonesia</title>
		<link>https://jakpos.id/fenomena-fomo-sebagai-tantangan-psikologis-pada-generasi-z-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 01:10:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88724</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Menurut beberapa peneliti di Indonesia, Fear of Missing Out (FOMO) dikaitkan dengan peningkatan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-fomo-sebagai-tantangan-psikologis-pada-generasi-z-di-indonesia/">Fenomena FOMO sebagai Tantangan Psikologis pada Generasi Z di Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Menurut beberapa peneliti di Indonesia, Fear of Missing Out (FOMO) dikaitkan dengan peningkatan penggunaan media sosial oleh <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/generasi-z-bisa-terbebas-dari-depresi/">Generasi Z</a>. FOMO adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan takut, cemas, atau khawatir yang muncul saat seseorang kehilangan informasi baru, seperti tren, berita, atau aktivitas orang lain. FOMO muncul biasanya saat orang menggunakan media sosial. Generasi Z lebih akrab dengan sosial media daripada generasi sebelumnya.</p>
<p>Fenomena ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman yang memuaskan atau lebih memuaskan daripada mereka, <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/hidup-dalam-fomo-ketika-takut-ketinggalan-membuat-kita-kehilangan-diri/">FOMO</a> menyebabkan perasaan tidak puas, gelisah, dan tekanan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru.</p>
<p>Beberapa komponen psikologis seringkali berkontribusi pada fenomena ini. FOMO muncul ketika kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain tidak terpenuhi, sehingga seseorang merasa terisolasi atau tidak terlibat dengan orang lain. Karena mereka merasa tidak cukup baik dibandingkan dengan orang lain, orang dengan harga diri yang rendah cenderung mengalami FOMO. FOMO sering berhubungan dengan peningkatan stres, kecemasan, dan depresi, terutama bagi individu yang merasa tertekan untuk mengikuti perilaku atau gaya hidup tertentu.</p>
<p><strong>Adapun dampak negatif dari FOMO ini adalah;</strong></p>
<p>⦁ Dampak pada Kesehatan Mental: Hasil menunjukkan bahwa 65% responden mengalami gejala kecemasan yang signifikan, yang sering disebabkan oleh perbandingan sosial di media sosial. Responden melaporkan bahwa mereka merasa rendah diri dan tidak cukup baik ketika melihat kehidupan orang lain yang tampaknya menarik.</p>
<p>⦁ Penggunaan Media Sosial yang Berlebihan: Responden umumnya mengeluarkan waktu antara empat sampai lima jam setiap harinya di platform media sosial. Penggunaan yang berlebihan ini menimbulkan rasa <a href="https://www.depokpos.com/2024/12/fenomena-fomo-di-dunia-lari-tren-atau-tekanan-sosial/">FOMO</a> yang meningkat dan dampak buruk bagi kesehatan mental mereka. Beberapa orang yang lebih aktif di media sosial mulai melaporkan mengalami tingkat kecemasan yang sangat tinggi.</p>
<p>⦁ Persepsi terhadap Media Sosial: Banyak peserta akui pengaruh buruk dari platform sosial, tetapi mereka tetap merasa susah untuk melepaskan penggunaannya. Sebagian besar dari mereka meyakini bahwa media sosial adalah satu-satunya metode untuk tetap berhubungan dengan kawan-kawan dan mendapatkan berita terkini.</p>
<p>Dari beberapa dampak negatif dari FOMO ada beberapa solusi untuk mengatasinya, yaitu bisa dengan cara ;</p>
<p>⦁ Dengan menerapkan Joy of Missing Out (JOMO) dan Subjektif Well-Being (SWB), orang meningkatkan kelebihan diri sendiri dan mengurangi penggunaan media sosial. Menyadari bahwa FOMO adalah jenis distorsi kognitif yang dapat diperbaiki dapat membantu Anda mengubah persepsi negatif menjadi persepsi positif. Untuk mengatasi pikiran negatif, lakukan puasa media sosial, atau detox digital.</p>
<p>⦁ Terapi Perilaku Emosional Rasional (REBT) adalah suatu pendekatan berfokus pada pemikiran yang bertujuan untuk mengenali dan merubah kepercayaan yang tidak logis yang menyebabkan FOMO dengan cara berpikir yang lebih logis dan adaptif. Teknik pernapasan serta manajemen waktu diperkenalkan untuk mengurangi kecemasan sosial dan ketergantungan pada media sosial.</p>
<p>⦁ Perilaku emosional (RBT) adalah pusat dari perbedaan ini dan mempertahankan keyakinan yang masuk akal yang mengarah pada bukti yang masuk akal. Kurangi kekhawatiran sosial dan mengandalkan jejaring sosial untuk periode pernapasan dan kontrol.</p>
<p>⦁ Mindfulness Therapy: Praktek mindfulness dapat membantu mengubah sikap, perhatian, dan niat secara keseluruhan, yang membantu menjaga kesehatan mental di era digital. Ini juga dapat mengurangi kecemasan, kecemasan, dan stres yang disebabkan oleh FOMO.</p>
<p>⦁ Detoks Media Sosial dan Peningkatan Kontrol Diri: Menggunakan detoks digital dan pemberdayaan diri untuk mengurangi intensitas penggunaan media sosial dapat mengurangi perilaku adiktif dan perasaan FOMO. Metode ini juga dapat disesuaikan dengan konteks budaya konseli untuk mencapai hasil terbaik.</p>
<p>Salah satu contoh fenomena FOMO ini adalah individu yang sering membuka aplikasi sosial media Instagram berulang kali untuk melihat apa yang dilakukan oleh pengikutnya. ​​Instagram menawarkan penggunanya kesempatan untuk membagikan gambar atau klip video yang paling menarik untuk ditampilkan dan dilihat, berfungsi sebagai tempat untuk menampilkan kehidupan sosial di dunia maya.</p>
<p>Pengguna Instagram lain yang melihat postingan tersebut dapat menyebabkan FOMO karena seseorang yang sering melihat teman di Instagram melakukan aktivitas yang sangat menyenangkan, seperti bepergian, melakukan kegiatan seru, membeli barang, dan menikmati waktu, sehingga individu yang sering melihat konten itu akan merasa terpinggirkan jika tidak berpartisipasi dalam kegiatan serupa dengan rekan-rekannya di Instagram.</p>
<p>Contoh sederhana dari perilaku seseorang yang terindikasi FOMO adalah mengecek chat, telepon, atau notifikasi media sosial secara teratur dan berulang, terlepas dari apakah informasi tersebut penting atau tidak. Mereka mungkin mengakses atau mengecek Instagram berulang kali setiap hari karena alasan tertentu, seperti ingin melihat aktivitas orang lain atau mengikuti tren yang sedang terjadi di platform tersebut berdasarkan apa yang dilakukan oleh orang lain. Pengalaman yang didapat dari media sosial dapat mengakibatkan perasaan takut ketinggalan, baik itu disadari maupun tidak.</p>
<p><em>Tiara Rhamadani</em><br />
<em>Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-fomo-sebagai-tantangan-psikologis-pada-generasi-z-di-indonesia/">Fenomena FOMO sebagai Tantangan Psikologis pada Generasi Z di Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.kahfeveryday.com/_next/image/?url=https%3A%2F%2Fkahf-bucket-prod.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com%2F559%2FApa-Itu-FOMO.jpg&#038;w=3840&#038;q=75&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Hidup dalam FOMO: Ketika Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri</title>
		<link>https://jakpos.id/hidup-dalam-fomo-ketika-takut-ketinggalan-membuat-kita-kehilangan-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 10:11:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fear of Missing Out]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87630</guid>

					<description><![CDATA[<p>Secara psikologis, FOMO bisa memicu stres dan kecemasan yang berkelanjutan</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hidup-dalam-fomo-ketika-takut-ketinggalan-membuat-kita-kehilangan-diri/">Hidup dalam FOMO: Ketika Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Secara psikologis, FOMO bisa memicu stres dan kecemasan yang berkelanjutan</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital seperti sekarang, istilah FOMO atau &#8220;Fear of Missing Out&#8221; sudah jadi hal yang sangat familiar. FOMO adalah rasa takut atau cemas kalau kita ketinggalan sesuatu baik itu tren, berita, acara, atau bahkan pengalaman sosial yang sedang viral. Fenomena ini makin menguat karena media sosial yang memungkinkan kita melihat apa yang sedang dilakukan orang lain secara real-time.</p>
<p>Namun, hidup dalam bayang-bayang FOMO ternyata nggak cuma bikin kita selalu ingin ikut-ikutan, tapi juga bisa membuat kita kehilangan diri sendiri. Kita jadi lebih sibuk membandingkan hidup kita dengan orang lain, merasa kurang, dan terus mengejar sesuatu yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan keinginan asli kita.</p>
<p>Secara psikologis, FOMO bisa memicu stres dan kecemasan yang berkelanjutan. Kita jadi sulit menikmati momen yang sedang kita jalani karena pikiran kita selalu terfokus pada apa yang mungkin terjadi di luar sana. Hal ini juga bisa merusak hubungan sosial kita karena perhatian kita terbagi antara dunia nyata dan dunia maya.</p>
<p>Dari sisi budaya, FOMO juga mencerminkan bagaimana masyarakat modern mengaitkan kebahagiaan dengan status sosial dan pengakuan dari orang lain. Kita merasa harus selalu update dan tampil &#8220;sempurna&#8221; agar diterima dalam lingkaran sosial. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali datang dari penerimaan diri sendiri dan menikmati apa yang kita punya.</p>
<h3>Solusi Mengatasi FOMO</h3>
<p>Untuk keluar dari lingkaran FOMO, kita perlu membangun kesadaran dan kebiasaan baru yang lebih sehat.</p>
<p>batasi penggunaan media sosial agar kita tidak terus-terusan terpapar hal-hal yang memicu rasa takut ketinggalan. Misalnya, tentukan waktu khusus untuk cek media sosial dan hindari membuka ponsel saat sedang bersama keluarga atau teman.</p>
<p>latih diri untuk bersyukur dengan apa yang kita miliki dan fokus pada pengalaman nyata yang sedang dijalani. Mindfulness atau kesadaran penuh terhadap momen sekarang bisa membantu kita menghargai hidup tanpa harus merasa iri pada orang lain.</p>
<p>bangun hubungan sosial yang mendukung dan saling memahami. Bergaul dengan orang yang bisa menerima kita apa adanya akan membuat kita merasa lebih percaya diri dan tidak tergantung pada penilaian orang lain.</p>
<p>FOMO memang menjadi tantangan besar di zaman sekarang, terutama dengan kemudahan akses informasi dan interaksi melalui media sosial. Namun, kita tidak harus terus terjebak dalam rasa takut ketinggalan yang justru merugikan diri sendiri.</p>
<p>Dengan mengenali dampaknya dan mulai mengubah kebiasaan, kita bisa menjalani hidup yang lebih tenang dan bermakna. Pada akhirnya, kebahagiaan bukan soal seberapa banyak kita mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan, tapi tentang bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri dan menikmati setiap perjalanan hidup yang kita jalani.</p>
<p><em>Siti Nur Rasya</em><br />
<em>Mahasiswi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hidup-dalam-fomo-ketika-takut-ketinggalan-membuat-kita-kehilangan-diri/">Hidup dalam FOMO: Ketika Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/rspp.co.id/uploads/img_post/img_1806202417186767441QWEY.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
