<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Literasi Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/literasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/literasi/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Sep 2025 07:54:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Literasi Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/literasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Membaca Novel Tidak Ada Manfaatnya, Benarkah?</title>
		<link>https://jakpos.id/membaca-novel-tidak-ada-manfaatnya-benarkah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 07:54:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91824</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Apa itu novel? Menurut KBBI, novel merupakan karangan prosa yang panjang yang mengandung&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/membaca-novel-tidak-ada-manfaatnya-benarkah/">Membaca Novel Tidak Ada Manfaatnya, Benarkah?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Apa itu novel? Menurut KBBI, novel merupakan karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.</p>
<p>Ada yang bilang, “ngapain sih luh baca novel, baca novel tuh gak ada manfaatnya, lagian isi ceritanya juga bohongan”. Emang betul, isi ceritanya bohongan, fiktif, atau khayalan. Ya walaupun isi ceritanya fiktif, tapi dalam cerita di novel itu fisiknya nyata. Kalau gak percaya, coba kalian baca novel angkatan sastrawan zaman dulu, dimulai dari angkatan pujangga lama, angkatan balai pustaka, angkatan pujangga baru, angkatan tahun 45, angkatan tahun 50 – 60, angkatan tahum 66, angkatan 80 – 90 an, angkatan reformasi, dan angkatan pasca reformasi.</p>
<p>Dan saya ambil contoh salah satu kajian sastra yaitu antropologi sastra. Tahu antropologi sastra itu apa?</p>
<p>Ratna (2011:31) antropologi sastra adalah analisis dan pemahaman terhadap karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan. Kedekatan sastra dan antropologi tidak dapat diragukan antropologi sastra muncul dari banyaknya karya sastra yang syarat nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Sampai sini paham? Kalau belum paham saya lanjutin. Koentjaraningrat (2015) mengemukakan bahwa terdapat tujuh unsur kebudayaan yakni bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian.</p>
<p>Pertama; bahasa, contohnya bahasa betawi. Orang betawi, kan, kalau manggil; enyak, babeh, encang, encing, dan bahasa betawi lainnya. Apakah itu termasuk budaya? Bahkan di Indonesia negara yang kaya akan bahasa nya, kira-kira mencapai 700 san bahasa daerah, bisa dibilang Indonesia merupakan negara yang punya bahasa daerah terbanyak. Kedua; sistem pengetahuan, contohnya pertanian. Cara mengolah tanah untuk pertanian bagaimana, jenis tanamannya seperti apa, cara menjaga kesuburan tanahnya bagaimana, kan, masyakarat jadi tahu. Pengetahuan. Betul gak?</p>
<p>Ketiga, organisasi sosial. Gak usah jauh-jauh deh, biasanya di kampung-kampung, setiap RT, mengadakan gotong royong, membersihkan selokan, menyapu jalanan dll. Bahkan setiap kampung sudah punya agenda rutin, seperti jumsih (jumat bersih), kamsih (kamis bersih), sabsih (sabtu bersih) dan seterusnya. Apakah termasuk budaya?</p>
<p>Kata “gotong royong” itu sendiri berasal dari bahasa Jawa, gotong yang berarti mengangkat, dan royong yang berarti bersama-sama. Keempat, sistem peralatan hidup dan teknologi dan mata pencaharian hidup. Contohnya sigaret, tahu kalian sigaret? Saya baca novel berjudul belenggu karya Armijn Pane, menemukan kata “sigaret”. Sigaret itu kata lain dari rokok, yaitu gulungan tembakau yang dibalut dengan kertas untuk dihisap. Apakah sigaret itu termasuk budaya? Dari produksinya, kan, itu melibatkan peralatan hidup manusia. Terus, rokok dijual ke pedagang, seperti halnya agen, warung, itu, kan menciptakan lapangan kerja, mata pencaharian hidup.</p>
<p>Kelima, sistem religi, contohnya tawakal, manusia kepada Tuhannya, apakah itu termasuk budaya? Berdoa itu termasuk budaya. Keenam, terakhir, kesenian. Termasuk seni rupa, seni musik, seni tari. Tahu hadroh? Kan, ada tuh di kampung kalau acara tasyakuran, maulidan, baca rawi, shalawatan, kan, pakai alat musik, namanya hadroh. Itu termasuk budaya juga. Hadroh asal katanya dari hadhoro – yudhiru – hadhron – hadhrotan yang berarti kehadiran.</p>
<p>Itu baru bahas dengan kajian antropologi sastra, sebenarnya masih banyak lagi. Karya sastra seperti novel, cerpen, apa lagi? Itu bisa di kaji dalam sebuah penelitian, ada yang namanya sosiologi sastra, psikologi sastra, pokoknya banyak dah, apalagi kajian linguistik nya, ah banyak banget. Jadi novel itu bisa dikaji.</p>
<p>Jadi, jangan menilai bahwa orang yang membaca novel gak ada manfaatnya. Bahkan karya sastra itu menjadi cerminan untuk masyarakat, makanya isi di dalam novel itu ada tata krama, religi, adat istiadat, kepercayaan, dan masih banyak lagi. Apalagi ada konflik batin dalam karya sastra itu sendiri.</p>
<p>Setidaknya, baca novel itu ada pelajaran, hikmah yang bisa kita ambil.</p>
<p><em>Muhammad Rizki</em><br />
<em>Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia</em><br />
<em>Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/membaca-novel-tidak-ada-manfaatnya-benarkah/">Membaca Novel Tidak Ada Manfaatnya, Benarkah?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/a.storyblok.com/f/78828/ce712ace58/1920x1080-tertarik-untuk-membaca-novel-bahasa-inggris-ini-dia-beberapa-tips-untuk-memahaminya-dengan-mudah.jpg/m/1500x750/filters:focal(960x375:961x376):quality(70)?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kurangnya Literasi di Era Digital</title>
		<link>https://jakpos.id/kurangnya-literasi-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 06:23:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88780</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Literasi merupakan elemen integral dalam bidang pendidikan, karena merupakan alat bagi peserta didik&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kurangnya-literasi-di-era-digital/">Kurangnya Literasi di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Literasi merupakan elemen integral dalam bidang pendidikan, karena merupakan alat bagi peserta didik untuk mengenali, memahami, dan menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh dari sekolah. Di Indonesia, budaya literasi siswa dianggap rendah.</p>
<p>Rendahnya kemampuan literasi peserta didik tentunya memiliki dampak negatif dalam kehidupan bermasyarakat. Terlebih saat ini, era digitalisasi berdampak negatif terkait penyebaran informasi yang tak jarang bisa memecah belah masyarakat akibat kurangnya memahami isi informasi tersebut.</p>
<p>Jika masalah ini tidak segera diatasi, kita akan melihat dampaknya di masa depan&#8212;munculnya generasi yang minim kemampuan literasi, rentan terhadap hoaks, dan kurang mampu berpikir kritis dalam menghadapi tantangan global. Era digital seharusnya menjadi jembatan menuju masyarakat yang lebih berpengetahuan, bukan sebaliknya. Mari jadikan teknologi sebagai alat pendukung literasi, agar kita tidak hanya pintar dalam mengakses informasi, tetapi juga cerdas dalam memahaminya.</p>
<p>Meningkatkan kesadaran literasi di era digital adalah tantangan yang mendesak, namun juga memiliki banyak peluang. Dalam dunia yang dipenuhi informasi instan dan konten visual, kita perlu strategi khusus agar literasi tetap relevan dan menarik. Ada beberapa langkah efektif yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan ini.</p>
<h3>Faktor Penyebab Rendahnya Budaya Literasi Masyarakat Indonesia</h3>
<p>Terdapat berbagai faktor yang diperkirakan menjadi penyebab budaya literasi pada masyarakat yang rendah. Salah satu faktor utama yang paling mendasar adalah masyarakat Indonesia yang belum memiliki kebiasaan membaca. Menurut Permatasari (2015: 148), kebanyakan masyarakat masih memandang aktivitas membaca bukan secara sukarela untuk mengisi waktu (to full time), tetapi hanya sekadar untuk menghabiskan waktu (to kill time). Artinya, kegiatan membaca masih belum ditumbuhkan sebagai kebiasaan (habit) tetapi hanya sebagai kegiatan ‘iseng’ semata. Padahal, membangun masyarakat membaca (reading society) merupakan salah satu cara yang dijalankan untuk mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia sehingga cerdas beradaptasi atas kemajuan tingkat universal yang melibatkan seluruh sektor kehidupan manusiaBeli buku terlaris online</p>
<p>Beberapa faktor lain yang menyebabkan budaya literasi pada masyarakat Indonesia masih rendah adalah pertama, penggunaan teknologi informasi elektronik yang lebih canggih sehingga buku tidak lagi menjadi media utama untuk mendapatkan informasi yang diharapkan. Menurut Zati (2018: 19) dengan adanya teknologi informasi, seperti mesin pencari Google, Yahoo, dll semakin membuat manusia melupakan keberadaan buku. Situs mesin pencari daring tersebut dianggap lebih mudah dan praktis sehingga melunturkan minat literasi masyarakat dan beralih menggunakan teknologi yang serba instan dan cepat.</p>
<p>Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat literasi:</p>
<p>&#8211; Menciptakan Konten Literasi Yang Menarik<br />
&#8211; Edukasi Mengenai Literasi Digital<br />
&#8211; Mendorong Orang Tua dan Guru Untuk Berpartisipasi<br />
⁠⁠<br />
Kesimpulannya, meningkatkan minat literasi anak pada era digital merupakan tantangan yang kompleks, tetapi juga merupakan peluang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan efektif. Dengan menciptakan konten yang menarik mengenai literasi, adanya edukasi mengenai literasi digital, dan melibatkan orang tua serta guru dalam mendukung minat literasi anak-anak, diharapkan dapat menciptakan generasi yang memiliki kemampuan literasi yang kuat dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Jadi, ayo bersama-sama untuk meningkatkan minat literasi pada anak dan menciptakan generasi bangsa yang cerdas.</p>
<p><em>Siti Hanifah</em><br />
<em>Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi</em><br />
<em>Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kurangnya-literasi-di-era-digital/">Kurangnya Literasi di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/dispersip.pangkalpinangkota.go.id/wp-content/uploads/2019/12/literasi-ciamis.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Minim Literasi Bikin Salah Paham</title>
		<link>https://jakpos.id/minim-literasi-bikin-salah-paham/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2025 04:10:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88487</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Literasi berperan penting bagi setiap orang dalam memahami berbagai persoalan. mulai dari berkomunikasi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/minim-literasi-bikin-salah-paham/">Minim Literasi Bikin Salah Paham</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Literasi berperan penting bagi setiap orang dalam memahami berbagai persoalan. mulai dari berkomunikasi dan memahami informasi dari berbagai sumber. Namun masyarakat indonesia masih sedikit sekali yang gemar dalam literasi. Hal ini tentu saja masyarakat dicap sebagai rendah dalam berliterasi. Rendahnya literasi dapat menyebabkan terjadinya mis informasi. Masyarakat yang tidak memiliki keterampilan literasi yang memadai akan lebih mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi. Ini menyebabkan kesalahpahaman dan ketidakmampuan untuk memeriksa kebenaran sumber informasi, salah satunya media sosial.</p>
<p>Media sosial kini tak lepas dari generasi muda yang mengaksesnya tiap hari, untuk mencari hiburan dan informasi. Namun dalam memuat informasi pada media sosial tak jarang sekali mereka salah tanggap dalam menyerap informasi. Dan berakhir melontarkan hujatan lebih dulu dibandingkan membaca rangkaian kronologi. Hal ini disebabkan minimnya literasi masyarakat ataupun generasi muda yang kurang tertarik dalam membaca.</p>
<p>Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, yakni hanya 0,001% dari banyak nya jumlah penduduk warga indonesia. Dengan kata lain hanya 1 orang yang minat dalam membaca dari 1.000 orang Indonesia. tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan, lantaran masyarakat indonesia jadi minim akan pengetahuan dan sumber informasi yang didapatkan.</p>
<p>Mengutip dari data lain yang ditemukan, dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. dari data tersebut, terlihat bahwa minat literasi di Indonesia sangat kecil. Dikarenakan kurangnya motivasi untuk membaca, lalu kehadiran teknologi digital yang sangat memengaruhi pada literasi di era sekarang. Kebanyakan mereka lebih memilih mencari informasi secara instan di media sosial.</p>
<p>Namun, tanpa disadari informasi di media sosial belum tentu jelas kebenarannya. Tak jarang sekali masyarakat indonesia mudah terkecoh dengan informasi di media sosial. Contohnya baru baru ini ada sebuah postingan berita di media sosial yang membahas tentang pembatasan gratis ongkir e-commerce menjadi 3 hari dalam sebulan. pada akun berita tersebut tidak dijelaskan dengan lengkap mengapa pembatasan gratis ongkir itu bisa terjadi. alhasil netizen menjadi salah paham mengenai informasi tersebut. Padahal berita yang sebenarnya pembatasan gratis ongkir itu ditujukan pada potongan ongkir dari pihak kurir, jadi konsumen tetap bisa mendapatkan gratis ongkir setiap hari untuk berbelanja di e-commerce. dari berita tersebut netizen pun salah paham dengan informasi tersebut. tanpa pikir panjang pun mereka langsung berkomentar negatif dan melontarkan hujatan.</p>
<p>Dari contoh kasus tersebut bisa terlihat bahwa masyarakat indonesia sangat rendah dalam literasi. Karena mereka tidak mencari kebenaran informasi yang didapatkan dan langsung mudah percaya pada satu situs postingan informasi itu. lalu pada laman postingan informasi diatas juga tidak memaparkan informasi dengan lengkap dan mungkin tidak menyaring informasi dengan baik dengan didukung oleh sumber- sumber terpercaya. Hal ini dapat menciptakan situasi yang panas di media sosial karena netizen berteguh pada argumen nya masing masing. Sangat mengkhawatirkan jikalau kedepannya akan berlanjut seperti itu jika masyarakat indonesia rendah dalam literasi.</p>
<p><em>Ailsa Cahyarani</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/minim-literasi-bikin-salah-paham/">Minim Literasi Bikin Salah Paham</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/osccdn.medcom.id/images/content/2024/01/12/79b81b7d4001fb0750d08456c115e349.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Minim Literasi bikin Salah Paham</title>
		<link>https://jakpos.id/minim-literasi-bikin-salah-saham/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2025 08:49:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88481</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Literasi berperan penting bagi setiap orang dalam memahami berbagai persoalan. mulai dari berkomunikasi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/minim-literasi-bikin-salah-saham/">Minim Literasi bikin Salah Paham</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEPOKPOS</strong> &#8211; Literasi berperan penting bagi setiap orang dalam memahami berbagai persoalan. mulai dari berkomunikasi dan memahami informasi dari berbagai sumber. Namun masyarakat indonesia masih sedikit sekali yang gemar dalam literasi. Hal ini tentu saja masyarakat dicap sebagai rendah dalam berliterasi. Rendahnya literasi dapat menyebabkan terjadinya mis informasi. Masyarakat yang tidak memiliki keterampilan literasi yang memadai akan lebih mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi. Ini menyebabkan kesalahpahaman dan ketidakmampuan untuk memeriksa kebenaran sumber informasi, salah satunya media sosial.</p>
<p>Media sosial kini tak lepas dari generasi muda yang mengaksesnya tiap hari, untuk mencari hiburan dan informasi. Namun dalam memuat informasi pada media sosial tak jarang sekali mereka salah tanggap dalam menyerap informasi. Dan berakhir melontarkan hujatan lebih dulu dibandingkan membaca rangkaian kronologi. Hal ini disebabkan minimnya literasi masyarakat ataupun generasi muda yang kurang tertarik dalam membaca.</p>
<p>Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, yakni hanya 0,001% dari banyak nya jumlah penduduk warga indonesia. Dengan kata lain hanya 1 orang yang minat dalam membaca dari 1.000 orang Indonesia. tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan, lantaran masyarakat indonesia jadi minim akan pengetahuan dan sumber informasi yang didapatkan.</p>
<p>Mengutip dari data lain yang ditemukan, dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. dari data tersebut, terlihat bahwa minat literasi di Indonesia sangat kecil. Dikarenakan kurangnya motivasi untuk membaca, lalu kehadiran teknologi digital yang sangat memengaruhi pada literasi di era sekarang. Kebanyakan mereka lebih memilih mencari informasi secara instan di media sosial.</p>
<p>Namun, tanpa disadari informasi di media sosial belum tentu jelas kebenarannya. Tak jarang sekali masyarakat indonesia mudah terkecoh dengan informasi di media sosial. Contohnya baru baru ini ada sebuah postingan berita di media sosial yang membahas tentang pembatasan gratis ongkir e-commerce menjadi 3 hari dalam sebulan. pada akun berita tersebut tidak dijelaskan dengan lengkap mengapa pembatasan gratis ongkir itu bisa terjadi. alhasil netizen menjadi salah paham mengenai informasi tersebut. Padahal berita yang sebenarnya pembatasan gratis ongkir itu ditujukan pada potongan ongkir dari pihak kurir, jadi konsumen tetap bisa mendapatkan gratis ongkir setiap hari untuk berbelanja di e-commerce. dari berita tersebut netizen pun salah paham dengan informasi tersebut. tanpa pikir panjang pun mereka langsung berkomentar negatif dan melontarkan hujatan.</p>
<p>Dari contoh kasus tersebut bisa terlihat bahwa masyarakat indonesia sangat rendah dalam literasi. Karena mereka tidak mencari kebenaran informasi yang didapatkan dan langsung mudah percaya pada satu situs postingan informasi itu. lalu pada laman postingan informasi diatas juga tidak memaparkan informasi dengan lengkap dan mungkin tidak menyaring informasi dengan baik dengan didukung oleh sumber- sumber terpercaya. Hal ini dapat menciptakan situasi yang panas di media sosial karena netizen berteguh pada argumen nya masing masing. Sangat mengkhawatirkan jikalau kedepannya akan berlanjut seperti itu jika masyarakat indonesia rendah dalam literasi.</p>
<p>Ailsa Cahyarani</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/minim-literasi-bikin-salah-saham/">Minim Literasi bikin Salah Paham</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/dispersip.pangkalpinangkota.go.id/wp-content/uploads/2019/12/literasi-ciamis.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Reksa Bahasa Lestari Literasi</title>
		<link>https://jakpos.id/reksa-bahasa-lestari-literasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 07:21:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88204</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Bahasa dan Literasi merupakan dua unsur pembangun bangsa, yang harus di jaga agar&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/reksa-bahasa-lestari-literasi/">Reksa Bahasa Lestari Literasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Bahasa dan Literasi merupakan dua unsur pembangun bangsa, yang harus di jaga agar keduanya tetap lestari. Di dalam tantangan globalisasi yang semakin merajalela. Selain pemerintah yang berperan aktif, generasi muda juga harus di libatkan. Generasi muda harus menjadi pelopor utama dalam permasalahan ini, dengan membiasakan berbahasa yang baik dan selalu menanamkan kebiasaan berliterasi.</p>
<p>Indonesia saat ini menghadapi krisis literasi yang kompleks, sebagaimana dilansir Kumparan.com. Meski survei PISA 2022 mencatat adanya peningkatan, peringkat literasi Indonesia masih tergolong rendah secara global. Kondisi ini berdampak pada aspek pendidikan, sosial, budaya, hingga ekonomi. Di sisi lain, berita positif datang dari detikNews, yang menyebut bahwa bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa resmi di forum UNESCO. Ini menjadi momentum strategis untuk meningkatkan rasa bangga berbahasa Indonesia sekaligus memperkuat literasi nasional.</p>
<p>Menurut Jae Hyun dalam Jurnal Pendas (2024), pengembangan bahasa Indonesia di era global tidak lepas dari tantangan besar, terutama masuknya pengaruh bahasa asing. Hyun menegaskan bahwa “bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jati diri bangsa yang harus dilestarikan.” Senada dengan itu, literasi juga bukan sekadar keterampilan membaca, melainkan ilmu yang membentuk masa depan.</p>
<p>Dengan demikian, tantangan globalisasi bukan alasan untuk mengabaikan warisan bahasa dan kebiasaan literasi. Justru, inilah saatnya generasi muda menjadi pionir yang menjadikan bahasa Indonesia tetap hidup dan literasi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.</p>
<p><em>Rifki Sopian</em><br />
<em>Mahasiswa Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/reksa-bahasa-lestari-literasi/">Reksa Bahasa Lestari Literasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.igi.or.id/wp-content/uploads/2016/08/tot-literasi.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Minat Baca di Indonesia Rendah?</title>
		<link>https://jakpos.id/mengapa-minat-baca-di-indonesia-rendah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2025 09:12:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=86884</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Ahmad Fadlan Farsi Lubis, SS. Indonesia, negara dengan jumlah penduduk lebih dari 281 juta&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mengapa-minat-baca-di-indonesia-rendah/">Mengapa Minat Baca di Indonesia Rendah?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Ahmad Fadlan Farsi Lubis, SS.</strong></em></p>
<p>Indonesia, negara dengan jumlah penduduk lebih dari 281 juta jiwa memiliki karakter yang berbeda dalam hal membaca. Membaca adalah aktivitas yang paling sedikit kita temui di tengah-tengah masyarakat kita, baik bagi mereka yang hidup di perkotaan ataupun di pedesaan. Berdasarkan data UNESCO seperti yang dikutip dari gnindonesia.org (14/01/2025), angka minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, yaitu 0.001%. Ini artinya, dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. Selain itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga membeberkan bahwa penduduk Indonesia yang rajin membaca buku hanya 10% saja. Angka ini jauh di bawah rata-rata negara-negara maju. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan pernah mengatakan untuk mengejar kemampuan baca saja, Indonesia butuh 45 tahun (tempo.co, 30/9/2020).</p>
<p>Masih ingat dibenak kita saat kita mulai duduk di bangku sekolah, guru-guru selalu berpesan ‘dengan banyak membaca, akan banyak yang kita ketahui, dan sebaliknya, jika sedikit membaca, tentu sedikit yang kita ketahui’. Bahkan pameo berikut tersebar secara luas di masyarakat kita ‘buku adalah jendela dunia’. Termasuk perintah membaca juga terdapat dalam salah satu surah di dalam Al-Qur’an yakni surah Al-Alaq, dimana ayat pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW tersebut berbunyi ‘Iqra’ yang artinya bacalah. Namun demikian, tetap saja wejangan tersebut tak cukup menarik minat masyarakat kita untuk membaca. Apa yang sebenarnya terjadi?</p>
<p>Jika kita bandingkan dengan negara-negara maju seperti Eropa, Amerika dan Jepang, membaca sudah menjadi budaya bagi masyarakatnya. Kebiasaan membaca biasa kita jumpai di kalangan pelajar hingga orang dewasa di sana. Di transportasi umum, ruang tunggu, café, hingga taman atau park, kebiasaan membaca tidak pernah lepas dari keseharian mereka.</p>
<p>Pernah saya berkunjung ke Jepang. Pada saat itu, saya menggunakan kereta cepat (shinkansen) dalam perjalanan dari Tokyo menuju Osaka. Pemandangan yang saya lihat sangat ironi dengan yang sering kita saksikan di dalam kereta di Indonesia. Suasana di dalam kereta begitu tenang dan tidak ada suara berisik orang-orang bercakap. Masyarakat Jepang ternyata lebih memilih untuk membaca atau istirahat (tidur) sejenak ketika berada di dalam kereta. Bahkan jika ingin menerima atau melakukan panggilan telepon, ada satu gerbong yang disediakan untuk aktivitas itu sehingga penumpang lain tidak merasa terganggu dengan suara-suara obrolan.</p>
<p>Kebiasaan membaca buku juga bisa kita lihat tidak lepas dari para wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Acapkali kita jumpai mereka sibuk dengan kegiatan membaca buku. Pernah suatu ketika saya sedang makan di sebuah restoran, ada seorang wisatawan asal Jerman yang juga makan disana. Sambil memesan makanan dan menuggu makanan datang, dia tidak lebih dari hanya sekadar membaca buku dibanding sibuk bermain hape seperti yang dilakukan kebanyakan masyarakat kita.</p>
<h3>Faktor Penyebab Rendahnya Minat Baca</h3>
<p>Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Pertama, peran dan kemauan dari pemimpin di negeri ini untuk membudayakan suka membaca sangat minim sekali. Pemerintah kita lebih sibuk mementingkan pembangunan fisik dibandingkan dengan membangun manusia Indonesia itu sendiri. Deretan mall, jembatan layang serta prasana fisik lainnya lebih menarik untuk dikerjakan dibandingkan menyediakan perpustakaan umum, taman baca serta pengadaan buku bacaan gratis. Padahal untuk keberlangsungan periode kepemimpinan di negeri ini dibutuhkan masyarakat yang cakap serta cerdas yang bisa membawa negeri ini sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.</p>
<p>Kedua, kurangnya akses terhadap buku di daerah terpencil. Walaupun orang-orang di kota memiliki akses ke perpustakaan dan buku-buku, hal ini mungkin tidak berlaku untuk kota-kota dan desa-desa yang lebih terpencil. Meski beberapa lokasi terpencil memiliki perpustakaan keliling, penawaran dan pilihan buku mereka sering kali perlu ditingkatkan.</p>
<p>Ketiga, harga buku yang tergolong mahal. Buku anak-anak apalagi buku bagus yang tergolong buku import harganya bisa ratusan ribu. Untuk membeli sebuah buku, seorang pekerja bergaji Upah Minimum Regional (UMR) harus menghabiskan 1/2 gaji bulanannya (dikutip dari kompasiana.com,24/1/2019). Oleh karena itu, penggunaan media sosial lewat kecanggihan internet yang lebih mudah diakses dan lebih interaktif seringkali mengalahkan peran buku secara konvensional.</p>
<p>Keempat, sejak kecil atau selama di sekolah, anak-anak Indonesia tidak diwajibkan membaca buku. Jadi mereka rabun membaca dan enggan menulis. Jika kita bandingkan dengan negara Thailand saja, siswa disana wajib membaca 5 judul buku, dan di Amerika wajib membaca 32 judul buku (dikutip dari tempo.com, 30/9/2020).</p>
<p>Kelima, kebiasaan masyarakat Indonesia lebih pada kebiasaan mendengar dan bercakap-cakap. Konon, leluhur orang Indonesia lebih suka bertutur dibandingkan dengan menuliskannya. Sehingga, tradisi berbagi cerita panjang dan kebijaksanaan melalui kata-kata lisan lebih populer dibanding melalui teks tertulis.</p>
<p>Sudah sepatutnya pemerintah kita turut serta dan berkomitmen untuk menjadikan membaca menjadi kebiasaan yang membudaya di tengah-tengah masyarakat jika ingin melihat negara ini sejajar dengan negara-negara maju yang masyarakatnya suka membaca. Perlu kebijakan-kebijakan yang bersifat regional dan nasional untuk membangun semangat membaca yang berdampak signifikan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.</p>
<p>Sangatlah bertolak belakang jika kita tidak mau berkomitmen untuk menaruh minat baca, padahal sejatinya pendiri bangsa kita seperti Bung Hatta membawa 16 peti bukunya ke pengasingan di Boven Digul. Bung Karno yang dikenal seorang polygot, menguasai sejumlah bahasa dan membaca buku dalam bahasa aslinya. KH Agus Salim dan Sutan Syahrir serta Tan Malaka juga adalah pembaca yang kuat.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mengapa-minat-baca-di-indonesia-rendah/">Mengapa Minat Baca di Indonesia Rendah?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BSI Bersama Santri dan UMKM Perempuan Gelar Literasi Keuangan Syariah di Ponpes Baitul Quran Depok</title>
		<link>https://jakpos.id/bsi-bersama-santri-dan-umkm-perempuan-gelar-literasi-keuangan-syariah-di-ponpes-baitul-quran-depok/</link>
					<comments>https://jakpos.id/bsi-bersama-santri-dan-umkm-perempuan-gelar-literasi-keuangan-syariah-di-ponpes-baitul-quran-depok/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Feb 2025 06:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[BSI]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[UMKM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=82783</guid>

					<description><![CDATA[<p>Edukasi perbankan syariah sangat penting dilakukan kepada santri dan pelaku UMKM Perempuan karena memiliki beberapa manfaat yang sangat penting</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bsi-bersama-santri-dan-umkm-perempuan-gelar-literasi-keuangan-syariah-di-ponpes-baitul-quran-depok/">BSI Bersama Santri dan UMKM Perempuan Gelar Literasi Keuangan Syariah di Ponpes Baitul Quran Depok</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Edukasi perbankan syariah sangat penting dilakukan kepada santri dan pelaku UMKM Perempuan karena memiliki beberapa manfaat yang sangat penting</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOK</strong></a> &#8211; Puluhan santri dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Perempuan mendapatkan literasi keuangan perbankan syariah. Tujuannya agar santri dan Pelaku UMKM melek keuangan dan terbiasa bertransaksi keuangan digital perbankan syariah.</p>
<p>Acara digelar Kliping.id didukung PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) di Pondok Pesantren Baitul Quran Kota Depok, Jumat 28 Februari 2025.</p>
<p>Ada dua pembicara Kunci pada Talkshow kali ini ,yaitu Sisca Debyola Widuhung, SE., M.Si, Ketua Program Studi Manajemen Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) dan Nisa Ayu Wulandari Funding &amp; Transaction Relationship Manager PT Bank Syariah Indonesia Area Depok</p>
<p>Sisca Debyola Widuhung, SE., M.Si, Ketua Program Studi Manajemen Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) mengungkapkan pentingnya edukasi perbankan syariah kepada Santri dan UMKM Perempuan karena banyak sekali manfaat yang akan diterima.</p>
<p>Edukasi perbankan syariah sangat penting dilakukan kepada santri dan pelaku UMKM Perempuan karena memiliki beberapa manfaat yang sangat penting.</p>
<p>&#8220;Itu bisa untuk antara lain Pemberdayaan Ekonomi, Peningkatan Pengetahuan Keuangan dan membangun kepercayaan untuk bisnis,&#8221; kata dia di Depok, Jumat (28/2/2025).</p>
<p>Siska menjelaskan untuk itulah Santri dan pelaku UMKM perempuan yang ingin memahami perbankan syariah sebaiknya mengetahui beberapa hal penting yang menjadi dasar dari sistem perbankan ini. Yaitu antara lain tidak mengandung Riba dan adanya kebermanfaatan.</p>
<p>&#8220;Edukasi Perbankan Syariah dapat memberikan berbagai manfaat yang signifikan bagi Santri dan pelaku UMKM perempuan,&#8221; katanya.</p>
<p>Maka katanya, bagi pelaku UMKM perempuan, menggunakan perbankan syariah dapat memberikan manfaat jangka panjang yang sejalan dengan prinsip agama serta mendukung perkembangan usaha yang lebih sehat dan berkelanjutan.</p>
<p>&#8220;Perbankan syariah memiliki potensi besar untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya dengan mendalami kebutuhan dan keinginan dari berbagai segmen pasar, termasuk mereka yang belum tersentuh oleh layanan perbankan konvensional,&#8221; katanya.</p>
<p>Lalu bagaimana industri perbankan syariah melihat Santri dan UMKM Perempuan?, tengok saja PT Bank Syariah Indonesia Tbk punya andil besar dalam edukasi dan literasi ke kalangan Santri dan UMKM Perempuan, khususnya di Pesantren ini di Kota Depok.</p>
<p>Menurut Nisa Ayu Wulandari Funding &amp; Transaction Relationship Manager PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Area Depok menjelaskan edukasi dan literasi ke Santri dan UMKM Perempuan agar masa depannya cerah.</p>
<p>&#8220;Kenapa penting, jangan sampai usia tidak produktif kesulitan, kalau punya finacial planing masa depan akan cerah,&#8221; jelas dia.</p>
<p>Ia menjelaskan pencerahan bagi Santri dan UMKM Perempuan, merupakan bagian fungsi utama perbankan Indonesia. Sebab bank merupakan penghimpun dan penyalur dana masyarakat dalam rangka menunjang pembangunan nasional untuk meningkatkan pemerataan pertumbuhan nasional.</p>
<p>Oleh karena BSI dapat memfasilitasi semua transaksi yang dibutuhkan mulai dari produk tabungan, investasi, layanan perbankan sampai ke pembiayaan.</p>
<p>&#8220;Arahnya kesejahteraan Masyarakat,&#8221; katanya.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bsi-bersama-santri-dan-umkm-perempuan-gelar-literasi-keuangan-syariah-di-ponpes-baitul-quran-depok/">BSI Bersama Santri dan UMKM Perempuan Gelar Literasi Keuangan Syariah di Ponpes Baitul Quran Depok</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/bsi-bersama-santri-dan-umkm-perempuan-gelar-literasi-keuangan-syariah-di-ponpes-baitul-quran-depok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1740725543/WhatsApp-Image-2025-02-28-at-13.09.04_854207bf-FILEminimizer/WhatsApp-Image-2025-02-28-at-13.09.04_854207bf-FILEminimizer.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
