<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ibu Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/ibu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/ibu/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 May 2017 09:33:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Ibu Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/ibu/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sosok Ibu Sebagai Panutan Keluarga</title>
		<link>https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/</link>
					<comments>https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 May 2017 09:33:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel ibu]]></category>
		<category><![CDATA[artikel keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11638</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu ku kecil hidupku amatlah senang Senang dipangku dipangku dipeluknya Serta dicium dicium dimanjakan, namanya&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/">Sosok Ibu Sebagai Panutan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<figure id="attachment_11667" aria-describedby="caption-attachment-11667" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-11638 wp-image-11667" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1494063152/kartun-ibu-anak-kerudung-biru-sayap_p8jrii.jpg" alt="" width="640" height="423" /><figcaption id="caption-attachment-11667" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Waktu ku kecil hidupku amatlah senang<br />
Senang dipangku dipangku dipeluknya<br />
Serta dicium dicium dimanjakan,<br />
namanya kesayangan</p></blockquote>
<p>Begitulah lirik lagu yang masih terngiang di kepala hampir setiap orang. Lagu yang membawa seseorang menyelami kenangan masa kecil, momen tak terlupakan saat orang tua yang selalu menemani dan berada di samping kita, memberikan kasih dan sayang yang tiada tara. Serta terhanyut membayangkan sesosok mahluk yang memeluk untuk pertama kalinya kita bernafas di dunia ini. Ada yang memanggilnya mama, mami, umi, bunda, bundo, emak hingga ibu. Apapun panggilan yang digunakan tetap akan mengartikan satu yakni seseorang yang diciptakan Tuhan yang menjaga anak dan keluarganya, sampai kapanpun dan apapun yang terjadi dengan seluruh kekuatan yang ia punya, meski harus menyakiti ataupun menyusahkan diri sendiri, sosok ini tetap setia mengerahkan seluruh keringatnya demi anak tercinta.</p>
<p>Pernahkah terbesit dalam benak kalian, para anak perempuan tentang bagaimana memahami perasaan ibu kalian?, serta bagaimana kelak kalian akan menjadi seorang ibu? Siapakah yang menjadi role model seorang ibu bagi kalian? Ibu kalian sendirikah? Selain itu, bagaimanakah kalian memahami perasaan ibu kalian sehingga menjadi role model yang baik dan dapat kalian tiru dikemudian hari?</p>
<p>Lihatlah ke dalam hati, diam sejenak dan pikirkanlah bagaimana seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah, serta berjuang membeli sekotak susu di tengah – tengah sulitnya ekonomi yang menghadang. Tak perduli berapapun yang didapatkannya dari hasil keringat di kantor, ia tetap menyisihkan uang demi anaknya yang merengek meminta seteguk susu. Miris dan sedih rasanya membayangkan perjuangan yang tak henti hingga anaknya tumbuh dewasa dengan sehat.</p>
<p>Tak berhenti sampai disitu, ibu masih harus berjuang keras ketika anak mereka dilanda penyakit yang seiring waktu berdatangan. Saat jerit kesakitan sang anak terdengar karena sakit yang dirasakannya tidak tertahankan, Ibu dengan sigap dan setia menghampirinya, dan menemaninya menuju ke rumah sakit.</p>
<p>Ibu sibuk mondar – mandir mengurus pengobatan anaknya. Ibu juga masih harus menemani anaknya yang tak ingin ditinggal di ruang rawat inap sendirian. Ibu memeluknya penuh cinta, sayang, dan kecemasan, sambil berdoa dengan berbisik agar cepat disembuhkan oleh Tuhan, hingga ibu tertidur lelap mendekap anak tercintanya.</p>
<p>Terus berlanjut, sang ibu masih harus berteguh hati ketika anak tercintanya terserang penyakit yang cukup serius dan mengharuskannya memberi perhatian ekstra, di samping mengerjakan setumpuk tugas kantor yang juga menunggunya. Berbulan – bulan sudah perjuangan sang ibu mengurus anaknya menjalani pengobatan telah terlaksana. Setia menemani, menghibur, dan mengeluarkan auang yang tidak sedikit. Ya, lagi dan lagi sang ibu harus bertahan demi anak tercintanya di tengah kehidupan ekonomi yang cukup mencekik.</p>
<p>Saat itu, anaknya masih sangat belia, untuk memahami kenyataan hidup yang terjadi, masih terlalu dini membantu ekonomi sang ibu. Namun, anaknya tidak terlalu kecil untuk menghibur sang ibu dan sedikit membantu meringankan beban kerja rumah yang harus dijalani ibunya.</p>
<p>Begitu hebat luar biasanya kesetian sang ibu, tak hanya menjaga, dan menemi sang anak, ibu juga melindungi anaknya dari kemarahan sang ayah yang menyeramkan dan di luar batas. Dengan tubuh yang tidak sekuat pria, ibu berusaha melindungi anaknya dan meredam emosi sang ayah. Setangguh itulah sang ibu disaat Ia harus melindungi anaknya ia juga harus memberanikan diri menyadarkan sang ayah dari gelapnya emosi yang tidak terkendali.</p>
<p>Disamping itu, ibu masih harus berjuang dengan teguh menghadapi anak perempuannya yang seiring waktu tumbuh menjadi gadis dewasa. Mengawasi dan menjaga anaknya atas kekhawatirannya akan perkembangan pergaulan muda yang semakin mencemaskan. Sang Ibu sangat mengkhawatirkan kejahatan yang kian bertebaran dan tak kenal batas, seta keselamatan dan kesehatan puterinya yang membuatnya tak berhenti berdoa. Sinyal peringatan dan pesan yang terus berdatangan selalu diberikan untuk puterinya menjadi pembatas bagi sang anak agar kekhawatiran sang ibu dapat berkurang.</p>
<p>Terkadang, kemarahan dan kekesalan menghadang sang ibu di saat anaknya, tidak mendengarkan nasihat yang ia berikan. Hal ini membuat sang ibu kecewa namun khawatir dan sedih. Sebaliknya, terkadang sang anak juga merasa bahwa sang ibu tidak dapat mengerti dirinya sehingga membuatnya kesal, sedih dan marah.</p>
<p>Meski begitu, sang ibu tetap tidak berhenti memberikan perhatiannya dan mencoba untuk lebih memahami perasaan puterinya. Sang aanak juga merasa luluh dan sedih hingga tidak sanggup untuk marah dan merasa sebal terlalu lama dengan ibunya karena ia merasa bahwa hatinya tidak tenang, dan tidak ingin membuat ibunya kecewa dan sedih terlalu lama.</p>
<p>Ada begitu banyak perjuangan yang dikerahkan sang ibu dengan keringat, pengorbanan, kekuatan dan kasih sayang serta air mata. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi kekuatannya yang tidak dapat terkalahkan yakni, doa sang ibu. Doanya selalu menjadi sumber kekuatan terbesar untuk anaknya. Meski hanya berbisik sekalipun doanya mampu menjadi obat dari segala penyakit yang diderita anaknya. Doanya mamapu mengantarkan sang anak meraih sekolah negeri dan perguan tinggi negeri yang menjadi mimpi bagi ia dan anaknya. Doa dan pengajarannya mampu membimbing anaknya dalam menimba ilmu keagaaman maupun moral. Begitulah sosok yang sabar, membimbing dan teguh dari diri seorang ibu.</p>
<p>Kelak seorang anak mencintai ibunya dengan caranya sendiri baik dari sisi positif dan terlepas dari tindakan yang membuatnya kesal karena kelak Ibunya hanya memberikan kasih dan sayangnya serta tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada puterinya. Dan ingatlah kelak kita para perempuan juga akan menjadi seorang ibu, oleh karena itu jadikanlah ibumu sebagai role model dengan segala sisi postifnya dan kasih sayangnya. <em><strong>(Fikriah Nurjannah/PNJ)</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/">Sosok Ibu Sebagai Panutan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/sosok-ibu-sebagai-panutan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cinta Bunda Pada Lantunan Doa</title>
		<link>https://jakpos.id/cinta-bunda-pada-lantunan-doa/</link>
					<comments>https://jakpos.id/cinta-bunda-pada-lantunan-doa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2016 11:29:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5739</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bunda adalah ibarat malaikat yang kehadirannya dapat dilihat dan dirasakan. Dengan penuh cinta dan kasih&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/cinta-bunda-pada-lantunan-doa/">Cinta Bunda Pada Lantunan Doa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5740" aria-describedby="caption-attachment-5740" style="width: 300px" class="wp-caption alignright"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/1m9eWur.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5739 wp-image-5740" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/1m9eWur.jpg" alt="Ilustrasi." width="300" height="155" /></a><figcaption id="caption-attachment-5740" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Bunda adalah ibarat malaikat yang kehadirannya dapat dilihat dan dirasakan. Dengan penuh cinta dan kasih sayang ia membesarkan buah hatinya. Lantunan doa untuk sang anak pun tak lupa selalu dipanjatkan setiap malam.</p>
<p>Memiliki seorang malaikat dalam wujud nyata merupakan suatu anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada setiap anak di dunia ini. Malaikat tersebut hadir sebagai sosok Bunda. Seseorang wanita yang kehadirannya begitu berarti di dalam keluarga.</p>
<p>Sosok seperti apa ibu itu? Benarkah Bunda itu sosok yang cerewet dan garang seperti yang banyak diperbincangkan? Pada kenyataannya semua itu salah besar. Semua kecerewetan dan kegarangan yang ditunjukannya selama ini hanya topeng semata. Topeng yang ia pakai untuk menunjukan perhatian, kepedulian, kekhawatiran, dan wujud kasih sayangnya terhadap buah hatinya.</p>
<p>Melalui kedua tangannya yang hangat Bunda menggendong, membelai, dan merawat anaknya dengan penuh cinta kasih. Rasa lelah yang sering kali menghampirinya tak pernah dihiraukan, semua itu bagai angin lalu untuknya. Kasih sayang Bunda begitu sangat sempurna kepada anaknya. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan ia mendidik anak-anaknya, membimbing buah hatinya untuk menemui tempat tujuan.</p>
<p>Tak ada yang bisa menandingi kebesaran hati seorang ibu. Di sepajang hidupnya ia mengabdikan dirinya untuk keluarga. Semua yang dilakukannya selama ini hanya untuk suami dan anak-anaknya. Tak ada yang diharapkan, selain kebahagian di dalam keluarganya.</p>
<p>Di setiap malam sebelumnya tidurnya, Bunda selalu melantunkan doa untuk anak-anaknya. Menyelipkan harapan demi harapannya dalam doa. Tak jarang air mata ikut turun bersamaan dengan doa yang dipanjatkannya. Semua doa yang dilantunkannya merupakan bentuk kasih sayang dan cinta yang tak berujung untuk anak-anaknya.<br />
Seorang ibu mencintai anaknya dengan cara yang indah, salah satu melalui lantunan doa.</p>
<p>Risty Mirsawati<br />
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/cinta-bunda-pada-lantunan-doa/">Cinta Bunda Pada Lantunan Doa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/cinta-bunda-pada-lantunan-doa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Doa Pagi Seorang Ibu</title>
		<link>https://jakpos.id/doa-pagi-seorang-ibu/</link>
					<comments>https://jakpos.id/doa-pagi-seorang-ibu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2016 09:21:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5725</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sepertiga malam. Lantunan doanya ketika duduk bersimpuh di atas sajadah, membuat hati pendengarnya bagai diterpa&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/doa-pagi-seorang-ibu/">Doa Pagi Seorang Ibu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/1-1.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5725 wp-image-5726 alignright" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/1-1.jpg" alt="1" width="300" height="300" /></a>Sepertiga malam. Lantunan doanya ketika duduk bersimpuh di atas sajadah, membuat hati pendengarnya bagai diterpa gerimis kala sore menjelang: Tenang, sejuk, dan damai. Ia tak pernah lelah mendoakan buah hatinya ketika susah maupun senang. Dalam pikirnya, ia berharap yang terbaik buat sang anak.</p>
<p>Sebelum ayam berkokok ia telah bangun dari tidurnya. Merapihkan kamar dan membangunkan seisi rumah untuk memulai aktivitas di pagi hari. Menyusuri jalan, membeli sayuran guna menyiapkan sarapan untuk orang -orang yang dia sayangi.</p>
<p>Asap mengepul berasal dari sebuah tungku di sudut dapur. Kepulannya membuat suasana ruangan menjadi pengap seketika. Kayu-kayu yang membara mendidihkan air dalam ketel, menimbulkan suara mendesis yang menandai bahwa air sudah masak.</p>
<p>Menyantap hidangan yang masih hangat buatannya adalah kebahagiaan sebelum mengawali hari. Walaupun hanya tahu tempe dibalik tudung saji tapi itu telah cukup untuk mengisi energi yang menjadi penyemangat di dalam hati.</p>
<p>Sebelum sang buah hati berangkat, dia selalu mencium keningnya dan tak lupa si anakpun membalas dengan ciuman di tangannya. Sayup-sayup terdengar lantunan doa keluar dari mulutnya yang dikhususkan untuk merestui kepergian sang anak mencari rejeki. &#8220;Hati-hati di jalan nak. Setiap langkahmu pasti terselip doa-doa ibu,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Pantang mengeluh dan selalu menebar senyuman adalah motivasi di dalam dirinya. Sedangkan bertubi-tubi masalah datang menimpa rumah tangganya tetapi wajahnya selalu terlihat bahagia walau hatinya sedang diterpa bencana. Sekalipun, dia tak pernah bermuram durja.</p>
<p>Dialah sang perantara pemilik kehidupan karena seakan-akan mempunyai koneksi langsung menuju Tuhan. Setiap kalimat-kalimat suci yang terlontar dari mulut dan didasari oleh keikhlasan hatinya, lambat laun akan diijabah oleh-Nya.</p>
<p>Dia adalah malaikat yang sesungguhnya terlihat. Seorang perempuan yang bertaruh nyawa ketika melahirkan sang anak yang ia nanti-nantikan selama sembilan bulan. Pengorbanan dan perjuangannya untuk sang anak tak akan pernah bisa terbayar oleh apapun. Bahkan bumi beserta isinya.</p>
<p>Fuad Arkaan<br />
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/doa-pagi-seorang-ibu/">Doa Pagi Seorang Ibu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/doa-pagi-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesan Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya</title>
		<link>https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 16:34:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5645</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjadi seorang wanita karier memang terdengar menyenangkan. Selain memiliki penghasilan sendiri setiap bulannya, wanita karier&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/">Pesan Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5646" aria-describedby="caption-attachment-5646" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/Wanita-Itu-300x238.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5645 wp-image-5646" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/Wanita-Itu-300x238.jpg" alt="Ilustrasi" width="300" height="238" /></a><figcaption id="caption-attachment-5646" class="wp-caption-text">Ilustrasi</figcaption></figure>
<p>Menjadi seorang wanita karier memang terdengar menyenangkan. Selain memiliki penghasilan sendiri setiap bulannya, wanita karier juga lebih bisa mandiri sehingga tidak harus bergantung dengan orang lain. Hal itu pula yang terjadi pada seorang ibu dalam sebuah keluarganya sederhana.</p>
<p>Seperti para ibu hebat di belahan dunia mana pun, yang sudah mengandung dan melahirkan, ia merupakan seorang pahlawan yang luar biasa bagi tiga orang anaknya. Selain sebagai sosok istri yang taat kepada suaminya, ia juga ibu yang penuh belas kasih dalam mendidik sang buah hati.</p>
<p>Dengan segala keterbatasannya, ia selalu berusasaha mengasihi anak-anaknya dengan cara yang paling sempurna. Bagi suaminya, ia merupakan sorang istri yang sangat patuh dan penyayang. Meski memiliki tanggung jawab sebagai seorang pendidik di sebuah sekolah dasar milik pemerintah, ia tak pernah lalai akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu di rumah.</p>
<p>Oleh karenanya, ia pun harus memutar otak demi bisa membagi waktu antara keluarga dan karier. Jika setiap pagi tugas para ibu rumah tangga hanya sebatas merapikan rumah dan menyiapkan sarapan untuk suami beserta anaknya, maka ia lebih daripada sekadar itu.</p>
<p>Setelah merapikan rumah, dan perut suami serta anak-anaknya terisi penuh, wanita berkerudung itu bergegas menyiapkan diri untuk pergi mengajar anak-anak didiknya di sebuah sekolah dasar negeri, tempatnya mengais rupiah. Usai melaksanakan pekerjaan mulianya itu, ia kemudian kembali ke rumah dan segera melanjutkan serta menuntaskan segudang pekerjaan rumah yang sudah menanti sejak ia tinggal pergi mengajar.</p>
<p>Setelah pekerjaan rumah tangganya rampung, pahlawan tanpa tanda jasa itu tak lantas mengistirahatkan dirinya. Ia justru kembali kepada pekerjaannya yang dibawa dari sekolah. Tidak jarang ia membawa ke rumah tugas-tugas yang seharusnya ia selesaikan di sekolah demi bisa tiba di rumah lebih awal.</p>
<p>Rasa lelah dan penat yang menggelayuti tubuhnya tak pernah ia hiraukan. Kendatipun diminta untuk istirahat beberapa saat saja, ia tak akan berhenti. Namun demikian, sang ibu selalu menganggap semua lelahnya merupakan rezeki yang begitu nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.</p>
<p>Kini usia guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu kian bertambah, rambut hitamnya mulai memutih, bahkan garis-garis halus di wajahnya semakin jelas terlihat manakala ia menyunggingkan sebuah senyuman. Ia seorang ibu yang masih setia dan cinta pada rutinitasnya. Di sela kesibukannya, ia tak pernah lupa menegaskan kepada tiga orang putrinya, agar tidak hanya menjadi seorang istri dan ibu yang baik di dapur.</p>
<p>Ia menjelaskan, saat ini wanita memiliki kesempatan yang sama dengan pria dalam bebagai hal. Untuk itu, ketiga buah cintanya sudah belajar banyak dari pelajaran yang selama ini ia torehkan. Ia berharap, kelak, anak-anaknya mampu menjadi seorang istri sekaligus ibu yang bisa dibanggakan melebihi dirinya.</p>
<p>Ia, wanita hebat yang aku panggil Ibu, dengan penuh cinta.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Putri</strong><br />
<strong>Mahasiswi Politeknik Negeri jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/">Pesan Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
