<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>grab Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/grab/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/grab/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jun 2025 01:03:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>grab Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/grab/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merger Grab dan GoTo: Efisiensi Digital atau Ancaman Persaingan Bebas</title>
		<link>https://jakpos.id/merger-grab-dan-goto-efisiensi-digital-atau-ancaman-persaingan-bebas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2025 01:03:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Goto]]></category>
		<category><![CDATA[grab]]></category>
		<category><![CDATA[Merger]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=89009</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Rencana merger antara Grab dan GoTo, dua perusahaan teknologi raksasa di Asia Tenggara,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merger-grab-dan-goto-efisiensi-digital-atau-ancaman-persaingan-bebas/">Merger Grab dan GoTo: Efisiensi Digital atau Ancaman Persaingan Bebas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Rencana merger antara Grab dan GoTo, dua perusahaan teknologi raksasa di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, memunculkan berbagai respons dari berbagai pihak—mulai dari pengamat ekonomi, pelaku usaha kecil, mitra pengemudi, hingga konsumen. Merger ini tidak bisa dipandang sebelah mata, sebab kedua perusahaan tersebut menguasai sebagian besar layanan transportasi online, pengantaran makanan, dan sistem pembayaran digital di kawasan ini.</p>
<p>Dari sudut pandang bisnis, rencana ini tampak sebagai strategi yang masuk akal dan mungkin tak terhindarkan. Di tengah ketatnya persaingan industri teknologi digital, serta tantangan ekonomi global yang menuntut efisiensi, merger menjadi langkah logis untuk memperkuat posisi pasar. Penggabungan sumber daya, jaringan teknologi, dan basis pengguna yang luas akan menciptakan skala ekonomi yang lebih besar, menekan biaya operasional, dan mempercepat inovasi. Selain itu, merger juga dianggap sebagai jalan keluar dari tekanan profitabilitas yang selama ini membayangi perusahaan-perusahaan teknologi digital yang terus membakar uang untuk bersaing.</p>
<p>Namun, di balik potensi efisiensi tersebut, terdapat kekhawatiran besar terhadap dampak merger ini terhadap persaingan usaha dan keadilan ekonomi. Dalam konteks Indonesia, GoTo merupakan hasil gabungan dua perusahaan lokal besar, yakni Gojek dan Tokopedia. Sementara Grab merupakan perusahaan asal Singapura yang selama ini juga menguasai sebagian besar pasar ride-hailing dan food delivery di Indonesia. Bila keduanya bergabung, maka akan lahir satu entitas super-app yang mendominasi hampir seluruh aspek ekonomi digital masyarakat Indonesia.</p>
<p>Dampak dominasi seperti ini tidak bisa dianggap remeh. Dengan semakin sedikitnya pemain di pasar, maka otomatis pilihan konsumen akan menjadi terbatas. Tidak menutup kemungkinan harga layanan akan meningkat secara perlahan karena tidak ada persaingan yang cukup untuk menahan kenaikan tersebut. Lebih jauh, para mitra pengemudi dan UMKM yang tergantung pada platform juga berisiko kehilangan posisi tawar mereka. Ketika satu perusahaan menjadi terlalu besar, maka ia cenderung memiliki kekuatan penuh dalam menentukan kebijakan dan skema bagi hasil, yang mungkin tidak berpihak pada mitra atau pelaku usaha kecil.</p>
<p>Selain itu, merger ini juga menimbulkan pertanyaan besar terkait regulasi dan pengawasan pasar. Apakah pemerintah melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mampu mengawasi agar hasil dari merger ini tidak menjelma menjadi praktik monopoli terselubung? Apakah ada jaminan bahwa konsumen tetap mendapatkan layanan yang adil dan terjangkau, dan para mitra usaha tidak dirugikan dalam jangka panjang?</p>
<p>Dari sisi nasionalisme ekonomi, sebagian pihak juga menyayangkan jika GoTo, yang merupakan hasil karya anak bangsa, harus dilebur dengan perusahaan asing dan kehilangan kemandirian dalam pengambilan keputusan bisnisnya. Dalam jangka panjang, dominasi perusahaan asing di sektor ekonomi digital Indonesia dapat memperlemah kedaulatan ekonomi nasional, terutama jika tidak diimbangi dengan regulasi yang memihak kepentingan dalam negeri.</p>
<p>Di sisi lain, merger ini juga bisa menjadi peluang besar bila dijalankan dengan tata kelola yang baik. Dengan sinergi yang tepat, Grab dan GoTo bisa menjadi pionir dalam menciptakan ekosistem digital yang inklusif, ramah UMKM, serta mampu memperluas layanan hingga ke daerah-daerah pelosok yang selama ini belum tersentuh digitalisasi. Untuk itu, dibutuhkan keterlibatan aktif dari pemerintah, regulator, dan masyarakat sipil agar merger ini tidak hanya menguntungkan korporasi besar, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p><em><strong>Ryan Fatturochman</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merger-grab-dan-goto-efisiensi-digital-atau-ancaman-persaingan-bebas/">Merger Grab dan GoTo: Efisiensi Digital atau Ancaman Persaingan Bebas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/awsimages.detik.net.id/visual/2024/12/24/ilustrasi-merger-freepik_169.jpeg?w=650&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Bang Ojek..</title>
		<link>https://jakpos.id/hati-hati-bang-ojek/</link>
					<comments>https://jakpos.id/hati-hati-bang-ojek/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2016 04:04:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[blujek]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[gojek]]></category>
		<category><![CDATA[grab]]></category>
		<category><![CDATA[ojek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=6214</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bang Ojek, lain kali hati-hati kalau sedang berkendara ya. Jangan sambil lihat HP begitu dong…&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hati-hati-bang-ojek/">Hati-Hati Bang Ojek..</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6216" aria-describedby="caption-attachment-6216" style="width: 431px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAS19wcThPb0R5S28.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-6214 wp-image-6216" src="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAS19wcThPb0R5S28.jpg" alt="Ilustrasi. (istimewa)" width="431" height="261" /></a><figcaption id="caption-attachment-6216" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (istimewa)</figcaption></figure>
<p>Bang Ojek, lain kali hati-hati kalau sedang berkendara ya. Jangan sambil lihat HP begitu dong… kalau kecelakaan bagaimana? Bukan hanya Abang yang rugi nanti, orang lain juga bisa mati.</p>
<p>Bang, punya keluarga ‘kan di rumah? Kalau belum punya anak setidaknya ada istri, kalaupun tidak ada istri, ada orangtua, dan jika memang orang tua sudah tiada, setidaknya masih sayang diri sendiri bukan?</p>
<p>Abang memang lihat apa sih? Terima pesanan? Lihat peta? Atau sekadar lihat HP saja? Apapun itu, tetap saja bahaya bukan, Bang?</p>
<p>“Sebenarnya tidak boleh seperti itu, bahaya. Kalau memang mau terima pesanan atau lihat peta, sebaiknya menepi dulu.” Kata Diana Sintawati, pengendara Grab Bike yang kuwawancarai. Tuh, Bang, temannya saja bilang sebenarnya tidak boleh.</p>
<p>&#8220;30 persen kecelakaan disebabkan menggunakan handphone. Itu data di 2010,&#8221; kata Ipung Purnomo, Kasat Patwal Polda Metro Jaya AKBP. Itu Pak Polisi yang bicara loh, Bang. Dia juga bilang kalau setiap hari, sekitar 3 orang meninggal, kalau setahun kurang lebih 1000 orang. Abang mau jadi salah satunya?</p>
<p>Undang-Undang No. 22 tahun 2009 Tentang Lalu-Lintas Dan Angkutan Jalan Pada Pasal 283 menyebutkan:</p>
<p>“Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).” Masih mau macam-macam, Bang?</p>
<p>Sudah beberapa kali kulihat, pengemudi ojek online berkendara sambil melihat HPnya. Sebagian di daerah Depok, dan sisanya di sekitar Jakarta Selatan. Heran sekaligus bingung aku melihatnya, mungkinkah mereka sudah tidak sayang nyawa?</p>
<p>Sebenarnya bukan hanya untuk Abang Ojek Online saja, hal ini juga harus kita ingat baik-baik. Berkendaralah dengan aman, karena kecelakaan bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain.</p>
<p><strong>Brian Hikari Janna</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hati-hati-bang-ojek/">Hati-Hati Bang Ojek..</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/hati-hati-bang-ojek/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
