<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Keluarga Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/keluarga/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 May 2016 04:08:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Keluarga Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/keluarga/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kugadaikan Kebahagian Demi Kesuksesan Buah Hatiku</title>
		<link>https://jakpos.id/kugadaikan-kebahagian-demi-kesuksesan-buah-hatiku/</link>
					<comments>https://jakpos.id/kugadaikan-kebahagian-demi-kesuksesan-buah-hatiku/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 May 2016 04:08:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=6118</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ibu, itulah panggilan untukku dari kedua anakku. Menyandang predikat ibu bukanlah hal mudah untuk aku&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kugadaikan-kebahagian-demi-kesuksesan-buah-hatiku/">Kugadaikan Kebahagian Demi Kesuksesan Buah Hatiku</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu, itulah panggilan untukku dari kedua anakku. Menyandang predikat ibu bukanlah hal mudah untuk aku jalanni. Membesarkan serta mendidik kedua anakku, itulah menjadi salah satu tanggung jawabku. Ibu, aku bangga mendapat panggilan itu dari kedua buah hatiku, meski jalan yang harusku tempuh terasa berat diiringi sendu.</p>
<p>Memandikan hembusan angin malam serta diterangi cahaya lampu jalan sudah menjadi rutinitas yang harus aku jalani. Setapak demi setapakku langkahkan kaki membeli sayur mayur untuk dijual kembali, itulah salah satu tugas dari profesiku. Tukang sayur, itulah profesiku, profesi yang sudah aku jalani lebih dari 10 tahun untuk membantu perekoniman keluarga. Berbelanja sayur pada malam hari hingga fajar menjelma dan melanjutkan aktivitas berjualan di teras rumah selalu aku jelani dengan hati yang ikhlas untuk kesuksesan kedua buah hatiku.</p>
<p>Cibiran hingga hinaan serta cemoohan selalu kudengar dari orang-orang yang tidak suka dengan keluargaku. Tidak hanya sekadar itu, Diusir dari rumahku sendiri hanya karena permasalahan sengketa tanah pun pernah aku alami. Tidak banyak yang dapat aku lakukan selain berdoa kepada yang Kuasadisertai tetesan air mata untuk menghadapi ujian yang tidak kunjung berujung.</p>
<p>Dibalik semua ujian aku yakin akan datang sebuah kebahagiaan, kebahagiaan yang lebih indah dari memiliki jutaan mutiara. Aku tahu itu semua adalah ujian untuk menjadi seorang ibu yang kuat dan tangguh demi membahagiakan kedua anakku. Melihat senyuman kebahagian dari raut wajah kedua anakku itulah mutiara yang aku miliki. Berharap kesuksesan kedua buah hatiku itulah tujuan dari semua pengorbananku meski harus kugadaikan kebahagianku.</p>
<p><strong>Junaidi</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kugadaikan-kebahagian-demi-kesuksesan-buah-hatiku/">Kugadaikan Kebahagian Demi Kesuksesan Buah Hatiku</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/kugadaikan-kebahagian-demi-kesuksesan-buah-hatiku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekurangan Bukan Penghalang</title>
		<link>https://jakpos.id/kekurangan-bukan-penghalang/</link>
					<comments>https://jakpos.id/kekurangan-bukan-penghalang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 May 2016 07:11:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=6046</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memiliki anak dengan fisik yang sempurna adalah harapan semua orang tua. Begitu pula dengan pasangan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kekurangan-bukan-penghalang/">Kekurangan Bukan Penghalang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Memiliki anak dengan fisik yang sempurna adalah harapan semua orang tua. Begitu pula dengan pasangan suami istri Alal dan Yati, yang sangat berharap agar anak kelimanya terlahir tanpa kekurangan sedikit apapun.</p>
<p>Anak kelimanya berjenis kelamin perempuan, lahir di Depok pada tanggal 1 Februari 2008. Ia diberi nama Nur Aini Febrianti (8), ia sering disapa dengan sebutan Aini. Aini berparaskan cantik dengan wajah mungilnya dan bulu mata lentik. Tubuhnya kecil seperti anak-anak seusianya, serta gaya fashionnya yang selalu menggunakan bando atau hiasan rambut berwarna pink, membuat dirinya terlihat sangat ceria dan bersemangat.</p>
<p>Aini memang dilahirkan secara normal seperti kelima saudaranya. Namun, Aini terlahir dengan keadaan yang tidak sempurna. Telinganya tidak seperti telinga orang-orang pada umumnya. Kedua daun telinganya tidak terbentuk sempurna. Terlipat ke dalam dan menutupi lubang telinganya, untuk orang awam lebih menilai daun telinganya berbentuk seperti kerang hijau yang biasa kita makan di restoran seafood dan yang sering kita jumpai di pasar. Memang aneh kedengarannya. Orang tuanya juga tidak mengetahui apa penyebabnya, bahkan medis pun tidak bisa menjelaskan secara detail mengenai penyebab terjadinya hal ini.</p>
<p>Orang tuanya sangat terpukul dengan keadaan yang diderita oleh putri kecilnya.“Kenapa ini terjadi pada putriku ? Bagaimana jika di masa depan ia harus menerima cemoohan dari teman-temannya ? Bagaimana jika ia merasa minder dengan keadaan seperti ini ? Serta bagaimana jika di masa yang akan datang tidak ada yang mau berteman dengannya karena keterbatasan fisiknya ?”Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu membuat orang tuanya merasa gundah gulana.Belum lagi saat nanti putri mereka tumbuh dewasa dan sudah mengerti bahwa keadaanya tidak sempurna seperti kakak-kakaknya ataupun teman-temannya.</p>
<p>Sebagai kakak, rasa kasihan, sedih, bahkan bingung pun saya rasakan. Saya juga memiliki pertanyaan yang sama di dalam fikiran saya mengenai bagaimana dengan adikku kelak.<br />
Apa yang telah membuat dia seperti ini? Ada apa dengan dirinya? Kuatkanlah Tuhan.</p>
<p>Berikanlah bidadari kecil orang tua ku ini ketabahan untuk menjalani hidup dengan keadaanya sekarang.</p>
<p>Saat adikku berusia lima tahun ia tidak ingin bersekolah di taman kanak-kanak, ia ingin langsung ke SD (Sekolah Dasar). Tetapi karena usianya yang belum bisa untuk masuk ke SD, akhirnya ia harus menunggu hingga ia berusia tujuh tahun. Awalnya ibunya merasa tidak yakin jika ia harus masuk ke sekolah umum dengan alasan keterbatasan fisik yang dimiliki. Namun, di lain sisi ayah yakin bahwa kepintaran serta kecerdasaan putri kecilnyasetara dengan anak-anak yang memiliki fisik sempurna. Di dalam kelas ia belajar biasa seperti murid lainnya, namun saat suasana ruang kelas sedang berisik, ia mengaku sulit mendengar, walaupun ia sudah duduk di tempat duduk yang terdepan. Hal itu yang membuat ibuku semakin khawatir dengan keadaan putri kecilnya di sekolah.</p>
<p>Memang benar ucapan adalah doa, ayahn yang berucap kalau putrinya memiliki kecerdasan yang setara dengan anak lainnya kini benar-benar terbukti. Dengan keterbatasan telinga yang dimiliki anaknya hingga mengakibatkan kurang dalam hal pendengaran tidak membuat putri dambaanya terpuruk dalam pendidikannya. Aini pun mampu mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah dengan sangat baik bahkan lebih baik dari teman-temannya yang secara fisik sempurna. Tidak tanggung-tanggung Aini mendapatkan peringkat satu di kelasnya.</p>
<p>Walaupun Aini unggul di mata pelajaran, tetap saja ia mendapatkan cemoohan dari teman-teman sekelasnya.<br />
“Kok Aini kupingnya kecil sih ?”<br />
“Aini kalau kuping kamu kaya gitu, kamu enggak bisa denger”<br />
“Aini kupingnya ihh &#8230;”</p>
<p>Kalimat-kalimat itu sering sekali terlontar dari mulut teman-temannya. Aini hanya bisa menjawab, dengan jawaban yang polos serta lugu. “Ih kan emang kuping aku kaya gini,” jawaban itu yang selalu ia lontarkan untuk menjawab pertanyaan atau mungkin cemoohan dari teman-temannya.</p>
<p>Pernah suatu hari saat ia ingin pergi untuk bersekolah, Aini tertabrak oleh sepeda motor. Keadaanya memang tidak parah saat itu, tetapi yang membuat hati ayah dan ibu bahkan aku sebagai kakak tertua terenyuh. Ketika Aini ditanya kenapa bisa tertabrak, ia menjawab “Aini enggak denger suara tin-tin-tin motornya bu,”sungguh ibuku merasa kasihan serta terpukul ketika jawaban lugu yang keluar dari mulut mungil anaknya.</p>
<p>Mungkin sekarang Aini masih kecil dan belum menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan, tapi suatu saat ia akan mengerti keadaan fisiknya tidak sama seperti orang lain. Bully serta cemoohan mungkin akan diterimanya, tetapi ayah dan ibu akan membuktikan bahwa bidadari surga yang mereka miliki mampu melewati cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya.</p>
<p>Menurut dokter memang bisa telinga Aini dioperasi hingga berbentuk seperti bentuk telinga yang normal, namun biaya operasi yang tinggi menjadi penghalang orang tua kuuntuk menunda tindakan operasi untuk adik kecilku. Maklum saja, kami bukan keluarga yang bisa bergelimang harta. Menurut kami, biaya untuk operasi bukan biaya yang kecil.</p>
<p>“Jangan malu dengan keadaan fisik mu, kamu tetap bidadari ayah dan ibu yang cantik. Jangan pedulikan cemoohan mereka. Mereka hanya peduli dengan kekuranganmu. Buktikan kepada mereka kalau Aini lebih hebat dari mereka yang memiliki fisik yang sempurna,” begitu ucapan semangat yang terlontar dari mulut ayahnya untuk menyemangati sang bidadari surga miliknya. “Bersabarlah nak! jika ada rezeki, kita akan segera mengobati dan memperbaiki telinga mu nak,” ucap ayah sambil membelai rambut hitam putri kecilnya.</p>
<p><strong>Elsi Cahyani </strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kekurangan-bukan-penghalang/">Kekurangan Bukan Penghalang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/kekurangan-bukan-penghalang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biarlah Ia Mencintai Dalam Diamnya</title>
		<link>https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 17:42:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biarlah ia mencintaiku dalam diamnya Biarlah cinta itu tak terucapkan Rasa cintanya akan tetap kurasa&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/">Biarlah Ia Mencintai Dalam Diamnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5803" aria-describedby="caption-attachment-5803" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/anak-ayah-gandengan-tangan_20150602_120627.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-5802 wp-image-5803" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/anak-ayah-gandengan-tangan_20150602_120627.jpg" alt="Ilustrasi (google)" width="700" height="393" /></a><figcaption id="caption-attachment-5803" class="wp-caption-text">Ilustrasi (google)</figcaption></figure>
<p><em>Biarlah ia mencintaiku dalam diamnya</em><br />
<em> Biarlah cinta itu tak terucapkan</em><br />
<em> Rasa cintanya akan tetap kurasa meski tak sepatah kata diucapkan.</em></p>
<p>Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tidak akan habis termakan masa, tapi di belakang sosok ibu yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungannya secara terang-terangan kepada anaknya, ada sosok ayah di belakangnya. Sosok ayah yang diam-diam mengkhawatirkan anak-anaknya.</p>
<p>Ayah yang jika dekat terlihat cuek dan tak acuh. Sosok ayah yang terkadang terlihat begitu sibuk dengan dunianya sendiri. Diam-diam dialah yang memperhatikan apa yang sedang aku lakukan, diam-diam dialah yang mengkhawatirkanku. Di saat aku pulang telat ke rumah raut khawatir tergurat jelas di wajahnya. Seberondong pertanyaan juga tak akan lupa ia tanyakan kepadaku. kemana aku pergi tadi ? apa yang terjadi seharian ini padaku? dan jika aku terlambat pulang ia akan bertanya kenapa aku terlambat pulang.</p>
<p>Ayah sosok yang dengan ikhlas menguras seluruh tenaganya demi anak yang ia kasihi. Ayah yang hanya mengukir senyum di kala ia letih. Tubuh yang kian hari makin renta, namun tak pernah mengeluh. Tinggal jauh dari ayah membuatku menyadari betapa besar kasih sayangnya, pertemuan yang tak intens lagi membuatku semakin peka terhadap kasih sayang yang ia curahkan padaku.</p>
<p>Kala itu ia datang, dalam perjalanan bertemu denganku ayah menelfon, kalimat yang dikatakan ayah dalam telfon membuat hatiku terenyuh “ kak, papa lagi di jalan, ntar lagi sampai. Nanti beli nasi bungkus ya, kita makan berdua.” Seketika hatiku seakan jatuh, ia tak mengungkapkan rindunya secara gamblang. Ia menyuratkan kerinduannya padaku dengan kalimatnya yang mengatakan ingin makan berdua.</p>
<p>Pergi pagi pulang petang, hingga harus berada jauh dari sisi keluarga rela dilakukan oleh ayah untuk menafkahi serta memperjuangkan kehidupan keluarganya. Tak pernah sekalipun terdengar kata keluhan terucap dari bibirnya. Bahkan kata rindu pun tak ia ucapkan secara gamblang, ia hanya menyiratkan kerinduannya lewat kalimat yang biasa ia ucapkan, ia hanya menyiratkannya dengan tindak tanduknya.</p>
<p>Di sana letak keikhlasan seorang ayah, tak banyak kadang yang menyadari bagaimana perjuangan seorang ayah, lelahnya seorang ayah. Bagaimana seorang ayah yang hanya bisa menitipkan rasa cemas, rasa ingin tahu, serta rasa ingin menjaga anaknya kepada seorang ibu. Hingga membuat sang anak lupa jika ada seorang ayah yang selalu mengkhawatirkannya. Terkadang aku juga lupa akan ayah, namun pertemuan singkatku dengannya membuatku sadar bahwa di balik sosok ibu selama ini ada ayah yang selalu memperhatikanku.</p>
<p><strong>Tesa Bismihayati</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/">Biarlah Ia Mencintai Dalam Diamnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/biarlah-ia-mencintai-dalam-diamnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masihkah Kau Menilai Ayah dengan Sebelah Mata?</title>
		<link>https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/</link>
					<comments>https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 07:09:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dia mungkin bukan sosok lelaki sempurna, tapi yang pasti, dia akan melakukan apa saja untuk&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/">Masihkah Kau Menilai Ayah dengan Sebelah Mata?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dia mungkin bukan sosok lelaki sempurna, tapi yang pasti, dia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan keluarganya. bahkan ketika nyawa taruhannya.</strong></p>
<figure id="attachment_5774" aria-describedby="caption-attachment-5774" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/k3-pekerja-burj-dubai.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5768 wp-image-5774" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/k3-pekerja-burj-dubai.jpg" alt="Ilustrasi." width="500" height="380" /></a><figcaption id="caption-attachment-5774" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Sosok pekerja keras melekat padanya. Bekerja dari sang surya terbit hingga terbenam. Segala macam rintangan, seperti hujan, panas, maupun yang mengancam keselamatannya tetap ia terjang, hanya demi mencari nafkah untuk keluarganya. Kata “malas” dan “menyerah” pantang baginya.</p>
<p>Ia adalah sosok bertanggung jawab. Meski anaknya suka mengeluh dan menuntut kepadanya, ia selalu mau mendengarkan dan terus berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang Ayah, yaitu membahagiakan anaknya.<br />
Sifatnya keras dalam mendidik sehingga menjadi sosok yang ditakuti. Namun, di balik sifat kerasnya, tersimpan hati yang lembut, berisi cinta sebesar cinta Ibu. Ia memang tidak dapat menyampaikan cintanya melalui kata-kata indah, namun pengorbanannya adalah wujud cintanya yang tulus.</p>
<p>Ia pintar menyembunyikan rasa. Hanya sekilas dapat terlihat raut wajahnya yang tampak lelah saat tiba di rumah. Begitu pula saat ia kehilangan sosok orang yang dicintainya, dirinya tak mau menampakkan tangisan di wajahnya karena tetap ingin terlihat kuat di depan anaknya.</p>
<blockquote><p>Ia mencintai dalam diam. Ia pintar menyembunyikan rasa. Ia sosok menginspirasi. Ia satu-satunya laki-laki yang tak pernah menyakiti. Ialah sosok yang sering dipanggil dengan sebutan Ayah.</p></blockquote>
<p>Akan tetapi, semua rasa yang selama ini berhasil disembunyikannya dapat terlihat jelas saat ia tertidur. Wajahnya menampakkan rasa lelah yang teramat, terdapat kantung mata, wajahnya terlihat lesu dan pucat, serta raut wajahnya terlihat gelisah. Terkadang tidurnya tak lelap, sering kali terbangun dari tidurnya.</p>
<p>Sungguh banyak rasa yang telah ia sembunyikan dengan sempurna dari orang-orang terdekatnya. Tak pernah baginya mengeluh akan suatu hal karena tak mau menambah beban pikiran orang lain. Bagi yang tak begitu mengenalnya, pasti akan merasa tertipu dengan topeng yang dikenakannya.</p>
<p>Ayah memang tidak mengandung, tapi di dalam darah anaknya mengalir darahnya. Ia tidak melahirkan, tapi dirinyalah yang paling mengerti kesakitan Ibu. Ia juga tidak menyusui, tapi dari keringatnyalah yang menjadi setiap tetes air susu anaknya.</p>
<p>Masihkah kau menilai Ayah dengan sebelah mata? Di saat tiap keringat dan hembusan napasnya hanya ditujukan untuk keluarganya. Kerja keras dan usahanya bahkan tak pernah ia ungkit atau berharap diganti. Kasih sayangnya selalu membekas di hati dan tak lekang oleh waktu. Ayah adalah pahlawan sejati yang nyata dalam kehidupan. Terima kasih atas kasih, cinta, dan pengorbanan tulus yang tak terganti. Terima kasih, Ayah.</p>
<p><strong>Fitriana Monica Sari</strong><br />
<strong>Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/">Masihkah Kau Menilai Ayah dengan Sebelah Mata?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/masihkah-kau-menilai-ayah-dengan-sebelah-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rumah Terindah</title>
		<link>https://jakpos.id/rumah-terindah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/rumah-terindah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 May 2016 12:11:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5690</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tak seperti biasanya, sore ini begitu sunyi dan lengang. Suasananya santai dan udaranya sejuk untuk&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rumah-terindah/">Rumah Terindah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5691" aria-describedby="caption-attachment-5691" style="width: 576px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/logo-home-sweet-home-clipart-2.jpg"><img decoding="async" class="wp-post-5690 wp-image-5691 size-full" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/logo-home-sweet-home-clipart-2.jpg" alt="logo-home-sweet-home-clipart-2" width="576" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5691" class="wp-caption-text">Ilustrasi</figcaption></figure>
<p>Tak seperti biasanya, sore ini begitu sunyi dan lengang. Suasananya santai dan udaranya sejuk untuk dihirup.<br />
Langit sore ini berwarna kekuningan, ini semua karena sebelum senja tadi terjadi mencairnya air hujan. Ia membiaskan cahaya di langit, biasanya lahir si pelangi.,namun tak terlihat kali ini.</p>
<p>Ruang kamar kos ini lumayan nyaman, walaunpun penuh barang karena dihuni oleh dua gadis. Memang tidak senyaman kamar di rumah tetapi kamar ini bisa membuat nyaman saat tertidur lelap.</p>
<p>Tidak akan pernah ada tempat nyaman rumah sendiri. Ya, perasaan nyaman saat di rumah. Rasanya bisa membagi seluruh gundah gulana hingga keceriaan di rumah. Selalu menganggap rumah adalah surga. Sore yang sejuk ini mengingatkan pada sosok Ayah.</p>
<p>Seorang pria yang paruh baya itu selalu membersihkan gigi, menyisir rambut, mengantar kemanapun putrinya ingin pergi walaupun berkendara berpuluh-puluh kilometer, beliau selalu ada saat menengok kebelakang. Ayah adalah rumah.</p>
<p>Ayah adalah pria yang sangat pekerja keras, ulet, dan tidak pernah putus asa. Ia bekerja sebagai desainer grafis di perusahaan advertising swasta di Jakarta, kesibukannya kadang membuat ia tak bisa setiap hari berjumpa dengan putrinya. Setiap kali didekatnya, ada hal yang selalu menyenangkan untuk dilihat oleh mata. Terlihat saat guratan senyumnya muncul, senyumnya selalu berbinar walaupun wajahnya pucat pasi.</p>
<p>Hal yang paling indah yang bisa dibagikan itu ada tiga: waktu, ilmu, dan materi. Ketiga hal itu didapat dari ayah. Yang paling utama adalah ayah rela memberikan banyak waktu dan ilmunya. Itu yang paling berarti.</p>
<p>Saat masih kanak-kanak putrinya jarang bisa bertemu dengan ayahnya. Karena sibuk mengurusi event di luar kota, ia pernah tidak bertemu dengannya selama enam bulan lebih. Hanya suara yang dapat mempertemukan keduanya. Setiap malam hal yang ditunggu adalah telepon dari ayah. Putrinya selalu merindukannya.</p>
<p>Rasanya tidak pernah ingin jauh dari Ayah, Ayah mengajarkan banyak hal. Ayah selalu menanamkan kepercayaan dan menjadikan putrinya anak perempuan yang berani. Hingga sekarang. Ia juga mengajarkan untuk selalu menjadi diri sendiri dalam keadaan apapun. Teringat pada perkataan ayah “Bekalmu nasi goreng maka kamu akan jadi nasi goreng, bekalmu mi goreng maka kamu akan jadi mi goreng, bekalmu cahaya maka jadilah cahaya” Ayah membekali anaknya dengan itu semua hingga menjadikan anaknya kuat seperti sekarang.</p>
<p>Ayah selalu berusaha untuk menafkahi keluarganya, dengan cara apapun asalkan halal ia rela. Dengan kuatnya ia melakukan itu semua agar aku bisa lanjut bersekolah dan makan makanan yang sehat setiap harinya. Kehebatannya menyembunyikan segala sedih dan kepiluannya hingga ini masih membuat takjub.</p>
<p>Saat ada masalah dan tidak tahu lagi harus bagaimana, ayah menjadi tempat berbagi cerita. Berbagi waktu dan cerita dengannya adalah hal yang paling nyaman dan menentramkan hati. ia selalu mau mendengarkan semua keluh kesah, Ayah selalu tertawa bila sedang bercerita sedih. “ya kalau temen atau dosen ngeselin kok ya jangan di balikin kesel dong, nanti juga dia capek sendiri hahahaha anak ayah enggak boleh cengeng ah” ujarnya saat bercerita.</p>
<p>Setiap kali menghabiskan waktu rasanya tidak pernah cukup, rasanya ingin berbagi cerita dan tawa dengannya. Tapi bukankah memang begitu? Waktu memang tidak pernah selalu cukup.</p>
<p>Ayah selalu menegaskan “jangan pernah pelit sama siapapun, kalo punya ilmu, waktu atau uang ya bagi juga ke orang lain, jangan dimakan sendiri. Mau kamu jadi orang serakah terus perutnya buncit? ”</p>
<p>Sesungguhnya berbagi itu hal yang mudah jika kita mulai dari hal kecil hingga ke hal yang besar. Tidak peduli sesulit apapun itu, berbagi harus dilakukan. Karena sedari kecil hingga besar selalu diajarkan berbagi.</p>
<p>Rumah selalu memberikan tempat ternyaman untuk melakukan banyak hal, saat sedih pun bisa terasa nyaman di dalam rumah untuk mengobati rasa sedih. Ayah bak rumah yang menjadi tempat ternyaman, tempat di mana bisa meluapkan segala rasa yang ada dalam hati. Memang terkadang rasanya ingin pergi dan lari dari rumah untuk mencari banyak hal baru. Terkadang, rasanya ingin jauh dari Ayah agar bisa menghadapi dunia. Karena Ayah sudah menjadikan putrinya wanita yang hebat dan tidak takut akan apapun.</p>
<p>Setelah jauh dari rumah, banyak bertemu orang, memperhatikan banyak hal, sekarang banyak orang yang tidak menjadi dirinya sendiri dalam usaha menjadi dirinya sendiri. Memang hal yang terlihat mudah namun sulit untuk dilakukan. Ayah bilang “tetaplah jadi diri sendiri, nggak ada yg kayak ade. Orang kepala batu ini cuma ada satu di dunia. Ade spesial pokoknya”.</p>
<p>Sebagai manusia pasti ingin mencari apa yang diinginkan bagaimanapun caranya. Walaupun hingga mengelilingi dunia, banyak bertemu orang, berkendara berpuluh-puluh bahkan ribuan kilometer, makan pagi dan makan siang di tempat yang berbeda, berbicara banyak hal hingga mendengarkan apapun yang ditemui telinga dan ini adalah apa yang kita inginkan, setelah itu baru setelahnya akan sadar sesungguhnya hal inginkan adalah pulang ke rumah.</p>
<p><strong>Sonya Annasha Bonita</strong><br />
<strong> Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rumah-terindah/">Rumah Terindah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/rumah-terindah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dongeng Zaman Dahulu</title>
		<link>https://jakpos.id/dongeng-zaman-dahulu/</link>
					<comments>https://jakpos.id/dongeng-zaman-dahulu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 May 2016 03:25:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[kakek]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[olah rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5667</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dongeng-dongeng zaman dahulu selalu ia ceritakan. Dongeng asal muasal suatu tempat misalnya. Pengalamannya ketika sedang&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dongeng-zaman-dahulu/">Dongeng Zaman Dahulu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5668" aria-describedby="caption-attachment-5668" style="width: 475px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/kakek-dan-cucu-640x539.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5667 wp-image-5668" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/kakek-dan-cucu-640x539.jpg" alt="Ilustrasi." width="475" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5668" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Dongeng-dongeng zaman dahulu selalu ia ceritakan. Dongeng asal muasal suatu tempat misalnya. Pengalamannya ketika sedang kesulitan, pengalamannya menghadapi kehidupan, semua ia ceritakan pada sang cucu. Ia menginginkan sang cucu memiliki pengetahuan yang luas.</p>
<p>Rambut yang sudah memutih tidak menghalangi langkahnya untuk melakukan hal yang akan membuat cucunya bahagia. Begitulah yang dilakukan oleh seorang kakek. Tatapan penuh kasih sayang dipancarkannya pada sang cucu ketika berkomunikasi dengannya. Tanpa nada suara tinggi, ia membalas setiap pertanyaan sang cucu dengan lemah lembut dan sabar.</p>
<p>Tangannya yang sudah mulai keriput menggendong sang cucu ketika menangis. Baginya cucu adalah anak kecil yang membuat hari-harinya berwarna. Setiap apa yang diinginkan oleh sang cucu, selalu berusaha ia penuhi. Ia selalu berusaha mengabulkan keinginan-keinginan kecil sang cucu. Tidak banyak yang ia minta dari sang cucu sebagai balasan. Ia hanya meminta sang cucu untuk belajar dengan giat, berbakti pada orang tua serta rajin beribadah. Tak sedikit pun teriakan ataupun kemarahan yang pernah keluar dari mulutnya. Ia selalu membicarakan suatu masalah dengan hati dan senyum yang tenang.</p>
<p>Dongeng-dongeng zaman dahulu selalu ia ceritakan. Dongeng asal muasal suatu tempat misalnya. Pengalamannya ketika sedang kesulitan, pengalamannya menghadapi kehidupan, semua ia ceritakan pada sang cucu. Ia menginginkan sang cucu memiliki pengetahuan yang luas. Pesan-pesan kebaikan selalu disampaikan.</p>
<p>Kasih sayang yang dirasakan darinya sangatlah berharga untuk disimpan. Suara lemah lembut membuat hati sang cucu selalu tenang, semua dukungan ia berikan yang tebaik untuk cucunya. Hanya suaranya yang bisa menghentikan tangisan sang cucu.</p>
<p>Ia selalu ada ketika sang cucu menghadapi kesulitan. “Tidak masalah kamu tidak diterima di universitas itu, jangan menangis, kakek akan mengusahakan semuanya yang terbaik, berhentilah menangis,” katanya dengan suara lembut yang terdengar dari telepon, ia berusaha untuk menenangkan cucunya yang menangis karena merasakan kegagalan. Sangat beruntung mendapatkan kakek yang penuh kasih sayang dan perhatian.</p>
<p>Ketika jarak memisahkannya dengan sang cucu, ia hanya bisa menelepon dan menanyakan kabar cucunya setiap hari tanpa bertemu. Walaupun begitu ia selalu mencurahkan rasa kasih sayangnya dengan cara apapun. Ia selalu menanyakan kondisi dan keadaan sang cucu. Selalu memberikan dorongan positif untuk menjalani kehidupan. Selalu berusaha berada di barisan paling depan ketika sang cucu menghadapi kesulitan.</p>
<p><strong>Inda Wulandari</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dongeng-zaman-dahulu/">Dongeng Zaman Dahulu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/dongeng-zaman-dahulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Si Manusia Rela Itu Bernama&#8230;</title>
		<link>https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/</link>
					<comments>https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 16:50:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5648</guid>

					<description><![CDATA[<p>Matahari mulai bergeser ke arah barat. Senja mulai datang untuk menyambut malam. Lama-kelamaan, matahari mulai&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/">Si Manusia Rela Itu Bernama&#8230;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5649" aria-describedby="caption-attachment-5649" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/old_man_sunset_by_thelifeinfocus-d5f5g8t-640x427.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5648 wp-image-5649" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/old_man_sunset_by_thelifeinfocus-d5f5g8t-640x427.jpg" alt="Ilustrasi." width="600" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5649" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Matahari mulai bergeser ke arah barat. Senja mulai datang untuk menyambut malam. Lama-kelamaan, matahari mulai menghilang dan bergantikan malam yang gelap dan pekat. Dengan raut wajah yang lelah, ia membuka pintu dan mengucapkan salam. Menaruh tas dan seluruh dokumen yang ia bawa. Terdengar jelas helaan napasnya. Mungkin ia berharap masalah hari itu akan hilang begitu saja.</p>
<p>Usianya sudah hampir setengah abad. Namun, ia masih semangat bekerja. Tidak ada satu keluhan pun yang keluar dari bibirnya. Ia selalu berusaha dan berusaha agar dapat memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Dia juga rela melakukan apa saja. Dia adalah seseorang yang disebut, Ayah.</p>
<p>Hari-harinya selalu dipenuhi masalah. Tapi, dia selalu rela mendengarkan seluruh keluhan anaknya yang tak seberapa. Ia selalu menjadi pendengar yang baik. Tidak pernah mencela, tidak pernah memotong pembicaraan. Hanya menjadi pendengar dan memberikan pendapatnya.</p>
<p>Sudah setahun belakangan ia harus pindah ke luar Jakarta. Hal ini membuatnya sedih karena hal tersebut membuat ia dan keluargannya berjauhan. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini sudah menjadi konsekuensi dari pekerjaan yang harus dia terima. Toh, hanya jarak yang memisahkan ia dari keluargannya.</p>
<p>Dia akan pulang ke rumah sekitar satu bulan atau dua bulan sekali. Tergantung kesibukan yang sedang ia hadapi. Sebuah ketakutan terbesit dibenak keluarganya. Takut kalau hal yang tidak diinginkan terjadi dan tidak bisa membantu saat ia butuh pertolongan.</p>
<p>Ketakutan itu ternyata benar. Senin pagi, ayah masuk ruang ICU. Ia terkena serangan jantung. Entah bagaimana keadaanya saat itu. Tidak ada yang bisa menolong selain berdoa dan berharap ia akan baik-baik saja.</p>
<p>Selang beberapa jam, ia masih harus berada di ruang ICU dan harus menunggu keputusan dokter mengenai jantungnya. Sayangnya, hasil keputusan dokter tidak bisa didapat pada hari itu juga. Ia dan keluargannya harus menunggu dua atau tiga hari lagi.</p>
<p>Setelah menunggu keputusan yang cukup lama, dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan operasi padanya. Penyempitan yang terjadi di jantungnya sudah sangat parah. Pemasangan ring pada jantungnya merupakan solusi terbaik. Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi pada malam itu juga.</p>
<p>Peristiwa itu menyadarkan keluargannya. Membuat anak-anaknya tersadar betapa pentingnya dia bagi anak-anaknya. Merelakan hari liburnya, kurang tidur, kelelahan, bahkan sakit hanyalah sebagian kecil pengorbanan yang ia lakukan. Pengorbanan dan kerja kerasnya tidak akan pernah tergantikan oleh apapun.</p>
<p>Ia adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuk menaungi keluarganya. Harapan yang ia katakan pada anak-anaknya sangatlah sederhana. Berharap suatu hari nanti anak-anaknya bisa menjadi seseorang yang lebih baik darinya.<br />
Ayah tidak banyak menuntut apapun. Ia melebihi definisi dari kata sempurna. Ia sederhana tapi pengorbanannya istimewa. Ia adalah manusia yang rela. Rela, bertarung sampai mati demi nafas bahagia keluarganya.</p>
<p>Ditulis oleh <strong>Savira Tavana Dewi</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/">Si Manusia Rela Itu Bernama&#8230;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/si-manusia-rela-itu-bernama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesan Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya</title>
		<link>https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 16:34:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5645</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjadi seorang wanita karier memang terdengar menyenangkan. Selain memiliki penghasilan sendiri setiap bulannya, wanita karier&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/">Pesan Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5646" aria-describedby="caption-attachment-5646" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/Wanita-Itu-300x238.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5645 wp-image-5646" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/Wanita-Itu-300x238.jpg" alt="Ilustrasi" width="300" height="238" /></a><figcaption id="caption-attachment-5646" class="wp-caption-text">Ilustrasi</figcaption></figure>
<p>Menjadi seorang wanita karier memang terdengar menyenangkan. Selain memiliki penghasilan sendiri setiap bulannya, wanita karier juga lebih bisa mandiri sehingga tidak harus bergantung dengan orang lain. Hal itu pula yang terjadi pada seorang ibu dalam sebuah keluarganya sederhana.</p>
<p>Seperti para ibu hebat di belahan dunia mana pun, yang sudah mengandung dan melahirkan, ia merupakan seorang pahlawan yang luar biasa bagi tiga orang anaknya. Selain sebagai sosok istri yang taat kepada suaminya, ia juga ibu yang penuh belas kasih dalam mendidik sang buah hati.</p>
<p>Dengan segala keterbatasannya, ia selalu berusasaha mengasihi anak-anaknya dengan cara yang paling sempurna. Bagi suaminya, ia merupakan sorang istri yang sangat patuh dan penyayang. Meski memiliki tanggung jawab sebagai seorang pendidik di sebuah sekolah dasar milik pemerintah, ia tak pernah lalai akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu di rumah.</p>
<p>Oleh karenanya, ia pun harus memutar otak demi bisa membagi waktu antara keluarga dan karier. Jika setiap pagi tugas para ibu rumah tangga hanya sebatas merapikan rumah dan menyiapkan sarapan untuk suami beserta anaknya, maka ia lebih daripada sekadar itu.</p>
<p>Setelah merapikan rumah, dan perut suami serta anak-anaknya terisi penuh, wanita berkerudung itu bergegas menyiapkan diri untuk pergi mengajar anak-anak didiknya di sebuah sekolah dasar negeri, tempatnya mengais rupiah. Usai melaksanakan pekerjaan mulianya itu, ia kemudian kembali ke rumah dan segera melanjutkan serta menuntaskan segudang pekerjaan rumah yang sudah menanti sejak ia tinggal pergi mengajar.</p>
<p>Setelah pekerjaan rumah tangganya rampung, pahlawan tanpa tanda jasa itu tak lantas mengistirahatkan dirinya. Ia justru kembali kepada pekerjaannya yang dibawa dari sekolah. Tidak jarang ia membawa ke rumah tugas-tugas yang seharusnya ia selesaikan di sekolah demi bisa tiba di rumah lebih awal.</p>
<p>Rasa lelah dan penat yang menggelayuti tubuhnya tak pernah ia hiraukan. Kendatipun diminta untuk istirahat beberapa saat saja, ia tak akan berhenti. Namun demikian, sang ibu selalu menganggap semua lelahnya merupakan rezeki yang begitu nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.</p>
<p>Kini usia guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu kian bertambah, rambut hitamnya mulai memutih, bahkan garis-garis halus di wajahnya semakin jelas terlihat manakala ia menyunggingkan sebuah senyuman. Ia seorang ibu yang masih setia dan cinta pada rutinitasnya. Di sela kesibukannya, ia tak pernah lupa menegaskan kepada tiga orang putrinya, agar tidak hanya menjadi seorang istri dan ibu yang baik di dapur.</p>
<p>Ia menjelaskan, saat ini wanita memiliki kesempatan yang sama dengan pria dalam bebagai hal. Untuk itu, ketiga buah cintanya sudah belajar banyak dari pelajaran yang selama ini ia torehkan. Ia berharap, kelak, anak-anaknya mampu menjadi seorang istri sekaligus ibu yang bisa dibanggakan melebihi dirinya.</p>
<p>Ia, wanita hebat yang aku panggil Ibu, dengan penuh cinta.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Putri</strong><br />
<strong>Mahasiswi Politeknik Negeri jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/">Pesan Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/pesan-seorang-ibu-kepada-anak-perempuannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Catatan Seorang Anak yang Merindukan Ayahnya</title>
		<link>https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 04:22:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5633</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ayah mungkin akan selalu menjadi sosok lelaki terhebat yang pernah kita temui. Tidak hannya menjadi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/">Catatan Seorang Anak yang Merindukan Ayahnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5634" aria-describedby="caption-attachment-5634" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/ayah-dan-anak.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5633 wp-image-5634" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/ayah-dan-anak.jpg" alt="Ilustrasi." width="600" height="337" /></a><figcaption id="caption-attachment-5634" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Ayah mungkin akan selalu menjadi sosok lelaki terhebat yang pernah kita temui. Tidak hannya menjadi sosok seorang ayah yang baik dan tegas, tetapi seorang Ayah bagaikan seorang sahabat sekaligus peri di dunia nyata. ia bisa melakukan apa saja sesuai apa yang kita inginkan.</p>
<p>Saat kita menginginkan sesuatu pasti Ayah dengan cepat mengabulkan permintaan sang anak. Contohnya saat itu anaknya menginginkan sebuah sepeda dan sang anak mengatakan hal tersebut kepada sang Ayah. Selang beberapa jam setelah sang anak memintanya tiba-tiba saja sepeda yang sang anak inginkan itu sudah ada di depan teras rumah. Betapa senangnya hati sang anak saat itu.</p>
<p>Seorang Ayah tak akan pernah lelah mengajari anaknya bagaimana caranya menjadi anak yang baik, dan peduli terhadap sesama manusia. Ayah selalu mengajakan kepada anaknya agar bersikap sopan dan santun terhadap anaknya selali itu ayah pernah mengatakan satu pesannya yang selalu kami ingat “Jadi orang itu <em>ga boleh</em> pelit, nanti kamu <em>ga</em> punya temen <em>kalo</em> pelit. Selagi kamu punya sesuatu yang lebih berikan juga kepada teman-temanmu”.</p>
<p>Ayah juga merupakan sesosok orang yang penyabar. Bisa dilihat dari perlakuannya kepada anak-anaknya. Saat anaknya melakukan sebuah kesalahan, sedikitpun ia tidak pernah memarahi. Sebesar apapun kesalahan anak-anaknya kepadanya. Ia tak pernah mengatakan kata-kata kasar ataupun melakukan kekerasan terhadap anaknya.</p>
<p>Betapa sangat merindukan masa-masa itu, masa di mana kita selalu melewati waktu bersama disetiap hari, disetiap menit, dan di setiap detiknya. Selalu kita jalani bersama dengan hati riang gembira.</p>
<p>Namun nasib berkata lain, pada 3 Mei 2004 Ayah menghembuskan nafas terakhirnya di depan kami. Saat itu kami masih polos, tidak mengerti apa-apa saat semuanya menangisi kepergian sang Ayah. Yang kami lakukan hannya melihat jasad Ayah yang sedang tertidur pulas sambil terlihat tersenyum bahagia. Sebelum Ayah menghembuskan nafas terakhirnya, Ayah sempat berpesan kepada kami untuk rajin beribadah, menjalankan sholat lima waktu tepat pada waktunya.</p>
<p>Walau kini ayah sudah tak ada di sisi, akan tetapi kami masih bisa merasakan bahwa ayah masih terus melihat dan menjaga kami di kejauhan sana. Ayah, semoga engkau tenang di sana. Di sini, kami akan selalu ingat akan semua nasihat yang engkau berikan. Semoga kita bisa berjumpa lagi di surga nanti. Dariku yang sedang merindukanmu.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Adinda Pertiwi</strong><br />
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/">Catatan Seorang Anak yang Merindukan Ayahnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/catatan-seorang-anak-yang-merindukan-ayahnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rindu Untukmu Ayah</title>
		<link>https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 May 2016 14:10:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kasih sayang selalu diberikan oleh setiap orang tua. Tak hanya itu, mereka selalu lantunkan doa&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/">Rindu Untukmu Ayah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5622" aria-describedby="caption-attachment-5622" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/tumblr_inline_mugquu1u6m1r4vqpv.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-post-5621 wp-image-5622 " src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/tumblr_inline_mugquu1u6m1r4vqpv.jpg" alt="ilustrasi. (tumblr)" width="510" height="339" /></a><figcaption id="caption-attachment-5622" class="wp-caption-text">ilustrasi. (tumblr)</figcaption></figure>
<p>Kasih sayang selalu diberikan oleh setiap orang tua. Tak hanya itu, mereka selalu lantunkan doa dan harapan yang terbaik untuk anak-anaknya. Air mata, keringat, dan nyawa pun mereka taruhkan untuk kebahagiaan keluarga dan buah hatinya. Walaupun harus berjuang mengarungi lautan.</p>
<p>Tak ada satu orang pun di dunia ini yang menginginkan kehilangan orang tua. Bersyukur dan berbahagialah jika kalian masih memiliki keluarga yang lengkap. Saya merasa beruntung karena masih memiliki keluarga yang utuh, tak merasakan sebuah kehilangan.</p>
<p>Dari jutaan anak di dunia, mereka menyepelakan peran orang tua dalam kehidupannya. Membantah dan menganggap angin berlalu setiap kata yang terlontar darinya. Lupa dengan kewajiban sebagai anak yang harus berbakti kepada orang tua, termasuk saya. Entah bagaimana saya membalas jasa mereka?</p>
<p>Saya sangat beruntung, dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhana. Ayah dan Ibu mengajarkan kami selalu bersyukur di setiap keadaan.</p>
<p>Kekecewaan, masih sering saya lakukan pada mereka. Hanya mampu meneteskan air mata kesedihan. Tetapi saya berpikir, saya hanya bisa memberikan kebahagiaan melalui nilai di bidang pendidikan. Walaupun saya sering menyakiti hatinya dengan hal disadari atau tidak disadari, saya sangat menyayanginya.</p>
<p>****</p>
<p>Effendi, nama yang selalu saya sebut dalam doa. Wajah yang selalu bersinar, muda dan tidak ada sedikit pun rambut yang berwarna putih, memberikan sinyal bahwa ia adalah seorang laki-laki kuat yang memiliki seribu alasan dilahirkan di dunia ini.</p>
<p>Membahagiakan keluarganya, adalah sebagian kecil tapi dengan perjuangan sangat besar yang ingin ia capai. Mungkin, inilah alasan mengapa ia lahir di dunia ini. Sosok ayah yang rela mengorbankan waktu kebersamaannya dengan keluarga.</p>
<p>Jauh dari keluarga pun ia relakan untuk mencari nafkah. Badai dan ombak besar pun beliau terjang untuk tetap menjalankan tugas sebagai teknisi mesin kapal.</p>
<p>***</p>
<p>Bagi Ayah, manusia yang memiliki pendidikan tinggi tidak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Menurutnya, pendidikan ialah nomor satu, ia mendukung ketiga anak-anaknya dalam mencapai pendidikan setinggi mungkin. Ayah tak pernah memaksa saya untuk mendapatkan juara kelas, tetapi saya selalu berusaha untuk mencapai semua yang diinginkannya. Ia berkata seperti itu karena tak ingin memberatkan saya dalam menjalankan pendidikan.</p>
<p>Dari dulu hingga sekarang, saya berusaha memberikan hasil yang terbaik. “Alhamdulillah, ayah sangat senang mendengar nilai kakak, semua beban ayah seketika hilang. Ayah bangga dengan kakak”, ujar Ayah. Air mata kebahagiaan pun menetes karena sudah membuat ayah senang meskipun hanya sebatas nilai.</p>
<p>Ayah tak pernah membentak saya, namun sikapnya yang sangat tegas dalam mendidik membuat saya seperti sekarang ini. Ia adalah sosok yang saya rindukan.</p>
<p>Seiring bertambahnya usia, saya paham dengan apa yang dilakukan ayah selama ini. Semuanya ia lakukan untuk kebaikan anak-anaknya. Beruntung, bahagia, dan bersyukur adalah ungkapan karena memiliki ayah hebat sepertinya. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup saya.</p>
<p>Akan tiba saatnya, orang tua saya mengistirahatkan dirinya di rumah dan menikmati hasil kerja keras dan bimbingan terhadap anak-anaknya selama ini.</p>
<p>Kutitipkan rindu ini untuk Ayah di sana.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Feny Sasmitha</strong><br />
(Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/">Rindu Untukmu Ayah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/rindu-untukmu-ayah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
