<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gadget Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/gadget/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/gadget/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Sep 2025 01:34:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Gadget Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/gadget/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Detoks Gadgetmu, Raih Mimpi Muliamu!</title>
		<link>https://jakpos.id/detoks-gadgetmu-raih-mimpi-muliamu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2025 01:34:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Detox]]></category>
		<category><![CDATA[Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91658</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Elmira Fairuz Inayah, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/detoks-gadgetmu-raih-mimpi-muliamu/">Detoks Gadgetmu, Raih Mimpi Muliamu!</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Elmira Fairuz Inayah, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok</strong></em></p>
<p>Gadget itu memang kayak sahabat dekat, ya. Ada terus di samping kita. Bangun tidur, cek notifikasi, lagi makan sambil scroll TikTok, lagi belajar eh, buka IG dulu deh, mau tidur, nonton reels sampai ketiduran. Hidup kayaknya kurang lengkap tanpa layar 6 inci itu.</p>
<p>Tapi sadar enggak, kadang-kadang “sahabat” ini justru ngegerogoti kita pelan-pelan ke jurang keterikatan yang nyaris tak terasa. Gejala ini dikenal dengan nomophobia. Ini bukan nama penyakit di film fiksi ilmiah, tapi singkatan dari no mobile phone phobia, alias ketakutan berlebihan kalau jauh dari HP.</p>
<p>Dari bangun tidur sampai tidur lagi, rasanya nempel terus sama HP. Bangun tidur langsung cek notifikasi, makan sambil scroll TikTok, belajar tapi nyambi dengerin lagu dan chatting. Nggak heran kalau nomophobia jadi salah satu isu kesehatan mental paling sering ditemukan di kalangan pelajar sekarang. Tak bisa hidup tanpa sinyal. Blank spot!</p>
<p>Oleh karenanya, hati-hati candu digital. Banyak dari kita enggak sadar sudah kecanduan gadget. Eggak bisa lepas. Dan yang lebih bahaya, kita merasa ini wajar-wajar aja. Padahal, makin lama, kebiasaan ini menggerogoti masa depan kita. Kita jadi gampang terdistaksi, susah fokus, susah tidur, gampang baper, insecure karena perbandingan hidup orang lain di sosmed, dan parahnya, jadi kehilangan arah hidup.</p>
<p>Kalau sudah kecanduan, jadi ketagihan. Lupa waktu, lupa diri, lupa dengan masa depan. Scrolling endless, stalking akun gosip, mabar sampai lupa waktu, nonton video reels berjam-jam. Katanya biar tetap tak ketinggalan berita viral, tetap update dengan gosip terbaru. Bisa ngikutin trending di linimasa dan konten fyp. Ujung-ujungnya jadi FOMO (Fear of Missing Out).</p>
<p>Namun, ingat akan bahayanya FOMO. Ngenes sih ketika banyak remaja dan pelajar terjebak dalam lingkaran gaya hidup FOMO. Rasa takut ketinggalan bikin enggak nyaman pas lihat teman-teman upload kegiatan keren, ngomongin konten viral, momen seru, atau barang baru — sementara kita ngerasa “enggak ikut”, “enggak punya”, atau “enggak sekeren mereka”. Enggak update.</p>
<p>Akibatnya, FOMO membuat remaja selalu merasa &#8220;kurang update&#8221;, merasa hidupnya kurang seru dibanding orang lain di media sosial. Ini bisa memicu kecemasan berlebihan, overthinking, bahkan depresi ringan hingga berat karena terus-menerus membandingkan hidupnya dengan orang lain yang di-highlight di media sosial.</p>
<p>Karena takut ketinggalan notifikasi atau konten baru, banyak remaja enggak bisa fokus belajar. Otaknya terus dipaksa bekerja untuk buka HP. Sampai rela scrolling TikTok, ngecek IG story, atau mantengin chat. Padahal, keharusan ini bisa menurunkan daya pikir, emosi jadi labil, dan tubuh gampang sakit. Sekolah jadi kacau, prestasi jeblok!</p>
<p>Selain FOMO, game online juga enggak kalah bikin candu. “Cuma 10 menit,” katanya. Tapi tiba-tiba sudah tengah malam. Ranking naik, tapi PR numpuk. Skin nambah, tapi hafalan Al-Qur&#8217;an mandek. Remaja yang kecanduan game seringkali kehilangan kehangatan interaksi dengan keluarga. Karena lebih banyak waktu dihabiskan untuk main game, komunikasi jadi minim. Bahkan, sebagian jadi menunda saat diminta berhenti main. Ini bisa memicu konflik berkepanjangan dan bikin hubungan dengan orang tua renggang.</p>
<p>Adapun game online berefek memicu pelepasan dopamin berlebihan di otak — mirip efek narkoba. Akibatnya, otak jadi “malas” menerima rangsangan lain seperti belajar atau membaca. Konsentrasi menurun, daya ingat melemah, prestasi sekolah jeblok. Banyak game yang menjual in-app purchase atau item berbayar. Sebagian remaja rela menghabiskan uang jajan, bahkan uang keluarga, untuk beli skin, senjata, atau item game lainnya. Bahkan sampai meminjam uang atau berutang demi game. Terjebak pinjol!</p>
<p>Dan yang enggak kalah miris, banyak game online yang menyisipkan unsur kekerasan, darah, bahkan sensualitas. Lama-lama, hati jadi bebal terhadap maksiat. Sebagian gamer bahkan memicu toxic behavior, seperti ngomong kasar, nge-cheat, atau nyinyirin orang lain.</p>
<p>Maka, sekarang saatnya detoks digital. Gadget bukan musuh, tapi dia harus dijinakkan dengan detoks digital. Eggak perlu ekstrem buang HP ke tong sampah terdekat. Cukup pakai dengan bijak sesuai kebutuhan saja. Biar otak dan hati kita enggak terus-terusan dibombardir racun-racun sdunia maya yang minim manfaat dan penuh mudarat.</p>
<p>Untuk detoks digital, bagaimana tipsnya? Yang pasti harus meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda, &#8220;Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat&#8221; (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976).</p>
<p>Maka, berikut tips sederhana yang bisa kamu coba: Pertama, buat jadwal online. Tentukan waktu khusus buat buka sosmed dan game, misalnya 1 jam sehari. Di luar itu, matikan notifikasi atau aktifkan mode fokus.</p>
<p>Kedua, pasang target harian. Tulis target harian: baca 5 halaman buku, hafal 1 ayat, bantu ibu di rumah, selesaikan PR tanpa menunda. Setelah semua target selesai, baru boleh reward diri dengan main HP.</p>
<p>Ketiga, cari pengganti yang sehat. Bosen? Jangan lari ke HP. Coba olahraga ringan, ngobrol bareng keluarga, atau ikut komunitas positif. Kamu bakal kaget melihat dunia nyata itu jauh lebih keren dari dunia digital.</p>
<p>Keempat, gunakan gadget buat hal baik. Pakai HP untuk nonton kajian, dengar podcast Islami, nulis ide dakwah, atau hal yang bermanfaat lainnya. Jadikan gadgetmu alat perjuangan, bukan jebakan.</p>
<p>Ayo mulai detoks gadget sekarang! Mulai dari sekarang, segera kurangi layar, perbanyak karya. Stop gaming, perbanyak membaca, berjalan, dan berinteraksi dengan keluarga. Kurangi scrolling, perbanyak helping. Kurangi FOMO, perbanyak waktu nabung pahala.</p>
<p>Kita ini pelajar Muslim. Punya Allah sebagai tujuan, Rasulullah sebagai teladan, dan mimpi besar sebagai cita-cita tertinggi. Jangan biarkan dunia maya merampas mimpi mulia itu. Yuk, mulai dari sekarang: Detoks gadgetmu, raih mimpimu! Biar hidup makin berarti, makin berprestasi, dan selalu berkontribusi. []</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/detoks-gadgetmu-raih-mimpi-muliamu/">Detoks Gadgetmu, Raih Mimpi Muliamu!</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/imageio.forbes.com/specials-images/imageserve/1202807113/Digital-Detox-from-Devices/960x0.jpg?format=jpg&#038;width=960&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ketergantungan pada Gawai: Generasi Muda Jadi Susah Fokus</title>
		<link>https://jakpos.id/ketergantungan-pada-gawai-generasi-muda-jadi-susah-fokus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2025 08:20:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Gawai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88953</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era digital saat ini, gawai telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupansehari-hari.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ketergantungan-pada-gawai-generasi-muda-jadi-susah-fokus/">Ketergantungan pada Gawai: Generasi Muda Jadi Susah Fokus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Di era digital saat ini, gawai telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupansehari-hari.</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Dari saat bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, mata kita nyaris taklepasdari layar ponsel. Sekilas, ini tampak sebagai bentuk kemajuan.</p>
<p>Akses informasi yangsangat cepat, <a href="https://www.depokpos.com/2025/04/peran-komunikasi-digital-dan-transformasi-media-modern/">komunikasi</a> lebih praktis, dan berbagai hiburan dapat kita lihat. Namun dibalikitu, adakekhawatiran yang semakin nyata. Apakah kita ketergantungan pada gawai?</p>
<p>Rasa-rasanya, hidup tanpa gawai kayak ada yang kurang aja gitu. Bayangkan. Baru sebentar belajar, sudah timbul rasa bosan dan rasanya inginbuka <a href="https://www.depokpos.com/2025/02/dampak-tiktok-terhadap-psikologi-audiens-di-indonesia-ancaman-fomo-dan-kesehatan-mental/">Instagram</a> atau tiktok. Niatnya sebentar saja, tahu-tahu sudah satu jam scroll video lucuyangsebenernya tidak penting-penting banget, dan itu yang saya rasakan. Dulu, baca buku tebal itubiasa.</p>
<p>Sekarang? Baca caption panjang saja sudah malas. Sadar gak sih, lama-lama ini bikinkitajadi generasi yang susah fokus. Bahkan bukan cuma saya saja yang merasa begitu, teman-temansaya pun bilang hal yang sama. Konten instan media sosial seperti video Tiktok, Instagram reels, atau <a href="https://www.depokpos.com/2024/05/buntut-ajak-youtuber-korsel-ngamar-kepala-bandara-kolaka-dicopot/">YouTube</a> reels bikin segalanya serba cepat dan padat.</p>
<p>Informasi yang ditampilkan dalambentuk singkat, dansemuanya harus menarik sejak detik-detik awal. Jika tidak?</p>
<p>Lanjut scroll. Yang menjadi masalah, otak kita jadi terbiasa dengan pola seperti itu, dan kita jadi mulai kehilangan kesabaranuntukmenyerap informasi yang membutuhkan waktu dan proses. Kebanyakan konten hari ini bukanmengajak kita untuk berpikir, tapi ngajak tertawa atau emosi sesaat.</p>
<p>Tidak heran jika generasi sekarang makin jago multitasking, tapi juga makin sulit mendalami satu secara penuh. Kita mungkin pintar cari informasi lewat google, jago dalam hal membuat konten <a href="https://www.depokpos.com/2025/02/dampak-tiktok-terhadap-psikologi-audiens-di-indonesia-ancaman-fomo-dan-kesehatan-mental/">Tiktok</a>, atau lain sebagainya yang berkesinambungan dengan kecanggihan gawai pada masa kini.</p>
<p>Tetapi kalau tidak hati-hati dan bijak dalam menggunakannya, kita juga bisa menjadi generasi yangkehilangan kemampuan untuk fokus dalam menganalisis suatu masalah agar benar-benar paham. Jangan sampai kita kehilangan daya pikir yang mendalam. Pendidikan, pekerjaan, bahkanhubungan personal semua butuh fokus. Tanpa itu, kita hanya manusia yang bergerak cepat tapi kosong.</p>
<p>Teknologi bisa membawa berkah atau bencana, tergantung siapa yang pegang kendali. Kalau kita yang terus dikendalikan, lama-lama bukan cuma waktu yang terbuang, tapi jugakemampuan kita untuk berpikir jernih.</p>
<p>Generasi yang susah fokus adalah generasi yangmudahdiarahkan, mudah dipengaruhi, dan sulit berkembang. Kita perlu ruang tanpa layar. Bukanberarti gawai harus dibuang atau teknologi dimusuhi, tapi kita hanya perlu membatasi penggunaannyaatau belajar menikmati momen-momen tanpa harus pegang gawai. Fokus adalah keterampilan. Layaknya otot, jika tidak dilatih, ya lemah. Jadi, siapa yang pegang kendali sekarang, kita atau gawai?</p>
<p><em><strong>Rafli</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ketergantungan-pada-gawai-generasi-muda-jadi-susah-fokus/">Ketergantungan pada Gawai: Generasi Muda Jadi Susah Fokus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/cdn0-production-images-kly.akamaized.net/xqNgGbGOzDvjSmuoeKc0BXrGuDA=/800x450/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1120815/original/028706500_1453618152-Cover.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</title>
		<link>https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/</link>
					<comments>https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2017 07:04:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[artikel keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=10567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teknologi semakin canggih, banyak sekali bermunculan gadget-gadget baru di kalangan remaja. Salah satu nya adalah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/">Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_10568" aria-describedby="caption-attachment-10568" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-10567 wp-image-10568" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1487487792/Ketahui-Usia-Ideal-untuk-Mengenalkan-Gadget-Pada-Anak-anak_1_fd0afb.jpg" width="600" height="398" /><figcaption id="caption-attachment-10568" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Teknologi semakin canggih, banyak sekali bermunculan gadget-gadget baru di kalangan remaja. Salah satu nya adalah Android yang saat ini banyak di gandrungi kaum remaja. Globalisasi dan modernisasi nampaknya sudah memberikan kemajuan kepada masyarakat luas. Namun, tahukah jika Globalisasi dan Modernisasi ini dapat membawa kita pada hal-hal positif da negative. Tergantung bagaimana masyarakat selektif dalam memilih perkembangan teknologi yang canggih ini.</p>
<p>Bukan hanya anak muda, remaja, ibu-ibu,bapak-bapak namun anak kecil usia dini pun sudah banyak yang menggunakan Gadget. Beberapa mengungkapkan bahwa gadget adalah salah satu sarana komunikasi untuk saat ini. Memang benar, namun tahu kah bahwa anak-anak di usia dini saat ini yang sudah kehilangan harga diri nya, pelecehan, tindakan menyimpang lainnya yang di sebabkan oleh Gadget yang mereka miliki.</p>
<p>Salah satu faktor mendasar anak-anak di usia dini telah mengetahui aplikasi-aplikasi internet canggih yang dapat mereka akses kapan pun dan di mana pun. Ini sebabnya orang tua lah yang memberikan Gadget atau handphone kepada anak-anak nya pada usia dini atau terlalu terburu-buru.</p>
<p>Anak SD yang sudah mengenal Gadget bahkan bisa memberikan dampak positif dan negative pada orang-orang di sekitar nya. sebut saja si A yang karena kesibukan kedua orang tua nya, pulang pagi-sore-malam sehingga mereka memanfaatkan gadget untuk di berikan kepada anak nya. namun, tahukah bun. Anak yang kurang perhatian dari kedua orang tua nya memanfaatkan gadget sebagai teman hidup nya. ia jadikan handphone teman kemana-mana tidak lepas dari handphone. Miris, banyak waktu yang mereka habiskan hanya lewat telpon. Siang dan malam bermain games dengan gadget sesuka nya. akses internet yang canggih menyebabkan mereka terjerembab kedalam dunia pornografi yang mereka akses entah karena tidak di sengaja atau faktor lingkungan.</p>
<p>Kasus diatas lazim sekali terjadi di lingkungan kita. Banyak sekali mudharat gadget pada anak usia dini yang mereka pun kurang paham terkait penyalahgunaan gadget tersebut. Naudzubillah..</p>
<p>Salah satu cara agar anak tidak terlalu menghabiskan waktu dengan gadget nya atau bahkan jangan tergantung pada gadget dengan memberikan kegiatan-kegiatan positif terhadap anak, bimbingan belajar, bela diri, kepramukaan dan masih banyak lagi. Hal yang terbaik menjauhkan anak di usia dini pada gadget adalah perbanyak bergaul dan sosialisasi dengan sesama. Buatlah masa kecil anak kita sebagaimana mesti nya, sehingga pertumbuhan anak sekarang tidak cenderung pasif dengan aktivitas yang ada. Mereka tidak akan kaget setelah dewasa nanti memiliki masa kecil yang begitu indah tanpa harus dengan gadget. Jangan biarkan anak cucu kita menghabiskan waktu dengan gadget nya yaa bun.</p>
<p>Yuk, jangan dulu berikan gadget pada anak-anak di usia dini. Sarana komunikasi yang baik adalah salah satu nya dengan selalu berada di dekat anak. Kesibukan orang tua memang tidak ada yang tahu, namun kebersamaan bersama anak adalah hal yang utama di dunia.</p>
<p><strong>Reni Marlina (Writer Executive Media)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/">Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
