<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Inspirasi Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/inspirasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/inspirasi/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jun 2025 02:54:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Inspirasi Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/inspirasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hidup Tak Harus Sempurna, yang Penting Bahagia</title>
		<link>https://jakpos.id/hidup-tak-harus-sempurna-yang-penting-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 02:54:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88896</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di era media sosial seperti sekarang, kita seperti hidup dalam sorotan. Ketika scroll&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hidup-tak-harus-sempurna-yang-penting-bahagia/">Hidup Tak Harus Sempurna, yang Penting Bahagia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era media sosial seperti sekarang, kita seperti hidup dalam sorotan. Ketika scroll sebentar seperti pada di Instagram, dan kita akan disambut oleh pencapaian orang-orang: seperti memiliki mobil, membahagiakan seseorang, atau bahkan melihat seseorang berlibur ke luar negri. Rasanya pencapaian demi pencapaian itu seperti lemparan batu kecil ke dalam danau ketenangan kita rasakan. Muncul pertanyaan di kepala: &#8216;apakah Aku ini sudah cukup belum?&#8217; atau, &#8216;Kenapa hidupku biasa aja?&#8217;,dan bahkan &#8216;When yah?’</p>
<p>Tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan kita yang penuh proses ini dengan orang lain. Kita lupa bahwa media sosial hanya menampilkan momen-momen terbaik bukan tangisan di balik layar, bukan kegagalan yang tak sempat diunggah, dan bukan rasa lelah yang ditutupi dengan senyuman. Aku pernah merasakan di titik itu. rasanya seperti aku tertinggal jauh. Disaat teman temanku sudah dapat bekerja menghasilkan uang sendiri, mendapatkan pasangan dan sedangkan aku masih mencari sebuah kebahagiaanku sendiri.</p>
<p>Sampai suatu hari, aku duduk di teras rumah. Hanya duduk dan melihat orang-orang lewat, ada anak kecil yang tertawa lepas sambil berlarian mengejar balon. Ada pasangan lansia yang berjalan pelan sambil bergandengan tangan. Dan ada bapak tua yang menjajakan gorengan dengan senyum tulus, meski bajunya sudah pudar dan tubuhnya terlihat lelah.</p>
<p>Saat itu aku sadar, kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang ia bersembunyi dalam kesederhanaan. Dalam secangkir teh hangat di pagi hari, dalam pelukan ibu, dalam lagu favorit yang tak sengaja diputar di radio, dan dalam keberanian untuk menerima diri sendiri, apa adanya.</p>
<p>Hidup tidak harus selalu terlihat sempurna. Kita tidak harus punya segalanya untuk merasa cukup. Kadang, cukup itu hadir saat kita berhenti membandingkan dan mulai menghargai apa yang kita punya sekarang. Ambisi dan mimpi itu penting, tentu saja, akan tetapi jangan sampai kita kehilangan arah karena terlalu fokus mengejar validasi. Apa gunanya semua pencapaian kalau hati tetap kosong? Apa artinya kesuksesan kalau setiap hari kita bangun dengan rasa cemas dan tak tenang?</p>
<p>Jadi, kalau hari ini kamu sedang merasa tertinggal, tak mengapa. Semua orang punya waktunya masing-masing. Jalani hidup dengan perlahan, temukan ritmemu sendiri. Fokus pada hal-hal yang membuatmu damai, bukan hanya terlihat &#8216;wahhh&#8217;.</p>
<p>Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai di garis akhir. Tapi siapa yang bisa menikmati perjalanan itu dengan hati yang utuh.</p>
<p>Ingat, kamu tidak harus sempurna. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, dan belajar bahagia setiap harinya.</p>
<p><em><strong>Teddy Saputra </strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hidup-tak-harus-sempurna-yang-penting-bahagia/">Hidup Tak Harus Sempurna, yang Penting Bahagia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/radarmukomuko.bacakoran.co/upload/7ea13c1c2e7f22cc8318a580c5393aae.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Cerita Abdurrachim, Gelandangan yang Jadi Kaya Karena Kodok</title>
		<link>https://jakpos.id/cerita-abdurrachim-gelandangan-yang-jadi-crazy-rich-karena-kodok/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2024 06:49:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=65739</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sehari-hari dia hidup di emperan toko dan bekerja sebagai pemulung puntung rokok di jalanan DEPOKPOS&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/cerita-abdurrachim-gelandangan-yang-jadi-crazy-rich-karena-kodok/">Cerita Abdurrachim, Gelandangan yang Jadi Kaya Karena Kodok</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em> Sehari-hari dia hidup di emperan toko dan bekerja sebagai pemulung puntung rokok di jalanan</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Kisah keluarga Abdurrachim asal Lumajang jadi bukti spepatah bijak. Bahwa &#8220;Hidup adalah perjuangan dan harus diperjuangkan&#8221; ada benarnya.</p>
<p>Bagaimana tidak, dia yang semula gembel berubah nasib menjadi miliarder berkat kerja keras tanpa henti. Berubahnya nasib Abdurrachim sempat menjadi pemberitaan banyak media di Surabaya pada Juni 1975.</p>
<p>Pada awalnya, Abdurrachim adalah gelandangan yang tidak punya tempat tinggal tetap. Sehari-hari dia hidup di emperan toko dan bekerja sebagai pemulung puntung rokok di jalanan.</p>
<p>Atas dasar ini pula dia pernah kena ciduk otoritas terkait. Bahkan, ia pernah ditempatkan di rumah penampungan.</p>
<p>Harian Surabaya Post (2 Juni 1975) melaporkan tempat penampungan tersebut berisi gelandangan seperti Abdurrachim supaya tidak berkeliaran dan istirahat di pinggir jalan. Kelak, pemerintah bakal menanggung hidup mereka.</p>
<p>Meski begitu, Abdurrachim tak ingin bergantung begitu saja. Pada siang hari dia tetap bekerja sebagai pemulung puntung rokok.</p>
<p>Lalu malam harinya dilanjutkan dengan melakoni pekerjaan sebagai pencari kodok hingga hari berganti. Selama itu pula, Abdurrachim tak sendirian dan ditemani oleh istrinya.</p>
<p>Uang hasil pekerjaan lantas dikumpul dan diputar untuk modal. Usahanya tetap masih seputar jual-beli kodok.</p>
<p>&#8220;Pak Abdurrachim selain mencari kodok juga membelinya dari pencari-pencari kodok yang lain,&#8221; tulis harian Surabaya Post.</p>
<p>Singkat cerita, pekerjaan dan usaha tersebut moncer. Dia kemudian menjadi juragan kodok hingga terkenal sampai Surabaya. Sejak itulah perlahan hidup Abdurrachim mulai berubah.</p>
<p>Setiap minggu, Abdurrachim selalu mengirim kodok ke Surabaya sebanyak 3 kuintal atau 300 Kg. Harga satu kuintal saja bisa mencapai Rp 55.000. Artinya, selama 7 hari, dia bisa memegang uang Rp 165.000.</p>
<p>Di masa itu, Rp 165.000 merupakan nominal fantastis. Satu gram emas saja hanya seharga Rp 2.000. Sedangkan bensin bisa dibeli hanya Rp 57 per liter.</p>
<p>Hidup Abdurrachim dari yang terlunta-lunta di pinggir jalan berubah seketika menjadi sejahtera dan terhormat. Atas dasar inilah, banyak orang menjulukinya sebagai miliarder baru.</p>
<p>&#8220;Keluarga bekas gelandangan ini telah memiliki kekayaan berupa sawah seluas 3 hektar, 1 sepeda motor, dan sedang merencanakan pembelian rumah seharga Rp 3.000.000,&#8221; ungkap Surabaya Post.</p>
<p>Meski begitu, kekayaan tak membuatnya terlena dan lupa diri. Sekalipun sudah banyak uang, Abdurrachim masih tinggal dan hidup bersama gelandangan lain di tempat penampungan.</p>
<p>Sumber: CNBC</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/cerita-abdurrachim-gelandangan-yang-jadi-crazy-rich-karena-kodok/">Cerita Abdurrachim, Gelandangan yang Jadi Kaya Karena Kodok</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/media.suara.com/pictures/970x544/2019/04/19/19277-lelaki-ini-lebih-baik-jadi-gelandangan-daripada-bekerja-penuh-tekanan.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tukang Jahit Pergi Umroh</title>
		<link>https://jakpos.id/tukang-jahit-pergi-umroh/</link>
					<comments>https://jakpos.id/tukang-jahit-pergi-umroh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 May 2019 08:29:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=22804</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kain-kain yang begitu banyak terserak di ruang kerjanya sehingga menghasilkan beberapa model jenis baju yang&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tukang-jahit-pergi-umroh/">Tukang Jahit Pergi Umroh</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kain-kain yang begitu banyak terserak di ruang kerjanya sehingga menghasilkan beberapa model jenis baju yang sudah ia kerjakan. Jerih payah yang di lakukan setiap hari membuat ia tidak patah semangat demi mencapai impian sejak lama untuk pergi ke tanah suci.Hari demi hari menjahit, melatih kesabaran dan memegang komitmen tidak lah hal yang mudah bagi setiap orang. Dimulai dari menjahit di ruko-ruko sebagai karyawan selama 15 tahun, dan berbagai tempat sudah ia mulai dari tahun 2003.</p>
<p>“ Dulu masih dibayar 40 ribu selama seminggu, sisa nya suka ditambahin sama bapak kalau pulang ke Bogor dan dikasih uang 50 ribu” ujarnya. Sebagai kakak tertua, ia mempunyai 3 saudara kandung. Hanya adik nya yang bontot harus ia bayarkan biaya sekolah dan keperluan nya. Sehingga ia harus mencari nafkah dengan kerja keras sepenuh hati demi membanggakan keluarga dan adik-adik nya.</p>
<p>Saat ini ia sudah menjadi bos dan mempunyai satu karyawan. Sejak tahun 2010 ia mulai mengontrak dan membuka toko sendiri di daerah Mekarsari Cimanggis Depok. Usaha jahit yang ia bangun dari nol masih terus berjalan sampai sekarang dan telah memasuki usia 32 tahun.</p>
<p>Berawal dari niat, berdoa, dan tawakal sehingga tercapai impian nya pergi ke tanah suci. “Awal nya ditawarin dan diajak oleh pak Amar Maruf yang punya penatour, saya hanya membayar Dp 10 jt pada saat itu harga umroh sekitar 23 jt sisa nya saya cicil setiap bulan 1 jt selama setahun”.</p>
<p>Meskipun hanya menjadi tukang jahit, tetapi laki-laki berkulit sawo mateng menanamkan tanggung jawab dan mengerjakan tepat waktu kepada karyawannya untuk hasil jahitan pelanggan tersebut. “Kalau tidak tepat waktu nanti pelanggan kecewa, dan tidak mau balik lagi ke tempat jahit saya”. Hasil uang yang didapat selama sebulan cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan gaji karyawan nya. Selain itu ia juga harus membayar kontrakan setahun sekali setiap bulan Mei, ia pun pintar menabung dan mengatur keuangan agar kebutuhan sehari-hari nya tercukupi.</p>
<p>Berbagai model unik dan bagus yang ia sudah kerjakan dengan kemauan pelanggan nya membuat kebanjiran pesanan jahit, mulai dari Guru, Pengusaha, Polisi. Rata-rata pesanan pelanggan yang masuk berupa dress panjang/pendek, jas, kebaya, dan baju batik keluarga.</p>
<p>“Harga bisa disesuaikan dengan model yang penting tepat janji dan waktu” karena rendah hati dan sopan santunnya membuat pelanggan semakin sering datang kembali ke tempat jahitnya. Selain bebas pilih model sesuai kemauan pelanggan dan bisa berkomunikasi via whatsapp atau telfon kalau tidak sempat datang ke ruko.</p>
<p>Memiliki profesi sebagai penjahit atau memiliki kemampuan menjahit itu bisa menjamin masa hidup yang cerah. Jadikan itu sebagai proses pengasahan kemampuan dan satu yang perlu di ingat buang jauh jauh mental buruh yang hanya rela terima gaji bulanan dan hanya bisa menuntut kenaikan gaji dengan cara demonstrasi.</p>
<p>Karena itu sama saja kita seperti pengemis yang berjamaah, tapi berpikir maju, gaji di kumpulin sisa dari makan buat beli mesin jahit jika sudah lengkap bisa buka jahitan atau buka permak.Hasil adalah pengukuran terbaik dari kemajuan manusia. Bukan percakapan. Bukan penjelasan. Bukan pembenaran. Hasil! Dan jika hasil kita lebih sedikit dari potensi yang seharusnya, maka kita harus berusaha untuk menjadi lebih hari ini daripada hari sebelumnya. <em><strong>(</strong></em></p>
<p><em><strong>Ditulis oleh Saffa Fauziah Kamila, Mahasiswi PNJ</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tukang-jahit-pergi-umroh/">Tukang Jahit Pergi Umroh</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/tukang-jahit-pergi-umroh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Kecil yang Teramat Besar</title>
		<link>https://jakpos.id/inspirasi-kecil-yang-teramat-besar/</link>
					<comments>https://jakpos.id/inspirasi-kecil-yang-teramat-besar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 May 2016 21:16:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5837</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mata bulat berbulu lentik itu selalu terlihat bersinar, ditambah bibir tipisnya yang melengkung membentuk senyuman.&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/inspirasi-kecil-yang-teramat-besar/">Inspirasi Kecil yang Teramat Besar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5838" aria-describedby="caption-attachment-5838" style="width: 421px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/tumblr_nrbrrxx3Zm1uahko8o1_500.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-5837 wp-image-5838" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/tumblr_nrbrrxx3Zm1uahko8o1_500.jpg" alt="Ilustrasi." width="421" height="285" /></a><figcaption id="caption-attachment-5838" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Mata bulat berbulu lentik itu selalu terlihat bersinar, ditambah bibir tipisnya yang melengkung membentuk senyuman. Pipi kemerahannya yang terpancar melambangkan pesona keceriaan. Kulit putih bak belum tersentuh noda juga melambangkan hatinya yang murni.</p>
<p>Sentuhan tangan mungilnya sangat terasa di hati ketika ia meraih tanganku untuk pamit pergi ke sekolah. Pelukan hangat yang selalu kami lakukan ketika kami sedang akur pun sangat terasa nyaman. Serta kecupan kasih sayang yang sesekali ia sematkan dikeningku, seperti kecupan dari seorang adik untuk kakaknya.</p>
<p>Dia adalah sosok anak kecil yang menyenangkan sekaligus menyebalkan bagiku. Sosok yang sering kali mengangguku ketika aku sedang mengerjakan tugas kuliah. Sosok yang sering kali membuatku kesal karena selalu ingin tahu tentang apa yang sedang kulakukan. Sosok yang sering kali membuatku marah ketika ia menangis karena keinginannya tidak dituruti.</p>
<p>Dia bukan adikku, melainkan keponakanku. Keponakan yang telah berubah posisinya menjadi adikku. Sejak ayah dan ibunya meninggal dunia karena sakit, dia memang dirawat oleh ibuku. Ibuku yang juga berperan sebagai nenek dari ibunya.</p>
<p>Dia mungkin tahu bahwa orang tuanya sudah pergi, dia hanya belum mengerti arti kepergian itu yangs sesungguhnya. Sering kali dia tiba-tiba menangis ketika dia merasa rindu kepada kedua orang tuanya. “Papa, Bunda, aku kangen,” ujarnya lirih. Sangat miris hati ini saat mendengar suara lembutnya mengatakan kalimat itu.</p>
<p>Anak kecil selalu terlihat lugu memang, terkadang dia terlihat bahagia dan sedih di waktu bersamaan secara tiba-tiba. Tidak peduli akan masa depan, yang terpenting baginya hanya bermain dan bersenang-senang. Hal yang bagi kita sulit sekalipun tidak menjadi kekhawatiran baginya. Bagiku, keponakanku yang kini menjadi adikku adalah sumber inspirasiku untuk tetap tegar dalam menjalani hidup.</p>
<p><strong>Nimas Afridha Aprilianti<br />
Politeknik Negeri jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/inspirasi-kecil-yang-teramat-besar/">Inspirasi Kecil yang Teramat Besar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/inspirasi-kecil-yang-teramat-besar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masihkah Kau Menghakimi Hidup?</title>
		<link>https://jakpos.id/masihkah-kau-menghakimi-hidup/</link>
					<comments>https://jakpos.id/masihkah-kau-menghakimi-hidup/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 May 2016 14:46:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ini cerita tentang seseorang yang aku kenal. Tentang seorang ibu rumah tangga yang sudah diuji&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/masihkah-kau-menghakimi-hidup/">Masihkah Kau Menghakimi Hidup?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5606" aria-describedby="caption-attachment-5606" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/woman-alone-in-the-desert1.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5605 wp-image-5606" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/woman-alone-in-the-desert1.jpg" alt="(istimewa)" width="500" height="375" /></a><figcaption id="caption-attachment-5606" class="wp-caption-text">(istimewa)</figcaption></figure>
<p>Ini cerita tentang seseorang yang aku kenal. Tentang seorang ibu rumah tangga yang sudah diuji dari awal keluarga kecilnya dibangun. Saat awal pernikahannya, ia sebenarnya tidak mendapat restu dari kedua orang tua suami. Sedih ya, ia dan suaminya bahkan hanya diberikan satu buah kasur kapuk untuk membangun keluarga kecilnya.</p>
<p>Perjalanan hidupnya dengan sang suami penuh dengan jungkir-balik. Dulu, suaminya memulai semuanya dari nol. Sebelum suaminya menjadi pegawai negeri sipil (PNS) seperti sekarang, suaminya pernah bekerja sebagai supir truk, kenek bus, dan kedi di golf. Baru setelah 3 tahun berlalu, suaminya pun menjadi PNS. Sebelumnya juga, suaminya pernah ditipu di dunia investasi yang membuat barang-barang di rumahnya di sita, bahkan sampai cicin pernikahannya.</p>
<p>Sepuluh tahun kemudian, saat karier suaminya sedang stabil, ia kembali diuji. Ia harus mendapati suaminya tergoda wanita lain, bahkan sampai dinikahi. Ia mengetahui hal itu setelah 3 bulan. Awalnya, ia curiga melihat tingkah aneh suaminya di telpon. Ia dan anak pertamanya membuktikan hal tersebut. Keduanya akhirnya tau setelah mendapati telpon dari wanita lain itu.</p>
<p>Setelah dipaksa mengaku, suaminya pun mengakui semuanya. Detik itu juga, suaminya menceraikan istri keduanya lewat telpon, ditalak. Suaminya memohon ampun kepadanya dan kepada ke-3 anak perempuannya. Suaminya berjanji untuk tidak mengulang hal yang sama. Hal yang tak kalah menyesakan baginya adalah ketika ia tahu bahwa mertua dan adik iparnya mengetahui perihal perselingkuhan itu. Mereka bahkan menyuruh suaminya untuk lebih menceraikan dia daripada wanita itu. Ia pun sadar bahwa restu mertuanya belum ia dapat sampai saat itu.<br />
Keluarganya mulai tenang kemudian.</p>
<p>Tidak ada lagi perselingkuhan, atau itulah yang ia pikir, sampai suaminya tenggelam kegelapan. Suaminya terjerumus pergaulan, mengkonsumsi narkoba, judi, dan lagi-lagi tergoda wanita-wanita di tempat karokean. Akibat 3 hal tersebut, keadaan ekonominya jatuh sampai anak pertamanya terpaksa putus kuliah.</p>
<p>Sekitar 2 tahun suaminya mengkonsumsi narkoba. Suaminya berhenti karena paksaan, paksaan polisi. Suaminya ditangkap di kantor, setelah teman-teman suaminya tertangkap basah sedang pesta narkoba.</p>
<p>Ratusan juta dikeluarkan saat itu. Hasil pinjam sana-sini, ngemis sana-sani untuk bayar jaksa agar mendapat permohonan rehabilitas. Setelah 6 bulan suaminya di penjara, setelah membayar biaya 150 juta, suaminya berhasil keluar dengan kewajiban rehabilitas. Ia tidak ingin membagi banyak cerita soal kejadian itu, pahit katanya. Meski suaminya bebas pun, ekonomi keluarganya belum pulih.</p>
<p>Hukuman karena memakai narkoba juga diterapkan di tempat kerja suaminya. Suaminya belum bisa kembali bekerja sampai sekarang. Hasilnya, bantuan dari keluarga yang ia andalkan saat ini. Anak-anaknya pun ikut membantu, mereka bertiga mendapat pekerjaan sampingan untuk mendapat uang jajan sehari-hari.</p>
<p>Walaupun, ujian selalu ada untuknya. Ia selalu mengambil hikmahnya. Katanya, mertua, adik-adik iparnya sekarang bahu-membahu membantu biaya kehidupannya. Membantu uang jajan, uang makan, bahkan uang pendidikan anak-anaknya. Adik iparnya yang memiliki penghasilan lumayan, ikhlas membiayai pendidikan anaknya. Adik iparnya bahkan bertanggung jawab dalam biaya pendidikan anaknya setiap semesternya. Baginya, itu sudah lebih dari cukup. Suaminya bahkan sekarang menguatkan imannya. Rajin sholat, puasa Senin-Kamis yang tak pernah putus, dan selalu berusaha membuat anak-anaknya tertawa. Tidak, tidak ini sudah lebih dari cukup.</p>
<p>Dalam kisahnya, banyak hal yang bisa dipetik. Ia memperlihatkan bahwa tidak perlu takut oleh hidup, tidak menyerah dalam segala situasi, dan yang paling utama selalu mengambil sisi positif kehidupan tanpa perlu menghakimi. Harus sadar bukan hanya kita yang mengalami masalah, banyak, bahkan banyak yang lebih buruk.</p>
<p>Ia, seseorang yang aku panggil tante&#8230;</p>
<p>Penulis :<br />
<strong>Eronika Dwi Pinara</strong><br />
Politeknik Negeri Jakarta<br />
Prodi. Penerbitan (Jurnalistik)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/masihkah-kau-menghakimi-hidup/">Masihkah Kau Menghakimi Hidup?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/masihkah-kau-menghakimi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
