<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KH Bachtiar Nasir Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/kh-bachtiar-nasir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/kh-bachtiar-nasir/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Mar 2026 22:26:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>KH Bachtiar Nasir Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/kh-bachtiar-nasir/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</title>
		<link>https://jakpos.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2026 22:26:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[KH Bachtiar Nasir]]></category>
		<category><![CDATA[UBN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98368</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai-2/">Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>Mari kita jujur pada diri sendiri, mengapa semangat takwa dan silaturahim sering hanya terasa hangat saat Ramadan dan Syawal? Setelah itu, perlahan memudar, bahkan hilang tanpa terasa. Padahal, takwa bukan ibadah musiman, dan silaturahim bukan tradisi tahunan.</p>
<p>Takwa adalah bukti cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia seharusnya hidup dalam setiap keputusan, ucapan, dan sikap kita. Allah berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya</em>.” (QS Ali Imran: 102)</p>
<p>Jika takwa benar-benar tertanam, ia akan melahirkan akhlak yang konsisten, termasuk dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia.</p>
<p>Begitu pula dengan silaturahim. Ia bukan sekadar ritual maaf-maafan saat Idulfitri atau ajang kumpul keluarga setahun sekali. Silaturahim adalah komitmen jangka panjang untuk tetap terhubung, peduli, dan hadir dalam kehidupan orang-orang terdekat kita, bahkan ketika tidak ada momen besar.</p>
<p>Al-Qur’an menegaskan bahwa menjaga hubungan keluarga adalah bagian dari ketakwaan:</p>
<p>وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ</p>
<p>“<em>Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan</em>…” (QS An-Nisa: 1)</p>
<p>Bahkan, Allah memperingatkan keras bagi mereka yang merusak hubungan tersebut.</p>
<p>فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ</p>
<p>“<em>Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?</em>” (QS Muhammad: 22)</p>
<p>Ironisnya, banyak orang begitu hangat saat Syawal, tetapi kembali dingin setelahnya. Grup WhatsApp keluarga kembali sepi, pesan tak lagi dibalas, dan kabar kerabat sering terlewat. Silaturahim akhirnya hanya menjadi formalitas, bukan kebutuhan ruhani.</p>
<p>Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat nyata.</p>
<p>مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim</em>.” (HR Bukhari dan Muslim)*</p>
<p>Artinya, silaturahim bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menghadirkan keberkahan nyata dalam hidup.</p>
<p>Lebih dalam lagi, dalam hadis qudsi Allah berfirman:</p>
<p>أَنَا الرَّحْمَنُ، وَهِيَ الرَّحِمُ، شَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ</p>
<p>“<em>Aku adalah Ar-Rahman, dan rahim (kekerabatan) Aku ciptakan dari nama-Ku. Barang siapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barang siapa memutuskannya, Aku akan memutusnya</em>.” (HR Bukhari)*</p>
<p>Namun tantangan terbesar justru muncul ketika hubungan tidak berjalan baik. Tidak semua keluarga hangat, tidak semua kerabat membalas kebaikan. Di sinilah kualitas iman diuji.</p>
<p>Rasulullah menegaskan:</p>
<p>لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا</p>
<p>“<em>Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu yang sekadar membalas, tetapi yang tetap menyambung ketika diputuskan</em>.” (HR Bukhari)*</p>
<p>Bahkan ketika kita diperlakukan buruk, Rasulullah tetap memberi kabar gembira:</p>
<p>لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ</p>
<p>“<em>Jika engkau seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau menaburkan abu panas ke wajah mereka</em>…” *(HR Muslim)*</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa menjaga silaturahim bukan soal perasaan, tetapi pilihan iman.</p>
<p>Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menjadi pelajaran besar. Meski disakiti oleh kerabatnya, ia tetap memaafkan dan membantu. Sikap ini sejalan dengan firman Allah:</p>
<p>وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ</p>
<p>“<em>Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu</em>?” (QS An-Nur: 22)</p>
<h3>Konsistensi</h3>
<p>Hari ini, menjaga silaturahim sebenarnya tidak sulit. Tidak harus dengan pertemuan besar. Cukup dengan pesan singkat, telepon, atau sekadar menanyakan kabar.</p>
<p>Yang sulit bukan caranya, tetapi konsistensinya.</p>
<p>Karena itu, jangan jadikan silaturahim sebagai agenda musiman. Jadikan ia sebagai bagian dari hidup. Jangan menunggu momen, tapi ciptakan momen.</p>
<p>Jika kita ingin hidup lebih berkah, hati lebih tenang, dan hubungan lebih hangat, maka rawatlah silaturahim. Bahkan ketika tidak ada alasan dunia untuk melakukannya.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa sering kita bertemu, tetapi seberapa tulus kita menjaga hubungan karena Allah. _Wallahu a’lam bish shawab_.**</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai-2/">Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ustadz-bachtiar-nasir-_121019211040-512.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</title>
		<link>https://jakpos.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2026 11:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[KH Bachtiar Nasir]]></category>
		<category><![CDATA[UBN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=98131</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Israel dan Amerika versus Iran semakin memanas. Perang Iran versus Amerika–Israel ini bukanlah perang agama, melainkan perang hegemoni. Disinyalir, Trump memang sudah lama mengincar Pulau Kharg yang merupakan terminal utama ekspor minyak mentah Iran.</p>
<p>Iran juga telah lama melancarkan proyek Bulan Sabit Persia, yang targetnya membentang meliputi Iran, Irak, Suriah, Libanon Selatan, dan Yaman. Wilayah yang belum tercakup saat ini adalah Palestina. Setelah itu, Iran diperkirakan dapat memperluas pengaruhnya hingga menguasai kawasan Teluk.</p>
<p>Israel dan Amerika Serikat yang saat ini menjajah wilayah Palestina tentu merasa terganggu dengan langkah tersebut. Belum lagi Turki dan Qatar di forum BOP yang berunding untuk menjatuhkan Netanyahu. Situasi ini membuat Netanyahu “kebakaran jenggot”, lalu dibukalah Epstein file, termasuk yang berkaitan dengan Trump. Dengan adanya file tersebut, Trump kemudian ditekan oleh Israel untuk menyerang Iran yang dianggap menghalangi pembentukan Israel Raya antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.</p>
<p>Karena itu, jangan sampai kita justru sibuk berdebat membela salah satu pihak, sementara kita sendiri belum tahu apa yang bisa kita lakukan untuk membela Masjidil Aqsha dan kaum Muslimin di Palestina, yang menjadi objek perebutan tersebut.</p>
<p>Nah, sekarang adalah momentum di ruang-ruang i’tikaf ini untuk membersamai Masjidil Aqsha dengan apa pun yang mampu kita lakukan. Mungkin kita tidak bisa membersamai mereka melalui pendekatan militer, tetapi kita masih bisa mendampingi mereka melalui media, pemberitaan, ekonomi, dan berbagai upaya lainnya.</p>
<h3>Semangat Badar</h3>
<p>Dengan kehendak Allah, Perang Badar juga terjadi pada bulan Ramadhan. Rasulullah saw beserta para sahabat pada saat itu sebenarnya tidak berniat berperang, tetapi mereka tetap siap secara psikis jika harus menghadapi peperangan.</p>
<p>Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki sekitar 313 pasukan, sebagian besar pasukan infanteri, dengan beberapa pasukan berkuda.</p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Badar tidak dimulai dengan mengasah pedang, melainkan dengan mengasah iman dan takwa. Perang Badar bermula ketika kafilah dagang Abu Sufyan dihadang dan diblokir secara ekonomi, karena mereka berasal dari kaum yang memerangi Allah dan Rasulullah Shallallahu wa alaihi wa sallam membunuh para sahabat, serta menyerang dakwah Islam baik secara fisik maupun psikis.</p>
<p>Perang Badar kerap terlupakan dari spirit Ramadhan kita, padahal ia adalah peristiwa besar yang benar-benar terjadi dengan skenario yang diatur langsung oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Perang Badar sendiri merupakan manifestasi blueprint kemenangan umat, yang di dalamnya tergambar jelas strategi, kepemimpinan, dan intervensi Ilahiyah. Jika dilihat dari jumlah pasukan, kemenangan kaum Muslimin tampak sangat sulit. Pasukan Quraisy ketika itu berjumlah sekitar 1.000 orang, dengan kuda dan pasukan pemanah yang lengkap.</p>
<p>Oleh karena itu, Perang Badar sejatinya bukan sekadar kalkulasi kekuatan fisik, melainkan pembuktian iman pada saat yang paling kritis.</p>
<p>“… <em>jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu</em>.” (QS. Al-Anfal: 41).</p>
<p>Begitu pula dengan momentum i’tikaf kita. Ada yang datang ke masjid dengan label i’tikaf hanya sekadar berpindah tempat tidur, bermain ponsel lebih banyak daripada tilawah, lalu rebahan sambil menunggu waktu sahur.</p>
<p>Namun, ada pula yang datang ke masjid dengan niat yang sungguh-sungguh untuk membentuk jiwa.</p>
<h4>Belajar dari Badar</h4>
<p>Inilah Ramadhan—hari pembeda. Ia membedakan mana orang-orang yang benar-benar datang pada bulan Ramadhan untuk membuktikan kemurnian iman dan semangat ibadahnya, dan mana yang hanya sekadar bermain-main di hadapan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Layaknya Perang Badar yang membuka tabir dengan jelas: mana orang-orang yang beriman dan mana yang berpura-pura.</p>
<p>Perang Badar juga mengajarkan kepada kita bahwa perang—apa pun bentuknya—harus dilakukan karena Allah Ta’ala, bukan karena nafsu hegemoni, harta, gengsi, apalagi ego kesukuan atau nasionalisme semata.</p>
<p>Dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan tauhid untuk memimpin umat melewati masa-masa tersulit. Dalam Perang Badar, kita melihat bagaimana interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dilandasi oleh cinta karena Allah Ta’ala.</p>
<p>Di Perang Badar, kita menyaksikan sosok Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang begitu dicintai para sahabat dan umatnya—sosok yang melandaskan segala perbuatannya semata-mata karena Allah.</p>
<p>Satu kata kunci yang sangat penting diajarkan Rasulullah saw. dalam Perang Badar adalah bahwa perang hanya boleh terjadi jika di dalamnya terdapat cita-cita untuk meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illallah serta mewujudkan penghambaan kepada Allah sebagaimana firman-Nya: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.</p>
<p>Semua itu beliau ajarkan dan buktikan dengan taruhan nyawa di Perang Badar, pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Karena itu, sangat penting kiranya pada bulan Ramadhan ini—dan juga pada bulan-bulan lainnya—kita menempatkan kesadaran bertauhid dan semangat pengabdian kepada Allah Ta’ala sebagai cara hidup kita di dunia ini.*</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan-2/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
