<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Houthi Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/houthi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/houthi/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Mar 2026 02:23:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Houthi Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/houthi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Houthi, Selat Strategis, dan Bayang-Bayang Perang Global</title>
		<link>https://jakpos.id/houthi-selat-strategis-dan-bayang-bayang-perang-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2026 02:23:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Houthi]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Lebanon]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[Perang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98494</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. Selamat Ginting, Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/houthi-selat-strategis-dan-bayang-bayang-perang-global/">Houthi, Selat Strategis, dan Bayang-Bayang Perang Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Dr. Selamat Ginting, Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)</strong></em></p>
<p><strong><a href="https://www.depokpos.com">DEPOKPOS</a> &#8211; </strong>Ketika kelompok Houthi di Yaman mulai meluncurkan rudal balistik ke arah <a href="https://www.depokpos.com/2026/03/israel-tetap-serang-palestina-saat-hari-raya/">Israel</a>, banyak pihak melihatnya sebagai eskalasi lanjutan dari konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai.</p>
<p>Namun, membaca peristiwa ini semata sebagai aksi solidaritas ideologis adalah penyederhanaan yang berbahaya. Yang sedang terjadi sesungguhnya adalah pergeseran medan konflik—dari perang regional menjadi pertarungan strategis yang berpotensi mengguncang sistem global.</p>
<h3>Proxy Warfare</h3>
<p>Di balik manuver Houthi, terdapat bayang panjang <a href="https://www.depokpos.com/2026/03/pangkalan-udara-as-di-saudi-kembali-dihantam-rudal-iran/">Iran</a> yang memainkan strategi proxy warfare secara cermat. Tanpa harus terlibat langsung dalam konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat, Iran mampu menciptakan tekanan simultan di berbagai front.</p>
<p>Dari Lebanon melalui Hezbollah, dari Teluk Persia melalui ancaman di Selat Hormuz, hingga kini dari Laut Merah melalui Houthi di Selat Bab el-Mandeb—semuanya membentuk satu pola: pengepungan strategis terhadap kepentingan Barat dan sekutunya.</p>
<p>Yang membuat situasi ini semakin serius adalah pergeseran medan tempur ke jalur maritim global. Kawasan Laut Merah dan Terusan Suez bukan sekadar wilayah geografis, melainkan arteri utama perdagangan dunia.</p>
<p>Sekitar 10–15 persen perdagangan global melintasi jalur ini. Gangguan kecil saja dapat berdampak besar, apalagi jika dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.</p>
<p>Dalam perspektif militer, ini adalah bentuk klasik dari chokepoint warfare—menguasai titik sempit untuk melumpuhkan pergerakan lawan.</p>
<p>Houthi tidak perlu memiliki armada laut besar untuk menciptakan efek strategis. Cukup dengan rudal, drone, dan serangan terbatas terhadap kapal komersial, mereka bisa memaksa dunia menghadapi ketidakpastian.</p>
<p>Biaya asuransi melonjak, jalur pelayaran dialihkan, dan harga energi terdorong naik.</p>
<h4>Potensi Resesi Global</h4>
<p>Lebih jauh, dunia kini menghadapi skenario yang dapat disebut sebagai “perfect storm” geopolitik. Bayangkan jika tiga jalur utama perdagangan global terganggu secara bersamaan: Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb, dan Terusan Suez.</p>
<p>Dampaknya tidak hanya regional, melainkan sistemik—mulai dari krisis energi, lonjakan inflasi, hingga potensi resesi global.</p>
<p>Di titik ini, dilema terbesar berada di tangan Amerika Serikat. Sebagai kekuatan yang selama ini memposisikan diri sebagai penjamin keamanan jalur perdagangan internasional, Washington menghadapi pilihan sulit.</p>
<p>Respons militer yang keras terhadap Houthi berisiko memicu konfrontasi langsung dengan Iran. Sebaliknya, sikap menahan diri justru dapat menggerus kredibilitasnya di mata sekutu dan pasar global.</p>
<p>Di sisi lain, aktor-aktor besar seperti Rusia dan Tiongkok berpotensi menjadi &#8220;silent beneficiaries&#8221; (penerima manfaat yang diam). Ketika perhatian dan sumber daya Barat tersedot ke Timur Tengah, ruang manuver geopolitik mereka di kawasan lain justru semakin terbuka.</p>
<p>Dalam logika ini, konflik di Laut Merah bukan hanya tentang Timur Tengah, tetapi tentang keseimbangan kekuatan global.</p>
<p>Situasi ini juga mengandung pelajaran penting: dalam era modern, perang tidak lagi selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuatan militer terbesar, melainkan oleh siapa yang mampu mengganggu sistem paling vital.</p>
<p>Houthi, dengan segala keterbatasannya, menunjukkan bahwa aktor non-negara pun dapat memainkan peran strategis jika berada di titik geografis yang tepat dan didukung oleh kekuatan negara di belakangnya.</p>
<p>Pada akhirnya, serangan Houthi ke Israel bukanlah akhir dari sebuah episode, melainkan awal dari fase baru konflik yang lebih kompleks.</p>
<p>Dunia tidak hanya menghadapi perang di darat atau udara, tetapi juga perang terhadap jalur perdagangan, energi, dan stabilitas ekonomi global.</p>
<p>Jika eskalasi ini tidak dikelola dengan hati-hati, maka yang kita saksikan hari ini bisa berkembang menjadi krisis global yang jauh lebih luas—sebuah konflik yang tidak lagi mengenal batas wilayah, tetapi merambat melalui urat nadi ekonomi dunia.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/houthi-selat-strategis-dan-bayang-bayang-perang-global/">Houthi, Selat Strategis, dan Bayang-Bayang Perang Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/fpif.org/wp-content/uploads/2014/07/israel-gaza-protective-edge-idf-ceasefire-hamas-international-war.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
