<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keluarga islami Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/keluarga-islami/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/keluarga-islami/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Sep 2025 05:18:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>keluarga islami Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/keluarga-islami/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menata Visi-Misi Keluarga Islami: Dari Rumah Menuju Surga</title>
		<link>https://jakpos.id/menata-visi-misi-keluarga-islami-dari-rumah-menuju-surga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 05:18:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91779</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Keluarga dalam Islam memiliki dimensi yang sangat dalam — bukan hanya terkait hubungan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menata-visi-misi-keluarga-islami-dari-rumah-menuju-surga/">Menata Visi-Misi Keluarga Islami: Dari Rumah Menuju Surga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Keluarga dalam Islam memiliki dimensi yang sangat dalam — bukan hanya terkait hubungan darah atau persoalan domestik, melainkan sarana utama pembentukan akhlak, keimanan, dan keberkahan hidup. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrîm: 6).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga adalah bagian dari ibadah — sesuatu yang memerlukan visi dan misi yang jelas agar tujuan akhir kita sebagai hamba Allah tercapai.</p>
<h3>Landasan Visi &amp; Misi dari Dalil</h3>
<p>Salah satu visi ideal dalam keluarga Islam adalah terciptanya hubungan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Dalam QS. Ar-Rûm ayat 21 Allah menerangkan:</p>
<p>“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang dan rahmat&#8230;”</p>
<p>Hadits yang juga sangat dikenal:</p>
<p>“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi)</p>
<p>Dari berbagai kajian juga disebutkan bahwa konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah tidak otomatis tercapai tanpa usaha: komunikasi yang baik, tanggung jawab, keteladanan orang tua, serta komitmen beribadah bersama.</p>
<h4>Visi Keluarga Islami</h4>
<p>Visi keluarga dalam Islam adalah menjadikan rumah tangga sebagai tempat bernaung yang penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang, atau yang sering disebut dengan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Visi ini berangkat dari firman Allah dalam QS. Ar-Rûm ayat 21, yang menyebut bahwa Allah menciptakan pasangan hidup agar manusia dapat merasakan ketenteraman, serta menumbuhkan mawaddah dan rahmah di antara mereka.</p>
<p>Keluarga Islami juga menempatkan Allah dan syariat-Nya sebagai pusat kehidupan. Semua keputusan, baik yang besar maupun kecil, diarahkan untuk mencari ridha-Nya. Dengan visi ini, keluarga tidak hanya bertujuan membangun kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadikan rumah sebagai jalan menuju surga.</p>
<p>Selain itu, keluarga Islami memiliki pandangan jauh ke depan untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Anak-anak dipandang sebagai amanah yang harus diasuh dengan pendidikan yang baik, agar kelak mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Keberkahan hidup, baik dalam rezeki, kesehatan, maupun hubungan antarkeluarga, juga menjadi bagian dari visi yang hendak diwujudkan.</p>
<h5>Misi: Langkah Konkret Menuju Visi</h5>
<p>Agar visi keluarga Islami tidak berhenti sebatas impian, diperlukan misi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu langkah awal adalah menanamkan tauhid dan adab Islami dalam interaksi sehari-hari, baik antara suami dan istri maupun orang tua dengan anak.<br />
Pendidikan akhlak tidak cukup dengan nasihat, tetapi perlu diwujudkan melalui teladan nyata.</p>
<p>Selain itu, keluarga perlu membangun tradisi ibadah bersama, seperti shalat berjamaah di rumah, membaca Al-Qur’an, serta doa dan dzikir yang menjadi rutinitas. Kebiasaan ini bukan hanya menambah kedekatan dengan Allah, tetapi juga mempererat ikatan emosional antaranggota keluarga.</p>
<p>Komunikasi yang baik juga menjadi bagian penting dari misi keluarga Islami. Saling menghargai, mendengarkan keluh kesah, dan memahami kebutuhan satu sama lain akan menciptakan suasana rumah yang penuh kasih sayang. Sejalan dengan itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan nafkah yang halal dan adil, sekaligus mendidik anak agar memahami nilai-nilai Islam serta norma sosial yang positif.</p>
<p>Terakhir, evaluasi berkala sebaiknya dijadikan tradisi dalam rumah tangga. Dengan penuh kasih sayang, keluarga dapat memeriksa sejauh mana visi dan misi yang telah dijalankan, serta apa yang perlu diperbaiki. Dengan cara ini, setiap anggota keluarga merasa terlibat, dan cita-cita menuju keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah bisa terus dijaga.</p>
<p>Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menegaskan bahwa kualitas seseorang tercermin dari sikapnya terhadap keluarga.</p>
<p>Dengan visi dan misi yang jelas, rumah tangga tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi madrasah pertama yang mencetak karakter, iman, dan amal. Dari keluarga Islami lahir generasi yang tangguh, masyarakat yang kuat, dan peradaban yang diridhai Allah Swt. Semoga rumah kita masing-masing menjadi jalan menuju surga bersama. Aamiin.</p>
<p><em>Muhammad Hadfana Syahid</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menata-visi-misi-keluarga-islami-dari-rumah-menuju-surga/">Menata Visi-Misi Keluarga Islami: Dari Rumah Menuju Surga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/minanews.net/wp-content/uploads/2023/02/kate.id-keluarga-islami-ilustrasi.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mewujudkan Keluarga Islami</title>
		<link>https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/</link>
					<comments>https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 May 2017 15:56:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga islami]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11626</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di awal berkembangnya manusia, dari sejak keluarga Nabi Adam dan Hawwa, fondasi suatu keluarga menjadi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/">Mewujudkan Keluarga Islami</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11627" aria-describedby="caption-attachment-11627" style="width: 680px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-11626 wp-image-11627" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1493913250/keluarga-muslim-31o7ms5aq4yaviegwcbci2_hirl1u.jpg" alt="" width="680" height="400" /><figcaption id="caption-attachment-11627" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Di awal berkembangnya manusia, dari sejak keluarga Nabi Adam dan Hawwa, fondasi suatu keluarga menjadi sesuatu yang ditegaskan oleh Allah swt sebagai sebuah sarana untuk menegakkan kehidupan. Dan itulah salah satu tanda kekuasaan allah sejak zaman nabi Adam as sampai Allah mewariskan bumi ini beserta isinya. Dari itulah keluarga merupakan sistem Allah dalam islam, petunjuk Nabi, sekaligus prilaku atau akhlak bagi umat manusia. Karenanya, kehidupan sebuah keluarga muslim menjadi nilai ibadah yang komprehensif, dan tradisi yang harus dihidupkan, dan dibina secara terus menerus.</p>
<p>Keluarga adalah sistem ilahi yang diberikan oleh Allah swt untuk semua mahluk hidup yang telah di ciptak-Nya. Keluarga juga sebagai komponen terpenting dalam masyarakat, adalah cikal bakal yang membentuk karakter suatu bangsa. Jika keluarga terbentuk dengan baik dan benar, berati keluarga,masyarakat dan bangsa pun akan menjadi baik dan benar. Kehidupan keluarga, ibarat sebuah kapal yang membelah lautan. Tujuan yang ingin dijangkaunya sangat jauh, medan gelombang yang akan ditempuh bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Nah, disanalah sebuah keluarga akan diuji dalam mengendalikan arah kapal agar bisa menembus berbagai arah agar sampai ke tujuan. Terutama seorang ayah,yang akan membimbing semua keluarga,terutama istri dan anak-anaknya. Dan kemampuan kendali keluarga yang dipegang oleh seorang ayah, jika tanpa dukungan ketaan pada Allah SWT ,maka akan menjadi sebuah kapal yang mudah di ombang-ambingkan gelombang. Gampang dihanyutkan oleh terpaan angin. Penumpang kapal pun akan selalu berada dalam keadaan takut, khawatir,dan nyaris tidak akan ada kedamaian, ketenangan dan sebuah kenangan yang akan dikenang.</p>
<p>Tetapi kondisi ini tidak akan terjadi pada sebuah keluarga yang selalu kerjasama, taat perintah Allah SWT, beramal shalih dan bertakwa,dan menjadikan keluarga sebagai patner agar lebih dekat denga Allah SWT baik itu antara anak denga orang tua. Dan itulah syarat akan hadirnya sebuah keluarga yang dinaungi ketenangan,kedamaiaan dan menegakkan perintah allah dan menjauhi larangannya. Mengabaikan hak-hak dan peraturan Allah swt, hanya akan memunculkan kondisi yang akan menjauhkan dari kenyamanan. Dan akan mendatangka situasi keluarga yang penuh denga kekerasan, dan ketertekana dari berbagai sisi.</p>
<p>Dan dari sisi inilah kita akan menemukan sebuag garis yang akan mengkaitkan antara ketaatan pada allah swt dan kebahagian sebuah keluarga. Dan dari sini pula kita akan melihat keadaan kondisi umat islam yang saat ini ternyata umat islam sangatlah jauh dari apa yang diinginkan islam. Dimana umat islam berada di masa penuh dengan ketidakadilan, tantangan, godaan, fitnah, kezaliman, dan kemaksiatan bahkan banyak yang terlena dengan dunia.</p>
<p>Hingga, jelas jika kemudian dalam membentuk sebuah keluarga, maka hal itu pun akan menjadi bagian dari menjalankan agama. Memelihara keluarga adalah salah satu wujud keimanan, mencegah wabah yang mengancam keluarga adalah jihad, dan menjaga buah dari hasil kerja keras dalam menjaga keluarga untuk keturunan adalah bagian dari menegakkan syiar-syiar Allah swt.</p>
<p>Artinnya: <em>“hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,” (Qs. At-Tahrim:6)</em>. Sebuah keluarga muslim apabila benar dalam membentuk dan penyiapannya, benar dalam pengamalan dan benar dalam sistem islam dalam kehidupan, maka menjadi batu bata pembentukan masyarakat Muslim yang komitmen dengan aturan Allah dalam kehidupan ini.</p>
<p>Jadi, saat ini keluarga muslim sangat membutuhkan seorang murobbi(pendidik) yang berwawasan luas,yang bisa mengikat atau menyatukan antara pemikiran dan praktik amalnya, berdasarkan prinsip ajaran islam yang jelas. Hal yang sangat penting saat ini adalah sosok pemimpin dalam keluarga yang memahami seluk-beluk tarbiyah (pendidikan dan pembinaan) yang mulia. Sosok pemimpin dalam keluarga itu harus menjadi panutan yang mampu mengatasi berbagai fenomena krisis sebuah keluarga.</p>
<p>Kita sebagai umat muslim harus menyadari perkembangan sosial dan agama yang terus mengancam generasi muda yang membuat mereka lupa tugas utama mereka. Terutama dalam perkembngan sebuah keluarga yang kehilangan rujukan syar’iyyah dan tidak mengetahui perkembngan, tuntutan, perubahan dan dinamika zaman, tidak mungkin bisa mereka memimpin sebuah keluarga.</p>
<p>Harus disadari juga bahwa berbicara tentang keluarga islam,maka akan berkaitan tentang keagungan nilai-nilai islam dalam membangun keluarga, penjelasan peran dan misi tidak ada manfaat jika sebatas bicara belaka tanpa disertai penyusunan,langkah-langkah,konsep, dan program dalam realita keluarga. dah hal ini karena praktik tarbiyah terdapat keluarga adalah proses yang bertahap, berjenjang, dan berkelanjutan dimana setiap fase usia orang-orang di dalam sebuah keluarga tersebut memiliki sarana dan perangkatnya sendiri sangat vital dan tidal bisa disepelekan. Artinnya, proses pembinaan terhadap keluarga merupakan cara paling ideal bagi terwujudnya perbaikkan. (<strong>Lisa Andrina/STEI SEBI)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/">Mewujudkan Keluarga Islami</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
