<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hans van de Wall Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/hans-van-de-wall/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/hans-van-de-wall/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Dec 2023 12:59:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Hans van de Wall Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/hans-van-de-wall/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pengaruh Karya Victor Ido Terhadap Industri Pertunjukan Theater di Schouwburg Weltevreden 1913-1918</title>
		<link>https://jakpos.id/pengaruh-karya-victor-ido-terhadap-industri-pertunjukan-theater-di-schouwburg-weltevreden-1913-1918/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2023 12:59:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hans van de Wall]]></category>
		<category><![CDATA[Victor Ido]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62505</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biografi Singkat Hans van de Wall (Victor Ido)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pengaruh-karya-victor-ido-terhadap-industri-pertunjukan-theater-di-schouwburg-weltevreden-1913-1918/">Pengaruh Karya Victor Ido Terhadap Industri Pertunjukan Theater di Schouwburg Weltevreden 1913-1918</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Seni pertunjukan adalah bagian penting dari kebudayaan yang melibatkan perasaan, ide, dan kreasi individu, diilhami oleh interpretasi lingkungan sekitar yang dirasakan melalui panca indera. Dalam kehidupan budaya dan masyarakat, seni menjadi bagian tak terpisahkan dari segala aspek kehidupan, membentuk hubungan erat antara penikmat dan penyaji seni. Awalnya berakar sebagai fungsi ritual, seni pertunjukan seiring waktu telah beralih menjadi sumber hiburan yang menyajikan bentuk ekspresi sosial. Melalui pertunjukkannya, seni pertunjukan bukan hanya sekadar menghibur, tetapi juga menjadi sarana yang kuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang terkandung dalam nilai-nilai kebudayaan kepada masyarakat. Setiap pertunjukan seni menjadi pengalaman yang mengguggah dan memberikan makna dalam setiap penampilannya.</p>
<p>Pada era Hindia Belanda, perkembangan seni pertunjukan seperti tonil, opera, dan orchestra yang dibawa oleh golongan Eropa menjadi suatu jembatan menuju modernism seni pertunjukan di Hindia Belanda. Fenomena ini terjadi melalui asimilasi dari kebudayaan Indis yang menciptakan sebuah seni pertunjukan yang dinamis, terbuka, dan bebas untuk semua kalangan di tengah kota Batavia yang multi etnis. Selain menjadi hiburan bagi golongan elit Eropa, seni pertunjukan juga menjadi sarana bagi kaum pribumi untuk unjuk gigi dan berkarya. Contohnya adalah Komedie Stamboel yang didirikan oleh aktor August Mahieu pada tahun 1891 membawa inovasi dengan melibatkan kaum pribumi sebagai anggota teater, memberikan akses yang sebelumnya terbatas oleh politik segregasi Hindia Belanda. Inisiatif ini tidak hanya menciptakan sebuah revolusi dalam pertunjukan seni, tetapi juga menciptakan ruang bagi ide-ide baru yang diadaptasi dari realitas sosial setempat dengan menggunakan bahasa campuran Melayu dan Belanda dalam setiap pertunjukannya.</p>
<p>Victor Ido, yang sebenarnya bernama Hans de Wall, muncul sebagai salah satu pionir utama dalam membawa gerakan modernism ke panggung teater di Hindia Belanda. Sebagai seorang dramatur dan kritikus seni, Ido ternispirasi oleh inovasi dan karya August Mahieu, seorang aktor yang membuka jalan bagi pengembangan seni pertunjukan lokal. Ido mengekspolrasi kehidupan keseharian pribumi melalui karyanya, menciptakan karya seni yang mencerminkan realitas budaya indis dan kehidupan masyarakat Jawa. Karyanya yang terkenal, seperti “Karina Adinda,” menjadi unik karena menampilkan pemain kulit putih yang memerankan peran pribumi dengan kostum ala jawa. Meskipun menggunakan bahasa Belanda, lakon ini membawa mobilisasi pemikiran dan penokohan, memperkenalkan budaya Jawa kepada golongan Eropa melalui seni teatrikikal di atas panggung. Dengan latar belakang ini, penelitian ini akan mengeksplorasi dampak karya-karya Victor Ido dalam mempengaruhi dan membangkitkan kesadaran publik di Hindia Belanda pada masa itu.</p>
<p>Terdapat peneltian yang dilakukan sebelumnya mengenai seni pertunjukan di gedung Schouwburg Weltevreden. Penelitian sebelumnya oleh Khairana dan Dhanang, berjudul “From Komedie Stambul to Toneel: Theatre Arts Development in Batavia, 1891-1942,” menjelaskan peran penting Komedie Stambul dalam perkembangan seni pertunjukan di Hindia Belanda. Awalnya dibentuk oleh August Mahieu, seorang keturunan Jawa-Eropa, Komedie Stambul bertujuan menyajikan pertunjukan opera sebagai hiburan di Kota Surabaya pada abad ke-19. Penelitian tersebut merinci bahwa berkat kerja keras Mahieu dan para pemain Komedie Stambul, mereka berhasil tampil di panggung megah proscenium di dalam Gedung Schouwburg. Pada masa itu, Gedung Schouwburg masih didominasi oleh pertunjukan Eropa seperti opera, akrobat, dan music klasik. Keberhasilam Komedie Stambul mencerminkan bahwa mereka telah sejajar dengan pertunjukan Eropa lainnya, membawakan penampilan teater rakyat hasil dari eksplorasi tema Melayu, Timur Tengah, dan Eropa.</p>
<p>Perbedaan pada penelitian ini dengan dengan penelitian Khairana dan Dhanang terletak pada topik penulisan dan temporal. Pada penelitian Khairana dan Dhanang menyoroti perjalanan Komedie Stambul dan perkembangan seni secara umum di Batavia. Sementara pada penelitian ini memfokuskan karya-karya Victor Ido yang memainkan peran kunci dalam menggiring seni pertunjukan lokal ke arah yang lebih progresif. Penulis akan berfokus terhadap ragam pertunjukan karya Victor Ido oleh kelompok seni Eropa maupun pribumi yang tampil di dalam gedung Schouwburg Weltevreden pada temporal 1913-1918.</p>
<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi budaya dan teori kepuasan batin dari Herbert Read. Dalam konteks antropologi budaya, penelitian ini mengeksporasi bagaimana pertunjukan seni dapat menjadi pemenuhan hiburan dan membawa unsur estetika kebudayaan. Cabang antropologi ini memungkinkan peneliti untuk mendalam aspek kebudayaan yang terbentuk melalui apresiasi menusia terhadap keindahan. Penggunaan teori kepuasan batin dalam analisis menyoroti bahwa seni pertunjukan dapat menjadi saluran ekspresi pribadi, mencakup kepuasan intelektual, kepuasan etika, dan kepuasan estetika dalam pengalam individu. Dengan pendekatan ini, penelitian bertujuan untuk merinci bagaimana karya-karya seni pertunjukan Victor Ido memengaruhi dan memenuhi kebutuhan batin masyarakat Hindia Belanda.</p>
<p>Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Metode sejarah identifikasi dilakukan dengan mengidentifikasi sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa lampau dan dilaksanakan secara teratur. Proses penelitian sejarah terdiri dari penyelidikan, menjelaskan, dan memahami kegiatan atau kejadian yang terjadi beberapa tahun yang lampau untuk mencari kebenaran. Metode sejarah tersebut, mempunyai empat langkah yang berurutan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.</p>
<p>Prosedur penelitian dilakukan melalui tahapan yang telah sesuai dengan metode yang digunakan, yaitu metode historis. Penelitian menggunakan tahapan penelitian yang sesuai, yaitu pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, serta interpretasi dan penulisan sejarah (historiografi). Heuristik adalah teknik yang digunakan untuk mencari sumber acuan. Berdasarkan pada bentuk penyajiannya, sumber-sumber sejarah yang terdiri atas arsip, dokumen, buku, jurnal, surat kabar, dan media lainnya. Pada saat ini, data sejarah bisa didapatkan dari berbagai macam cara selain studi pustaka, seperti sumber  media cetak dan juga media elektronik. Hal yang paling penting dari seorang peneliti adalah harus tau bagaimana memahami bukti-bukti sejarah dan bagaimana menghubungkannya. Korpus primer yang digunakan dalam penelitian ini mengambil sumber-sumber koran dari situs website delpher, seperti Bataviassch Nieuwsblad, de avondpost, dan de locomotief yang berisi informasi mengenai Victor Ido. Peneliti juga menggunakan Digital Colections Universiteit Leiden, KILTV sebagai sumber primer untuk mengambil Potret Victor Ido.</p>
<h3>Biografi Singkat Hans van de Wall (Victor Ido)</h3>
<p>Hans van de Wall atau yang biasa dikenal dengan sebutan Victor Ido lahir dari perkawinan campuran pada tanggal 8 Februari 1869 di Surabaya. Kehidupan di Hindia Belanda tidak berlangsung mudah bagi keluarga Ido. Ayahnya yang bernama Benjamin van de Wall memiliki kesehtatan yang buruk dan tidak tahan dengan iklim tropis. Setelah dipecat dari pekerjaannya, keluarga ini akhirnya pulang ke kampung halaman mereka di Dirksland pada 1882. Di sana Ido mengenyam pendidikan yang berfokus pada bidang seni, khususnya pada bidang musik dan sastra. Meskipun awalnya tertarik pada teater, ia memutuskan untuk mengikuti jejak saudaranya yaitu belajar musik klasik. Meskipun tinggal lebih dari tujuh tahun di Belanda, rasa rindunya terhadap kampung halaman terus menghantuinya. Pada akhir tahun 1889, ia memutuskan untuk kembali sendirian ke tanah airnya. Kembali ke Hindia Belanda dengan bekal pengetahuan intelektual dan seni Eropa. Salah satu upaya awalya terlibat dalam kegiatan kritik seni. Ia bekerja sebagai kritikus seni untuk surat kabar De Java-Bode dan Bataviaasch Nieuwsblad. Namun, menulis kritik seni pada masa itu merupakan tugas yang sulit, karena masyarakat kecil di Batavia tidak terbiasa dengan kritik terbuka dan sering kali menolak atau meresponnya dengan buruk. Selain kegiatan seni, Van de Wall juga tertarik dalam bidang sastra. Pada 1892, ia menyelesaikan manuskrip novel Indien pertamanya “Don Juan” yang menggambarkan tren pada masa itu di mana banyak perempuan dari golongan pribumi yang menikah dengan pria dari golongan Eropa. Namun para penerbit di Batavia banyak yang menolak karya ini karena dianggap terlalu kontroversial.</p>
<p>Terdesak oleh kesusahan finansial dan kekecewaanya terhadap situasi seni di Batavia, ia memtuskan untuk meninggalkan karir seninya. Pada tahun 1897, Vitor Ido diterima sebagai redaktur utama di Nieuw Bataviaasch Handelsblad yang pada saat itu berada di ambang kebangkrutan. Pekerjaan ini lah akhirnya membuka mata Victor Ido terhadap realitas sehari-hari kehidupan Indo-Eropa, terutama mengenai masalah sosial-ekonomi yang dihadapi oleh pribumi. Pada tahun 1900 mrnjadi titik balik penting dalam perjalanan karir dan kontribsi Victor Ido terhadap perkembangan seni dan budaya di Hindia Belanda. Pada tahun ini Ia bertemu dengan J.A. van Dijk, seorang tokoh seni dan budaya yang juga memiliki minat pada drama serius. ketika Nieuw Bataviaasch Handelsblad guling tikar, Victor Ido bertemu dengan J.A. van Dijk dan bersama-sama mereka membuka babak baru dalam pejalanan karir dan kontribusi terhadap perkembangan seni dan budaya di Hindia Belanda.</p>
<h3>Karya-Karya Victor Ido dan Pengaruhnya</h3>
<p>Victor Ido memulai perjalannya sebagai dramatur dengan mengeluarkan karya berjudul “Don Juan” yang diciptakannya pada tahun 1897. Memasuki awal abad ke- 20, karya pertamanya yang berhasil ditampilkan di Schouwburg Weltevreden adalah teater berjudul “Mevrouw van Hassen”. Seiring dengan tingginya jam terbang dan perkembangan karyanya, Victor Ido semakin produktif menciptakan judul-judul lakon yang mengangkat kisah indische roman serta cerita kehidupan dan pemikiran orang- orang jawa. Dimana terjadi sebuah pembaharuan terhadap lakon dalam industri pertunjukan di Hindia Belanda, yaitu karya yang mengangkat tema kehidupan orang- orang Jawa dan realitas sosial terhadap praktik kolonialisme Belanda.</p>
<p>Salah satu judul lakon yang mengangkat tema indische roman, yang berhasil tampil di panggung Schouwburg Weltevreden yaitu lakon “Karina Adinda’ pada 27 April 1913 yang mengangkat konflik feodalsime di Jawa dan pergolakan politik etis di Hindia Belanda. Kisah ini mengkisahkan Raden Ajeng Karina Adinda, seorang perempuan Jawa yang terjebak antara tata kesopanan adat Jawa dan pengaruh modern Barat. Sang ayah, R.M. Adipati Prawiro Diningrat, seorang bupati, mewakili feodalisme penguasa Jawa yang mewajibkan Karina Adinda untuk mematuhi tata kesopanan adat. Konflik utama dalam lakon ini muncul ketika Karina Adinda, yang telah mengenyam pendidikan Barat jatuh cinta kepada seorang pria Belanda bernama Willem Rennebeg. Hal ini menciptakan ketegangan atara kewajiban adat Ajwa dan Hasrat pribadi modern Karina Adinda. Selain itu, pertunjukan ini menyoroti pemikiran modern para pribumi setelah mengenyam pendidikan Barat yang secara tidak langsung menggambarkan konflik antara Bumiputera dengan Belanda.</p>
<p>Pada gambar 2 merupakan salah satu adegan dalam lakon Karina Adinda yang memperlihatkan bahwa para pemain tidak hanya terdiri dari orang-orang kulit putih, melainkan juga kaum pribumi yang mulai mendapatkan kesempatan untuk berperan dala lakon ini. Uniknya, karakter pribumi dimainkan oleh pemain kulit putih dengan kostum ala Jawa, menunjukkan bahwa lakon ini menjadi identitas “lokal” yang diintepretasikan melalui peran pribumi yang diperankan oleh orang Belanda. Hal ini menciptakan dinamika baru di atas panggung, memperlihatkan mobilisasi pemikiran dan penokohan dalam dunia seni pertunjukan. Melalui peran ini, lakon Karina Adinda tidak hanya memperkenalkan budaya Jawa kepada penonton, tetapi juga menunjukkan bahwa pemahaman dan apresisasi terhadap budaya lokal dapat diakses dan diinterpretasikan oleh golongan Eropa melalui seni teatrikal. Penggunaan bahasa Belanda dalam pertunjukkan ini mencerminkan bahwa pesan politik etis yang diusung Victor Ido dapat tersampaikan kepada penonton dengan jelas.</p>
<p>Penampilan Karina Adinda di Schouwburg Weltevreden menjadi hal baru yang memperlihatkan para penonton, atas penokohan orang-orang Eropa yang berperan sebagai Bumiputera dalam teater ini. Sebuah ulasan yang memperlihatkan bahwa penampilan para permain sangat diapresiasi dan menjiwai layaknya seorang berdarah Jawa asli.</p>
<p><em>“[…]Mr. van Dijk speelde zijn rol, zoowel wanneer hij in bijzijn van Westerlingen was, als wanneer hij in eigen huiselijken kring optrad, met dezelfde overgroote zelfbeheersching, terwijl de heer Kuypers, zoodra hij zich vrij gevoelde, aan zijn Oostersche hartstochtelijkheid voortdurend den vrijen teugel liet. De eenige oude bekenden, die hoofdrollen hadden, waren mevrouw v.d. Wall-Assé, die wederom de ziel van de geheele vertooning vormde en met hare groote gaven op aanvallige wijze woekerde”</em></p>
<p>Terjemahan:</p>
<p>‘’[…] Tuan van Dijk memainkan perannya dengan sangat baik. Ketika ia berada dihadapan orang-orang Barat maupun ketika ia bertindak di dalam lingkungan rumah tangganya sendiri, dengan pengendalian diri yang sama baiknya. Tuan Kuypers, ia terus-menerus memberikan kebebasan untuk mengendalikan Hasrat ketimurannya saat memainkan peran. Satu-satunya sosok yang memegang peran utama adalah Ny. V.d. Walle-Asse, yang sekali lagi membentuk jiwa dari keseluruhan pertunjukan dan mengembangkan bakatnya yang luar biasa dengan cara yang baik dan sangat menghayati adat istiadat bangsawan pribumi.”</p>
<p>Dari ulasan tersebut, dapat terlihat bagaimana para pemain teater Karina Adinda dalam menghayati peran mereka, mulai dari postur dan gerak-geriknya layaknya seorang keturunan Jawa. Nilai budaya Jawa turut ditampilkan dari percakapan antara Karina Adinda dengna Raden Ayu. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Jawa mulai masuk dan diterima oleh golongan Eropa.</p>
<p>Dalam lakon &#8220;Karina Adinda&#8221; terlihat betapa mendalamnya penghayatan peran oleh para pemain teater, khususnya Karina Adinda, yang berhasil menggambarkan postur dan gerak-gerik layaknya seorang keturunan Jawa. Nilai budaya Jawa terlihat mencuat melalui percakapan antara Karina Adinda dan Raden Ayu, menunjukkan penerimaan dan integrasi budaya Jawa oleh golongan Eropa. Setelah kesuksesan &#8220;Karina Adinda&#8221;, Victor Ido kembali dengan karya dramanya yang berjudul &#8220;Pangeran Negoro Joedho&#8221; pada tahun 1918. Lakon ini memperlihatkan Victor Ido sebagai penulis naskah yang masih mengangkat tema besar tentang budaya pribumi, khususnya feodalisme Jawa. Penggunaan epos dan tembang Jawa dalam lakon ini menciptakan sebuah cerita mengenai Pangeran Adipati Negoro, putra mahkota Kerajaan Mataram, yang berusaha menghadapi pengaruh feodalisme Jawa setelah menempuh pendidikan di Belanda. &#8220;Pangeran Negoro Joedho&#8221; turut memperlihatkan keterlibatan aktor pribumi, menunjukkan Victor Ido memberikan peluang yang sama kepada golongan ini untuk berperan dalam pertunjukan. Ini mencerminkan semangat inklusivitas dan kesempatan yang diberikan pada kaum pribumi untuk berpartisipasi dalam dunia seni pertunjukan. Pertunjukan ini juga membawa perubahan dalam budaya seni pertunjukan di Kota Batavia, mengizinkan pribumi untuk bermain peran, menggambarkan realitas sosial dan feodalisme Jawa.</p>
<p>Pertunjukan ini menegaskan bahwa Victor Ido, melalui karya-karyanya, tidak hanya mengangkat kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Hindia Belanda tetapi juga membuka kesempatan bagi kaum pribumi untuk terlibat aktif dalam seni pertunjukan. Inisiatif ini juga sejalan dengan semangat politik etis, menciptakan peluang bagi Bumiputera untuk ikut serta dalam dunia seni dan budaya, mencerminkan perubahan sosial dalam perkembangan seni pertunjukan di Hindia Belanda yang dipengaruhi oleh budaya Barat hingga budaya Indis.</p>
<p>Hans van de Wall menerima apresiasi yang besar dari masyarakat Hindia Belanda, terutama atas kontribusinya dalam mengembangkan dunia teater di Hindia Belanda. Komunitas budaya di Hindia menghormatinya dengan menggelar penghargaan di Stadsschouwburg atas upayanya sebagai perintis teater India. Lakon-lakon yang dipentaskan olehnya mendapat sambutan luar biasa, sering kali dengan penonton penuh. Keberhasilan ini tidak terbatas hanya di Batavia, melainkan juga di kota-kota besar lain di Hindia, bahkan mencapai tempat-tempat di luar Hindia Belanda seperti Singapura, Penang, Rangoon, dan Kolombo.</p>
<p>Pada tahun 1932, sebagai bentuk apresiasi yang sangat orisinal, sejumlah warga Batavia mendirikan &#8216;dana Hans van de Wall&#8217; untuk memungkinkan Van de Wall sepenuhnya mengabdikan dirinya pada seni. Masyarakat di Hindia dengan cepat menanggapi, menyediakan tunjangan bulanan untuknya hingga kematiannya pada tahun 1948. Pengakuan atas karyanya juga tidak hanya terbatas pada Hindia Belanda, melainkan mencapai Belanda sendiri.</p>
<p>Meskipun karyanya dianggap terlalu eksotis dan jauh oleh masyarakat umum Belanda, dia mendapat penghargaan dari aktor dan dramawan profesional di sana. Nama-nama besar dalam dunia teater Belanda mencoba membawakan karya-karyanya, termasuk Cor Ruys yang memerankan karakter Leo yang miskin dari Indo. Pada tahun 1930-an, bahkan didirikan perusahaan khusus di Den Haag dengan tujuan membawa teater India, terutama karya Van de Wall, menjadi sorotan di Belanda. Pada tahun 1939, ketika Van de Wall berada di Belanda, dia diangkat sebagai &#8216;Anggota Kehormatan Luar Biasa&#8217; oleh &#8216;Asosiasi Penulis Drama Belanda&#8217;. Ini merupakan penghargaan khusus atas jasanya bagi teater di Belanda dan Hindia Belanda. Sehingga, Hans van de Wall tidak hanya diakui di tempat kelahirannya, Hindia Belanda, tetapi juga di Belanda, memperoleh penghormatan dari rekan-rekannya di dunia teater.</p>
<p>Tulisan ini mengeksplorasi dampak karya-karya Victor Ido, yang dikenal dengan nama pena Hans van de Wall, terhadap kesadaran publik di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Victor Ido, dengan karyanya dalam seni pertunjukan, tidak hanya mencerminkan perubahan sosial dan budaya di masa itu tetapi juga memainkan peran penting dalam membangkitkan kesadaran publik terhadap realitas kehidupan masyarakat di Hindia Belanda. Dengan mengangkat tema kehidupan masyarakat pribumi, feodalisme Jawa, dan konflik antara tradisi adat dan pengaruh Barat, karya-karya dramatis Ido seperti &#8220;Karina Adinda&#8221; dan &#8220;Pangeran Negoro Joedho&#8221; menjadi cerminan penting bagi masyarakat pada masa itu. Pertunjukan ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sebuah panggung yang mencerminkan dan memprovokasi pikiran mengenai isu-isu sosial dan budaya yang relevan.</p>
<p>Penerimaan yang besar dari masyarakat, termasuk penonton penuh dan penghargaan di Stadsschouwburg, menunjukkan bahwa karya-karya Ido memengaruhi dan memikat perhatian publik. Penampilan para pemain, termasuk orang Belanda yang memerankan peran pribumi, menciptakan dinamika baru dalam seni pertunjukan, menunjukkan bahwa kesadaran budaya Jawa dapat diakses dan diinterpretasikan oleh golongan Eropa. Selain itu, dukungan dan penghargaan yang diterima Ido tidak hanya terbatas pada Hindia Belanda, tetapi juga mencapai Belanda sendiri. Para profesional teater di Belanda memberikan apresiasi atas eksotisme dan keberanian dalam membawa realitas Hindia Belanda ke panggung internasional. Melalui penerimaan dana dari masyarakat Batavia pada tahun 1932, Ido dapat sepenuhnya mengabdikan dirinya pada seni, menciptakan lingkaran dampak yang lebih besar dalam dunia seni pertunjukan. Penghargaan khusus dari Asosiasi Penulis Drama Belanda pada tahun 1939 menegaskan pengakuan atas kontribusi luar biasa Ido bagi teater di Belanda dan Hindia Belanda.</p>
<p><em>Ranu Yolan Eky Mahetsa</em><br />
<em>Program Studi Belanda, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pengaruh-karya-victor-ido-terhadap-industri-pertunjukan-theater-di-schouwburg-weltevreden-1913-1918/">Pengaruh Karya Victor Ido Terhadap Industri Pertunjukan Theater di Schouwburg Weltevreden 1913-1918</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/pbs.twimg.com/media/D9wY7I6UEAAY4W5.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
